
Tok tok tok
“Masuk!”
“Kalian disini rupanya.” ujar seorang pria paruh baya.
“Grandpa Omero!” teriak Alex dengan binar bahagia dimatanya.
“Ayah!”
Dante dan Alex menyapa orang yang ada dipintu berbarengan dan tersenyum. Alex langsung berlari menuju kearah kakeknya begitupun Dante yang tersenyum ikut mendekat.
“Mana Henry? Kenapa dia tidak menyambutku diluar? Apa dia libur sekarang?” Omero Rivera menanyakan orang yang sudah akrab dengannya.
“Dia sedang mencari sesuatu, ayah. Ada orang yang kabur dari tempatku tadi malam.”
“Oh, orang penting?” Omero menimpali lagi.
“Benar, ayah! Dia penyusup.” jawab Dante.
“Penyusup?” pria itu kembali bertanya pada menantunya Dante.
“Iya. Aku kecolongan ayah. Dia penyusup dari pihak federal!”
“Tapi bagaimana mereka bisa masuk kedalam sini Dante?” Omero merasa khawatir.
“Menyamar sebagai pelayan.” jawab Dante dengan singkat.
“Kau belum mengeksekusinya?” tanya Omero lagi yang merasa heran.
“Baru mau dilakukan hari ini ayah!”
“Sudah kukatakan padamu dante! Jangan menunda. Saat kau menunda mereka akan punya peluang untuk kabur!”
“Maaf ayah! Ini kesalahan terbesar yang pernah aku perbuat.” ujar Dante. ‘Kalau aku sigap sejak awal dan tak berpikir macam-macam aku sudah menghabisinya dan Belinda tidak akan dibawa pergi!’ penyesalan terbesar muncul dihati pria itu.
“Sudahlah! Apa kau mau pergi sekarang Dante?”
__ADS_1
“Pergi kemana ya?” Dante mengeryitkan dahinya.
“Apa kau lupa kalau hari ini adalah hari peringatan kematian istriku dan cassandra? Bukankah setiap tahun kau tidak pernah melupakan itu?” ucap Omero Rivera.
‘Kenapa Dante terlihat seperti tidak fokus ya? Dia tidak pernah kehilangan fokusnya begini kecuali saat orangtuanya meninggal dunia.’ ucap hati Omero Rivera.
“Ya ampun. Aku sampai lupa. Kau benar ayah! Maafkan aku.” jawab Dante. ‘Cassandra maafkan aku. Ibu Jeannie aku juga minta maaf karena hari penting kalian aku lupakan.’
“Bukan salahmu! Belajarlah untuk tidak mengatakan maaf. Setiap tahun kau selalu mengatakan maaf padahal sudah jelas itu bukan kesalahanmu!” Omero menepuk bahu Dante dengan senyum diwajahnya.
“Minimal kalau saat itu aku membiarkan Cassandra naik keatas motorku, maka istrimu tidak akan meninggal, ayah.”
“Hem...apa gunanya tiap tahun kau membahas ini? Itu adalah takdir, tidak perlu kau pikirkan.” Dia kembali menepuk lengan Dante.
“Itu semua salahku! Aku membawa mobil itu terlalu cepat dan tanpa aku pikirkan bahwa remnya blong. Aku ingin menyelamatkan keduanya, aku sudah menarik istriku keluar kala itu sebelum mobil itu jatuh ke jurang dan meledak! Tapi dia justru mendorongku keluar dan dia sendiri ingin menyelamatkan putriku yang ada dijok belakang.” ucap ayah mertua Dante.
“Maafkan aku ayah.” ekspresi wajah Danter terlihat sangat sedih.
“Sudah kukatakan bukan salahmu Dante! Setiap tahun kita selalu memikirkan hal ini. Aku tidak mau ada ratapan lagi Dante!” ada senyum di wajah pria itu sambil menatap Dante.
“Aku tidak bisa melupakannya apalagi ketika kita menemukan tubuh mereka sudah hanya tinggal potongan-potongan saja. Sangat menyakitkan bagiku.”
Ada raut wajah sedih diwajah Omero tapi dia langsung tersenyum lagi pada menantunya. “Terimakasih Dante, karena kau telah menjaga satu putriku lagi. Kau benar-benae menepati janjimu padaku untuk menjaga Tatiana!” ujarnya berusaha menepis kesedihan.
“Hem...dia yang terbaik untukku ayah.” ucap Dante masih dengan senyum diwajahnya walaupun dihatinya sedang babak belur dan hancur berkeping-keping.
“Oh iya. Dimana Tatiana? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?” Omero celingak celinguk.
“Tatiana sedang pergi, dia ada kegiatan dengan asosiasi penyandang penyakit kanker ovarium!”
“Apa? Jadi dia lupa kalau hari ini adalah hari dimana adik dan ibunya meninggal?” tanya Omera terkejut. Dia tak habis pikir dengan sikap Tatiana yang acuh dan tak peduli sama sekali.
“Mungkin bukan begitu ayah. Aku rasa Tatiana tidak lupa tapi dia hanya ingin ikut acara itu saja. Cassandra sudah meninggal dan kita bisa datang kapan saja ke makamnya tapi kalau acara itu, mungkin bisa memberikan ketenangan dihatinya. Tatiana merasakan sendiri bagaimana semua rasa sakit yang dialaminya dan dia ingin berbagi dengan para penyandang penyakit yang sama.” Dante mencoba menjelaskan pada ayah mertuanya.
Ayah mertuanya itupun mencoba berpikir, "Mungkin kau benar. Pemikiranmu sangat baik sekali. Kau sama seperti ayahmu.” Omero kembali murung.
“Ayah, maaf kalau aku mengingatkanmu pada ayahku lagi.” Dante memang sangat sopan pada ayah mertuanya dan dia sudah menganggap pria itu seperti ayahnya sendiri.
__ADS_1
“Aku beruntung karena setelah dia tiada aku masih bisa mengurusmu Dante.” ujar Omero.
Pria itu menatap senang pada Dante tapi juga ada rasa tidak nyaman karena rasa sedihnya yang berlarut-larut memikirkan sahabatnya. “Tapi aku menyesal sekali karena tidak berhasil menyelamatkan adikmu! Maafkan aku Dante!” ujar Omero Rivera dengan perasaan bersalah.
“Ini sudah jadi suratan takdir, ayah.” Dante tak ingin memperpanjang lagi.
“Siapa yang sudah mengambil adikmu?” pria itu kesal dan mengepalkan kedua tangannya.
“Sudahlah ayah. Tidak perlu dipikirkan kalau memang adikku masih hidup dan kami masih berjodoh lagi, pasti aku akan menemukannya!”
“Dua puluh delapan tahun telah berlalu dan kejadian itu masih tetap membekas bagiku! Aku benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan memanfaatkan waktu kita mengubur jenazah orangtuamu untuk menculik adikmu.”
“Ayah kau sudah banyak membantu kami dan kau bukan diam saja tapi kau sudah mencari adikku juga. Jadi jangan menyalahkan dirimu lagi.” ujar Dante.
“Aku minta maaf padamu Dante, inilah yang aku takutkan dari dunia ayahmu. Saat ayahmu sedang lengah dan kekuatannya bisa tegroyahkan maka orang-orang disekitarnya akan berusaha benar-benar menggulingkannya.”
“Itulah kenapa kau membawaku kerumahmu dan menempatkan aku sebagai anggota keluargamu supaya aku tidak tinggal sendiri di mansion ini bukan?”
Ayah mertua Dante pun menganggukkan kepalanya. “Aku tidak ingin mereka menjadikanmu sasaran selanjutnya! Yang saat itu usiamu masih tujuh tahun dan kau masih belum sanggup untuk melawan mereka.’
“Terimakasih telah menyelamatkanku, ayah. Aku berhutang nyawa padamu!” kata Dante lagi.
“Sudahlah, ayo kita pergi. Kita malah mengobrol dipintu begini?”
“Maaf ayah, aku jadi tidak sopan padamu.Ayo sekarang kita berangkat ke makam Cassandra dan Ibu Jeannie!” ucap Dante dengan berat hati karena dia tidak fokus. ‘Hanya sebentar saja aku pergi ke makam, setelah itu aku akan kembali mengurusmu Anthony!’
“Ayo Dante!” Omero mengangguk setuju.
“Daddy tunggu Bella!” ujar Alex.
“Siapa yang dipanggil Alex?” tanya ayah mertuanya ketika melihat Alex menarik-narik baju Dante.
“Bella adalah pengasuh Alex.” jawab Dante.
“Kau jadi memberikan Alex seorang pengasuh?” tanya pria itu lagi.
“Iya ayah. Alex butuh teman dan dia sekarang sangat akrab sekali dengan pengasuhnya itu, makanya tadi dia menanyakan wanita itu.” Dante masih berusaha untuk tetap bersikap tenang,
__ADS_1
“Tapi Bella tidak ada Grandpa Omero!” protes Alex.