
“Huh….memangnya ada ya piring yang pecah tiap hari? Emangnya piring terbang kayak di film-film? Tidak mungkin piring bisa pecah tanpa sebab dong!” Bella mulai bicara melantur saking kesalnya. “Tapi ya sudahlah, toh aku juga lapar! Mau piring pecah, mau kepalamu yang pecah masa bodoh! Percuma juga aku marah-marah toh kau juga tidak dengar. Dimatamu istrimu itu sangat baik dan sempurna, aku tahu istrimu memang cantik tapi baik…..cuihhhh! Sempurna….preeettttttt!”
Kruukkkkkkkk
Perut Bella pun berbunyi seakan ikut komplain. “Kalau aku tidak lapar, aku tidak akan mau makan makanan ini! Apa kau tahu aku memakan ini sambil menangis? Aku rindu sekali masakanmu dan kalau aku boleh memilih, aku lebih suka tinggal di apartemenmu walaupun kau tidak memberiku baju! Tapi setiap hari aku melihatmu dan bisa memelukmu. Daripada tinggal dirumah ini, kau galak sekali padaku belum lagi istrimu itu juga macam anjing herder….menyalak terus! Kalau di apartemen meskipun kau galak tapi kau hanya untukku tak menyakitkan mataku melihatmu dan istrimu.” omel Bella.
Tak henti-hentinya dia mengomel sambil makan dan wajahnya cemberut. Setiap satu suapan satu omelan itulah yang terjadi sepanjang sarapan paginya. “Huh akhirnya perutku kenyang dan makanan sudah habis. Rasanya sih enak tapi entah mengapa aku selalu merindukan masakanmu! Oh Dante sayang!” ucap Bella sebelum dia mengambil minum dan mengelap sisa makanan dibibirnya. “Ahhhhh….kenyang! Aku tidak boleh tidur lagi nanti aku jadi balon dan jelek. Huh….aku harus semakin cantik dan menarik biar mak lampir sakit kepala! Huh!”
Bella pun berdiri dan menggunakan waktunya untuk olahraga yoga dan gerakan lainnya pun dicobanya seperti cardio untuk mengurangi timbunan lemak dalam tubuhnya. Ada sekitar tiga puluh menit dia berolahraga hingga kelelahan. Brukkkk
“Lelah sekali aku!” ujarnya sambil meringis lalu merebahkan tubuhnya ditempat tidur. “Sudah lama aku tidak olahraga pantas saja tubuhku terasa pegal. Aku tidak boleh gendut, aku harus menajag pola makanku dan rajin olahraga.”
“Aku juga harus bilang pada pelayan agar tidak mengantarkan makan siang dan makan malam lagi padaku karena sehari aku hanya boleh makan satu kali. Mungkin aku bisa minta diantarkan buah saja.” Bella mulai meringis ketika menghitung-hitung kalori makanan yang sudah dimakannya.
“Aku mau makan buah saja untuk makan malam. Makan siang mungkin aku bisa minta jus buah saja.”
Tanpa sadar dia menguap akibat tubuhnya letih setelah berolahraga.
“Tidak….tidak….aku tidak boleh tidur.” ujarnya menggelengkan kepala mencoba untuk tetap terbangun. Lalu dia mengambil remote tv dan mencoba menonton tv untuk mengalihkan perhatian. “Harus mengalihkan pikiranku, aku tidak boleh tidur. Ini belum dua jam dari aku makan tadi.”
Tok tok tok
“Huh baru juga aku nonton tv sudah ada yang mengetuk pintu. Ada saja yang menggangguku.” gerutunya lalu dia melangkah gontai mendekati pintu.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Bella setelah membuka pintu dan melihat seorang pelayan yang datang. Bella menatapnya dengan serius tanpa senyum. Karena masih kesal dia bertekad enggan untuk tersenyum pada siapapun hari ini.
“Kebawah nona Bella!” ucap wanita itu lirih.
“Kenapa kau memanggilku nona? Kau tahu kan kalau pekerjaan kita sama?”
__ADS_1
“Tapi tadi tuan memanggil anda Nona Bella jadi aku harus memanggilmu seperti itu juga.” kilah pelayan Dante itu.
“Apa dia mengatakan padamu kalau kau harus memanggilku dengan sebutan nona?” balas Bella lagi.
“Tidak, Nona.” jawab pelayan itu singkat sambil menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu kau tidak perlu memanggilku begitu, kita sama-sama pelayan dirumah ini dan bekerja disini. Bisa dihajar istrinya kalau mendengar aku dipanggil nona. Kau lihat kan bagaimana kemarin dia memukuliku, ha?”
“Tidak tahulah! Aku tidak berani melawan Tuan karena Tuan lebih mengerikan daripada nyonya.” lalu pelayan itu melihat piring yang sudah kosong dikamar Bella. “Aku akan ambil baki makanan itu.”
“Tidak usah! Biar aku bawa sendiri karena kau bukan pelayanku.” Bella menolak.
“Sudahlah jangan menolak. Kau itu spesial untuk Tuan disini karena kau mengasuh anaknya. Sudah sana kebawah jangan membuat Tuan menunggu!”
“Ya sudah!” Bella menganggukkan kepalanya dan meninggalkan kamarnya. Dia bahkan lupa dengan surat dari Anthony yang masih tertinggal dibawah piring. Bella tadi makan tanpa mengangkat piring dari baki jadi dia tidak melihat ada surat disana. Pikirannya sudah teralihkan memaki dan mengumpat Dante dan Tatiana.
‘Duh….kenapa dia memanggilku ke meja makan sih? Ada istrinya si galak itu lagi. Aku harus melakukan apa. Apa aku harus bicara kalau nanti ditanya?’ gumamnya dalam hati.
“Apa kau sudah makan?” tanya Dante.
“Sudah Tuan!” jawab Bella menganggukkan kepalanya tanpa menatap Dante. ‘Pasti kau tidak tahu kan kalau makanan yang sudah kau siapkan untukku terkena musibah lagi? Pasti tidak tahu kalau ada drama piring pecah lagi hah, ngak asik….kau bodoh! Suami takut istri.’ bisik Bella dalam hatinya.
Dante merasa ada yang salah dengan Bella. ‘Kenapa dia begitu? Dia bahkan tidak bilang terimakasih padaku untuk makanannya? Kenapa wajahnya mendung dan cemberut begitu padahal aku sudah membuatkan sarapan pagi kesukaannya?’ gumam Dante dalam hatinya yang memang belum mengecek cctv dikamar Bella. ‘Kau membuatku pagi-pagi sudah bad mood Belinda!’ celetuk Dante dihatinya.
“Bella!” Alex memanggilnya pelan seakan dia ketakutan.
“Apa kau mau main bersama Bella ya Alex?” tanya Dante pada Alex untuk mengalihkan kemarahannya.
“Mau daddy! Boleh aku main sama Bella, daddy?” tanya Alex penuh harap.
__ADS_1
“Pergilah!” ujar Dante mengelap sisa makanan dibibir putranya.
“Thank you daddy!” Alex segera turun dari tempat duduknya dan berlari menuju Bella.
“Kau mau main sekarang?” Bella mengulurkan tangannya pada Alex.
“Aku mau kita main dihalaman belakang. Aku mau main bola saja, kau mau Bella? Kemarin aku melihatmu main bola.”
“Ah jadi kau juga melihatku main bola kemarin ya?” tanya Bella sambil tersenyum pada Alex.
“Iya, aku dan daddy lihat kau main bola. Kau pandai main bola Bella?”
‘Jadi kau yang menguntitku kemarin? Pantas saja kau menghukumku!’ Bella berbisik dalam hatinya tapi dia tidak menatap Dante hanya tersenyum pada Alex saja.
“Ayo kita pergi.” ajak Bella sambil memegang tangan Alex.
‘Bodoh! Aduh Alex kenapa kau ceritakan semua padanya? Aku lupa bilang padamy supaya tidak bilang padanya.’ bisik hati Dante karena kemarin dia bersama Alex memang mencari Bella hingga ke halaman belakang dan Dante tahu apa yang dilakukan oleh Bella sehingga membuatnya emosi.
“Dante! Apa kau memperhatikan dia main bola kemarin?” tanya Tatiana kepo.
“Hmm….Alex mencarinya untuk diajak bermain tapi dia tidak ada. Kau sendiri tahu kan ada keributan dihalaman belakang kemarin, makanya aku mengecek kesana dan ternyata dia sedang bermain bola dengan para pelayan!” jawab Dante mengatakan yang sebenarnya.
“Apa kau kesal karena perbuatannya yang tidak disiplin begitu?” tanya Tatiana lagi.
“Iya.” jawab Dante tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Sudahlah tidak perlu membahasnya. Mau ke kamar sekarang?”
“Iya. Aku sudah selesai makan. Tapi ada beberapa hal yang harus kuurus dulu didapur. Aku perlu bicara dengan para pelayan, aku ingin mereka menyiapkan makanan spesial untuk nanti siang karena aku akan pergi ke Indonesia, bukan?” tanya Tatiana lagi.
__ADS_1
“Ya kau benar.” Dante menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tangan Tatiana.
“Kalau begitu aku permisi dulu. Nanti aku akan menemuimu.” Tatiana pun bergegas pergi ke dapur sedangkan Dante pergi ke lantai atas.