PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 40. KAU WANITAKU!


__ADS_3

Bella sama sekali tidak melawan, dia hanya bicara lirih dengan mata yang masih tertutup rapat seakan dia sedang berada diantara batas kesadaran dan mimpi.


“Apa yang sudah kulakukan padannya? Kata-kata itu?” Dante merasakan dadanya sesak dan seketika kemarahannya hilang menguap begitu saja. Dia tidak lagi berpura-pura menjauhi Bella, dia menggendong Bella dengan kedua tangannya. Wanita itu tanpa sadar meringkuk dalam dekapan Dante.


“Aku mohon aku takut gelap biarkan aku pergi dari sini.” Bella kembali bergumam kalimat yang sama dengan histeris dan menangis terisak walaupun matanya masih tertutup rapat.


“Aku sudah menggendongnya dengan kedua tanganku.Tapi kenapa dia masih histeris dan menggumamkan kata-kata yang sama? Sial! Kenapa aku bisa lupa kalau dia takut gelap dan menaruhnya didalam bagasi!” Dante mendengus.


“Aku ingat kala itu dia memegang ponsel dan menyalakan lampunya didalam bagasi. Tapi kali ini dia tidak membawa ponselnya dan tidak ada penerangan sama sekali didalam bagasi. Apa yang sudah kulakukan padanya?’” hatinya sangat perih melihat kondisi Bella dalam dekapannya.


“Lepaskan aku, aku mohon tolong biarkan aku pergi biarkan aku hidup. Jangan sentuh aku….jangan buka pakaianku tuan! Aku mohon Tuan jangan sentuh aku!” airmatanya semakin mengalir deras.


“Buka matamu dan minumlah. Kau sudah sampai dan disini terang.” ucap Dante ditelinganya.


“Hangat!” ujar Bella setelah mendengar ucapan Dante.


“Ya kau sudah hangat. Kau tidak kedinginan lagi sekarang.Tidak ada lagi hukuman bagimu. Bukalah matamu.”


“Aku bebas?” tanya Bella dengan mata masih terpejam.


“Tidak! Tidak akan ada kebebasan untukmu tapi kau tidak akan dihukum lagi. Hanya itu saja yang bisa kuberikan untukmu.”


“Ohhh…..” perlahan diapun membuka matanya.


“Tuan Dante?” ucap Bella lirih saat matanya terbuka dan melihat pria didepannya.


‘Aduuuhhh bukankah tadi aku ada dalam bagasi ya?’ gumamnya dalam hati mencoba mengingat kembali semua rentetan kejadian tadi sambil memasang wajah bersalah, dia takut akan kemarahan Dante.


“Sssshhhh……….” Bella meringis kesakitan.


“Tepi bibirmu pecah karena kau gigit. Apa terasa sakit?” tanya Dante sambil memegang bekas tamparannya di wajah bella. Masih terlihat bekas tamparan yang kini lebam membiru dipipi dan tepi bibirnya terluka ada noda darah.


‘Ahh….sentuhan tangannya sangat lembut dan hangat. Aku menyukainya terasa sangat nyaman seperti sesuatu yang sedang aku rindukan,’ ucap hatinya.


“Buka matamu! Apa yang sedang kau pikirkan?”

__ADS_1


“Maafkan aku Tuan Dante!” ucap Bella membuka matanya. ‘Ada apa sebenarnya denganku? Kenapa aku berhalusinasi lagi? Apa dia akan memukulku seperti tadi lagi? Tapi mengapa dia mendekapku sangat erat, ini nyaman sekali apa dia juga akan mengijinkan miliknya masuk padaku malam ini? Aku sudah merindukan permainan itu…..’Bella bergumam dalam hatinya dengan raut wajah yang ketakutan.


Namun Dante tidak bisa melihat ekspresi wajah Bella yang membenamkan wajahnya dalam dekapan pria itu. Ada senyum dibibirnya memikirkan kelembutan Dante yang sedang duduk memangkunya dengan pelukan yang tak dilepas.


“Apa kau merasa lebih baik sekarang?” tanya Dante mmbuyarkan pikiran Bella.


“Sudah Tuan. Terimakasih.” ucap Bella.


“Kalau begitu menyingkirlah sekarang!” ucap Dante langsung melepaskan Bella dari dekapannya.


“Ma----maafkan aku Tuan! Sebenarnya tadi aku tidak berniat menelepon siapapun tapi aku hanya ingin mencari orang untuk minta tolong mengantarkan uang pada adikku.” jelas Bellas. Dia mengatakan dia berharap Dante tidak akan marah lagi soal kejadian tadi. Dia merasa khawatir karena Dante tidak lagi mendekapnya, ingatannya akan kemarahan pria itu membuatnya meringis menatap pria itu dengan penuh makna.


“Apa kau pikir laki-laki brengsek itu akan menolongmu, ja?”


‘Aku sudah mau melupakan kejadian itu tapi kenapa dia malah membahasnya lagi sekarang? Apa alasannya adalah uang? Uang? Jadi memang itu alasannya?’ gumam Dante dihatinya, terpaksa dia memikirkan lagi pria yang dihubungi oleh Bella.


“Aku tidak tahu karena aku hanya mencoba peruntunganku saja, Tuan.” jawab Bella jujur.


“Apa kau sangat mengkhawatirkan adikmu?”


“Aku tidak suka jika wanitaku bicara dengan laki-laki lain! Kau adalah wanitaku, kau tawananku, kau jaminanku. Apa kau mengerti?’


“Mengerti, Tuan. Maafkan aku, aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku.” Bella memohon.


“Kau sudah membuat masalah besar padaku.” ujar dante sambil membuka kain penutup bagian atas Bella. Sesuatu yang isinya selalu ingin Dante lihat, sesuatu yang masih sering dia ingat.


‘Aku suka melihat tanda itu….memang mengganggu keberadaannya ditengah-tengah tapi itulah tanda yang membuatku menemukanmu. Tanda itu membuat kedua puncak itu tampak semakin indah.’ ujar hati Dante kembali mempermainkan.


“Apa kau masih marah padaku, Tuan?” tanya Bella memberanikan diri bertanya.


‘Ssssssshh…...sialan! Aku memang lagi pengen sekarang tapi sentuhan sederhana ini sudah membuatku meronta’ bisik hati Bella. Tatapannya mulai sayu dan tubuhnya mulai bergoyang.


“Sangat marah!” jawab Dante.


“Apa yang harus kulakukan sebagai permintaan maaf padamu, Tuan?” suaranya semakin lirih dan terdengar lembut ditelinga Dante.

__ADS_1


“Apa kau tidak bisa berpikir hingga harus menanyakannya padaku?” tanya Dante sarkas tapi matanya tertuju pada sesuatu yang dipegangnya yang benar-benar menarik perhatian Dante.


“Aku sadar kalau aku sudah membuat kesalahan. Aku minta maaf tidak seharusnya aku menelepon siapapun. Tapi aku tidak bisa membiarkan adikku mati kelaparan diluar sana, Tuan! Dia juga harus membayar biaya sekolahnya, jika tidak membayar maka dia akan dikeluarkan. Kemana dia akan pergi? Aku tidak ingin hidupnya menderita sepertiku, Tuan.”


“Lalu kau memohon padanya?”


“Aduh….sakit  tuan.” Bella tidak lagi menjawab, dia justru meringis sakit ketika kedua tangan Dante menjepit pada dua ujungnya.


“Kenapa kau tidak menjawabku, ha?” tanya Dante sambil memicingkan mata menatap wanita dihadapannya dengan kedua tangan masih berada ditempat yang sama.


“Aku takut jika aku jujur bilang aku memohon dan meminta tolong pada Tuan Jeff untuk memberikan uang itu, kau pasti marah Tuan. Tapi kalau aku bilang tidak, itu artinya aku bohong. Aku bingung jawaban mana yang harus kuberikan padamu.”


“Sudah aku bilang aku tidak suka kau menghubungi siapapun. Mulai hari ini kau akan tinggal disini, tidak ada ponsel, tidak ada laptop.” ujar Dante tegas.


Bella menjawab dengan anggukan kepala sambil menahan rasa sakit akibat ulah tangan pria itu.


“Tapi aku akan membiarkanmu bicara dengan adikmu satu kali seminggu. Itu saja!” ucap dante yang sudah melepaskan tangannya.


“Benarkah, Tuan?” ujar Bella tersenyum mendengar ucapan Dante.


“Adikmu akan baik-baik saja dan kau tidak perlu mengkhawatirkannya jika kau bersikap baik dan patuh padaku.”


“Ja---jadi anda menjaga adikku, Tuan?” tanya Bella tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Dante tidak menjawab, dia hanya menatap lekat Bella, begitupun Bella menatap mata Dante. Keduanya saling tatap dengan pikiran masing-masing sambil menahan rasa yang dirindukannya.


“Apa belum jelas kata-kataku tadi? Apa harus kuulang lagi?”


“Jadi semua tergantung padaku supaya kau menjaga adikku, bukan? Terima kasih, Tuan.” ucap Bella tak sadar hendak menyentuh Dante dan memeluknya.


“Lepaskan tanganmu!”


“Maafkan aku Tuan, aku hanya ingin berterimakasih dengan melayanimu.”


“Hei! Lepaskan! Tidak seperti ini, aku tidak memintamu. Lepaskan.” Dante ingin melepaskan Bella.

__ADS_1


__ADS_2