
“Wah hebat!” ucap Alex dengan senyum sumringah.
“Kalau begitu aku menunggumu disini, jalankan keretanya.” ucap Dante.
“Tunggu daddy! Aku selesaikan kerjaanku sendiri.” Alex bicara layaknya orang dewasa berlari menuju keretanya dan dia memasangkan gebrongnya dibelakang otomotif. Dia sangat teliti melakukan itu walaupun usinya masih empat tahun.
‘Aku senang kau menunjukkan sikap seperti ini Alex! Aku tahu kau akan menjadi orang hebat kelak. Suatu saat nanti kau akan lebih hebat dariku.’ kebanggaan Dante ketika dia melihat apa yang dilakukan putranya, dia memuji putranya tak henti-hentinya.
“Daddy, lihatlah keretaku sudah bisa jalan!” teriak Alex histeris memanggil ayahnya.
“Kau pintar sekali Aelx! Lanjutkan, aku ingin melihatnya.”
Alex langsung memasang gerbong lainnya di rel sebelahnya dan melakukan apa yang diminta ayahnya.
“Kau ingin bicara apa tadi padaku Belinda? Jangan membentakku didepan anakku, aku tidak suka seseorang bicara denganku dengan intonasi tinggi seperti itu. Apa kau paham?”
Hari ini sudah berapa orang yang bicara dengan Dante dengan intonasi tinggi, dia tidak menyukai itu. Dan Belinda pun melakukan hal yang sama padanya yang membuatnya semakin kesal.
“Menurutmu? Bagaimana aku tidak bicara seperti itu Dante?” Belinda memandang Dante.
“Pelankan suaramu jika bicara denganku. Jangan sampai putraku curiga.”
Dante melirik Belinda sepintas lalu dia mengalihkan pandangannya pada Alex dengan senyumnya dia bicara dengan posisi tidak saling menatap satu sama lain. Keduanya memperhatikan Alex yang sedang bermain.
“Dante, apakah kau bicara seperti tadi untuk memberikan pesan pada Alex karena ada sesuatu hal buruk yang bisa mengancam jiwamu?”
“Kau terlalu banyak nonton film percintaan!” Dante tersenyum tipis.
“Apa?”
“Tak perlu kau pikirkan kalau kau tidak tahu apa yang aku katakan. Tapi, tolong jangan menonton terlalu banyak drama.”
Dante tidak memberikan penjelasan apapun tentang ucapannya pada Alex sehingga membuat Belinda tidak terima. ‘Dia pikir aku ini anak kecil yang bisa dibodohi? Dante! Aku benar-benar akan membuatmu tidak akan pergi dari rumah ini. Aku tidak ingin hidupmu dalam bahaya. Aku bisa gila kalau kau tidak ada disisiku! Aku tidak mau kau mati Dante!’ hati Belinda berdecak karena tidak mau berpisah dengan Dante.
__ADS_1
“Aku tidak seperti itu Dante. Aku punya alasan kenapa aku bertanya.”
“Katakan alasanmu bersikap buruk padaku? Tanyakan apa yang mau kau tanyakan padaku.”
“Kau! Apa ada sesuatu yang buruk akan terjadi padamu? Apa kau akan meninggalkan aku dan Alex? Kau akan mati dan selamanya kami hanya bisa menangismu? Setiap malam aku akan merindukanmu, aku tidak mau itu. Dante! Aku tidak bisa jatuh cinta pada pria lain selain kau! Aku tidak mau kau kenapa-napa.”
‘Belinda? Kenapa kau jadi berpikir begitu?’ tanya hati Dante. ‘Sebegitu khawatirnya kau padaku? Aku senang sekali masih memiliki seseorang yang mengkhawatirkanku. Belinda, terima kasih karena kau sudah mencintaiku seperti ini.’ bisik Dante dihatinya. Dia merasa senang mendengar perkataan Belinda.
“Tapi idemu bagus juga. Aku mengkhawatirkan sesuatu. Tapi aku tidak mau membuatmu khawatir.”
“Kau berpesan! Tiba-tiba saja kau mengajak Alex main bersama dan kau tadi bilang kau sibuk tapi kau masih mengajak Alex bermain. Lalu mengajak kami makan malam bersama. Apa kau ingin meninggalkan sesuatu yang baik di hari akhir hidupmu? Aku tidak terima! Aku masih mau kau hidup disini bersamaku dan anak-anak kita! Aku mau kau hidup bersamaku seratus tahun.”
Dante mengeryitkan dahinya, “Apa kau bilang? Kau pikir aku mau hidup selama itu? Menjadi manusia menyusahkan sampai seratus tahun lagi?” Dante memutar bola matanya.
“Aku tidak peduli. Tapi selama aku masih hidup, aku tidak mau kau mati! Tidak boleh!”
“Belinda! Kau tahu kenapa aku melakukan ini?” dengan suara berat Dante bicara dan tatapan matanya saat ini mengarah pada Alex.
“Baca sendiri.” Dante menyodorkan mapnya kepada Belinda.
‘Apa Dante akan membodohiku? Apa isi map ini pasti rekayasak bukan? Ah, aku tidak akan tertipu olehmu Dante! Aku memang bodoh hanya lulusan SMA bahkan ijazahku juga tidak ada, aku belum sempat ujian saat kau membawaku pergi. Tapi aku tidak akan menyerah, kau pasti akan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawamu dan aku akan menghentikanmu.’
“Kenapa kau diam saja? Aku sudah menyuruhmu untuk membuka dan membacanya. Apa yang sedang kau pikirkan?” Dante jadi gemas sendiri melihat sikap Belinda.
“Apa kau bisa kupercaya?” tanya Belinda.
“Pffff! Belinda! Kalau aku tidak bisa dipercaya, kenapa aku ingin menikahimu? Apa kau tidak bisa menggunakan sedikit otakmu sebelum kau bicara padaku?”
Dante enggan mengomeli Belinda tapi emosinya terpancing karena ucapan wanita itu. Dia meninggikan intonasi suaranya untuk membuat wanita itu mengerti apa yang diinginkannya.
“Ehm….Dante, jadi isi map ini bukan sesuatu yang merupakan kebohongan, bukan?”
__ADS_1
“Jawabannya ada disini.” mata Dante masih terpaut pada Belinda. “Bukalah dan kau bisa lihat sendiri apa yang ada disitu. Supaya kau tidak berprasangka buruk terus padaku.”
Setelah diam beberapa saat, Belinda pun membuka map itu “Dante, aku tidak bisa bahasa Italia.”
“Bahasa Italia?” tak sengaja Dante mengulang ucapan Belinda dan wanita itu mengangguk.
“Iya, tulisan disini kan bahasa Italia? Tidak ada terjemahan bahasa Inggrisnya.” ujar Belinda menunjukkan dokumen itu pada Dante.
‘Dia benar! Henry bisa membacanya karena dia mengerti bahasa Italian. Tatiana juga bisa membacanya begitu pula dengan Omero. Tapi Belinda tidak paham, dia memang anak Omero tapi dia tidak tinggal di Italia selama ini.’ Dante pun mengerti saat melihat Belinda hanya menatapi tulisan itu tanpa mengerti apa yang tertulis.
“Kau tidak bisa baca bukan berarti kau menjadi bodoh kan?”
“Aku tidak tahu maksudmu bicara begitu Dante.” protesnya. ‘Tidak bisa baca tapi harus mengerti? Apa maksudnya? Aku bingung dengan orang ini, dia mau menipuku kah?’ Belinda kembali berprasangka buruk didalam hatinya.
“Ck! Begini saja kau tidak bisa baca. Lihatlah namamu disana dan lihatlah ini namaku disini. Kau tahu apa maksudnya ini?”
Belinda menatap kearah yang ditunjukkan Dante.
“Aku dan kau dalam sertifikat ini, hmmm…..apakah kita sudah menikah?” tanya belinda mengerjapkan matanya.
“Pertanyaan bodoh apalagi yang kau tanyakan padaku?”
“EH, apa pertanyaanku salah ya? Jadi kau melakukan semua ini karena kau ingin merayakan pernikahan kita?”
Tiba-tiba dia merasa senang dan berbunga-bunga lagi memikirkan tentang pernikahannya. Belinda bahkan senyum-senyum sendiri membuat Dante hanya diam menggelengkan kepalanya.
“Aku pikir perasaanmu sangat kuat padaku sehingga dia bisa mengerti apa yang ada didalam pikiranku. Tapi ternyata dia masih bocah!” gemasnya Dante dihatinya melihat sikap Belinda yang seperti anak kecil.
‘Setidaknya sekarang kau tidak berpikir buruk dan membuatku tambah sulit dengan memikirkan kematianku. Aku juga tidak mau mati malam ini. Karena aku masih mau melihat Alex tumbuh dewasa. Tapi kau malah sudah meributkan aku tentang itu.’ Dante tersenyum karena Belinda tidak lagi meributkan tentang firasat buruknya.
“Baguslah kalau kau sudah paham sekarang. Berdirilah.” ucap Dante.
__ADS_1
“Kau mau apa menyuruhku berdiri Dante?” Belinda mengerjapkan matanya.
Dante melirik jam tangannya, ‘Sekarang sudah jam lima, sudah waktunya meriasnya. Malam ini aku ingin merayakan secara sederhana dan hanya ada kau dan Alex.’ kembali Dante mengingatkan dirinya tentang rencananya.