
“Sudah kukatakan jangan memancing emosiku, jangan berbuat kelewatan dirumahku karena akan selalu ada hukuman untukmu tapi kau tidak mau mendengarku. Sekarang nikmatilah bermalam disini.”
Tak ada lagi satu katapun yang diucapkan oleh Dante, dia keluar dari ruangan itu dan melangkahkan kaki ke lantai atas.
“Tuan Dante! Tolong lepaskan kami, ampuni kami!” panggilan dari ruangan lain saat terdengar gerakan suara kaki karena tempat itu sangat sunyi jadi sedikit saja gerakan kaki maka akan terdengar.
Dante hanya mendengus lalu tetap berjalan menuju tangga luar. “Henry kapan dua orang itu kau lepaskan?”
“Besok, Tuan.”
“Hati-hati dengan mereka berdua! Aku tidak mau mereka bicara dengan Anthony. Kau pastikan memberikan pengamanan khusus pada keduanya.”
“Baik Tuan.” Henry menganggukkan kepalanya.
“Tuan, maaf. Satu hal lagi!” Henry melihat Dante yang sudah melangkah pun memanggil kembali.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Dante bertanya tanpa menoleh kebelakang.
“Apa saya harus mengantarkan makanan untuk Nona Bella?”
“Biarkan saja! Tak perlu memberinya makan, tak perlu memberi minum! Aku akan pikirkan kapan aku akan memberikannya.” jawab Dante. Lalu dia berjalan kembali menuju mansion tanpa menengok kebelakang. Semua rasa masih berkecamuk didadanya, rasa marah. Dante dibutakan dengan semua rasa marahnya sedangkan henry mengejar Dante ke mansion.
“Maaf aku terlambat untuk makan malam.”
Tidak apa-apa Dante. Makanan baru saja disiapkan.” ucap Tatiana dengan senyum diwajahnya.
“Kau makanlah dulu Tatiana. Aku mau melihat Alex dulu.”
“Dia sudah tidur Dante.”
“Kau menidurkannya?” tanya Dante.
“Iya!” Tatiana tersenyum sambil menyentuh tangan Dante. “Kita makan dulu setelah itu kita bisa beristirahat. Besok aku harus pergi! Besok aku akan sangat merindukanmu kalau kau tidak makan bersamaku dante.” ujar Tatiana dengan manja.
Ucapannya membuat Dante menoelh istrinya dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Baiklah sayang.” mereka pun menikmati makan malam meskipun suasana hati dante masih tak enak tapi dia tetap menepis semua rasa didalam hatinya.
“Dante.”
“Apa yang ingin kau tanyakan Tatiana?” Dante menatap istrinya dengan suara gelagapan karena dia sedang tidak fokus, pikirannya tak jelas ada dimana.
“Aku mengkhawatirkan putra kita Alex. Pengaruh Bella padanya! Apalagi mendengar cerita yang kau sampaikan padaku. Apa yang akan kau lakukan padanya Dante? Aku merasa tidak tenang!” wajah Tatiana terlihat sangat stress.
“Aku sudah menghukumnya. Jangan dibahas lagi ini saat aku sedang makan.”
“Maaf Dante. Aku hanya ingin memastikan karena aku sangat khawatir. Apa dia akan kembali kesini?”
“Kau tidak menyukainya?”
“Bagaimana aku menyukai seseorang yang berani menggoda laki-laki lain dirumah ini Dante?”
“Tatiana! Kau tidak perlu cemas lagi, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Sekarang kembalilah ke kamar.” ujar Dante.
“Baiklah Dante!” jawabnya lalu berdiri. ‘Aku suka dengan tatapan matamu itu Dante. Kau sudah memberikan hukuman yang berat pada Bella.’ ujar hati Tatiana dengan senyum puas diwajahnya dan hendak melangkah pergi.
“Ah, aku hanya membayangkan bagaimana jika kau melihat kejadian itu diruang piano Dante. Mungkin hukuman untuk yang sekarang itu belum ada apa-apanya.” celetuk Tatiana gelagapan.
“Kau benar Tatiana. Jangan-jangan aku menghukumnya terlalu ringan.” Lalu Dante menatap kepala pelayannya. “Henry!” panggilnya membuat Tatiana terdiam sejenak.
“Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”
“Aku ingin melihat CCTV ruang piano.”
“Dante! Kau ingin melihat CCTV itu?” tanya Tatiana mulai ketakutan.
Dante menoleh pada istrinya.”Sesuai dengan saranmu Tatiana.”
Wanita itupun tersenyum manis dan melirik kearah Dante, “Apa kau ingin melihat tubuhnya?”
“Kenapa kau berpikiran begitu? Bukankah kau tadi yang menawarkan padaku?”
__ADS_1
“Aku hanya bercanda saja Dante. Bukan berarti kau harus melihat CCTV. Kau ingin melihat tubuhnya, iyakan?” tanya Tatiana tak senang.
“Aku tidak minat.” Dante menatap Tatiana, dia merubah posisinya berdiri berhadapan dengan wanita itu. “Aku juga tadi hanya asal bicara saja karena sesuai dengan saranmu. Tapi sejujurnya aku malas untuk melakukan itu. Untuk apa melihat dua orang yang sedang melakukan tindakan bodoh?”
“Kalau kau mau minta CCTV diruangan piano sebaiknya kau tidak minta pada Henry tapi kau harus membuka laptopmu sendiri.”
“Laptopku?” tanya Dante mengeryitkan dahinya.
Tatiana menganggukkan kepalanya. “Semua cctv dirumah ini terhubung dengan laptopmu. Laptop khusus cctv itu ada dikamar kita. Kau lupa ya aku meminjamnya setahun yang lalu? Ada satu cctv di ruang kerja dan dikamar juga supaya kalau kau butuh bisa langsung mengecek.”
“Ah kau benar sepertinya aku lupa.”
“Tapi cctv sudah tidak aku aktifkan lagi. Aku merasa tidak nyaman kalau rumah harus dihantui dengan cctv macam itu. Aku merasa semua yang ada diluar sudah cukup. Jadi aku menonaktifkan cctv yang ada didalam rumah. Apa kau marah padaku?” Tatiana mulai menjelaskan.
“Sudahlah. Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Aku sudah menyerahkan semua urusan rumah ini padamu, kau aturlah semuanya.”
Tatiana mengangguk, “Kau benar Dante! Kalau kau memang mau aktifkan lagi CCTV, lakukanlah.” Tatiana memicingkan matanya menantang.
“Tidak! Biarkan saja kalau memang tidak nyaman ada cctv didalam rumah maka tak perlu dipasanag.” Lalu Dante memegang tangan istrinya. “Pergilah tidur. Aku akan mengamankan dari luar saja sehingga tidak akan ada orang yang berbuat jahat padamu.”
“Baiklah. Terimakasih atas pengertianmu Dante. Selamat malam.” lalu Tatiana beranjak pergi ke kamar. ‘Hufff...alasan cctv yang aku matikan itu sebenarnya tidak masuk akal tapi untunglah dia tidak curiga. Sejak mengenal Lorenzo aku memang sengaja mematikan cctv dirumah ini, aku hanya berjaga-jaga jangan sampai ada yang tahu apa yang kami lakukan selama ini.’
Setelah bayangan Tatiana sudah tidak terlihat lagi, Dante menatap Henry. “Aku ingin kau melakukan sesuatu.”
“Iya Tuan. Apa yang anda inginkan?”
“Tentang cctv yang tadi dikatakan istriku.” ujar Dante memijit pelipisnya.
“Iya Tuan. Bagaimana maksudnya?”
“Amankan seluruh lingkungan rumah ini. Pastikan tidak ada orang yang mencurigakan masuk kedalam rumah. Kau mengerti?” Dante memicingkan matanya menatap Henry.
“Baik, Tuan. Memang saat ini semua sudah sesuai dengan perintah Tuan. Penjagaa juga sudah ditambah dan sudah mengamankan sekeliling mansion, Tuan.”
“Jadi semuanya sudah aman?” tanya Dante.
__ADS_1
“Sudah Tuan. Tapi kalau boleh saya sarankan, apakah tidak sebaiknya anda aktifkan juga cctv didalam rumah? Seandainya terjadi hal seperti tadi atau pelayan yang berbuat tidak baik dirumah. Bukankah bisa langsung terlihat dan tidak perlu memperhatikan gerak-gerik semua orang. Saya juga bisa membantu anda dan anda bisa melakukan ini diam-diam tanpa sepengetahuan istri anda supaya dia tidak merasa tidak nyaman.” Henry memberikan saran.