PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 115. PEMBALASAN BELLA


__ADS_3

“Wow luas sekali halaman belakang mansion ini.” Bella tersenyum memandang padang golf yang sangat luas dibelakang. “Kau punya istana yang begitu besar. Bahkan dari sini aku bisa melihat semua yang kau miliki! Tapi aku tidak tahu dimana keberadaanku, aku hanya tahu ini negara Italia tapi di kota mana? Aku mendengarnya dan para pelayan bicara bahasa Italia makanya aku tahu ini di Italia. Hem….sebenarnya aku kasihan padamu Tuan Dante, kau memiliki istri monster, hanya terlihat mencintai anakmu diluar saja tapi dia menyiksa anaknya dibelakangmu cukup kejam walaupun bicaranya sangat lembut. Atau jangan-jangan Alex itu bukan anak kalian ya?” Bella mengerjapkan matanya berpikir.


“Tapi anak itu mirip Tuan Dante, dia sangat kritis dan pintar. Wajahnya juga mirip dengan ayahnya walaupun ada wajah Asia juga. Dia tidak mengerikan sepertimu tapi aku tidak melihat wajah Tatiana di anak itu. Alex sangat tampan dan menggemaskan.” gumam Bella mengulum senyum.


“Kalau Alex bukan anak kecil mungkin sudah kupacari dia ha ha ha ha. Habisnya aku gemas sekali, kami punya banyak kesamaan. AH tapi aku tidak suka berondong! Tidak mungkin aku suka dengan orang yang takut gelap, bisa-bisa kami berdua tidak bisa melakukan apapun kalau mati lampu. Ha ha ha ha pikiranku sudah melantur kemana-mana, tapi lebih baik begini daripada aku stress sendiri memikirkan istrimu yang barusan memarahiku?’


Tatapan mata Bella semakin jauh memandang kedepan, hari itu sudah semakin sore dan dia masih duduk di balkon kamarnya lebih dari dua jam lamanya menikmati pemandangan dengan udara dingin yang sebenarnya tidak disukainya. “Aku memang tidak suka dingin, rasa dingin ini sama seperti wajahmu Tuan Dante, wajah dinginmu dan kau tak pernah menghangatkan hatiku, sama seperti udara dingin ini yang tak menghangatkan tubuhku.”


Pandangan Bella menerawang jauh entah kemana, pikirannya membawanya melintasi benua pada sebuah memori lama. “Sarah!” wanita itu tersenyum kembali. “Kau ada dimana sekarang? Apa kau baik-baik saja disana? Aku teringat saat pertama kali aku pulang ke Indonesia dan kau menyapaku. Kau satu-satunya penghiburku setelah aku kehilangan anakku. Kau senang sekali menyambut kedatanganku, kau langsung memelukku erat dan kita menghabiskan banyak waktu bercerita.”


“Ah bukan aku yang cerita tapi kau yang cerita dan aku hanya mendengarkan saja. Aku tidak berani cerita apapun padamu saat itu karena aku trauma menjalani hidup hampir setahun tidak bisa melihat apapun. Sarah, apa kau merindukanku diluar sana? Harusnya aku menelepon Tuan Jeff! Akulah penyebab masalah ini dan membuatmu hilang.” celetuk Bella mengerucutkan bibirnya.


“Ah seharusnya yang patut disalahkan itu dia, Tuan Dante! Andaikan dia bilang padaku kalau dia mau menerima uang itu dan mengurusmu tentu saja aku tidak akan menelepon Tuan Jeff kala itu. Saking khawatirnya aku padamu dan Tuan Dante tidak memberiku ketenangan, dia sangat sombong walaupun yah…..dia baik juga sih mau menolongku. Cuma sekarang ini masalahnya jadi begini! Aku tambah bingung Sarah! Tuan Dante itu pelit! Memang dialah sumber masalahnya, belum lagi istrinya si wanita iblis jahanam!”


“Sampai kapan kau akan memakiku?”


“Haaaaa!” Bella terhenyak menoleh ke belakang sambil berdiri. “Sejak kapan kau ada disana?” tanya Bella mengerjapkan matanya.


“Hem….mau sampai kapan kau mau memakiku, ha?”


“He he he…..Tuan Dante sayang…..”


“Kenapa kau tertawa aneh begitu? Sejak kapan kau duduk diluar sini sampai bibirmu membiru? Apa kau mau mati kedinginan disini?” jari Dante menyentuh bibir Bella yang membiru.

__ADS_1


“Benarkah bibirku biru?” Bella memegang bibirnya.


“Sana lihat dikaca!”


Bella berlari masuk tapi dia merasakan ada pergerakan dipintu kamar seperti ada seseorang yang mengintip. Dia pun langsung memeluk Dante.


“He he aku pasti kedinginan, tapi aku merasa hangat kalau sudah memelukmu.” ujar Bella. Dante pun balas memeluknya lalu mengecup keningnya.


Dalam hati Bella bersorak sorai kegirangan, ‘Mampus kau perempuan iblis! Pasti kau sedang mengintip ya? Ha ha ha tahu rasa kau! Sana cek CCTV biar kau spot jantung! Aku tidak peduli dengan ancamanmu, toh suamimu sendiri yang mendatangi kamarku. Eh tidak kau lihat caranya memelukku dan mengecup keningku? Uhuyyyyy!


“Sejak kapan kau berdiri diluar? Aku menyuruhmu istirahat.”


“Aku tidak tahu. Kau sejak kapan sudah ada dikamarku? Apa kau tidak takut istrimu akan datang dan melihatmu disini dan memakiku?” dengan sengaja Bella menaikkan suaranya agar didengar seseorang.


Sementara seseorang yang berada dibalik pintu penghubung kamar sedang mengepalkan tangannya. Matanya memerah menahan amarah dan cemburu, hatinya sangat panas melihat dengan mata kepalanya sendiri suaminya masuk ke kamar wanita lain, memeluknya dan mengecup keningnya.


Bahkan terlihat lebih mesra dan lembut dibandingkan dengan yang dilakukan Dante pada istrinya. Orang itu tidak ingin melihat lagi kemesraan didepan matanya tapi dia enggan untuk pergi, dia ingin tahu lebih banyak lagi meskipun airmatanya sudah menetes.


“Kenapa kau memakiku, hem? Siapa suruh kau menghubungi Jeff, harusnya kau menungguku karena kau adalah milikku, kau adalah wanitaku!” celetuk Dante yang bagaikan petir membludak ditelinga Tatiana.


“Ah sudahlah tidak perlu dibahas. Aku mau tidur saja.” celetuk Bella mencoba menghindar namun Dante semakin mengeratkan pelukannya.


“Apa kau mau tidur sendiri, hem? Siapa yang menyuruhmu tidur?”

__ADS_1


Keisengan Bella pun muncul, dia mengerlingkan matanya menatap Dante lalu berkata, “Jangan menggodaku terus sayang, aku masih lelah dengan ulahmu kemarin malam. Kau nakal sekali, kau kuast sekali membuat tubuhku rasanya hancur berkeping-keping.”


“Oh ya? Apa sekarang kau protes? Kau tidak suka?”


“A—aku suka tapi aku takut.”


“Takut? Apa yang kau takutkan?”


“Aku takut istrimu tahu tentang kita lalu menghajarku. Aku juga takut kalau aku hamil.” dengan sengaja dia menaikkan suaranya saat mengucapkan kata ‘hamil.’


Duaarr!! Tatiana menutup mulutnya, terkejut! Bagai disambar petir mendengar percakapan kedua orang yang masih saling berpelukan itu. ‘Benar dugaanku! Tidak mungkin dia itu pengasuh, ini hanya pengalihan saja! Dante….kau berbohong! Kau membawa selingkuhanmu masuk kerumah kita? Tangannya memgang dadanya yang terasa sangat sakit tapi dia masih enggan untuk beranjak dari sana.


“Hamil?” tanya Dante.


“Iya, aku takut hamil. Apa kau lupa kalau kau selalu mengeluarkannya didalam? Bagaimana kalau aku hamil? Apa kau akan membuangku? Apa kau akan membunuh anakku?”


Dante terdiam sejenak sambil berpikir, ya dia teringat kalau dia tidak memakai pengaman dan mengeluarkannya didalam beberapa kali. Lalu sudut mulutnya terangkat membuat senyuman membayangkan Bella hamil lagi membawa ingatannya ke masa lalu saat Bella mengandung Alex.


“Tidak apa-apa.”


“Maksudmu? Kau tidak akan memintaku aborsi?” Bella sengaja menanyakan semua itu karena dia tahu jika Tatiana masih menguping dan tidak berani masuk karena takut pada suaminya. Dia mungkin tidak bisa menghajar Tatiana dengan memukulnya seperti yang dia lakukan pada Bella tetapi Bella ingin membalasnya dengan cara yang lebih menyakitkan yaitu mencabik-cabik hati dan perasaannya. Bukankah lebih menyakitkan jika suamimu direbut oleh pelakor? Tapi pelakor yang satu ini adalah pelakor istimewa yang memberikan keturuan bakal pewaris Dante Sebastian.


 

__ADS_1


__ADS_2