
“Hahahaha….kau melihatku seperti itu dan tidak bisa jawab ya? Apa benar seperti yang kuduga?” tawa Bella pun pecah melihat ekspresi wajah Dante yang menatapnya.
“Simpan saja tawamu itu!” Dante memicingkan matanya sambil dia menjawab Bella yang tertawa. Bella sudah terbuai dan berspekulasi ketika menatap pria itu.
“Sssshhhh! Jangan dipencet-pencet Dante! Sakit!” Bella kembali protes dan meringis kesakitan ketika Dante bukannya memberikan sentuhan halu justru pria itu malah menggigit dan memencet puncaknya. Dia tak mempedulikan protes wanita itu dan terus saja melakukan apa yang sedang dia sedang lakukan sekarang sebagai hukuman pada Bella. Karena dia tidak menyukai apa yang dikatakan oleh wanita itu.
“Hati-hati kalau bicara Belinda!”
“Maafkan aku Dante! Habis kau tidak mengizinkan aku memegang pisang itu.” protesnya lagi.
“Apa katamu? Pisang? Kau pikir punyaku bengkok seperti pisang, heh?”
“Eeeh….bukan begitu. Aku bukan mikir yang itu! Aku tadi kan boleh pegang-pegang makanya pikiranku jadi kemana-mana. Apa kamu juga melakukan hal seperti ini pada istrimu? Dia tidak boleh pegang juga ya? Makanya aku merasa penasaran kenapa kau bercerai!”
Bella mulai menunjukkan wajah merajuknya mencoba menjelaskan pada Dante.
“Jangan mencampuri urusan yang bukan urusanmu Belinda Alexandra!”
“Iya….iya…..” sahut Bella mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bicara.
“Kau mau apa lagi itu?” tanya Dante saat Bella mengambil sesuatu yang tadi ditaruhnya diatas meja.
“Makan pisang.” Bella langsung menghabiskan sisa pisangnya dengan sekali telan dan membuat Dante memelototinya. “Eh, kenapa kau melihatku seperti itu.” Bella merasa khawatir melihat tatapan Dante.
‘Apa maksudnya melakukan itu? Apa dia ingin menunjukkan padaku bagaimana dia akan memakan milikku dan ingin membuatnya? Cih! Punyaku tidak sekecil pisang itu! Dia tidak akan bisa memakannya sekali telan. Aku pastikan panjangnya sampai membuatnya tersedak ditenggorokan.’
Dante mengomel sangking kesalnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Bella, hanya memandangi wanita itu saja dengan tatapan yang sulit diartikan sehingga membuat wanita itu ketakutan. “Dante! Apa kau marah padaku karena aku makan pisang? Kau jangan salah sangka.”
“Ahhhhh! Jangan bahas-bahas pisangmu! Mulai hari ini kau tidak boleh lagi makan pisang! Tidak satu buah pun! Awas saja kalau kau makan pisang lagi!”
“Hah? Kenapa begitu? Apa salahnya pisang sampai aku tidak boleh makan pisang lagi Dante?”
“Cih! Aku tidak suka melihatmu makan pisang! Tidak boleh ada pisang lagi”
“Pfff…..kasihan sekali nasibmu pisang!” keluh Bella pelan. ‘Dia marah beneran gara-gara aku makan pisang? Ada-ada saja sih ini orang!’
__ADS_1
Bella memandang Dante dengan perasaan takut, dia juga tidak mengerti apa maksud kemarahan pria itu. “EM…..ya sudah kalau begitu aku tidak akan makan pisang lagi didepanmu.”
“Jangan menjawab saat aku bicara! Belinda! Kau ini masih kecil, bandingkan usiamu dengan usiaku! Bersikap sopanlah sedikit padaku dan jangan bahas-bahas pisangmu lagi!”
“Heh….iya maaf. Kalau kau marah padaku lampiaskan saja padaku. Jangan menyalahkan pisang.” ujar Bella yang masih tak terima jika pisangnya jadi korban.
“Kau tahu kalau sikapmu ini sama seperti anak kecil?”
“Kan katamu usia kita beda sepuluh tahun. Jelaslah aku seperti anak kecil! Anak kecil yang sudah bisa buat anak kecil, iyakan Dante?”
“BELINDA!”
“Ehhh...iya iya. Aku salah lagi ya? Maaf ya mulutku tidak ada remote kontrolnya kalau bicara.” Bella menundukkan kepalanya merasa takut setelah dibentak oleh Dante.
“Pffff!” Dante tak tahu lagi harus bicara apa sehingga dia hanya bisa menghembuskan napasnya kasar-kasar berharap bisa menghilangkan semua emosi didalam hatinya.
“Hmmm….apa karena itu kau tidak tertarik padaku Dante? Karena aku kekecilan?” Bella asal bicara.
“Aku lapar sekali! Ayo kita masak!”
Dante tak bicara lagi, dia hanya menunggu Bella melakukan apa yang diinginkannya sambil dia membuang wajahnya yang memerah.
‘Terus saja kau menghinaku Belinda! Tak mengertikah dari tadi sudah kubilang jangan makan pisang didepanku? Kenapa masih kau makan juga? Caramu memakannya itu…..isssss! Nanti aku akan buktikan kalau punyaku lurus panjang besar dan tak bengkok dan tak mudah goyah seperti itu.’ gerutu Dante didalam hatinya terus saja mengomeli Bella.
“Sudah habis! Ayo masak.” ujarnya sambil memperlihatkan dua kulit pisang yang kosong dan menaruhnya diatas meja.
“Ya sudah. Ayo kita masak.” Dante menurunkan Bella dari pangkuannya.
“Dante!” ucap Bella yang kini menaruh tangannya ditubuh pria itu sambil menggerayang mesra hingga dia menekan kedua tombol aktif Dante.
“Turunkan tanganmu dari sana! Memangnya aku minta kau menyentuhnya hemm?” perintah Dante.
“Pegang pun tidak boleh? Pelit sekali kau Dante! Padahal aku sudah memberimu dua anak tapi kau masih saja bersikap begitu padaku.”
“BELINDA!”
__ADS_1
“Eeehhh…..” sambil mengerucutkan bibirnya akhirnya Bella mengangkat tangannya dari tubuh Dante setelah teriakan Dante yang mengejutkannya.
“Kau mau makan tidak?”
“Kalau sebelum makan kita lakukan dulu bagaimana? Apa kau tidak rindu sama anakmu? Anakmu merindukanmu loh. Aku sudah tergoda dengan tubuhmu sejak tadi Dante.”
“Kau pikir aku mau denganmu sekarang?” Dante menggelengkan kepalanya.
“Jadi benar kau tidak tertarik padaku?”
“Aku tidak tertarik dengan wanita yang sudah dua hari tidak mandi! Bersihkan dirimu dulu sebelum kau menginginkan aku!”
Bella sungguh tidak menyangka jawaban Dante. “Menyingkir! Aku mau masak. Aku sudah kelaparan!” Dante berusaha menjauhkan Bella darinya. Tapi….
“Ahhhh! Bella jangan meremas bagian bawahku terlalu kencang begitu! Sakit sekali! Lepaskan tangamu dari sana!” teriak Dante kesakitan.
“Tidak! Aku tidak mau melepaskannya Dante!” ancam Bella sudah mencembungkan pipinya.
“Berani kau bilang tidak mau padaku?” Dante ingin sekali rasanya mengancam balik dengan jaminan Sarah dan Alex. Tapi….
“Habis kau pelit sekali! Punya begini saja tidak mau dipakai! Memangnya kau mau punyamu jadi karatan nanti?” Bella mencibir sehingga membuat Dante tak jadi bicara dan hanya bisa menelan kekesalannya menghadapi wanita itu.
“Lepaskan! Kau bisa membuatnya patah!” Dante memaksa dan menjauhkan tangan Bella dari miliknya yang tadi diremas wanita itu dengan kuat sehingga Dante meringis kesakitan. ‘Belum saatnya aku membalasnya. Setelah makan nanti dan tenagaku sudah pulih, awas saja kau Belinda!’ ancam Dante didalam hatinya.
“Habis kau pelit sekali! Sakit ya?”
“Jangan banyak bicara! Waktunya untuk makan, bantu aku memasak!" Dante langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju lemari pendingin.
“Apa kita akan melakukannya sama seperti waktu itu?” Bella semakin gemas membayangkannya.
“Pegang ini!” ujar Dante memberikan ikan ketangan Bella.
“Dante?????
“Ambilkan bumbu-bumbu disana. Dan bahan-bahan lainnya yang sudah dipisahkan oleh Henry disana.” perintah Dante lagi.
__ADS_1