Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Akari, Ayame, Azami


__ADS_3

Yamaken tertangkap basah menatap kepergian Mone dengan perasaan tidak rela. Hal itu membuatnya merasa canggung di depan Ken dan Aira.


"Apa kamu masih menyukainya?" tanya Ken langsung pada adiknya.


Glek


Yamaken hanya bisa menelan salivanya dalam diam. Pertanyaan itu adalah hal yang paling sensitif. Membuatnya mati kutu.


"Pertanyaan macam apa itu? Aku lebih suka kakak ipar," jawab Yamaken sekenanya. Ia mencoba menetralkan wajahnya, menyembunyikan perasaan gugup dan malu bersamaan. Ia sudah ditolak oleh gadis itu, apalagi yang ia harapkan?


Plakk


Ken memukul kepala adiknya cukup keras. Aira hendak mencegahnya, tapi sudah terlambat. Tangan kekar itu berhasil mendarat di tempurung kepala Yamaken sebelah kiri.


"Baka! Kejar dia!" perintah Ken, penuh tekanan di setiap suku katanya.


(Bodoh!)


"Untuk apa. Dia sudah berkencan dengan orang lain. Aku tidak berhak mengejarnya. Lagipula kami tidak memiliki hubungan apapun." Yamaken berkilah. Ia meletakkan makanan di tangannya di atas meja.


"Ikut aku!" Ken mengisyaratkan dengan kepalanya agar Yamaken pergi keluar dengannya.


"Tidak perlu. Kami tidak akan bisa bersama." Yamaken menjawabnya dengan cepat, ia tampak frustasi.


"Ish, kau ini!!" geram Ken. Ia kembali setelah sempat pergi beberapa langkah sebelumnya. Tangannya terulur ke atas, hampir memukul kepala adiknya lagi jika tidak melihat gelengan kepala istrinya saat itu juga. Jangan lupakan tatap mata tajam wanita itu yang mengarah padanya. Istrinya akan marah jika ia tetap melanjutkan niatnya memukul Yamaken, ia tahu itu.


*Di Jepang, memukul kepala adalah suatu hal yang biasa dan tidak dipermasalahkan, justru memukul atau menabok ****** merupakan suatu hal yang dilarang. Di Indonesia memukul kepala sangatlah tidak sopan, sedangkan di Jepang adalah suatu hal yang wajar. Itu dilakukan oleh orang-orang dekat pada teman atau anggota keluarga mereka.


Ken memilih beralih ke ranjang dimana tiga buah hatinya berada. Ia memainkan jarinya, mengelus wajah mereka bergantian. Melihat mereka akan bisa meredam kemarahan yang menjalar di hatinya. Wajah merah tanpa dosa itu, sungguh wajah para penghuni surga. Mereka terlelap dalam damai tanpa memikul beban sedikit pun tentang dunia.


"Kamu belum makan?" tanya Aira pada Yamaken yang masih berdiri di sisi ranjang perawatannya.


Yamaken hanya menggeleng lemah. Harapan hidupnya meredup, semangatnya menghilang. Bahkan meskipun mencoba terlihat tetap tegar, nyatanya ia masih terluka saat Mone sengaja menghindarinya.


Aira meraih paper bag yang dibawa Yamaken dan membukanya. Ada tiga box chicken katsu di dalam sana, lengkap dengan dua batang sumpit dan salad sayur di wadah yang berbeda.


"Ayo duduk. Makanlah," ucap Aira sembari mengulurkan satu kotak kecil pada adik iparnya.


Yamaken menurut. Ia duduk di kursi yang Ken tempati sebelumnya dan menerima kotak yang kakak iparnya berikan, tapi ia enggan memakannya.


"Aku tidak lapar." Prince Love Action itu hanya meletakkannya makanan itu di atas pangkuan kedua tangannya.


"Berhentilah terlihat menyedihkan." Aira berusaha membangkitkan semangat adik iparnya. "Coba kamu pikirkan, dia menolakmu karena apa?"


"Dia berkata bahwa aku terlalu suci, tanganku terlalu bersih untuk menyambut uluran tangannya. Entah apa maksudnya." Yamaken mengeluarkan napas kasar dari mulutnya. Ia tidak memahami Mone sama sekali.

__ADS_1


"Dia seorang anggota mafia ketika masih di Rusia lima tahun terakhir. Dia tidak segan membunuh musuhnya. Entah berapa banyak nyawa yang telah menjadi korbannya. Apa kamu masih tetap menyukainya?" tanya Aira, jujur mengungkapkan identitas adiknya. Selama ini Yamaken tidak tahu kenyataan satu itu.


Deg


Jantung Yamaken seolah terhenti satu detakan. Ia kehilangan kata-kata saat mengetahui fakta mencengangkan itu. Sedikit banyak ia tahu seberapa kelamnya dunia itu. Semua keluarganya berkecimpung di dunia itu bertahun-tahun, kecuali ia sendiri. Itu pun karena keterbatasan fisiknya yang tidak bisa memasuki dunia itu.


Jika saja ia tidak memiliki masalah jantung, mungkin nasibnya sama seperti Ken. Bergulat dengan bisnis gelap itu sejak dulu. Entah suatu kerugian atau keberuntungan karena ia tidak pernah mengenal dunia itu, entahlah. Mungkin memang ini jalannya, bersembunyi di balik gemerlapnya dunia hiburan yang menyilaukan.


Yamaken memilih membaringkan tubuhnya di atas kursi sofa yang ada di ruangan itu. Bayangan wajah Mone terlihat di langit-langit ruangan yang berwarna putih bersih. Rasanya tidak mungkin gadis kecil itu adalah bagian dari sindikat mafia di Rusia. Semua orang tahu, seperti halnya di Italia, mafia di negara pecahan Uni Soviet itu terkenal yang paling kejam di seluruh dunia.


'Mone bisa membunuh orang? Senyum hangatnya, wajah lucu dan imut itu. Dia seorang pembunuh?' batin Yamaken belum percaya. Ia memejamkan matanya, berharap bisa terlelap dan melupakan itu semua.


...****************...


Pagi menjelang, membawa semangat baru untuk semua makhluk di dunia ini. Burung-burung berkicau merdu, menyambut hangatnya sinar mentari yang menyelimuti bumi. Kuncup-kuncup bunga sakura mulai terlihat bermekaran satu dua. Aroma musim semi menyeruak ke segala arah, menerbangkan tirai yang tergantung di bingkai jendela.


"Oey! Bangun! Sampai kapan kamu akan tidur?" Ken membangunkan adik kembarnya dengan menggoyangkan puncak lengannya.


"Ohayou Yamazaki-kun," sapa sebuah suara merdu.


(Selamat pagi)


"Naru-chan!"


Seketika Yamaken bangun dan duduk di sana, menatap adik kandungnya yang beberapa bulan ini tidak ia temui. Alih-alih memanggilnya kakak, Naru lebih suka memanggil namanya langsung.


Yamaken meraup wajahnya dengan kasar. Ia berjalan ke arah kamar mandi dengan sesekali menguap. Langkahnya terhenti dan menoleh ke arah Aira yang tengah menyusui salah satu putranya.


Deg


Langkah Yamaken terhenti. Napasnya tercekat seolah tidak ada lagi oksigen yang bisa ia hirup. Bukan karena melihat Aira. Tidak sama sekali. Kakak iparnya itu menutup bagian tubuhnya dengan kain, menyembunyikan bayinya yang sedang menikmati sarapannya pagi ini. Sungguh sama sekali bukan itu.


"Mo.. Mone-chan," ucap Ken tergagap. Ia lagi-lagi hanya bisa menelan ludahnya sendiri.



"Ohayou," sapa Mone sambil mengangkat tangannya ke atas. Ia pagi ini terlihat begitu memesona dengan wajahnya yang terlihat begitu cerah. Ia terlihat biasa saja, tanpa beban sama sekali, berbeda dengan ekspresinya kemarin yang tampak begitu tegang.


"Apa kamu jatuh cinta pada adikku?" canda Aira yang disahuti tawa oleh semua orang.


Yamaken segera masuk ke kamar mandi dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Ia menutup pintunya dengan cepat, menyembunyikan dirinya dari semua orang. Pria itu segera membasuh wajahnya dengan air dingin, berharap bisa menyegarkan wajahnya untuk menghadapi gadis itu. Ya, gadis yang sudah mencuri hatinya akhir-akhir ini.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya kakek Yamazaki di ambang pintu saat mendengar gelak tawa dari dalam ruangan. Beliau datang bersama beberapa pengawal berpakaian hitam yang menunggu di depan ruangan.


Mone menundukkan badannya 45° saat pria lanjut usia itu menatapnya. Aira meliriknya sekilas. Tampaknya ada kesepakatan yang tidak ia ketahui dari keduanya. Dan sepertinya itu berhubungan dengan adiknya, Yamazaki Kento.

__ADS_1


Ken segera menyingkir dari kursi yang Yamaken tinggalkan. Ia mempersilakan kakeknya untuk duduk di sana.


"Apa kalian sudah memikirkan nama untuk mereka?" tanya kakek, menatap Ken dan Aira bergantian.


"Umm. Sudah," jawab Aira bersamaan dengan Ken yang menganggukkan kepalanya.



"Ini putra pertama kami, kami memberikannya nama Akari, artinya cahaya, cerdas dan bersinar." Aira menunjukkan anak sulungnya yang tertidur di atas futon berwarna hitam.


"Dia terlihat seperti kakak. Benar 'kan, Bu?" komentar Naru menatap keponakan kecilnya.


"Iya, benar. Dia sama seperti ayahnya. Menggemaskan sekali. Tapi sepertinya dia mewarisi pipi ibunya yang begitu chubby."


Aira tersenyum mendengar penuturan ibunya.


"Lalu siapa ini?" tanya Naru sembari mengelus pipi keponakan perempuannya.



"Ayame."


"Whoaaa, namanya cantik. Bukankah itu artinya iris, pelangi?" tanya Mone ikut bergabung.


"Benar. Itu juga berarti lembut, baik, pekerja keras dan semoga selalu diberkati." Aira menambahkan.


"Dia akan jadi gadis yang menarik dan penuh perhatian, sama seperti ibunya." Ken mengungkapkan pujiannya pada Aira. Membuat wajah wanita itu merah merona.



"Ini Azami. Azami akan sama seperti ayahnya, percaya diri. Ia cenderung memimpin dengan berwibawa dan selalu mencari petualangan. Ia sangat tertarik dengan kehidupan dan memiliki sifat mandiri." Aira memperkenalkan putra ketiganya yang ia lahirkan melalui operasi sesar kemarin.


"Lucunya," komentar Mone saat melihat keponakannya yang tengah tertawa. Ia mengangkat bayi itu dari atas alas tidur yang berwarna biru.


Yamaken keluar dari kamar mandi dan mendapati semua orang tengah mengelilingi ketiga bayi itu.


"Hai, pemalas! Kemari!" perintah kakek membuat Yamaken tertegun seketika.


...****************...


Si Kakek nih, ugh sebel 😥


Lucu-lucu yaa nama mereka, jadi pengen namain baby juga 😄 *babynya siapa? Jodoh aja belum dateng 😂😂


See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2