
"Dia mengingatmu?" tanya Yoshiro.
"Aku tidak yakin. Lagipula Ken ada di sisinya sekarang.." Shun menatap butiran salju di luar dengan wajah sendu, sepertinya hatinya terluka menyadari status Aira yang tak lagi sendiri.
"Shun-kun, kamu menyerah?" tanya Yoshiro sambil mengangkat sebelah bibirnya. Ia tidak habis pikir dengan perubahan sikap sahabatnya itu. Bagaimana mungkin seorang Shun Oguri yang dikenal kekejamannya di dunia medis karena membuat obat mematikan, kini bertekuk lutut tak berdaya di hadapan wanita mungil 153 cm yang telah bersuami? Itu benar-benar di luar dugaan siapapun yang mengenalnya.
"Bukankah kamu juga sama?" sindir Shun pada Yoshiro, "Bahkan mengabaikan perhatian Yu demi menolong Rara-chan."
Deg
Perkataan Shun menohok tepat di jantung Yoshiro. Membuatnya semakin merasa bersalah karena menomorduakan adik angkatnya itu jika berhadapan dengan Aira. Ia belum pernah bertemu dengan Yu sejak gadis itu meninggalkannya beberapa hari yang lalu.
"Bawa ia pulang." Shun melempar kunci sel bawah tanah tempatnya menahan Yu kemarin. Yoshiro segera berlari menuruni tangga yang membawanya pada ruangan gelap minim cahaya yang baru beberapa kali ia kunjungi.
Dengan tergesa ia berlari melewati koridor panjang yang berujung sebuah pintu besi yang tampak mengkilap. Bias cahaya memantul ke padatan besi yang berdebam saat dihantam itu.
BAMM
Yoshiro masuk ke sel tahanan bawah tanah yang lebih terlihat seperti bangsal di rumah sakit. Ada beberapa ruangan kecil di sisi kanan dan kirinya. Pria itu melihat isi ruangan pertama melalui sebuah lubang segi empat di pintu. Tampak pria bertato yang tidak ia ketahui namanya tengah duduk di ranjang besi tanpa alas.
Di ruangan kedua ada Kaori yang sedang asik menatap komputer jinjing yang bertengger di mejanya. Ia mendengar suara berdebam beberapa saat yang lalu, tapi tidak peduli dan memilih melanjutkan aktivitasnya berselancar di dunia maya. Kaori menjadi tawanan Shun sejak Ken menyerahkannya begitu sampai di Jepang.
Ah, kata tawanan sepertinya tidak tepat untuk keadaannya sekarang. Dokter wanita itu justru terlihat bahagia dengan posisinya sekarang. Selain ruangan mini yang membatasi gerak fisiknya, semua kebutuhannya terpenuhi. Ia bahkan bebas bermain ponsel dan laptopnya tanpa ada agenda/misi yang harus ia selesaikan. Seolah ini adalah liburannya untuk menikmati me time sepuasnya.
Tubuh Yoshiro membatu begitu melihat ruangan ketiga yang ia lewati. Tampak Yu sedang menatap keluar jendela. Membuat wajahnya tampak bercahaya oleh sinar mentari yang mulai beranjak ke peraduannya.
Krekk krekk
Yoshiro membuka pintu di depannya dengan bantuan kunci yang Shun berikan sebelumnya. Langkahnya perlahan semakin mendekat pada gadis yang berhasil menyita perhatiannya selain Aira.
Yoshiro langsung membawa gadis itu dalam dekapannya. Ia memeluknya dengan erat seolah sudah begitu lama mereka tak berjumpa. Namun pelukan itu tak berbalas, tangan Yu masih sedia di sisi badannya sendiri.
"Gomen ne, Yu.." ucap pria bersurai merah menyala itu sembari mengetatkan jalinan tangannya di punggung Yu. Menyalurkan segala kerinduan yang selama ini ia sembunyikan.
(Maaf)
__ADS_1
Yu melepas pelukan Yoshiro dan kembali duduk di kursinya, memalingkan wajahnya agar tak bersitatap dengan pria yang telah berhasil menahan hatinya. Wajah tanpa ekspresi itu tak memudarkan kecantikan yang ia miliki.
Aura gangster muncul di wajahnya tanpa ia sadari. Hal itu membuat Yoshiro kembali terpaku di tempatnya berdiri. Sikapnya yang mengabaikan gadis ini justru membangkitkan sisi iblis dalam dirinya.
"Yu..." panggil Yoshiro lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan.
"Apa yang kakak lakukan disini?" tanya Yu tanpa menatap Yoshiro. Ia bangkit dan memakai sapatunya yang tersimpan di bawah ranjang.
'Kakak?' batin Yoshiro mencelos mendengar panggilan Yu padanya. Terasa asing, seolah ada dinding tak kasat mata yang membatasi keduanya.
Jemari lentik itu mengikat tali sepatunya menjadi simpul dengan rapi. Tak terusik dengan pergerakan pria 27 tahun yang kini berdiri tepat di depannya. Bukan Yu tidak melihatnya, ia hanya tidak ingin membahas apapun lagi dengan kakak angkatnya itu. Sampai kapanpun ia tidak akan bisa bersaing dengan Erina ataupun Aira. Ia tahu itu. Selama ini Yoshiro perhatian padanya hanyalah sebagai pelampiasan, bukan benar-benar tertarik padanya.
"Yu, ayo kita bicara.." ajak Yoshiro dengan nada rendah hampir tak terdengar.
Yoshiro menatap gadis di depannya yang kini duduk di atas dinding pembatas. Keduanya berbicara di rooftop, membiarkan tubuh mereka tertiup angin yang cukup dingin meski salju tak turun lagi. Setidaknya itu bisa membuat mereka sedikit rileks dari penatnya beban pikiran masing-masing.
Yu mengangkat sebelah kakinya, menampilkan kaos kaki kuning yang terlihat kontras dengan baju dan celananya yang berwarna hitam pekat. Matanya menatap Yoshiro dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Marahlah sepuasmu. Lakukan apapun yang ada di dalam benakmu, tapi jangan menangis jika aku mati. Lanjutkan hidupmu dengan baik." ucap Yoshiro sembari duduk di samping gadis bersurai gelap itu.
Yu mengerutkan keningnya. Ia tahu Yoshiro tidak suka berbelit-belit, tapi apa maksud perkataannya barusan? Siapa yang mau mati?
Yoshiro memakaikan sebuah cincin bulan bintang di jari tengah Yu. Ia memeluk gadis di depannya dengan erat seolah itu akan jadi perjumpaan terakhir mereka. Hal itu membuat dinding ego yang sedari tadi Yu pertahankan mulai goyah. Tangannya terangkat perlahan membalas pelukan Yoshiro.
"Ada apa?" tanya Yu melihat perlakuan Yoshiro padanya yang terasa aneh.
"Aku akan pergi. Jaga dirimu sampai aku pulang. Bahkan jika itu hanya namaku saja yang kembali, kamu harus tetap menungguku." ucap Yoshiro lirih.
"Apa maksudmu?" sontak Yu melepaskan tubuh di depannya dan mendorongnya agak menjauh. Ia menatap Yoshiro dalam-dalam, meminta penjelasan.
Yoshiro menceritakan tentang perjalanan jauh yang akan ia dan Ken tempuh beberapa hari ke depan.
"Berapa lama?" tanya Yu saat Yoshiro mengakhiri penjelasannya.
__ADS_1
"Sampai menemukan adik Shun-kun."
*******
Langit berbintang tampak gelap sempurna saat Ken dan Aira merebahkan badan di atas ranjang. Mereka bersembunyi di balik selimut hangat yang menghalau dingin yang menusuk. Berdiam di bawah bangunan berbentuk kura-kura yang berjajar rapi. Shun sengaja mengatur liburan untuk keduanya sebelum mereka berpisah.
"Ken..." panggil Aira pada pria yang kini sedang memeluknya. Berbagi kehangatan di balik selimut yang sama. Mereka terlalu lelah untuk menghadiri jamuan makan malam yang Shun atur dan memilih beristirahat di kamar berukuran 4x6 meter ini. Lagi pula mereka akan segera berpisah, tentu saja membutuhkan quality time untuk menyampaikan keluh kesah pada pasangannya.
"Hmm..." gumam Ken sembari menatap langit berbintang yang tampak indah. Tangan kanannya menyangga kepala Aira, sedangkan tangan kirinya bersembunyi di balik kepalanya sendiri.
"Berjanjilah kamu akan segera kembali." lirih Aira sambil menatap gugus bintang yang menghiasi langit. Pemandangan yang sama seperti yang dinikmati oleh Ken.
"Tentu. Aku janji."
"Yoshiro ada bersamamu?" selidik Aira. Ia akan merasa lebih tenang jika Yoshiro mendampingi suaminya.
"Ya."
Hening
Keduanya diam cukup lama. Sibuk dengan cabang pemikirannya masing-masing. Ada banyak hal yang ingin Aira katakan pada suaminya, namun lidahnya terlalu kelu untuk bersuara.
"Ken... Jangan menghubungiku selama kamu pergi nanti." pinta Aira.
Deg
*******
Hai readers tercinta author-chan 🤗🤗
Kali ini update cuma dikit yaa. Otak lagi garing, ehehe 😂
See you next day,
Hanazawa easzy ^^
__ADS_1