PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 305. SEMAKIN MANJA


__ADS_3

“Aku….mau makan….” ucapnya dengan suara pelan. Bella takut kalau Dante marah.


“Belinda cepat katakan kau mau makan apa?” Dante yang lelah tak sabaran lagi ingin tidur.


“Dante, aku masih ingat tentang sop ikan yang kau buat untukku dulu?” tanya Bella malu-malu.


“Oh jadi kau mau makan sop ikan itu?” tanya,Dante tersenyum melihat tingkah wanita itu yang takut dan malu-malu.


Bella pun langsung menganggukkan kepalanya bersemangat. Sikapnya saat kesenangan sama persis seperti Alex.


“Ya sudah aku akan membuatkannya!” ujar Dante walaupun dia lelah.


“Dante!” panggil Bella lagi sebelum pria itu pergi dan melepaskan tangan Bella. Wanita itu memegang erat telapak tangan pria itu.


“Apa lagi?”


“Tapi aku mau membuatnya bersamamu.” pinta Bella dengan wajah menggemaskan.


“Ya sudah ayo ikut.”


“Dante!”


“Apalagi Belinda?” tangannya kembali ditarik Bella.


“Aku ingin membuatnya bersama denganmu Dante. Tapi seperti waktu itu ditempatmu. Kau dan aku didapur! Tapi kita buatnya tidak pakai baju, bisa lihat ini.”


“Hei jangan pegang.”


“Tidak boleh pegang ya?” Bella langsung menarik tangannya dari atas celana Dante.


Kepala Dante sudah berasap rasanya ingin bicara dan protes pada Bella tapi dia berusaha menahannya lagi dan lagi entah kapan Dante akan meledak. Bella sedang hamil dan dia tak mungkin memarahinya, Dante sangat takut kalau bayinya kenapa-napa.


“Hmm….apa permintaanku tadi salah ya?” dengan agak takut-takut Bella memberanikan diri bertanya. "Maafkan aku ya."


‘Anthony tidak ada mencekokinya dengan obat kan? Kenapa dia jadi semakin bodoh begini? Dulu dia tidak bertingkah seperti ini! Kalau tidak dituruti dia tidak mau makan, nanti anakku bagaimana?’ sungguh Dante sangat kelelhan tapi memikirkan anaknya, naluri ke bapak-annya bereaksi.


“Kau ingin yang seperti itu? Sup ikan yang kita buat sama persis seperti waktu kita di Indonesia?”


“Iya...tapi….kalau tidak boleh juga tidak apa-apa.” Bella berusaha menahan dirinya dan menggigit bibirnya hingga giginya yang putih terlihat oleh Dante.

__ADS_1


“Kalau tidak boleh lantas kau tidak akan makan?”


Bella mengangguk lemah.


“Fuuh! Sebentar kuhubungi Henry dulu.” Dante tak banyak bicara membuat Bella mengerjapkan matanya menatap pria itu.


“Kau tidak marah padaku Dante?”


“Kenapa aku harus marah?” Dante menatapnya lembut, “Kau mau makan itu kan?”


“Iya! Aku suka melihatmu begitu. Hmmm….aku pengen lihat lagi Dante!” Bella menjawab dengan manja dan sudah tersenyum membayangkan apa yang terjadi diantara mereka saat masak sop ikan tanpa mengenakan apapun.


‘Apa dia tidak suka ya? Tatapan matanya kaku sekali padaku. Sebenarnya salah tidak ya kalau aku bertanya begitu? Aduh, aku jadi bingung! Tapi aku emmang benar-benar ingin. Semoga saja dia tidak marah padaku. Aku sudah tidak bisa menahan lagi ingin dekat dengannya. Aku mau dia.’ ucap Bella didalam hatinya saat dia melihat wajah kaku Dante yang tak tersenyum.


“Kalau begitu jangan bicara lagi. Aku mau hubungi Henry dulu.” ujar Dante tak sadar mendegus.


Dante menekan nomor telepon Henry dan menunggu beberapa saat.


“Iya Tuan?”


“Aku mau kau menyiapkan ikan! Ikan segar dan juga bumbu-bumbu untuk memasaknya. Taruh semuanya di bunker sekarang.”


“Masukkan barang-barang keperluan harian untuk lemari es. Itu saja yang kuminta. Lakukan secepatnya, aku akan sampai di bunker lebih kurang tiga puluh menit lagi.”


“Baik Tuan.”


‘Fuuhhh….ada-ada saja keinginannya! Tapi ya sudahlah. Aku tidak bisa menolaknya sekarang. Sikap manjanya dan cara dia melihatku begitu membuatku tak tega. Mungkin dia ngidam sup ikan.’ gumam Dante sambil mematikan teleponnya.


“Aku sudah memberitahu Henry apa yang harus dilakukannya!” ucap Dante melirik Bella.


“Terimakasih Dante!” Bella terlihat senang sekali.


“Ada apa lagi? Apa masih ada lagi yang kau pikirkan makanya kau senyum dan menggigit bibirmu?”


“Dante, bolehkah aku minta dipeluk?”


‘Fuhhhh, ya ampun….kapan aku istirahatnya kalau begini terus?’


“Hanya peluk saja ya Belinda. Kemarilah.” Dante membuka kedua tangannya dan satu tangan menarik wanita itu mendekat padanya. “Kau sudah lebih tenang sekarang?”

__ADS_1


‘Demi bayi dalam kandungannya, aku harus bersabar!’ ucapnya didalam hati sambil tangannya mengelus rambut Bella. Dia merasakan hangat didalam hatinya saat memeluk wanita itu.


Kekesalannya seperti cabai pedas yang membuat rasa makanan jadi enak. Rasa hati Dante pun semakin membaik moodnya dan semua kekesalannya hilang entah kemana.


“Sudah? Itu saja yang kau minta?” tanya Dante ulang dan melepaskan Bella dari dekapannya.


“Iya! Lalu apa yang harus kusiapkan sekarang?” tanya Bella bersemangat.


“Tidak perlu menyiapkan apa-apa. Aku sudah memasang alarm untuk dua puluh menit. Bisa kau menolongku sebentar Belinda?”


“Bisa. Apa yang harus aku lakukan?”


“Aku meletakkan ponselku disini. Saat alarmku berbunyi tolong bangunkan aku. Sekarang aku tidur dulu sebentar. Aku lelah sekali, belum istirahat sejak kemarin.”


“Kau lelah Dante?’ wanita itu menatapnya dan tatapan mereka bertautan. Matanya teduh menatap Bella dan menganggukkan kepalanya.


“Aku mau istirahat sebentar. Tidak masalah kan? Kau bangunkan aku nnati?”


Bella menggelengkan kepalanya dan tersenyum manja. Inilah kebiasaannya sekarang, dia akan selalu tersenyum manja setiap kali Dante bertanya. ‘Fuhhh! Sayang sekali aku menganggurkan dia. Aku sudah ingin melakukannya sejak tadi malam tapi tidak mungkin aku melakukannya sekarang.’


‘Arimbi tidak akan puas kalau kulakukan sekarang, aku sudah lelah sekali! Yang ada malah baru masuk sebentar pasti tak tahan lama. Karena aku tidak akan sanggup menahan diriku. Tapi dia menginginkannya. Aiisss…..’ ujar Dante yang belum tidur semalaman sehingga tidak berani mengambil resiko.


Membuat Bella tidak puas itu bukan hal yang diinginkan pria itu, pantang baginya memberikan sesuatu yang tidak bisa memuaskan bagi wanitanya. Dia pun lebih memilih langsung merebahkan tubuhnya.


Bahkan dia sampai lupa melepaskan sepatunya saking lelahnya saat dia merebahkan tubuhnya. Rasanya benar-benar nyaman saat tubuhnya menyentuh ranjang yang empuk. Tapi, baru saja dia membaringkan tubuhnya Bella sudah memanggilnya lagi.


“Dante!”


“Hah? Apa lagi?”


Dia baru saja memejamkan matanya bersiap untuk tidur tapi wanita itu kembali memanggilnya membuatnya merasa pusing dan sedikit mual saat menatap Bella. “Apa lagi yang kau inginkan Bella?”


“Dante, aku mau ke kamar mandi. Aku mau pipis.” jawabnya polos.


“Hmmm...bukankah kau tahu dimana letak kamar mandi?” tanya Dante dengan suara lemas dan bisa dibayangkan betapa tersiksanya dia saat mau tidur harus bangun lagi.


“Aku tahu. Tapi aku tidak bisa kesana sendiri, Dante!”


“Kenapa? Ini kamarmu sekarang. Pergilah ke kamar mandi dan lakukan apa yang kau mau lakukan.”

__ADS_1


“Aku tidak mau! Aku mau kau yang mengantarku pipis Dante!” suaranya semakin manja.


__ADS_2