PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 347. KESEPAKATAN


__ADS_3

“Maksudnya daddy?”


“Kalau aku harus memasak makananmu setiap hari, aku akan kewalahan mengerjakan pekerjaanku. Ini akan berakibat buruk padaku. Akan banyak orang menyerangku seperti di film aku akan kalah perang.”


“Ooooo….jadi daddy tidak bisa masak iap tiap hari ya?” tanya Alex ulang.


“Aku minta maaf Alex. Aku tidak bisa melakukannya setiap hari. Mungkin di waktu-waktu tertentu aku bisa melakukannya apalagi sekarang pekerjaanku akan semakin banyak Alex.” Dante mencondongkan dudiknya dan kedua tangannya sudah menekan meja dengan menatap anaknya lekat-lekat.


“Kau temanku Barack?”


Alex mengangguk.


“Dia belum ditemukan sampai sekarang dan aku harus mencarinya. Aku juga harus mencari orang yang menjahati Bella. Aku juga harus menjaga kakekmu Omero. Karena dia baru mengalami kecelakaan mobil. Bukankah banyak sekali pekerjaanku Alex?”


Anak itu tidak langsung bicara, dia hanya diam menatap Dante dengan serius.


“Apa kau mengerti apa yang aku bicarakan?” tanya Dante lagi.


“Aku mengerti daddy. Kau sangat sibuk bukan?”


“Hmm. Iya benar Alex. Karena itu aku minta tolong padamu untuk memberikan aku sedikit waktu tambahan agar aku bisa bekerja.”


“Baiklah daddy! Aku suka makanan buatan Norman. Rasanya sama seperti masakanmu tapi itu memang bukan masakanmu. Tidak apa-apa.”


“Iya kau benar. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan saat aku sudah menyelesaikan semua permasalahan ini, kita akan memasak bersama. Kau setuju?”


Alex berpikir sejenak lalu dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Aku setuju daddy.” jawabnya dengan mantap membuat Dante merasa lega.


‘Harusnya ini yang aku lakukan padanya sejak awal. Mengajaknya bicara karena anakku tidak bodoh. Omero pernah mengatakan padaku tidak ada anak yang bodoh! Asalkan diberikan pemahaman yang jelas, anak pasti akan mengerti.’


‘Fuuh! Harusnya aku tidak melupakan itu daripada aku berbohong, lebih baik aku berkata jujur padanya.’ bisik hatinya agak menyesali sikapnya tapi sekarang pria itu bersyukur karena permasalahannya dengan anaknya sudah selesai.


“Baguslah kalau begitu kita sudah sepakat. Selama aku pergi, kau harus makan masakan Norman dan ajaklah Bella untuk makan bersamamu.”


“Apa Bella juga akan mau makan masakan Norman?”


“Bella, sama sepertimu. Dia sangat suka masakanku. Dia tidak suka masakan Norman. Bisakah kau katakan padanya supaya dia makan masakan Norman? Supaya dia tidak sakit, atau kau mau dia sakit?”


Mendengar ucapan Dante membuat Alex khawatir dan langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak daddy! Aku tidak mau Bella sakit!”


“Kalau begitu kau harus bekerjasama denganku. Supaya Bella mau makan masakan Norman..”

__ADS_1


“Oke daddy, aku akan bilang pada Bella. Aku akan bilang kalau masakannya sama seperti masakan daddy, iyakan.”


“Terima kasih Alex. Aku senang sekali kau mau bekerja sama denganku.” ada senyum diwajah Dante ketika dia mendengar ucapan anaknya.


“Tapi aku ada permintaan tambahan untukmu daddy.”


‘Banyak sekali gaya anak ini. Cara bicaranya seperti ingin menunjukkan padaku kalau dia adalah pria dewasa.’ Dante terkekeh didalam hatinya melihat sikap anaknya seperti sedang negosiasi bisnis dengannya tapi akhirnya pria itu pun menganggukkan kepalanya.


“Apa yang ingin kau minta dariku?” tanya Alex.


“Tapi apakah kau tidak akan marah jika aku meminta itu daddy?” tanya Alex serius.


“Apakah menurutmu permintaanmu itu akan membuatku marah?”


Tampak Alex terdiam sejenak memikirkan jika pertanyaannya tidak akan membuat ayahnya marah padanya. Apakah permintaan itu sulit untuk ayahnya?


Semua pemikiran itu ada dibenak Alex, pikiran anak berusia empat tahun yang belum paham apa yang diinginkannya.


“Kau tidak mau mengatakan apa permintaanmu Alex?”


“Aku mau bilang daddy!”


“Bagus. Kalau begitu katakan saja apa itu.”


Ucapan Alex membuat Dante terdiam sejenak tapi tak berlangsung lama dia menganggukkan kepala,”Itu permintaan mudah. Aku akan pastikan kau tidak akan dimarahi mommy dan mommy tidak akan kembali lagi padamu.”


“Benarkah daddy? Aku tidak suka mommy.”


“Aku berjanji padamu.”


Alex langsung tersenyum sumringah dan dia langsung menjabat tangan ayahnya dengan bersemangat.


“Itu saja permintaanmu Alex?” tanya Dante karena dia melihat ekspresi anaknya yang sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu padanya. “Ada lagi?”


“Ada daddy.”


“Kalau begitu katakan apa lagi yang kau inginkan.”


“Tapi apakah kau bisa mewujudkan keinginanku yang ini?”


“Aku tidak tahu.” Dante menggedikkan bahunya dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi menunjukkan kewibaannya sebagai seorang ayah. “Memangnya apa yang kau inginkan?”

__ADS_1


“Aku mau minta satu lagi padamu daddy.”


“Katakanlah. Aku menunggumu.”


“Hmmm...berarti sekarang aku tidak punya ibu bukan?”


Dante mengangguk. “Untuk sekarang belum. Apa kau ingin bertanya berkaitan dengan itu?”


‘Apa dia mungkin ingin meminta supaya tidak ada wanita lain didekatku? Tapi aku rasa bukan itu. Biar aku dengarkan saja dulu apa yang dia inginkan.’ Dante bergumam tetap berpikiran positif.


“Hmmm….aku ingin sesuatu daddy.” ucap Alex tapi agak ragu.


“Aku suka kau seperti pria dewasa Alex! Aku suka kau bicara seperti ini.” ujar Dante memuji anaknya yang membuat Alex senyum-senyum merasa bangga. ‘Semoga saja dia lupa apa yang di inginkannya.’


“Daddy, aku mau minta sekarang! Bisakah kau kabulkan sekarang?”


“Aku sudah menyuruhmu untuk mengatakannya, kan?”


“Aku mau punya ibu, daddy” ucap Alex serius.


“Hmmm….apa kau sudah punya calon ibumu?”


Alex menganggukkan kepalanya. “Bagaimana kalau kau menikah saja dengan Sarah dan jadikan dia menjadi ibuku? Aku rasa dia baik dan cocok jadi ibuku.”


“Alex!….apa? Apa yang kau minta padaku?” Dante terkejut dan jadi gugup mendengar permintaan anaknya. Dia sama sekali tidak menyangka anaknya akan memintanya menikahi Sarah. ‘Kenapa jadi Sarah? Bukankah dia menyukai Bella? Kenapa sekarang dia menyuruhku menikah dengan Sarah? Anak ini otaknya ada dimana sih?’ omel Dante didalam hatinya.


Dia berusaha menahan emosinya dengan satu tangannya mengepal diatas meja dan satu lagi disandaran kursinya. Wajahnya ikut menegang mendengar permintaan anaknya. Bukan ini yang dia harapkan.


“Iya daddy, Maukah kau menikah dengan Sarah?” tanya Alex sambil tersenyum penuh harap.


‘Apa-apaan dia meminta seperti ini? Tapi sepertinya dia serius memintaku menikah dengan Sarah. Lihatlah bagaimana matanya menatapku. Fuuhhh sama persis seperti dia meminta kepadaku saat dia ingin aku mengajaknya ke Indonesia. Anakku serius memintaku menikahi Sarah?’


“Daddy?”


“Ehm? Aku rasa itu tidak mungkin Alex. Karena Sarah sudah milik seseorang.” ucap Dante. Terpaksa dia mengatakan itu pada anaknya. ‘Aku harus tegas untuk yang satu ini dan jujur padanya.’


“Apa Sarah tidak mau menikah denganmu?” tanya Alex lagi.


“Bukan itu masalahnya Alex. Tapi dia sudah milik seseorang, dia sudah punya satu pria dihatinya. Apa kau mengingat sahabatku Barack?”


“Barack temanmu kan daddy?”

__ADS_1


“Ya, Barack sahabatku itu dan Sarah sudah bersatu.”


 


__ADS_2