PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 547. AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Dia benar-benar menginginkan Barack berada disisinya selamanya.


“Aku akan menjadikanmu milikku setelah semua ini berakhir.” jawab Barack berjanji.


CUP! Barack mencium bibir Sarah lagi. Dia tersenyum menatap Sarah dengan kedua tangannya yang masih menjamah tubuh gadis itu. Dia sangat merindukan gadis kecilnya itu selama ini.


“Aku pun mencintaimu sejak awal aku bertemu denganmu. Aku mencintaimu apa adanya. Kau sempurna bagiku Barack.” ucap Sarah mengungkapkan semua isi hatinya selama ini.


Sarah mencium Barack dan pria itu membalasnya. Kecupan panas mereka itu membuat Barack semakin bergairah. Dia membiarkan boneka kecilnya itu melakukan apapun yang diiginkannya.


Barack tidak melarang sarah dan membiarkan gadis kecilnya itu menciumnya sepuas hatinya.


“Kau sudah puas?” tanya Barack tersenyum menggoda Sarah.


Sarah menggelengkan kepalanya.


“Tapi aku tahu kau puas. Kau baru saja mengeluarkan cairan itu bukan?” kata Barack tersenyum.


“Hah? Aku keluar itu?” mata Sarah melotot dan dia merasa agak malu.


“Iya, itu tandanya kalau kau sudah paus. Apa kau mau melakukan yang lebih?” tanya Barack lagi.


“Apa ada sesuatu yang lebih yang harus aku coba?” Sarah balik bertanya.


Barack mengangguk lalu dia melihat kearah pakaiannya. “Kau tidak melepaskan bajuku?”


“Ah, aku lupa kau masih memakai kemeja basah. Maafkan aku Barack. Aku akan membukanya sekarang.” ucap Sarah yang tadi tidak fokus pada pakaian Barack.


Dia masih berumur enam belas tahun, dia tidak kepikiran melakukan hal lainnya. Tapi Sarah sangat ingin menyerahkan dirinya kepada Barack dan saat ini yang ingin dilakukannya adalah memberikannya pada pria itu. Dengan tangan gemetaran dia membuka kemeja Barack.


“Kenapa kau gemetaran?” Barack menahan tawanya melihat sikap gadis kecilnya itu.


“Ini baru pertama kalinya aku melakukannya.” jawab Sarah.


“Tapi kau sering sekali memintaku untuk melakukan itu. Apa kau ingat saat kita dihutan?”


“Aku hanya mencoba untuk menjadi gadis dewasa. Karena aku tidak mau kehilanganmu Barack.” ujar Sarah menatap Barack.


Barack tersenyum dan dia kembali merapikan rambut Sarah dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


“Sarah, apa kau mau menjadi istriku?” tanya Barack memandang gadis itu.


Sarah baru membuka setengah kemeja Barack, dia langsung mengecup bibir Barack dan mengangguk sembari tersenyum.


“Kau tidak berbohong padaku kan Barack? Kau ingin menjadikanku istrimu?”


“Hmmm!” Barack mengangguk. “Saat usiamu sudah dua puluh lima tahun.”


“Tidak! Aku tidak mau selama itu Barack! Aku tidam mau menunggu sampai aku berusia dua puluh lima tahun! Aku tidak mau menunggumu selama itu.” Sarah melotot.


“Hahahahaha. Aku hanya bercanda! Kenapa wajahmu jadi seperti itu?” ucap barack mencoba menenangkan Sarah yang sudah mau menangis.


“Aku akan menjadikanmu istriku setelah semua ini selesai. Kita akan menikah.”


“Benarkah Barack?” Sarah merasa tak percaya pada apa yang barusan didengarnya.


“Ya. Aku akan menjadikanmu istriku. Aku janji padamu.” ucap Barack. Pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia sudah memikirkan tentang itu selama ini.


Barack pun kembali memberikan kecupan panas setelah dia menyelesaikan ucapannya. Dia tidak tahan lagi sehingga keduanya pun larut dalam kebahagiaan mereka berdua. Keduanya dikuasai hasrat, sesuatu yang sudah ditahan sangat lama.


Dan saat ini tersalurkan memberikan rasa yang berbeda pada tubuh mereka yang semakin hangat dan semakin panas, semakin tak tertahankan.


“Biar aku membukanya sendiri.” kata Barack tak sabaran.


BRAAKK!


“Kenapa kalian tidak keluar-keluar? Oh Tuhan! Apa yang kau lakukan pada adikku?”


“Bella! Aku tadi bilang jangan masuk kesana.” suara pekikan Dante terdengar.


Sedangkan Bella tertegun ditempatnya berdiri melihat pemandangan didepan matanya sehingga dia melotot dan marah.


(Setelah Bella dan yang lainnya keluar dari kamar mandi meninggalkan Sarah dan Barack)


“Kenapa kita membiarkan adikku disana bersama dengan temanmu itu, Dante?” tanya Bella dengan ekspresi wajah yang cemas. “Adikku itu masih bersih Dante. Aku tidak mau adikku hanya dijadikan pemuas saja oleh temanmu.”


Dante mengacuhkan Bella dan sibuk menggendong Alex. Dia memang sengaja mengacuhkannya.


“Dante!” Bella memekik kesal karena suaminya mengacuhkannya.

__ADS_1


“Dante kenapa kita tidak menyuruh barack keluar saja dulu? Aku penasaran kenapa dia memabwa kita pergi dari tempat itu? Padahal disana kita bisa membunuh Jeff.” tanya Manuel.


“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang Manuel.” kata Dante.


“Aku tahu Barack bukan orang sembarangan. Dia mengambil keputusan seperti ini pasti sudah dia perhitungkan duluan. Kau paham maksudku kan?” kata Dante membela temannya.


Manuel mengangguk, “Jadi menurutmu ini yang terbaik? Tidak ada solusi lain lagi?”


“Hmm! Barack tidak pernah main-main dengan melakukan teleportasi seperti itu. Kami hanya melakukannya satu kali dan setelah itu kami tidak bisa melakukannya lagi. Termasuk yang aku lakukan.”


“Maksudmu?”


“Itu terlalu berbahaya.” Dante menjelaskan sambil memperlihatkan luka ditangannya.


“Dante? Kenapa dengan tanganmu?” pekik Bella saat dia melihat lengan Dante yang terluka.


“Ini seperti luka bakar kan? Karena ini tidak bisa dilakukan terlalu sering. Ini bisa memicu kanker dan kerusakan kromosom. Aku juga harus melakukan pengecekan dan perawatan untuk ini.”


“Kalian bisa membunuh diri kalian sendiri dengan melakukan itu?” Manuel bertanya dan Dante menganggukkan kepalanya.


“Manusia berpindah dari satu tempat ketempat lain dengan merubah diri mereka menjadi partikel, aku rasa itu adalah sesuatu yang berbahaya dan belum pernah ada orang yang mengatakan itu aman. Bagkan kami bisa terjebak selamanya menjadi atom.” kata Dante.


“Dante, ini mengerikan sekali?” Bella bergidik ngeri setelah mendengar penjelasan Dante.


“Karena itulah aku yakin sekali Barack membawa kita pergi dari sana karena dia punya tujuan. Dan apa yang dikatakan Jeff itu bukan main-main. Mungkin saja disana dia memiliki atau sudah memasang jebakan untuk kita.”


“Lalu bagaimana kita membunuhnya? Kondisi kita sekarang sulit.” kata Anthony.


“Aku juga tidak tahu Anthony. Aku sedang memikirkan hal itu.” Dante mengeratkan rahangnya.


“Kau mempunyai alat lain bukan? Barack pernah bercerita padaku.” Manuel memaksa. Manuel tahu kalau Dante mempunyai senjata rahasia dan dia pun penasaran tentang senjata itu.


“Tidak! Tidak bisa dengan alat itu.” Dante membenarkan kembali gendongan Alex disatu tangannya. Dia melirik wajah anaknya sebentar.


“Kenapa? Kau khawatir dengan radiasinya?”


“Iya.” Dante mengangguk lagi.


“Itu alasan pertamaku. Dan alasan kedua aku tidak tahu apakah itu bisa memusnahkan semuanya atau tidak? Bagaimana jika orang-orang itu sudah tersebar? Kita tidak pernah tahu. Aku tidak ingin memakainya dan belum tentu ditempat itu ada Jeff.”

__ADS_1


“Jadi apa rencanamu sekarang?” Manuel bertanya ulang.


Dante menggelengkan kepala, “Aku tidak tahu untuk saat ini aku coba berpikir. Yang pasti aku tidak akan menggunakan alat itu.”


__ADS_2