
"Kosuke, sampaikan pada Yoshiro dan Yu kita mulai pertemuannya satu jam lagi. Sampai waktu itu tiba, kalian bisa istirahat." perintah Ken sebelum pergi bersama Aira.
"Ai-chan, aku merindukanmu." Ken memeluk Aira dari belakang begitu pintu di belakang mereka sudah tertutup sempurna. Ia memenjara istrinya dengan erat, tidak ingin ibu dari anak-anaknya ini pergi menjauh darinya.
Aira melepas tangan Ken dengan paksa. Ia menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, sudah saatnya ia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia sudah bertekad akan memperbaiki dirinya, termasuk ibadahnya. Ken segera menyusul istrinya dan melakukan hal yang sama. Keduanya kemudian berdiri menghadap ke arah selatan, menjumpai Rabb-nya dalam ibadah yang khusuk.
*arah kiblat dari Rusia menuju ka'bah adalah ke selatan, silahkan lihat peta dunia jika mungkin author salah.
Empat roka'at yang mereka tunaikan selesai dalam beberapa menit. Membuat hati dan jiwa menjadi tenang. Aira meraih tangan Ken dan menciumnya sebagai salah satu bakti seorang istri pada suaminya. Dan Ken membalasnya dengan mencium puncak kepala istrinya yang masih terhalang mukena.
Tak lama kemudian Aira segera membereskan alas sholatnya dan berlalu ke depan cermin untuk memakai jilbabnya lagi. Ia sedang menyematkan sebuah jarum di dagunya saat Ken tiba-tiba meletakkan dagunya di pundak Aira.
"Ai-chan, kenapa diam saja? Kamu marah?" tanya Ken saat istrinya tidak merespon pada perlakuannya barusan.
Hening
Aira enggan menjawab pertanyaan suaminya. Ia memilih diam jika sedang marah seperti sekarang. Detik berikutnya, Ken membalik kursi yang diduduki istrinya, membuat wanita itu berhadapan dengannya. Ia berjongkok sambil tersenyum, membuat kepalanya sejajar dengan perut Aira.
"Hello baby boy. Apa kalian juga marah pada ayah?" tanya Ken sambil menghadap perut rata Aira. Ia menempelkan telinganya di perut Aira dan pura-pura mendengarkan sesuatu dari sana.
"Sayang, aku tidak bisa mendengar jawaban mereka. Apa kamu bisa mendengarnya?" tanya Ken dengan wajah polosnya.
"Kamu ingkar janji." ucap Aira dingin. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang marah, membuat Ken meneguk salivanya dengan paksa. Aira marah, bukan saatnya untuk bercanda.
Ken meraih jemari Aira dan menariknya menuju sofa panjang berwarna putih dengan tambahan bulu-bulu di kanan kirinya.
"Ada apa? Katakan padaku." pinta Ken setelah keduanya duduk berhadapan. Lebih tepatnya, Ken memaksa Aira untuk duduk.
"Kamu berjanji akan selalu ada di sisiku, tapi saat aku terbangun tidak ada siapapun. Tidakkah kamu merasa aku berhak marah?" ucap Aira dengan bibir terpaut membuat Ken tersenyum. Istrinya itu sedang merajuk. Ia bahkan tidak ingin menatap Ken dan memilih membelakangi suaminya itu setelah melepas genggaman Ken dengan paksa. Lucu sekali.
Grep
Ken mengangkat tubuh mungil Aira dan mendudukkan wanita hamil itu di atas pangkuannya. Ia menciumi lengan Aira yang tepat berada di depan wajah. Hal itu membuat mata Aira membola. Jantungnya sontak berdisko meski tanpa alunan musik sekalipun.
"Kamu merindukanku, hmm?" tanya Ken di sela-sela aktivitasnya merayu Aira agar tidak marah lagi. Ia memenjara istrinya dengan erat.
"Maaf karena tidak mengajakmu pergi. Aku tidak ingin mengganggu istirahatmu. Kamu tampak begitu lelah sejak dalam pesawat." jelas Ken sambil menatap langsung pada dua bola mata istrinya, "Apa kamu sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Ken.
__ADS_1
Aira mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Ken, menghirup aroma lavender di sekitar leher suaminya, "Maaf." ucapnya kemudian.
Ken tersenyum, ia membelai kepala istrinya dengan sayang. Wanita di pelukannya ini sangat manja dan tengah menunjukkan sisi lemahnya di depan Ken. Berbanding terbalik dengan Aira sebelumnya yang diam-diam menghanyutkan. Hal itu membuat Ken takut untuk melibatkan istrinya dalam rencana.
Deru nafas yang teratur terdengar di telinga Ken, membuatnya mengamati Aira dari jarak dekat. Mata Aira terpejam dengan bibir yang terkatup rapat.
"Kamu tidur lagi?" tanya Ken kemudian, namun tidak mendapat respon dari istrinya.
"Baiklah, istirahat dan mimpi indah sayang." Ken kembali mengelus kepala Aira, sesekali mencium pipi istrinya yang semakin terlihat berisi dari jarak yang dekat seperti sekarang.
Ken menengadahkan kepalanya, bersandar pada punggung sofa. Ia mulai memejamkan matanya berniat mengistirahatkan otaknya barang sejenak. Semalam, ia dan Kosuke berbincang sampai larut terkait rencana mereka memasukkan silent di ponsel Mone. Ada beberapa hal yang harus diurus detailnya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Akhirnya tanpa disadari Ken masuk ke alam mimpi, menyusul Aira yang pergi lebih dulu.
Tok tok tok
Kosuke mengetuk pintu berwarna putih di hadapannya. Ini sudah lewat dari satu jam seperti yang Ken perintahkan, namun belum ada tanda-tanda tuannya itu menampakkan diri.
Tok tok tok
Kosuke kembali mengetuknya untuk yang kedua kali. Tetap tak ada jawaban. Ia kembali ke ruang tengah, bergabung dengan Yoshiro, Yu, Kaori dan tentu saja Shun. Minami tengah ada di dapur untuk menyiapkan minum untuk mereka semua.
Shun berdiri. Matanya berkilat tajam karena marah. Ia sudah coba bersabar dari satu jam yang lalu, bahkan lebih. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Baik Yu ataupun Yoshiro tidak mau mengatakan hasil temuannya jika Ken tidak ada.
Shun melangkah dengan cepat menuju kamar Ken dan Aira. Ia langsung membukanya tanpa mengetuk pintu lebih dulu, ternyata pintunya tidak terkunci.
Deg
Jantungnya berhenti satu detakan saat melihat keadaan pasutri di depannya. Tampak Ken duduk bersandar di sofa sambil memangku Aira. Keduanya sama-sama tertidur lelap. Ken melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, sedangkan Aira menunduk di ceruk leher Ken yang menengadah ke atas.
"Shun.." panggil Kaori menyusul pria itu. Dia menarik Shun dengan paksa untuk keluar dari sana dan menutup pintunya dengan hati-hati. Mereka tidak berhak mengganggu istirahat keduanya.
Shun berdiri dengan tatapan kosong. Fakta Aira dan Ken yang sangat mencintai satu sama lain benar-benar membuat pukulan telak di hatinya. Tidak akan ada tempat untuknya di antara mereka berdua. Ken, adalah seorang monster di dunia gelap. Ia tidak akan melepaskan miliknya, apapun yang terjadi. Dan Aira, dia juga tidak akan mau berpisah dengan suaminya.
PRANGG
Shun meninju vas bunga yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kesal dan butuh pelampiasan.
"Daijoubu?" tanya Kaori menatap Shun dengan khawatir.
__ADS_1
(Are you OK?)
"Jika dia tidak keluar dalam waktu lima menit, aku akan pergi sendiri mencari adikku." ucapnya tanpa ekspresi. Kakinya melangkah menjauhi Kaori yang masih terheran-heran.
"Ada apa?" tanya Ken yang baru saja keluar dari balik pintu berwarna putih itu. Aira juga muncul di belakangnya. Sepertinya istirahat siang mereka terganggu akibat suara barang pecah belah yang kini berserakan di lantai itu.
Kaori tak menjawab, ia hanya menunjukkan vas bunga yang pecah di sebelah kanan badannya. Detik berikutnya pria pewaris keluarga Yamazaki itu menatap jam tangannya.
"Apa semua sudah siap?" tanya Ken. Kaori mengangguk mengiyakan.
Dan disinilah mereka sekarang. 7 orang Jepang dan satu orang Indonesia itu duduk mengelilingi meja bulat. Kosuke sibuk dengan dokumen di depannya dan membagikan lembaran kertas itu untuk masing-masing orang.
"Takeshi Kaneshiro?" tanya Ken ragu membaca nama yang tertera di bawah foto pria berumur itu. Ia seperti pernah mendengar nama itu tapi tidak yakin dimana pernah mendengarnya.
"Ya. Dia pria yang melindungi Mone selama ini, terhitung masih saudara tuan Kamishiraishi (ayah Mone). Sehari setelah peristiwa penembakan tuan Kamishiraishi, tuan Takeshi membawa Mone ke Italia. Namun untuk mengecoh orang-orang yang menargetkan gadis itu, dia membuat seolah-olah Mone kembali ke Thailand. Informasi itu pula yang menyesatkan Shun saat ingin mencari adiknya." Yu mulai menjelaskan duduk perkara yang sedang mereka hadapi.
"Kamu yakin?" tanya Aira.
Yu mengangguk, "Dia memiliki pengaruh yang sangat kuat di sini. Sepak terjangnya tak bisa diragukan lagi. Itulah sebabnya ia bisa menyembunyikan Mone selama beberapa tahun ini."
"Hentikan!!" ucap Shun tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu?" tanya Kaori yang duduk di sebelah Shun.
"Berhenti dan ayo kembali ke Jepang." jawabnya menatap ke semua orang dan terakhir menatap Aira cukup lama sebelum kembali menunduk.
Ken mengerutkan kening, heran dengan seniornya yang terlihat putus asa. Ini pertama kalinya Shun terlihat lemah. Tatapan matanya menyiratkan seolah ia tengah menyesali sesuatu.
*******
Hambar? Iya kaya hati author 😣 Gomen ne 😟
Segitu dulu ya, see you later...
Hanazawa easzy
__ADS_1