
BRAAKKKK!!! CIIITTT…….
Dante bergegas turun dari mobilnya dan belum sempat orang yang ditabraknya berdiri untuk mengatur keseimbangan “K---kau Dante----” ucap pria itu dengan suara bergetar saat melihat siapa orang yang mendekatinya dengan tatapan tajam yang membunuh. Mendadak dia tercekat dan ketakutan, ini diluar prediksinya.
Bug bug bug bug
KREEEKKKK!!!
Tanpa banyak bicara satu tinju melayang mengenai tubuh pria itu. Dante bergerak dengan cepat hingga menghantam kepala pria itu dengan kedua kakinya lalu kembali mematahkan tangan dan kaki pria itu. Kecepatannya bagai kilat sehingga pria itu pun terkapar dengan kepala pecah.
“Beginilah nasib orang yang sudah berani menguntitku.” ujar Dante berbisik pada seseorang yang baru saja menjadi mayat, sambil merogoh kantong pakaian pria yang sudah kehilangan nyawanya itu.
“Aku hanya butuh data ini dan ponselmu!” ucap Dante yang memasukkan flashdisk kecil ke dalam saku celananya. Lalu dengan cepat dan tanpa belas kasihan Dante menyeret mayat itu dan BRUKKK mayat itu dilempar kedalam jurang tanpa pembatas jalan. Senyum Dante mengembang dan ada kepuasan terpancar diwajahnya.
“Seharusnya kalian tidak mengganggu kehidupanku! Inilah yang kau terima jika berani bertindak!” celetuk Dante. “Sekarang jurang itu adalah tempat tinggalmu yang baru! Semoga kau merasa nyaman disana selamanya.” bisik Dante lagi lalu menarik sepeda motor yang masih menyala itu dan membuangnya kedalam jurang. DUOORRR! DUOORRRR! Asap mengepul dari dasar jurang, apipun terlihat tapi Dante tidak peduli.
Dia kembali mengenakan kacamata hitamnya dengan wajah yang masih dingin tanpa senyuman dia segera masuk kedalam mobilnya sambil membuka sarung tangannya.
‘Berani kau mencoba melawanku hu?’ gumamnya lagi sambil melajukan mobilnya, hanya dalam waktu dua menit dia menyelesaikan semuanya dengan santai. Tidak ada kendaraan ataupun orang yang melewati jalan itu ketika Dante beraksi, juga tidak ada CCTV di kelokan jalan itu jadi tidak akan ada bukti yang tersimpan kecuali beberapa hal yang sedang dipikirkan oleh Dante untuk segera diamankan.
Dia mengendarai mobilnya sambil memikirkan apa saja yang mungkin sudah dilakukan oleh pihak federal. ‘Jadi selama ini mereka sedang mencoba mengusik bisnisku? Jadi kalian sudah memata-matai aku sekian lama bahkan sangat berani kalian mengirim seseorang masuk kedalam rumahku?’ Dante tersenyum sinis, “Ada gunanya juga kau Belinda Alexandra! Kecantikanmu yang selalu memikat laki-laki ternyata ada manfaatnya untukku! Ha! Aku punya sesuatu untukmu sebagai hadiah karena kau telah membantuku menemukan mereka.”
Dante tersenyum saat mengucapkan nama Bella dan membayangkan wajah cantik dengan senyum manis dan tubuh polosnya yang seksi membuat gairahnya langsung membara lagi.
“Aisss….kenapa aku selalu kacau setiap mengingatmu? Hem….aku akan memperketat keamanan mansion mulai dari sekarang. Ini sesuatu yang aku lalai selama ini, aku tidak menyangka kalau aku sampai kecolongan seperti ini.” bisik Dante tersenyum bangga mendapatkan satu flahsdisk ditangannya.
“Anthony! Apa yang harus kulakukan padamu bajingan? Aku harus memberimu sesuatu yang spesial!” ujar Dante pada dirinya sendirinya dengan wajah berbinar kesenangan. Didalam kepalanya sudah tersusun dengan cepat rencana-rencana yang akan dilakukannya begitu tiba di mansion.
“Apa aku harus menyelesaikanmu secepatnya? Ha ha ha ha….membunuhmu terlalu gampang. Bukan hukuman yang tepat untukmu! Kau harus menerima yang jauh lebih buruk dari sekedar kematian!”
__ADS_1
“Tidak! Aku rasa belum saatnya menghukummu Anthony! Aku ingin memantaumu dulu dan melihat seberapa jauh kau bisa melakukan pekerjaanmu. Aku sudah mengirim temanmu ke tempat tinggalnya yang baru dan sekarang aku memiliki ponsel dan flashdisk ditanganku!” Dante kembali tersenyum penuh makna dengan pikiran-pikiran yang melintas jauh membayangkan apa yang akan dilakukannya. Dia selalu bermain cantik tanpa ampun dan selalu menyelesaikannya dengan sempurna tanpa jejak.
Dante mematikan data internet di ponsel rampasannya, ada pesan-pesan lama yang masih bisa dibacanya tapi Dante tidak terlalu mempedulikan itu. Dia menaruh kembali ponsel rampasannya lalu menghubungi seseorang.
“Ada apa Dante? Apa yang harus kulakukan sekarang? Kami belum mendapatkan kabar apapun dari Barack. Hoaaammmmm kenapa kau meneleponku?” ucap Eddie menguap.
“Aku bukan mau menanyakan soal Barack!” ujar Dante.
“Lalu apa?”
“Amankan rekaman CCTV satu jam kebelakang.”
“Ha? Lokasinya?” tanya Eddie lagi dengan mata tertutup karena kantuk.
“Daerah tempat tinggalku, mulai dari rumah sakit hingga tempat terakhir kau bisa menemukan CCTV sebelum jalur berkelok curam dengan jurang tanpa pembatas jalan.
“Oh! Harus sekarang?”
“Baiklah...baiklah…..aku lakukan sekarang.”
“Lakukan secepatnya dan jangan ditunda, ini penting. Setiap ada orang yang mengganggumu atau menguntitmu langsung habisi saja, kuburkan atau buang mayatnya ditempat yang tidak bisa ditemukan orang lain!” perintah Dante.
“Ah! Kenapa kau jadi semakin mengerikan? Apa ada sesuatu yang telah mengusikmu?”
“Selesaikan saja pekerjaanmu sekarang! Nanti akan aku ceritakan jika semua tugasmu sudah beres, aku tunggu kurang dari dua puluh empat jam, kau harus sudah sampai dirumahku.”
Lalu Dante langsung mematikan ponselnya. Tak ingin berlama-lama lagi Dante segera melirik flashdisk yang ada ditangannya.
“Data apa yang kau masukkan kesini?” ujarnya tersenyum sinis.
__ADS_1
Dreeettttt dreeetttttt dreeeetttttt
Ponselnya berbunyi saat pikirannya sedang terusik dengan kejadian yang baru saja dihadapinya.
“Iya Tatiana!”
“Ini sudah waktunya makan siang Dante! Kau ada dimana?”
“Tadi kan aku sudah bilang kalau aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan. Apa kau lupa?”
“Oh, bukan begitu. Baiklah kalau begitu, sayang. Aku tidak akan mengganggumu lagi, aku hanya ingin menanyakanmu berapa lama lagi kau akan pulang kerumah?”
“Tidak lama. Sebentar lagi! Aku masih dalam perjalanan. Tunggulah sebentar.”
“Apa kita masih sempat makan siang bersama Dante? Sebelum kau berangkat ke Indonesia.”
“Mungkin aku tidak jadi berangkat Tatiana, ada beberapa hal penting yang harus kuurus dirumah. Eddie juga akan kembali kesini, mungkin besok dia sudah sampai. Ada yang ingin kami urus disini.”
“Oh ya? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” tanya Tatiana.
“Aku baru saja memikirkannya. Ada masalah baru yang harus diselesaikan disini dan aku akan mengurusnya dari rumah.”
“Sungguhkah? Aku senang kau tidak jadi pergi.”
“Iya! Masalah ini berhubungan dengan bisnisku disini jadi aku harus mempertimbangkan dulu apa yang pantas aku lakukan untuk pengganggunya!”
“Baiklah Dante. Hati-hati ya!” ujar Tatiana.
“Tenang saja! Aku tahu bagaimana mengatasi semua ini apalagi menjelang akhir tahun begini biasanya banyak orang yang akan mencoba untuk mengganggu bisnisku dan menggulingkan kekuasaanku! Aku akan mengurusnya satu persatu. Tenang saja!”
__ADS_1
“Aku mengerti sekarang. Jadi kau benaran tidak jadi pergi ke Indonesia, iyakan?”
“Seharusnya kau kembali kesana! Tapi aku akan menunda dulu sampai masalah disini selesai. Apa kau ingin aku pergi?” tanya Dante menahan senyum.