PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
bab 14. Mentari yang Mendung


__ADS_3

Dik, aku minta maaf sementara ini mungkin belum bisa banyak membantu nafkah Fajar dan Mentari."


Lodi hanya bisa memandang prihatin wajah pria di depannya. Bagaimana pun, mereka berdua pernah hidup bersama. Serumah, seranjang.


"Kau baik-baik saja? Maksudku, nggak ada luka bakar, kan?"


Sumbang menyerahkan sebuah kotak ke Lodi,"untungnya ini selamat."


"Apa ini?" tanya Lodi sambil mengerutkan kening. Seingatnya, semua harta pribadi Lodi sudah tak ada yang tertinggal di rumah Sumbang.


"Itu punya Nada. Isinya kenangan denganmu."


Hati Lodi mendadak gerimis,"jadi kau menerobos api, hanya untuk mengambil barang ini?"


Sumbang sejenak termangu.


"Surat rumah, ijazah dan kertas penting lain tapi tersimpan dibrankas tahan api. Kalau pun hangus, pasti masih bisa diurus. Tapi benda milik Nada ini ...."


"Terima kasih, Mas. Aku terima. Jangan khawatir soal Fajar dan Mentari."


Rasa canggung itu mendadak muncul. Sejak peristiwa itu, baru kali ini Lodi kembali lembut pada Sumbang.


"Katanya ada yang membakar rumahmu ya? Memang siapa?"


"Kata polisi. Ada kaleng bekas bensin di dekat rumah. Dan itu bukan milikku."


"Memang kamu punya musuh, Mas?"


Sumbang menggeleng pelan, tapi cukup jelas.


"Menurutku sih tidak. Tapi entahlah."


"Jadi, kau mau tinggal di mana?"


"Sementara cari kost. Toh aku sendirian."


"Jaga diri baik-baik," pesan Lodi.


"Makasih, sayang."


Lodi melotot, tapi urung marah.


***


"Mentari sudah boleh pulang. Tapi ingat obat harus diminum rutin. Jangan lupa fisioterapi.'


Urusan Mentari ternyata cukup ribet. Rutin kontrol. Deteksi penglihatan. Deteksi pendengaran. Dan hasilnya ...


"Ada indikasi Mentari terkena gangguan pendengaran. Pemeriksaan lengkap tidak bisa di sini. Harus ke Semarang."


***


"Bagaimanapun Mentari itu anaknya Sumbang. Kau harus melibatkan dia dalam pemeriksaan dan lainnya," kata ibu.


Lodi diam tidak membantah. Ibu benar. Bagaimanapun Sumbang ayah Mentari. Lagipula, terlalu repot bagi Lodi mengurus Mentari sendirian.


"Nggak sekalian rujuk saja?" tanya Santi saat tahu Lodi akan ke Semarang bersama Sumbang.


"Perasaanku padanya sudah hilang, San. Aku tidak benci, tapi juga tidak cinta."


"Baguslah."


"Bagus bagaimana?"


"Kalian bisa mulai dari awal lagi," goda Santi.

__ADS_1


Lodi hanya melotot.


***


Sumbang sudah berganti baju tiga kali. Pertama, hem putih.


"Ah, ntar dikira karyawan hotel."


Dia pun melepasnya lalu mengganti dengan batik.


"Kok batik? Kayak mau kondangan."


Sumbang melepasnya lagi, lalu mengganti dengan kaos biru bertulis free.


"Ah, ini terlalu norak."


Gawai Sumbang berdering. Melodi memanggil.


"Mas, jangan berangkat terlalu siang. Kau bangun kesiangan?"


"Ah, tidak. Aku sudah siap kok."


Pada akhirnya Sumbang memakai kaos putih polos.


***


Tadinya Lodi akan memilih duduk di belakang. Tapi Sumbang protes.


"Masak sih aku sendirian di depan. Kayak sopir aja."


Akhirnya Lodi mengalah duduk di samping Sumbang.


Pekalongan Semarang via tol tidak memakan waktu lama. Namun keluar tol menuju rumah sakit Karyadi sedikit macet.


"Mentari sepertinya ingin netek. Aku pindah ke belakang saja."


Lodi tidak menjawab. Bahasa tubuhnya terlihat gelisah.


"Aku tidak akan mengintip. Lagian aku masih hafal kok bentuknya," ujar Sumbang yang membuat Lodi mendelik.


"Jangan bercanda begitu ah. Aku tidak suka," protes Lodi.


"Baiklah, baiklah. Tutupi saja pakai tisu atau buku," kata Sumbang sembari menyodorkan kotak tisu.


Lodi menerima kotak itu dengan sedikit menarik kasar. Sumbang menahan tawa melihat sikap Lodi.


"Perawatan Mentari membuatku bisa lebih dekat dengan Lodi," batin Sumbang. "Selalu ada hikmah di balik musibah."


***


Lodi memandang bungkusan yang berisi tumpukan buku dengan penuh haru. Bungkusan yang mengingatkan dia akan Nada. Juga mengingatkan akan perjuangan Sumbang menyelamatkannya dari kobaran api.


"Nada, seandainya kau masih hidup aku pasti tetap mengantar Mentari ke Semarang," batin Lodi.


Lodi mengambil selembar tisu dan membersihkan sisa abu yang masih menempel. Tisu itu menjadi berwarna kehitaman.


"Apa sebenarnya yang ada di bungkusan ini sehingga Sumbang mengabaikan keselamatannya sendiri."


Perlahan Lodi membuka bungkusan gitu. Di tumpukan teratas ada album foto. Berisi foto Nada ketika masih kecil.


"Ini masa di mana aku bangga sekaligus iri pada Nada."


Nada memang terlahir dengan kecantikan yang sempurna. Tak heran bila ia berhasil menjuarai berbagai kontes modelling.


"Cantikan adiknya ya?"

__ADS_1


Itu yang sering diucapkan orang-orang. Lodi menjadi iri karenanya.


"Oh, jadi kamu kakaknya Nada yang sering juara itu?"


Ada rasa bangga yang tersempil mendapat pertanyaan seperti itu.


Namun hidup Nada berubah ketika kecelakaan itu terjadi. Wajahnya rusak karena goresan pecahan kaca. Tak hanya itu, kakinya pun harus dipotong.


Perasaan iri dan bangga memiliki adik seperti Nada berubah menjadi perasaan kasihan dan selalu ingin melindungi.


***


"Belum ada petunjuk siapa yang membakar rumahmu?" tanya Lodi pada Sumbang saat mereka berdua kembali ke Semarang mengantar mentari kontrol.


"Belum ada. Polisi hanya punya petunjuk kaleng bekas bensin. Berkali-kali mereka bertanya barangkali ada orang yang menyimpan dendam padaku."


"Lalu?"


"Entahlah, aku tak ada ide. Kalaupun ada orang yang dendam padaku, yang pantas hanya kamu, Lod."


"Jadi kau mau melaporkan aku ke polisi?"


"Nggak mungkin lah. Bahkan seandainya pelakunya adalah kamu, Aku ikhlas kok."


"Gombal!" sahut Lodi sedikit kesal.


"Aku serius. Apapun akan kulakukan asal kau mau memaafkanku."


"Aku kan sudah memaafkanmu," sahut Lodi lirih.


"Tapi nyatanya, kau tidak mau rujuk."


"Eh, memaafkan dan rujuk itu sesuatu yang berbeda. Memaafkanmu bukan berarti harus menerimamu kembali, kan?"


Sumbang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sungguh sulit untuk mendapatkan kembali hati wanita ini," batin Sumbang.


"Apakah sudah berniat untuk menikah dengan yang lain?" tanya Sumbang.


"Ih, apaan sih. Tentu saja belum," jawab Lodi ketus.


Meski diketusi, sumbang merasa lega. Paling tidak saat ini ia hanya perlu bersaing dengan dirinya sendiri yang dulu.


***


"Berdasarkan tes yang sudah dilakukan, anak ibu mengalami tuli berat baik telinga kanan maupun kiri."


Keterangan dokter membuat Lodi maupun Sumbang terdiam.


"Jadi, apa yang harus kami lakukan, Dok?" tanya Sumbang.


"Bisa transplantasi koklea, tapi biayanya cukup mahal sekitar 200 juta. Usaha lain dengan memakai alat bantu dengar. Ini mungkin lebih murah. Alat yang bagus harganya sekitar 10 juta untuk satu telinga."


"Apakah harus dibelikan sekarang, Dok? Atau boleh menunggu dia agak besar?" tanya Lodi.


"Sebaiknya secepat mungkin. Jika menunggu dia besar, seringkali anak menolak alat bantu dengar itu."


Lodi dan Sumbang termangu. Keduanya memandang Mentari yang tengah tertidur pulas.


***


Lodi kembali memandang tumpukan 'harta' peninggalan Nada. Selain kumpulan album foto, ada sebuah diary. Diary milik Nada. Sedikit bergetar, Lodi mulai membuka.


Tengah malam, pergantian tahun.

__ADS_1


Pergantian tahun aku di rumah saja. Biasanya teman-teman mengajakku berpesta. Tapi saat sudah buntung begini, siapa sudi berteman denganku?


-bersambung-


__ADS_2