
Karena Alex tak paham jadinya dia hanya menganggukkan kepalanya dan tak lagi banyak bicara seperti biasanya. Dia masih berusia empat tahun tapi tidak bisa mengekspresikan perasaannya pada orang lain karena tanpa sepengetahuan Dante jika Tatiana sering mengancam dan memarahi bahkan menghukum Alex tanpa alasan menyebabkan anak itu memiliki ketakutan dan tidak mampu mengungkapkan perasaannnya. Bagi Dante yang tidak tahu pun hanya menganggap sikap anaknya selama ini hanya karena malu dan tidak tahu berkomunikasi dengan orang lain.
‘Anak ini hampir saja membuatku cemas, ada-ada saja! Tidak mungkin istriku bisa bersikap begitu pada Bella. Jelas-jelas istriku mengkhawatirkan Bella.’ gumamnya dalam hati menepis semua pikiran negatif karena dia menganggap Alex salah bicara.
“Daddy, aku mau satu!” ucap Alex saat Dante sudah memegang piring makanannya.
“Alex mau membantu daddy menaruh makanan diatas meja ya?”
“Mau daddy!” jawab Alex yang sudah memegang satu piring makanan dari Dante.
“Ayo jalan pelan-pelan saja!” Dante dan Alex memang sudah biasa berbagi tugas didapur jadi tidak heran jika kali inipun dia meminta putranya untuk membantunya. Langkah kaki terdengar memasuki ruang makan, terlihat Tatiana yang memasang senyum diwajahnya menatap kedua orang itu.
“Kalian bangun pagi sekali!” sapa Tatiana melihat Alex yang memegang satu piring dan Dante sudah berjalan kedalam ruang makan.
“Selamat pagi Tatiana! Kami sudah siapkan sarapan pagi untukmu!”
“Satu dua tiga empat! Makannya sama Bella!” seru Alex menghitung piring dengan gembira.
“Wah jadi kau membuat empat piring Dante? Kau juga membuatkan untuk Bella?” Tatiana meladeni ucapan Alex sambil matanya melirik pada satu piring yang masih ada di meja. Dia tidak menyukai ini, kenapa suaminya malah membuatkan sarapan juga untuk wanita itu? Rasa iri dan cemburu kembali memenuhi hatinya.
“Iya aku memang membuatkan satu untuknya agar dia bisa makan bersama Alex. Aku mau anak kita cepat akrab dengannya.” ujar Dante menjelaskan.
“Akrab? Ah….kau baik sekali Dante! Baiklah ayo kita bawa kesana biar aku bukakan pintunya.” ucap Tatiana ikut bersemangat membuat Dante pun senang dan menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar saat pintu sudah ditahan Tatiana.
Tapi….
PRAANNNGGG!!!
“Ha? Alex, kau tidak apa apa? Sepertinya piringnya terlalu berat untukmu ya? Apa kau baik-baik saja Alex? Kau terluka kah? Oh...tidak. Sini mommy lihat dulu.”
“Apa Alex baik-baik saja Tatiana? Alex tidak apa-apa kan?” Dante segera menaruh dua piring yang dipegangnya ke meja dan segera mendekati Alex dengan wajah panik.
__ADS_1
“Dia baik-baik saja Dante. Tangannya tidak terluka sama sekali, aku khawatir sekali tadi. Mungkin Alex kesulitan membawa piringnya.” jawab Tatiana karena tadi Dante berjalan didepannya dan Alex dibelakangnya.
“Ah maafkan aku ya Alex! Syukurlah kau tidak terluka.”
“Makananku habis!” ujar Alex dengan sedih.
“Masih ada satu piring lagi disana, ayo bantu ambilkan.” Dante menggendong Alex dan mengambil satu piring yang tersisa dan membawanya ke meja makan.
“Satu dua tiga!” kembali Alex menghitung piring.
“Kalian makanlah dulu!” ucap Dante.
“Kau tidak makan Dante, kenapa?” tanya Tatiana cemas sambil mengeryitkan dahinya ketika melihat piring yang ditaruh oleh Dante justru diletakkannya disamping Alex.
“Aku akan makan nanti, sayang!” jawab Dante.
“Apa kau ingin memberikan makanan itu untuk pelayan?”
‘Hmmm….” Tatiana mengangguk.
“Supaya dia bisa makan bersama Alex.” jawab Dante lagi.
“Dante, dia saja belum datang kesini, aku yakin dia masih kelelahan lagipula masih banyak makanan didapur. Kenapa kita tidak makan bertiga saja? Sudah beberapa hari ini kita tidak makan bersama di meja makan iyakan?” bujuk Tatiana dengan wajah memelas.
‘Hem...benar juga yang dikatakan Tatiana, jangan-jangan dia tidur lagi! Anak itu pemalas sekali sih!’ gumam Dante dihatinya.
“Baiklah kalau begitu kita bertiga makan bersama. Biar nanti Bella makan belakangan.” ujar Dante.
“Nah begini baru benar. Sangat menyenangkan saat kita makan bertiga, aku suka sekali makan bersama kalian berdua, pria favoritku!” Tatiana tersenyum sambil bertepuk tangan. Didalam hatinya dia bersorak kegirangan karena rencananya berhasil.
“Maafkan aku ya karena jarang sekali makan bersama kalian.” kata Dante walaupun didalam hatinya dia merasa tidak nyaman. Dia sudah berjanji pada Bella akan membuatkannya makanan tapi dia tidak bisa menepatinya karena makanannya tak sengaja tumpah.
__ADS_1
‘Oh Bella! Aku sudah bilang padamu agar bersiap-siap karena kau akan makan bersama kami tapi kau masih saja dikamar! Dan satu piring itu kenapa bisa jatuh ya? Harusnya aku tidak membiarkan Alex membawa apapun tadi, biar aku sendiri yang membawanya! Ahhh semoga saja Bella tidak marah karena dia sangat menginginkan masakanku.’ bisik hatinya. Dante pun mulai menyuap makanannya dengan hati tidak tenang dan merasa tidak bisa menikmati makanan itu karena tidak ada Bella disana.
‘Kau sangat menyukai masakanku, bukankah makanan ini favoritmu? Kau sangat menyukai makanan ini sejak dulu dan kau selalu bahagia saat memakannya. Kau selalu tersenyum dan matamu berbinar setiap kali aku membuatkanmu makanan ini,’ hati Dante terasa sangat sakit, membuatnya tidak bersemangat makan, rasa makanan itupun terasa hambar dilidahnya dan Dante makan dengan hati hampa dan benar-benar tidak menikmati makanannya.
Hati dan pikirannya dipenuhi oleh Bella. Soal piring yang jatuh pun masih mengisi benaknya, ini bukan pertama kali Alex membantunya membawa piring dan baru kali ini dia menjatuhkan piring. Dia merasa sedikit aneh.
“Dante, aku suka sekali kau memasak ini, Alex makan sangat lahap. Dia sangat menyukai makanan ini!” ucap Tatiana menatap Alex yang makan dengan lahap.
“Ya memang itu makanan favoritnya!” jawab Dante menanggapi. ‘Dan favorit Bella juga.’ bisik hatinya.
“Terimakasih untuk pagi yang indah ini ya sayang. Aku senang sekali kau meluangkan waktu untuk aku dan Alex.” kata Tatiana mengelus tangan Dante.
“Semoga aku bisa melakukan ini lebih sering pada kalian.” Dante membalas mengelus tangan Tatiana, matanya yang teduh membuat senyum Dante semakin terlihat sempurna.
“Apa kau akan kembali ke Indonesia?”
“Ya aku memang harus kembali ke Indonesia tapi belum tahu kapan. Aku mungkin akan kembali kesana dalam satu atau dua hari lagi, aku belum tahu! Aku masih menunggu kabar dari sana dan memastikan kalian juga aman sebelum aku pergi.”
“Aku mengerti….” Tatiana diam sejenak lalu menyuap makanannya lagi. “Oh ini enak sekali Dante, coba buka mulutmu, sayang.”
“Terimakasih sayang!” ucap Dante tersenyum. ‘Kenapa hari ini Tatiana bersemangat sekali makannya, biasanya dia malas-malasan makan kalau aku memasak ini bukan karena dia tidak suka tapi dia lebih memilih sarapan pagi dengan salad atau hanya toast dan selai saja! Apa dia hanya ingin menyenangkan hatiku? Tapi kenapa justru aku yang tidak bersemangat? Kau ada dimana Bella sayangku, kenapa kau lama sekali bersiapnya?’ ucap hati Dante lagi meskipun kesal tapi dia tetap menghabiskan makanannya.
Alex pun sudah menghabiskan makanannya duluan dan Tatiana pun tumben mau memakan makanan itu. “Kau sudah selesai Alex? Ayo aku antar kau ke kamar dulu.” Dante sudah mengelap bibirnya langsung menyapa anaknya.
“Daddy, kau tak membuat makanan untuk Bella? Dia belum makan.” dengan polosnya Alexx bertanya.
“Alex, kenapa kau bicara seperti itu?” Tatiana langsung memotong ucapan anaknya sambil menatapnya tajam setelah melirik Dante yang tidak melihatnya.
‘Anak ini ya! Sejak kapan dia mulai perhatian sam orang? Apa karena kemarin kami memperkenalkan Bella sebagai temannya jadi itu alasannya meminta Dante untuk membuatkan makanan untuk Bella ya? Arrggg…..kau semakin menjadi-jadi Alex! Awas saja kau nanti kalau daddy mu tidak ada!’ gumam Tatiana dihatinya yang merasa kesal dengan anak kecil itu.
“Kurasa tidak apa-apa jika aku tidak membuatkan untuknya Alex sayang. Bella bisa makan makanan lain didapur, disana juga banyak makanan.” Dante menjelaskan pada putranya.
__ADS_1