
Keduanya saling menatap tajam dan dingin, menyembunyikan sesuatu didalam hati mereka.
“Oh…..berburu ya? Kedengarannya kau cukup ahli.” Dante mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum tipis tapi senyum menyeringai itu cukup menakutkan. ‘Kau pandai menggunakan senjata tapi kau tidak mau mengatakan itu padaku, apa kau ingin menipuku ha? Kau menyembunyikan sesuatu dariku bukan?’ Dante sedang memikirkan sesuatu sambil berujar dihatinya.
“Tidak bisa dibilang ahli Tuan, saya masih amatiran dan saya tidak ada menyembunyikan apapun dari Tuan.” ujar Anthony tenang.
‘Hemm…..pandai juga kau mengatur emosimu, cukup bagus! Dia membuat permainan ini semakin menarik saja,’ hati Dante kembali berdecak, dia pun mulai menganalisa dan memikirkan rencananya. ‘Alasanku ini tidak akan pernah membuatmu sadar kalau aku sudah mengambil surat itu! Kau bukan siapa-siapa bagiku Anthony! Masih terlalu naif dan bukan tandinganku.’ gumamnya semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Anthony.
“Menurutku keahlianmu cukup bahkan nyaris sempurna.” ucap Dante masih memperhatikan Anthony untuk melihat reaksnya, dia benar-benar mengintimidasi.
“Anda terlalu berlebihan Tuan. Aku bahkan belum pernah menunjukkan kebiasaanku dalam menembak, sudah lama sekali aku meninggalkan kegiatan itu.” kilah Anthony.
Sementara didalam hatinya Anthony semakin merasa tidak nyaman, ‘Mungkin sekarang aku akan ketar ketir dan dia akan tahu penyamaranku seandainya aku tidak bisa mengendalikan diriku. Dia sepertinya benar-benar ingin mempermainkan aku.’ Anthony berbisik dalam hatinya.
“Menurutmu begitu ya?” Dante mencibir.
“Iya Tuan.”
“Kemarin aku memperhatikanmu saat bermain bola.” Dante mengangguk, dia mengacuhkan jawaban Antony tapi Dante membuat sebuah pernyataan baru.
“Oh main bola? Yang dihalaman belakang itu?” Anthony mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukannya kemarin saat bermain bola. Dia merasa tidak ada yang salah.
“Gerakan refleksmu cukup bagus bahkan sangat bagus! Caramu memegang bola juga nampak seperti ahli dan shootingmu cukup baik. Aku jadi curiga kalau kau pandai menembak.” Dante memberikan pernyataan lainnya sebagai alibi untuk memulai permainannya.
‘Bagaimana bisa dia menyambungkan antara bola dan menembak? Ah menyusahkan saja, ternyata dia bukan orang yang mudah. Dia tipikal pemerhati. Apa kemarin aku bertindak berlebihan saat melakukan shooting? Tapi aku masih tidak mengerti apa hubungannya bola dengan menembak?’ Anthony mulai tidak nyaman karena tidak ada satupun yang dipikirkannya bisa menjadikan alasan bagi Dante.
“Ah saya rasa anda berlebihan Tuan. Aku rasa permainanku bukan hal yang hebat Tuan, hanya permainan bola biasa saja menurutku.” ujar Anthony.
“Apa kau yakin? Kau sangat pandai, caramu melempar bola seperti mengerti dan sudah terbiasa mengukur arah angin. Itu adalah tehnik dasar saat menembakkan peluru. Seorang penembak harus paham faktor apa saja yang bisa mempengaruhi gerakan peluru. Apalagi untuk seorang sniper, aku bisa melihat itu.” Dante tersenyum penuh makna dengan tatapan mata yang masih dingin seakan menembus tulang-tulang Anthony membuat tubuhnya merinding.
Anthony menelan salivanya, dia mulai merasa gugup mendengar ucapan Dante. ‘Kurasa mulai sekarang aku tidak bisa main bola lagi.’Anthony mengingatkan dirinya karena dia khawatir dengan kemampuannya yang sudah diketahui oleh Dante.
__ADS_1
“Anda terlalu berlebihan menilai saya Tuan! Tapi saya ucapkan terimakasih, saya tidak menyangka kalau saya bisa mendapatkan pujian dari anda.”
“Kau juga sangat perhatian pada anggota tim mu.” ucap Dante lagi.
“Maaf, maksud Tuan?” Anthony tidak paham ucapan Dante.
“Apa perlu kujelaskan?” Dante justru menawarkan diri, hal yang jarang sekali dia lakukan dan dijawab Anthony dengan anggukan kepala.
“Huh! Aku melihat bagaimana kau melempar bola dan caramu menangkap tubuh Bella yang hampir jatuh. Kau menyelamatkan dua hal bersamaan. Bolamu berhasil mendapatkan kemenangan dan satu tanganmu berhasil membuat tim mu tidak terjatuh.” jawab Dante tersenyum.
“Terimakasih atas penilaian anda Tuan. Tapi saya benar-benar tidak berpikir sejauh itu. Itu hanyalah permainan bola biasa dan sejujurnya kami semua sangat menikmatinya, jadi ucapan Tuan sangat berlebihan menurut saya. Saya sama sekali tidak menunjukkan bakat apapun apalagi keahlian menembak yang bukan pekerjaan utama saya.” ucap Anthony.
“Apa kau mau bilang kalau prediksiku salah, begitu?” ucapan Dante mulai menantang sambil menyipitkan matanya.
“Bukan begitu maksudku Tuan, saya sangat kagum dengan cara pikir anda dan saya berterimakasih kalau anda menilai saya begitu. Itu adalah suatu kehormatan bagi saya bisa mendapatkan penilaian dari anda Tuan.” Anthony masih bicara diplomatis dan berusaha tetap tenang.
‘Waduh, mati aku! Kenapa aku malah bicara begitu? Bagaimana kalau dia minta menjelaskan semua padanya soal itu? Aku tidak tahu kalau dia memperhatikan sampai sejauh itu.’ ujar Anthony dihati.
“Saya ingin mengucapkan terimakasih Tuan. Penilaian seperti itu sungguh tidak pernah saya pikirkan.”
“Hem…..tapi menurutku kau bisa membantuku.” ujar Dante memulai permainan.
“Membantu Tuan?” tanya Anthony yang masih tidak mengerti maksud Dante.
“Sebentar lagi temanku akan datang, aku ingin membereskan sesuatu, banyak sekali penyusup.” Dante bicara sambil melirik jam tangannya.
“Oh begitu! Jadi maksud anda ingin membicarakan perihal penyusup. Maksudnya apakah itu pekerjaan anda atau apa itu Tuan? Maaf, saya kurang paham.” ucap Anthony dengan hati bergetar.
‘Penyusup? Apa dia curiga kalau aku ini seorang penyusup?’ hati Anthony semakin tak tenang.
“Kau tahu apa pekerjaanku?” tanya Dante melirik Anthony.
__ADS_1
“Kalau soal itu, saya tidak tahu Tuan. Saya disini hanya seorang pekerja yang bekerja di mansion dan saya bahkan hampir semua pelayan tidak tahu apa pekerjaan anda, Tuan.”
“Dante! Aku sudah datang, apa yang ingin kau bicarakan padaku?”
Anthony menoleh mencari tahu sipemilik suara yang tiba-tiba berteriak kencang.
“Hai Nick kau datang tepat waktu!” ucap dante tanpa senyum dan tanpa menengok Nick.
“Kenapa pas? Aku mau kau eksekusi ya?” ujar Nick.
“Kau lihat yang disana itu?” Dante tak meladeni guyonan Nick, justru Dante menuju kesuatu tempat.
“Itu tempat latihan tempur kita, kenapa memangnya?” tanya Nick saat matanya memindai ke arah yang ditunjuk oleh Dante dengan jari telunjuknya.
“Suruh seseorang untuk menaruh medali diujung sana Henry!” ucap Dante tegas.
“Di atas puncaknya Tuan?” tanya Henry balik.
Dante menganggukkan kepalanya tanpa melirik Henry, pandangannya lurus menatap ujung puncak bukit yang ditunjuk olehnya.
“Baik, Tuan. Akan saya lakukan!” jawab Henry. Dia pun segera pergi memanggil seseorang dan berbisik pada pelayan itu. Lalu pelayan itupun bergegas pergi setelah menerima perintah dari Henry.
“Untuk apa kau ingin menaruh medali disana malam-malam begini Dante?” tanya Nick heran.
“Nanti aku jelaskan. Kita bicarakan dulu masalah yang tadi pagi aku katakan padamu setelah permainan ini selesai.” jawab Dante tersenyum sumringah.
‘Aku sebal sekali kalau melihat senyumu itu Dante! Apa kau sedang merencanakan sesuatu?’ Nick berujar didalam hatinya yang sangat mengenal karakter sahabatnya itu.
“Baiklah, sekarang kau mau main permainan apa?” tanya Nick lagi.
__ADS_1