
Note : author cantumkan artikel medis di bawah ini, jika tidak berkenan membaca bisa di skip saja. Terima kasih.
...****************...
Misi membawa Mone keluar dari perlindungan Takeshi Kaneshiro berjalan dengan lancar. Mereka meninggalkan kediaman itu dan menuju ke tempat rahasia yang sudah direncanakan. Sebuah mansion mewah di luar kota, bersembunyi dari kejaran Takeshi dan para pengawalnya.
"Kita sudah sampai." ucap Minami setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah mewah 2 lantai itu. Bangunan bergaya Eropa klasik dengan banyak pohon bonsai di halamannya. Tumpukan salju tipis lamat-lamat terlihat menghiasi halaman luas rumah ini, menandakan suhu udara di sini lebih hangat dari kota Moskwa.
Mone menghembuskan nafas lega. Ia segera membenahi pakaiannya sebelum turun. Tampak Aira yang masih terlelap bersandar pada punggung kursi yang ia duduki sejak 4 jam yang lalu. Ya, mereka pergi cukup jauh dari pusat kota untuk menenangkan diri sejenak sebelum kembali ke Jepang beberapa hari lagi.
"Kak.. Kak Aira.." panggil Mone sembari menggoyangkan lengan Aira dengan lembut. Sebenarnya ia tidak ingin mengganggu tidur kakak sepupunya yang terlihat begitu lelap saat ini.
"Sepertinya nona kelelahan." ucap Minami yang kini berdiri di ambang pintu mobil yang ia kendarai.
"Tapi kakak terlihat pucat. Apa dia baik-baik saja?" tanya Mone khawatir.
Minami segera berlari memutari mobil berwarna hijau lumut itu dan membuka pintu yang lebih dekat dengan Aira. Dengan sigap ia mengecek keadaan Aira, memeriksa apakah nonanya ini tertidur atau pingsan. Tubuh Minami seketika membeku begitu memeriksa dahi Aira.
Gawat
Minami melepas baju hangatnya dan segera memakaikannya pada Aira. Ia meraih ponsel di saku bajunya dengan panik.
"Kaori-chan, keluar dan periksa nona sekarang!" ucapnya singkat. Ia memeriksa keadaan Aira dan baru menyadari jika nonanya sedari tadi tidak memakai alas kaki. Minami merasa ini kesalahannya karena ia tidak memperhatikan nonanya dengan baik. Mungkin Aira menahan dingin sejak keluar dari kediaman Takeshi, atau bahkan sebelum itu. Wanita ini terlalu fokus dengan pertempuran mereka sampai melupakan fakta bahwa ia berlari di atas tanah bersalju tanpa alas kaki.
"Ada apa?" tanya Kaori khawatir. Ia berlari ke bagian belakang mobil dimana ada Minami yang terlihat panik sambil melepaskan ketiga baju hangatnya, menyisakan kemeja berwarna putih dan rompi hitam tanpa lengan di tubuhnya.
"Sepertinya nona kedinginan. Aku tidak menyadari jika dia tidak memakai alas kaki sejak awal." jelas Minami sambil memakaikan baju hangatnya pada nonanya.
__ADS_1
Kaori segera memeriksa pasien darurat di depannya, "Dia terkena hipotermia." ucapnya memandang Minami dan Mone bergantian.
"Minami tolong siapkan kompres hangat." ucapnya pada asisten Aira yang langsung melesat pergi. Ia berpapasan dengan Yu yang baru saja keluar dari rumah.
"Yu, siapkan selimut dan baju tebal untuk Aira." perintah Kaori yang masih sibuk melepas kaos kaki yang Aira pakai dan menggantinya dengan miliknya.
Mone tertegun di tempatnya. Ia shock melihat kondisi kakak sepupunya yang tidak sadarkan diri. Seperti yang Mark laporkan, Aira mempunyai masalah kesehatan saat di Jepang. Tapi Mone tidak menyangka akan separah ini keadaannya yang membuat wanita di depannya panik. Dilihat dari responnya, sepertinya wanita ini seorang dokter.
Sebuah mobil berhenti tepat saat Kaori berusaha menggendong Aira masuk ke dalam.
HAP
Ken mengambil alih tubuh istrinya dan segera membawanya ke dalam. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada wanita kesayangannya itu, tapi satu yang pasti ia akan menyelamatkannya.
Kaori dengan sigap melepas pakaian Aira dan menggantinya dengan yang baru setelah Ken membaringkan istrinya di ranjang. Minami datang membawa dua kantung kompres berisi air panas.
Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh menurun drastis hingga di bawah 35°C. Ketika suhu tubuh berada jauh di bawah normal (37°C), fungsi sistem saraf dan organ tubuh lainnya akan mengalami gangguan. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gagal jantung, gangguan sistem pernapasan, dan bahkan kematian.
Ken hanya bisa berdiri di sisi ranjang Aira, menatap wajah istrinya yang pucat pasi. Baru saja ia merasa lega karena misi mereka berhasil membawa Mone keluar dari kediaman Takeshi, ternyata semesta menyiapkan kejutan lain untuknya. Mungkin karena begitu banyak dosanya di masa lalu yang tak termaafkan, membuat kehidupannya sekarang terasa sulit. Dan malaikat maut seolah selalu mengintai istrinya, menjadikannya sebagai pelampiasan atas hukuman yang harus Ken terima.
Bukan senjata api atau racun mematikan yang bisa mengancam keselamatan Aira, bahkan semesta dengan mudah membuat nyawanya berada di ujung tanduk. Ken menggigit bibirnya begitu kuat, tanpa sadar membuatnya berdarah. Dalam ilmu psikologi, mengigit bibir merupakan tanda bahwa seseorang sedang khawatir, cemas, atau stress.
Kaori menyeka peluh yang membanjiri pelipisnya, ia mengambil termometer digital setelah bunyi 'bip' terdengar. Sebelumnya ia menyisipkan alat pengukur suhu tubuh itu di antara bibir Aira yang terkatup rapat. Ia menghembuskan nafas lega kala mendapati suhu tubuh Aira sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Ken seraya duduk di samping badan istrinya. Ia meraih jemari Aira yang tertutup sarung tangan berbulu dan menciumnya penuh perasaan, menyalurkan kekhawatirannya yang kini mulai mereda.
"Hipotermia terjadi ketika panas yang dihasilkan tubuh tidak sebanyak panas yang hilang. Sejumlah kondisi yang berpotensi membuat panas tubuh banyak hilang dan menyebabkan hipotermia, yaitu terlalu lama berada di tempat dingin, mengenakan pakaian yang kurang tebal saat cuaca dingin, terlalu lama mengenakan pakaian basah atau terlalu lama di dalam air, misalnya akibat kecelakaan kapal, dan sebagainya."
__ADS_1
"Maaf, saya tidak tahu nona tidak memakai alas kaki." ucap Minami sambil membungkukkan badan.
Ken mengangguk sekali, memaklumi asisten istrinya itu. Ia tahu situasi mereka begitu genting sebelumnya, membuat hal kecil tidak akan masuk dalam perhatian siapapun. Termasuk Aira sendiri. Ia pasti tidak memikirkan mencari alas kaki atau apapun itu selama bisa mengamankan Mone.
"Gejala hipotermia bervariasi, tergantung kepada tingkat keparahannya. Mulai dari kulit pucat dan terasa dingin ketika disentuh, mati rasa, menggigil hingga respon kesadaran yang menurun." jelas Kaori.
"Hipotermia merupakan kondisi darurat yang harus segera mendapatkan penanganan. Tindakan awal yang perlu dilakukan ketika bertemu dengan orang yang memiliki gejala hipotermia adalah mencari ada tidaknya denyut nadi dan pernapasan. Jika denyut nadi dan pernapasan sudah berhenti, maka perlu dilakukan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) dan cari bantuan medis. Bila orang tersebut masih bernapas dan denyut nadinya masih ada, cukup pastikan ia dalam keadaan hangat."
"Hindari meletakkan kompres di lengan atau tungkai karena dapat menyebabkan darah yang dingin mengalir kembali ke jantung, paru-paru, dan otak. Hindari penggunaan air panas, bantal pemanas, atau lampu pemanas untuk menghangatkan penderita hipotermia. Panas yang belebihan dapat merusak kulit dan menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur."
Ken menutup matanya mendengar penuturan Kaori. Ia sangat bersyukur karena nyawa Aira bisa diselamatkan. Permintaan Aira untuk memaafkan kesalahan Kaori dan mengajaknya ikut dalam misi ini ternyata memang ada benarnya. Jika tidak ada Kaori, entah apa yang akan terjadi pada Aira.
"Penanganan perlu segera dilakukan terhadap kondisi hipotermia untuk mencegah terjadinya komplikasi, yang dapat berujung kematian. Terlebih pada kondisi tubuh Aira yang cukup lemah, tolong pastikan tubuhnya agar tetap kering dan hangat. Ia belum terbiasa ada di musim dingin seperti ini. Kenakan jaket atau pakaian tebal agar suhu tubuh tetap terjaga. Selain itu gunakan topi, syal, sarung tangan, kaus kaki, dan sepatu bot ketika akan beraktivitas di luar rumah. Hindari minuman yang mengandung alkohol atau kafein. Konsumsilah minuman dan makanan hangat." pungkas Kaori sambil menyimpan kembali peralatan medisnya.
"Ken, kamu terluka. Mau aku obati?" tanya Kaori melihat luka lebam yang mulai terlihat membiru di wajah putih Yamazaki Kenzo.
Ken menggeleng, "Aku bisa melakukannya sendiri. Kembalilah. Tolong tutup pintunya dan jangan biarkan siapapun masuk. Aku ingin istirahat." ucap Ken sambil berjalan ke arah kamar mandi. Ia bersiap membersihkan diri sebelum bergabung dengan istrinya di balik selimut.
...****************...
Udah segitu aja dulu yaa gaess 😄😘😘 Udah tegang terus dari kemaren. Udahan kok deg degannya cukup sampai di sini. Author sengaja buat episode ini biar kalian jangan sampe kena hipotermia. Apalagi bentar lagi musim ujan kaan, soalnya author pernah menggigil sampe berasa linu tulang punggungnya. Jadi author harap kalian baik-baik saja menyambut bulan penuh kerinduan, eh bulan penuh hujan maksudnya 😅😂😂 *biasanya kalo ujan bawaannya rindu samwan 😢
Siapkan hati dan mental buat adegan sweet next episode 😂🤗
Love you all 😍😘
Hanazawa easzy
__ADS_1