
Habis Fajar Terbit Mentari
"Tolong jagain Fajar. Kalau dia nangis, telpon aku."
"Baik, Mbak."
"Juki?"
'Iya, Mbak?"
"Makasih."
"Asiyap."
Dan Juki pun menjaga Fajar yang tidur nyenyak. Meski jomblo, dia terbiasa membantu mbak Santi mengasuh bayi. Wajar jika luwes.
Lalu tanpa aba-aba, Fajar tiba-tiba menangis. Keras. Oek ... Oek ..
"Duh, Fajar. Nangis nggak pake aba-aba."
Juki terburu mengambil gawai. Mbak Lodi. Call.
No respon.
"Sumbang, kau harus tanggung jawab. Jika kau setuju dari tadi, tidak seperti ini!"
Lodi mengamuk. Tangannya memukuli dada Sumbang. Sumbang diam. Tanpa perlawanan.
"Lodi, hentikan!"
Ayah mencoba melerai.
"Biarkan Lodi ayah. Orang ini sudah menghancurkan keluarga kita!"
"Lodi!"
PENGUMUMAN. Bagi pengunjung yang bernama Ibu Melodi diharapkan bisa keluar sebentar. Ditunggu anaknya Fajar di luar.
Pengumuman itu pada akhirnya menghentikan Lodi. Bergegas ia ke tempat parkir. Lodi melihat gawai. Ada sepuluh panggilan tak terjawab.
"Fajar!"
"Mbak. Maaf. Fajar menangis tidak bisa berhenti."
Bukannya menerima Fajar, Lodi justru menangis.
"Kenapa, Mbak?"
"Juki ...."
Sambil menerima Fajar, Lodi tak tahan lagi. Dia menangis. Merebahkan kepalanya pada lengan Juki.
"Nadaaa ...."
Juki mematung. Lengan kirinya menggendong Fajar. Lengan kanannya menopang tangisan Lodi.
"Kenapa dengan Mbak Nada?"
"Dia tak tertolong. Perdarahan ...."
"Dia butuh darah seperti Mbak dulu? Biar Juki yang ambil ke PMI."
Lodi menggeleng. "Dia sudah meninggal."
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun."
"Nadaaa ...."
Lodi kembali berteriak memanggil nama adiknya.
"Mbak Lodi, tenanglah," kata Juki. Lodi tetap tersedu di bahu Juki.
Meski Juki lama di Semarang, kabar tentang Lodi ia hampir paham semua. Bagaimana ketika remaja kakak beradik itu saling menyayangi. Juga prahara di rumah tangga Lodi.
"Fajar sepertinya kelaparan, Mbak."
Lodi sontak mengangkat kepalanya dari lengan Juki. Dia mengusap air matanya. Serah terima Fajar pun terjadi.
"Maaf,"kata Lodi kikuk.
"Tak apa."
"Mbak harus tetap tenang. Kata orang, emosi mempengaruhi produksi ASI."
Lodi mengangguk pelan.
__ADS_1
Juki menunjuk ke gawainya. "Aku hubungi mbak Santi ya?"
Lodi hanya mengangguk lagi. Dia bergegas menuju ruang laktasi. Memang khusus untuk ibu menyusui. Agar nyaman ketika harus mengeluarkan anggota badan.
***
"Jangan menyalahkan Sumbang. Dia juga juga sedih." Ibu menenangkan Lodi.
Lodi terdiam. Pemakaman sudah usai. Tamu sebagian besar sudah pulang. Termasuk mama Sumbang.
"Aku titipkan anak-anak Sumbang padamu. Maafkan anakku."
Mama sumbang berkata sembari memeluk Lodi. Lodi membalas pelukan itu hanya dengan gerakan ringan. Tidak mengiyakan. Tapi juga tidak berkata tidak.
"Lodi, tadi Sumbang kemari," kata Ibu.
Lodi tidak menjawab. 'Aku tidak ada urusan lagi dengan pria brengsek itu.'
"Dia bermaksud minta ASI untuk anaknya."
"Jadi Mentari sudah boleh minum ASI? Aku nanti langsung ke rumah sakit saja."
***
"Bagaimana kondisi bayi ny. Nada, Dok?"
"Ibu siapa?"
"Saya budenya. Sekaligus yang akan memberikan ASI."
"Sementara ini masih memakai alat bantu napas. ASI tetap diberikan."
"Apa kondisinya membaik?"
Dokter itu menghela napas.
"Membaik. Tapi belum terlalu baik. Kita berdoa saja."
"Boleh saya masuk?"
"Karena ibunya meninggal, hanya ibu susunya yang boleh masuk."
Lodi diharuskan cuci tangan. Baru boleh masuk. Mengelus pelan kaki Mentari. Bayi itu belum berespon.
Lodi memperhatikan bayi cantik itu. Mirip sekali dengan Fajar. Dominan wajah Sumbang.
"Kau tadi masuk? Dia sehat?" Sumbang memberondong pertanyaan. Lelaki itu rela menunggu di teras berjam-jam demi bertemu Lodi. Mantan istrinya itu sudah memblokir nomor teleponnya.
"Aku punya syarat untuk ASI yang kuberikan."
Bukannya menjawab, Lodi membalas pertanyaan Sumbang dengan mengemukakan syarat.
"Katakan saja. Pasti kusanggupi."
"Aku akan menengok Mentari tiap pagi. Mengantar ASI untuknya. Yang bisa masuk ke ruang bayi hanya aku. Tapi kalau ingin Konsul dengan dokter, kamu juga boleh."
"Maksudmu?"
"Kita sama-sama punya kepentingan dengan Mentari. Tapi bukan berarti kita ke rumah sakit harus bareng, dan sebagainya. Kalau kau pengin tahu kondisi Mentari, jangan tanya aku. Tanya dokter saja.
Sumbang diam tak ada reaksi.
"Jujur, aku enggan bertemu denganmu. Tapi bayi itu anak Nada. Adikku satu-satunya."
Sumbang menelan ludah.
"Bagaimana?"
"Apa harus sekaku itu, Dik?"
"Kau setuju tidak?" tanya Lodi ketus.
"Baiklah."
"Tidak perlu pula bertanya via hp."
"Segitunya?"
"Kau setuju atau tidak?"
"Baiklah."
Lodi meninggalkan Sumbang sendirian di teras. Sama sekali tidak mempersilakan mantannya itu. Sumbang terpaku menatap sosok Lodi.
'Sebenci itukah kau padaku, Melodi?'
__ADS_1
***
"Bayi Ny. Nanda sudah boleh pulang."
Setelah tiga minggu dirawat akhirnya Mentari diperbolehkan pulang.
"Namanya Mentari, Dok."
"Nama yang bagus. Ibu yang akan merawatnya?"
"Ya. Dia akan mendapatkan ASI juga. Anak saya sendiri baru berumur dua bulan."
"Masyaalloh."
Dokter itu tersenyum. Sepertinya bahagia karena pasien kecilnya mendapat solusi.
"Perhatikan tumbuh kembangnya. Terlihat terlambat, harus segera ada tindakan."
"Baik, Dok."
***
"Kau yakin akan merawat Mentari di rumahmu?" tanya Sumbang.
"Memang kau sanggup merawatnya sendiri?" Lodi bertanya balik.
"Aku boleh menjenguk kapan pun?"
"Tentu saja. Kalau sudah tidak minum ASI, kau bisa membawanya ke rumahmu. Kamu lebih dari aku, karena kau ayahnya. Tapi soal ASI, hanya aku yang bisa."
Sumbang tersenyum. 'Hati Lodi sepertinya sudah melunak. Aku tahu dirimu. Kita tiga tahun pernah bersama. Meski kadang galak, tapi hatimu penuh ketulusan.'
"Kuusahakan menjenguk sesering mungkin. Fajar dan juga Mentari."
Lodi terdiam. Mendapati kondisinya sekarang yang harus merawat dua anak Sumbang.
'Seandainya Nada baik-baik saja ....'
"Melodi ...." Lembut suara Sumbang memanggil Lodi.
Lodi mendapati Sumbang tengah menatapnya. Sendu.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu. Aku ...."
"Sudahlah. Aku sudah memaafkanmu."
"Sungguh?"
Lodi tersenyum, bahkan tertawa kecil.
'Ah, Lodi. Betapa aku merindukan senyummu.'
"Tentu saja. Tidak ada gunanya menyimpan amarah."
"Kalau begitu ...."
"Memaafkanmu, berarti aku berhasil mengikis rasa benci. Juga marah."
Lodi memotong kalimat Sumbang. Tidak membiarkan Sumbang mendahului bicara.
"Lagipula ada Fajar. Juga Mentari. Mereka membutuhkan kita berdua."
"Ya. Mereka membutuhkan kita berdua,"sahut Sumbang dengan suara penuh pengharapan.
Kalimat Sumbang terputus oleh tangisan bayi.
"Itu Fajar. Aku ambil sebentar," ujar Lodi.
"Aku tunggu di sini," kata Sumbang.
Lelaki itu sungguh merasa senang. Sudah lama Lodi tidak seramah ini kepadanya. Sejak tes pack milik Nada kepergok di tong sampah.
Lodi cukup lama meneteki Fajar di kamar. Ia ingat kalimat Umay," Sumbang tetap bukan siapa-siapa loh ya. Kecuali kalian rujuk dan harus akad ulang."
Setelah Fajar terlihat kenyang, barulah Lodi membawa bayi itu ke Sumbang.
"Jadi, kupikir sudahi segala rasa di antara kita. Dendam, benci, marah. Lalu, kita bermitra memperhatikan mereka."
Lodi kembali mengawali pembicaraan.
"Ber-mitra?"
"Ya. Mitra. Semacam teman bisnis. Tapi ini bukan bisnis. Ini lebih penting. Demi masa depan Fajar dan Mentari."
Sinar pengharapan di wajah Sumbang meredup.
__ADS_1
'Lodi, tidak adakah jalan untuk kembali?'