Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Maternal Fetal Medicine


__ADS_3

Author kasih artikel kesehatan lagi tentang bumil. Jangan lupa tap jempolnya yaa 😘


Selamat membaca 🤗


...****************...


Matahari mulai kembali ke peraduannya saat mobil yang Ken kemudikan sampai di sebuah Rumah Sakit Bersalin yang ada di kota ini. Keduanya masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai tiga dimana ruang dokter spesialis itu berada. Ken sudah membuat janji temu sebelumnya, jadi mereka bisa langsung ke ruang dokter.


Tok tok


Ken mengetuk pintu berwarna putih yang ada di depannya. Seorang perawat membukakan pintu dan tersenyum menyambut pasien spesial ini. Ya, tidak ada orang yang tidak tahu tentang kakek Yamazaki di kota ini. Semua orang menghormatinya dan segan pada keluarga mereka.


Meskipun terkenal ganas dan tak kenal ampun terhadap musuhnya, nyatanya keluarga Yamazaki adalah donatur terbesar rumah sakit ini. Mereka juga memberikan donasi pada panti asuhan dan panti jompo di seluruh Yokohama. Layaknya Robin Hood yang mementingkan rakyat jelata, kakek Yamazaki juga tak pernah mengharap imbalan apapun.


Dan Aira berstatus sebagi istri Yamazaki Kenzo, itu artinya ia juga termasuk bagian dari keluarga yakuza itu. Ia akan mendapat layanan spesial, di atas VVIP class. Itu adalah berkat tersendiri untuknya setelah melalui rintangan berduri untuk membersamai Ken.


"Selamat sore, Tuan, Nyonya," sapa wanita dengan seragam hijau, lengkap dengan topi suster di kepalanya.


"Sore," jawab Aira lirih. Suaranya sedikit bergetar, takut mendengar hal-hal buruk tentang proses persalinannya beberapa minggu kedepan.


"Silakan duduk." Seorang dokter wanita seumuran nyonya Sumari mempersilakan kedua orang di depannya untuk duduk. "Apa kabar, Nyonya? Masih sering merasakan nyeri pinggang?" tanyanya basa basi pada Aira. Siapa saja tahu, wanita yang berada di trimester akhir kehamilannya pasti mulai merasakan keluhan seperti nyeri pinggang, sering buang air kecil, cepat merasa lelah, dan sebagainya.


"Umm, masih," jawab Aira singkat setelah duduk dibantu oleh Ken.


"Dokter Kaori meminta saya menemui Anda untuk membicarakan kehamilan istri saya." Ken langsung mengatakannya tujuannya datang kemari.


Wanita dengan jas putih itu tersenyum, "Anda terlalu sibuk, makanya Kaori memaksa Anda seolah-olah ada hal gawat darurat dan harus menemui saya. Kenyataannya saya dan istri Anda selalu bertemu dua kali dalam seminggu. Jadi terhitung ini pertemuan ke sepuluh kami. Benar begitu, Nyonya Aira?"


"Eh?" Ken tampak sedikit terkejut. Ia memandang Aira dan dokter Tsukushi bergantian. Dia tidak tahu jika Aira sering datang kemari. Selama ini istrinya hanya mengatakan pergi ke klinik bersalin setiap hari Selasa dan Jum'at ditemani oleh Minami.

__ADS_1


"Kamu tidak mengatakannya padaku?" tanya Ken pada Aira.


"Aku terlalu gugup sampai lupa tidak memberitahumu," kilah Aira canggung, "Tapi aku sudah pernah mengatakan bahwa aku ikut kelas maternity 'kan? Dokter Tsukushi ini yang membimbingku di sana."


"Kelas maternity?" Ken mencoba membuka memorinya. Ia tidak ingat jika Aira pernah mengatakan hal itu padanya. Ia juga tidak tahu kelas seperti apa yanh tengah istrinya bicarakan. Terlalu banyak urusan bisnis yang menyergap kepalanya sampai membuatnya tidak begitu memikirkan apa yang diceritakan oleh istrinya. Selama wanita itu baik-baik saja, maka Ken akan tenang.


"Kelas maternity adalah kelas yang dipersiapkan untuk para ibu pra-hamil, ibu hamil dan ibu menyusui untuk proses persalinan dan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dengan jelas dan benar. Kelas maternity ini diberikan oleh para tenaga medis yang terlatih dan berpengalaman agar para ibu memiliki pengetahuan dan siap menghadapi proses persalinan dan IMD. Tim medis kami, saya dan para suster di sini, akan membantu para ibu yang mengikuti kelas maternity."


Ken mengelus punggung tangan Aira yang terpaut dengan tangannya. Ia merasa lega karena istrinya sudah mendapat pengetahuan yang banyak tentang kondisi kehamilannya. Justru ia yang merasa bersalah karena tidak bisa selalu mendampingi Aira dalam setiap aktivitasnya.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Ken, kembali mengarahkan atensinya pada wanita 52 tahun di hadapannya.


"Baik. Sejauh ini semuanya masih aman terkendali. Hanya saja, karena ini kehamilan dengan tiga bayi, maka ada beberapa perhatian khusus untuk istri Anda."


"Syukurlah," Ken merasa lega.


"Selain membimbing para ibu hamil di kelas maternity, saya dan beberapa petugas yang lain juga bertanggung jawab pada departemen maternal fetal medicine (MFM) yakni pengobatan ibu-janin yang juga dikenal sebagai perinatologi. Itu adalah cabang kedokteran yang berfokus pada pengelolaan masalah kesehatan ibu dan janin sebelum, selama, dan segera setelah kehamilan." Dokter Tsukushi mulai menjelaskan.


"Selain itu, kami akan bertugas sebagai konsultan selama kehamilan berisiko rendah dan sebagai dokter kandungan utama dalam kehamilan berisiko tinggi. Untuk kasus tertentu, kami bekerja sama dengan dokter anak atau ahli neonatologi. Kami membantu para ibu hamil beresiko tinggi dengan masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya serta komplikasi yang mungkin disebabkan oleh kehamilan terkait kesehatan bayi, ibu, atau keduanya."


Perawat wanita yang membukakan pintu tadi menyerahkan sebuah brosur berisi penjelasan tentang MFM yang tengah dijelaskan oleh dokter Tsukushi.


"Kami merawat wanita hamil yang memiliki kondisi kronis misalnya penyakit jantung atau ginjal, hipertensi, diabetes, dan trombofilia. Termasuk wanita hamil yang berisiko mengalami komplikasi terkait persalinan prematur, preeklamsia, dan kehamilan kembar atau triplet. Janin mungkin berisiko karena kelainan kromosom atau kongenital, penyakit ibu, infeksi, penyakit genetik, dan hambatan pertumbuhan."


"Dalam beberapa kasus, selama kehamilan, berbagai komplikasi kehamilan bisa muncul. Bergantung pada tingkat keparahan komplikasi, spesialis ibu-janin dapat bertemu dengan pasien sebentar-sebentar, atau menjadi dokter kandungan utama selama kehamilan. Spesialis pascapersalinan, ibu-janin dapat menindaklanjuti pasien dan memantau setiap komplikasi medis yang mungkin timbul. Untungnya ketiga putra Anda dalam kondisi baik tanpa gangguan apapun," jelas dokter senior itu panjang lebar.


"Apa komplikasi kehamilan itu berbahaya, Dok?" tanya Aira ingin tahu.


"Angka kematian ibu dan bayi akibat komplikasi kehamilan telah menurun lebih dari 23% sejak tahun 1990, dari 377.000 kematian menjadi 293.000 kematian. Sebagian besar kematian dapat dikaitkan dengan infeksi, perdarahan ibu, dan gangguan persalinan. Insiden kematian sangat bervariasi secara internasional. Society for Maternal-fetal Medicine (SMFM) berupaya untuk meningkatkan hasil keselamatan ibu dan anak dengan standar pencegahan melalui diagnosis dan pengobatan melalui penelitian, pendidikan dan pelatihan. Diagnosis janin dan terapi prenatal dipastikan oleh para ahli yang kompeten dengan menggunakan ultrasonografi dan doppler, pengambilan sampel dan transfusi darah janin, fetoskopi, dan bedah janin terbuka."

__ADS_1


"Bagaimana dengan kehamilan istri saya? Apakah itu berisiko?" tanya Ken.


"Kelahiran prematur dianggap sebagai risiko paling penting dari kehamilan kembar. Dengan kembar atau kehamilan HOM, setiap bayi cenderung menjadi lebih kecil karena mereka semua harus berbagi tempat dalam rahim. Dilahirkan seminggu sebelum 40 minggu bukan hal buruk, tetapi dilahirkan sebelum 36 minggu dapat berarti bayi akan mempunyai masalah bernapas dan menyusui."


"Apa yang harus kami lakukan?" Aira tampak khawatir, sama seperti Ken yang menggenggam jemarinya dengan erat.


"Persiapan adalah kuncinya. Hal terbaik yang bisa Anda lakukan bagi bayi Anda adalah merawat diri sendiri dan pergi berkunjung ke dokter pada masa kehamilan. Anda berada pada risiko yang lebih tinggi dengan kehamilan kembar tiga ini, jadi beristirahatlah dengan cukup sebelum melahirkan.


(sumber : wikipedia & pampers.co.id)


Ken dan Aira bernapas lega. Setidaknya mereka telah memiliki persiapan yang cukup. Keduanya berpamitan dan segera keluar dari tempat bersalin itu.


"Syukurlah mereka baik-baik saja," tukas Ken saat membantu Aira memakaikan seat belt melingkupi tubuh istrinya. Berlanjut dengan memakaikan karet berwarna hitam itu pada tubuhnya sendiri.


*seat belt : sabuk pengaman


Aira tersenyum, menyambut uluran tangan suaminya yang tengah mengelus perutnya dengan sayang.


"Setelah ini mau kemana?" tanya Aira saat mobil yang suaminya kendarai mulai meninggalkan tempat itu.


"Rahasia. Aku ingin mengajakmu ke tempat terbaik di kota ini." Ken mengerlingkan sebelah matanya.


"Suamiku menjadi genit. Aku bertanya-tanya siapa yang sudah mengajarinya," canda Aira.


Ken tersenyum dan mencium kening istrinya sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.


...****************...


Utututuuu.... Mau juga dong diajak jalan-jalan ke tempat rahasia bang 😍😉😉

__ADS_1


See you,


Hanazawa Easzy 💞


__ADS_2