
“Ya kau benar!” Noel akhirnya bisa tersenyum.
“Kakimu tidak apa-apa bos? Kalau kau tidak bisa keluar biar aku saja yang keluar. Anda bisa menunggu didalam mobil saja.” pria itu terlihat mengkhawatirkan kondisi kaki Noel yang tertembak apalagi malam semakin larut dan suhu udara semakin dingin menusuk tulang.
“Kakiku tidak ada masalah. Kau lihat aku baik-baik saja bukan?” Noel melirik lagi pada pria yang bertanya disebelahnya.
“Ya bos Noel. Tapi tadi pesan dari bos Eddie kalau anda harus segera dibawa kerumah sakit untuk penanganan luka tembak dikaki anda. Nanti saya bisa disalahkan kalau tidak menjalankan perintah bos Eddie!” ucap pria itu lagi.
Keduanya masih berbicara didalam mobil dan tanpa mereka sadari bahwa ada orang yang sedang menggunakan teropongnya sedang memperhatikan mereka dan mengenali mobil yang mereka kendarai.
“Tidak apa-apa. Ini hanya luka dikakiku saja dan aku sudah mengikatnya untuk menghentikan pendarahan. Lihatlah disana! Kita harus berhenti disana tepat diujung jembata. Nanti aku akan keluar dari mobil setelah kita sampai disana.”
“Baiklah.” pria itupun merapatkan mobilnya kearah bukit yang dipenuhi semak-semak sehingga mereka bisa turun disana tanpa mencurigakan.
“Tuan Dante!” Noel segera memanggil Dante setelah dia turun dari mobil dan berjalan dengan kakinya yang pincang menuju ke semak-semak.
“Apa yang kau lakukan disana?” Dante yang melihat Noel datang mendekati semak-semak mengerutkan dahinya dan dengan langkah cepat Dante menuruni bukit.
‘Baguslah mereka datang tepat waktu. Aku sudah menggigil kedinginan diluar sini.’ bisik Dante. Udara diluar memang sangat dingin hampir mendekati satu derajat celsius.
“Sedang apa kau disini?” tanya Dante lagi tanpa mempedulikan sekitarnya, dia berjalan menghampiri Noel yang juga berjalan kearahnya.
“Tuan Dante, apa anda baik-baik saja? Tuan Eddie mengabariku tadi katanya ponsel anda sudah disadap dan tidak bisa dihubungi. Dan tadi itu ada yang menghubungi melalui nomor telepon anak buah anda.” ucap Noel.
“Berarti kedua teleponnya sudah tidak bisa dihubungi lagi?” Dante bertanya balik dan Noel mengangguk beriringan dengan Dante yang langsung membuang ponselnya sembarangan.
Dia tadi memang sudah mematikan jaringan internet teleponnya sehingga kondisinya sudah aman. ‘Robert Kane! Hanya kau yang bisa melakukan ini.’ geram Dante dihatonya.
“Iya, mungkin saja. Karena saya disuruh menyampaikan pada anda.” jawab Noel sambil menatap Dante dengan serius. Dia mengamati keadaan pria itu jika dia terluka atau tidak.
“Dimana gadis itu? Sarah? Apa dia baik-baik saja didalam sana dan tidak mengganggumu?” Dante langsung melontarkan pertanyaan itu karena dia memiliki tanggung jawab pada Sarah dan dia tahu kalau gadis itu sangat menyusahkannya setiap saat.
__ADS_1
“Saya minta maaf.” Noel menundukkan kepalanya, dia terlihat cemas dan khawatir.
“Jangan bilang kalau Sarah tertembak atau dia terluka atau mati!” ujar Dante panik.
“Tidak! Sarah baik-baik saja dan dia tidak terluka sedikitpun.” Noel menggelengkan kepalanya.
“Kenapa wajahmu kau tekuk begitu?” tanya Dante saat melihat ekspresi wajah Noel. “Apa ada masalah dengan Sarah sampai kau terlihat ketakutan begitu?”
Meskipun merasa berat hati akhirnya Noel pun mengakui dan menganggukkan kepalanya. Dia merasa khawatir kalau Dante akan memarahinya.
“Saya tidak bisa melarangnya untuk pergi saat ada video Bella! Kejadian tak terduga pun tadi terjadi disana. Dia menyemprotkan gas airmata padaku lalu Sarah pergi keluar. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Barack.” Noel menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Dante.
“Jadi Sarah bersama dengan Barack sekarang?”
Noel mengangguk tanpa berani menatap Dante karena dia merasa bersalah.
“Tapi pria itu mengatakan bahwa dirinya bukan Barack tapi Rodrigo. Saya sudah bertanya ulang pada Tuan Eddie tentang hal ini tapi katanya tidak perlu khawatir kalau memang Sarah bersama dengan Barack atau Rodrigo itu.”
Dante mengangguk. “Biarkanlah! Aku tidak peduli pada mereka. Kau jangan merasa bersalah seperti itu karena tidak ada yang bisa mengerti Sarah selain Barack. Aku pun sudah menyerah jika harus mengurus gadis itu!” keluh Dante sambil tersenyum tipis. ‘Setidaknya kau tidak membebaniku lagi Barack! Aku pusing dengan gadus itu! Lebih baik Barack membawanya.’
“Aku sekarang sedang menunggu mobil supaya aku bisa jalan kesana.” Dante akhirnya bicara.
“Benarkah Dante, tidak apa-apa kalau Sarah bersama dengan pria itu?” tanya Noel memastikan.
“Sudahlah Noel! Tidak perlu kau pikirkan lagi. Sudah kukatakan padamu aku ingin menyeberangi jembatan itu! Jangan pikirkan hal lain lagi. Ayo kita berangkat sekarang.”
“Apa anda ingin mengejar seseorang kesana?” Noel bertanya.
“Hmmmmm!” Dante mengangguk pada Noel.
“Ayo kita pergi sekarang.”
__ADS_1
“Tapi kita belum bisa pergi sekarang!” cegah Noel yang membuat Dante menghentikan langkah.
“Memangnya ada apa? Langsung naik mobil saja! Aku yang akan mengendarai mobilnya, kita tidak bisa membuang waktu!” Dante bersikeras ingin pergi mengejar Anthony.
‘Aku harus melihatmu! Aku harus bertemu denganmu Mark Sebastian! Ada banyak hal yang ingin kubicarakan padamu dan tentang hari ini aku yakin ini bukan perbuatanmu! Tapi aku memang harus segera bertemu denganmu.’ gumam Dante didalam hatinya yang sejak tadi dia terus saja memikirkan adiknya Mark Sebastian.
“Tapi tadi Tuan Eddie meminta saya untuk menghubungkan anda dengannya kalau sudah ketemu. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan anda.” kata Noel.
Mendengar itu, Dante langsung melirik Noel dan dia diam sejenak lalu menengadahkan tangannya meminta sesuatu pada Noel. “Berikan ponselnya padaku.” ucap Dante.
Noel yang paham pun langsung memberikan teleponnya dan dia sudah menghubungi nomor telepon yang akan dihubungi Dante.
“Noel! Apa kau sudah bertemu dengan Dante?” tanya Eddie dari seberang telepon.
“Aku adalah orang yang kau cari. Ada apa?” ujar Dante yang sudah masuk kedalam mobil sambil bicara dengan Eddie.
“Dante! Pasukan kita! Mereka sekarang masih berada didalam gudang dan mereka sudah dikepung oleh pasukan federal. Kondisi mereka sekarang terdesak.”
“Tunggu dulu! Jelaskan kepadaku apa inti masalahnya? Kau biasanya tidak secemas ini.” Dante mengerutkan dahinya saat mendengar kegusaran dinada suara sahabatnya itu. Karena dia juga belum mengetahui apa yang terjadi pada pasukannya.
Lalu Eddie pun menjelaskan semuanya secara terperinci dan kenapa pasukan mereka masih berada didalam gudang itu. Tak ada satupun yang terlewatkan oleh Eddie.
“Lalu mayat yang mereka temukan digudang itu adalah orang yang seharusnya bertransaksi denganmu?” tanya Dante mengulang pernyataan Eddie.
“Iya Dante! Dan orang yang bersama denganku adalah orang yang berbeda. Dia agak mengerikan dan dia sudah berhasil menipuku sehingga aku lengah! Pasukan kita sekarang sudah ada diatas kapal menuju kearah laut. Sesuai dengan yang kau perintahkan!”
“Ini membuatku pusing! Tapi aku suka caramu, kabari aku kalau rudal itu sudah sampai menghancurkan orang-orang yang berada disekitar gudang itu.”
“Itu yang ingin kubicarakan denganmu Dante! Rudal itu daya ledaknya lima ratus meter. Berarti kalau meledak maka orang-orang kita juga ikut mati! Tadi sudah kujelaskan semuanya padamu.”
“Tunggu dulu! Orang-orang kita ada didalam gudang senjata bukan?” tanya Dante.
__ADS_1
“Iya kau benar. Memangnya kenapa?”
“Setiap gudang senjata pasti memiliki ruang bawah tanah. Disana biasanya dijadikan tempat untuk menyimpan senjata-senjata dengan daya ledak tinggi. Suruh mereka untuk masuk keruang bawah tanah! Dan ledakkan rudal itu tepat diatas gudang senjata, dengan begitu orang-orang disekitarnya pasti akan mati! Kau tidak mengerti konsep seperti ini?”