
“Kau sekarang sudah hampir menjadi pria dewasa kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?”
“Aku tahu daddy.”
“Kalau begitu jelaskan kesepakatan kita.”
“Aku akan makan apa yang dibuat oleh Norman dan aku tidak akan lagi minta kau memasak untukku kecuali kau sedang tidak sibuk daddy!”
“Bagus!” Dante merasa senang sekali karena anaknya mengingat semua kesepakatan mereka. “Dan kau harus ingat kewajiban pria dewasa setelah mereka berjanji.”
“Iya daddy.” Alex mengangguk. Dia merasa bangga pada dirinya karena diperlakukan ayahnya sebagai layaknya pria dewasa.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Masih banyak yang harus kukerjakan.” Dante bicara sambil melirik jam tangannya lalu dia mendekati Alex. CUP!
Dia mengecup dahinya dan berkata, “kau harus ingat perjanjian kita, oke?” bisiknya pada putranya.
“Ok daddy!” Alex mengacungkan kedua jempol tangannya pada Dante.
Dante langsung menuruni tangga tanpa memperpanjang bicara dengan Sarah dan Bella. ‘Aku sudah telat. Rencananya hanya setengah jam tapi sekarang aku sudah menghabiskan waktu satu jam.’ gumamnya buru-buru turun.
“Dante, tadi kami tidak jadi naik ke ruang bacamu. Sepertinya kau sibuk dengan anakmu.”
“Ya, kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan?”
Hans dan Nick sama-sama menggelengkan kepala.
“Kau tetap dirumah ini Nick! Aku ingin kau mengawasi mereka bertiga.” Lalu Dante mengarahkan matanya kepada Hans, “Kau ikut aku Hans.” ucap Dante melangkahkan kakinya.
“Hans segera menyusul Dante. Mereka berdua berjalan dengan cepat tanpa bicara apapun. Sedangkan Nick merasa senang karena hanya disuruh tinggal dirumah mengawasi tiga orang.
‘Sepertinya tiga orang itu benar-benar mengganggumu Dante, kau tidak bisa fokus karena mereka bertiga. Aku lihat bagaimana sekarang kau jewalahan mengerjakan pekerjaanmu.’ gumam Hans dihatinya.
‘Apakah seperti ini cinta? Mereka tidak bisa mengendalikan diri mereka lagi sehingga para wanita itu bisa mempengaruhi pria hebat seperti Dante?’ tanya Hans lalu mengulum senyum disela-sela mereka berjalan mendekati tempat yang ingin dituju Dante. Ruang gelap nomor dua.
“Silahkan Tuan. Semua sudah saya siapkan.” ucap Henry.
__ADS_1
“Buka pintunya.”
Henry melakukan sesuai perintah Dante setelah memberikan kacamata kepada tuannya dan Hans.
“Ehhh, ruangan seterang ini kau bilang ruang gelap Dante?” ujar Hans yang berjalan dibelakang Dante saat mereka memasuki ruangan itu.
“Aku yakin Henry sydah membelikan kacamata tapi kau tidak memakainya?”
“Hei jangan sensitif padaku. Aku juga memakainya ini.”
“Baguslah. Kalau kau tak mau buta sebaiknya segera kau pakai kacamata itu.” ucap Dante menghampiri seseorang yang duduk ditengah ruangan itu dengan kondisi terikat.
Ruangan yang didatangi Dante ini memang bukan ruang gelap seperti biasanya tapi ruangan yang sangat terang sekali. Lantainya memendarkan cahaya putih terang. Lampu yang dipasang disana adalah lampu yang memancarkan cahaya berwarna putrih. Lampu-lampu dipasanga didinding dan dilangit-langit. Lampu dipasanga dengan jarak sejengkal antara satu lampu dengan lampu lainnya.
Sehingga diruangan itu ada sekitaran seribu lampu yang menyebabkan ruangan itu sangat terang. Kenapa diberi nama ruang gelap? Karena jika satu orang berdiri di ruangan dalam waktu lima menit saja mereka bisa menjadi buta. Itulah siksaan terberat yang dimiliki Dante selain ruang bawah tanahnya.
“Aku tahu kau berdiri didepanku!” pria itu bicara.
“Kau tidak membuka matamu untuk menghormatiku?” tanya Dante.
Pria yang berdiri sambil bersidekap tangan didadanya itu hanya menggelengkan kepala. “Kau tidak tahu siapa aku tapi kau sudah berani menantangku! Cih!” ucap Dante
“Dante Sebastian! Apa yang tidak aku tahu tentangmu hah? Kalau kau memang mau mencongkel mataku lakukan saja sekarang!” pria itu meminta dengan tegas.
“Begitu yang kau mau? Aku akan ambil alat-alatnya!” Dante melirik Hans. “Minta pada Henry alat untuk mencongkel matanya!” dengan ringan Dante bicara meskipun orang yang duduk dihadapannya itu sudah menelan salivanya. Pria itu tidak menyangka jika Dante tidak main-main dengan ucapannya. Dia agak ngeri juga kalau apa yang dikatakan Dante itu terwujud, membayangkan rasa sakit matanya dicongkel saja sudah membuat pria itu bergidik ngeri.
“Kau! Manusia berhati iblis!” teriak pria itu.
“Siapa yang menyuruhmu datang dan mengamati rumahku, hem?” tanya Dante pada pria itu.
“Cih! Apa kau tidak bisa berpikir siapa yang mengirimku kesini?” ujar pria itu dengan ketus. Dia masih memejamkan matanya walaupun bicara,
“Sampai kapan kau sanggup menutup matamu begitu?”
“Sampai nyawaku berpisah dengan ragaku!”
__ADS_1
Dante hanya tersenyum mencibir mendengar jawaban pria itu. Keberaniannya membuat jiwa Dante tertantang apalagi status orang dihadapannya ini bukanlah siapa-siapa.
“Ah, jadi kau sudah mempersiapkan dirimu untuk ini.”
“Tentu saja! Karena aku tahu kau sanggup melakukan itu. Kau orang yang sangat kejam!”
“Baguslah kalau kau sudah tahu!” ucap Dante lagi. Dia berjalan sambil berhenti dibelakang pria itu dan memegang kedua bahunya dengan erat.
“Katakan siapa yang mengirimmu.”
“Aku tidak akan pernah memberitahumu! Kau pikirkan saja sendiri siapa yang mengirimku kesini.”
“Ah, kau cukup punya nyali juga. Terima kasih untuk jawabanmu. Jadi begitu, kau tidak mau bekerjasam denganku bukan?” tanya Dante sekali lagi dengan sopan dan santai membuat Hans bergidik ngeri karena dia sangat mengenal temannya itu.
‘Aku lebih baik melihat Dante seperti saat dia ingin membunuh suami madam Wendy! Beringas, membunuh dengan cepat hanya sekali siksa! Kalau melihatnya seperti ini, justru ini adalah mimpi buruk. Kau berani melawannya dan wow kau bahkan hanya orang biasa yang tidak akan diperhatikan oleh orang yang mengirimmu! Sial sekali nasibmu dan kesetiaanmu ini. Dante pasti akan membuatmu mati tersiksa perlahan-lahan.’
“Tidak pernah! Aku tidak akan pernah bekerjasama denganmu! Hahahaha!” pria itu menggelengkan kepalanya saat bicara lalu tertawa terbahak-bahak.
“Apakah lucu karena tempat ini atau kau ingin menertawakan sesuatu dari diriku?” tanya Dante.
“Aku ingin menertawakanmu Dante! Sebentar lagi kau akan hancur! Kau hanya berani menangkapku saja tapi kau tidak tahu apa yang ada dibelakangku! Pasukan yang sudah siap melawan dan meluluh lantakkanmu. Aku hanyalah serpihan-serpihan kecil! Aku hanya anak buah biasa. Bersiaplah untuk mendapatkan yang terburuk dari yang paling buruk!”
Dante tersenyum tipis. “Kau benar! Aku hanya mendapatkan ikan teri!” celetuk Dante lagi melepaskan bahu pria itu dan berjalan sambil bersidekap. Dia melangkah menghampiri Hans yang masih tak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan temannya itu.
“Walaupun kau menyiksa dan membunuhku dalam ruangan ini, aku tidak akan pernah memberitahumu apa-apa Dante! Tegas pria itu berteriak.
“Oh begitu? Apa kau pikir aku hanya ingin bertanya saja padamu?”
“Memangnya apa lagi yang kau inginkan? Kenapa kau memegang kerah bajuku?”
“Aku tidak memerlukan jawaban darimu. Asal kau tahu itu!”
KREEEKKK……..Dante merobek pakaian pria yang masih duduk dikursi itu.
__ADS_1