PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 201. BARACK DICULIK


__ADS_3

“Orang-orangku melihat ketika Sarah dibawa. Sempat ada baku tembak kala itu dan orang-orangku berusaha untuk menyelamatkan Sarah dan syukurlah mereka selamat. Saat ini dia ada bersama timku, kau tidak perlu khawatir lagi dan aku akan memerintahkan timku untuk segera menyerahkannya pada teman-temanmu disana. Gadis itu hanya sedikit ketakutan saja tapi dia tidak kenapa-napa.” kata Omero menjekaskan apa yang terjadi.


“Jadi saat ini Sarah sudah aman bersama dengan tim-mu? Dia tidak terluka atau ada sesuatu yang buruk terjadi padanya kan?” suara Dante terdengar bergetar.


‘Syukurlah dia selamat. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan pada Bella nanti kalau sampai terjadi sesuatu pada adiknya? Ada apa denganku? Aku tidak pernah mengalami masalah sebanyak ini tapi kenapa beberapa hari terakhir ini perhitunganku banyak yang berantakan?’ gumamnya didalam hati. Tangannya mengepal, hatinya pun bergetar memikirkan semua yang terjadi padanya belakangan ini.


Dante merasa cemas dan banyak yang harus dipikirkannya, bukan hanya masalah Bella yang hilang, masalah Sarah dan Tatiana juga. Tapi sudah beberapa hari terakhir ini semua pekerjaannya berantakan karena urusan wanita yang memusingkan. Dante benar-benar tidak menyukai situasinya ini.


“Kau jangan khawatir Dante! Anak itu selamat, dia ada bersama orang-orang dan mereka akan melindunginya. Dia akan dibawa ke tempat temanmu, Hans. Kondisi mereka sangat kelelahan.” ujar Omero lagi menenangkan Dante.


“Aku yakin inilah yang menyebabkan Barack tertangkap. Kenapa kau tidak segera menolongnya Dante?” tanya Omero mengeryitkan dahinya. Ini bukan cara kerja Dante, biasanya dia selalu bergerak cepat.


“Barack belum mau minta tolong, aku tahu dia pasti punya alasan untuk menunda walaupun dia belum menceritakan apapun itu.” jawabnya datar.


“Ah, jadi kau sengaja ingin memberinya waktu.” akhirnya Omero pun paham situasinya lalu berkata, “Disinilah masalahnya Dante! Aku sudah mengatakan padamu, jangan pernah menunda karena sekali kau menunda maka semua akan berantakan!” keluhnya sambil berdecak.


‘Ada apa dengan Dante? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sepertinya dia sedang tidak fokus. Apa dia punya masalah dengan rumah tangganya? Apa Tatiana membuat masalah lagi? Apa dia masih memiliki kelainan itu? Dia sudah mengatakan padaku kalau dia sudah tidak macam-macam lagi tapi…..aku rasa aku harus mulai mengecek kondisi Tatiana lagi! Aku harus menjauhkannya dari Dante kalau memang penyakitnya belum sembuh!’ gumam Omero sambil memijat keningnya memikirkan nasib Dante.


“Aku akan memberitahu Hans dan Eddie untuk bersiap!” kata Dante


“Katakan pada mereka untuk berjaga-jaga. Aku juga akan mengirimkan beberapa pengawal tambahan untuk berjaga-jaga. Aku pun akan menambahkan pengamanan dimarkasmu juga Dante!”


“Perketat pengamanan tambahan di mansion Hans saja, ayah!” pintanya.


“Baiklah, kalau itu maumu!”


“Berarti sekarang sudah tidak ada masalah apa-apa bukan?”


“Masalah pasti tetap ada Dante! Aku belum menceritakan semuanya padamu. Ini berkaitan dengan Barack!” kata Omero.


“Ada apa dengan Barack?” tanya Dante. ‘Ah, aku lupa kalau tadi ayah hanya bercerita tentang Sarah dan belum mengatakan apapun tentang Barack!’ Dante berusaha menenangkan gemuruh dan rasa kahwatir dihatinya sambil menunggu jawaban dari Omero.


“Orang-orangku tidak berhasil menyelamatkannya! Maaf Dante. Aku sangat menyesali hal ini.” suara Omero terdengar rendah penuh kekecewaan.


“Jadi mereka berhasil menangkap Barack?” tanya Dante terkejut. ‘Benarkah kau tertangkap? Ehm….aku tidak yakin! Tapi ayah tidak mungkin berbohong padaku bukan? Mungkin anaknya bisa menipuku tapi ayahnya tidak pernah bersikap begitu padaku! Jadi ini bukan main-main dan bukan jebakan, kan?’ Dante mencoba berpikir.

__ADS_1


“Aku tidak bisa menyelamatkannya karena dia sudah dibawa pergi. Anak buahku mencoba mengejarnya tapi mereka tidak bisa mendapatkannya!” kata Omero menjelaskan.


“Jadi Barack dibawa oleh mereka?” geram Dante. ‘Aku tidak bisa membiarkan itu.’ bisik hatinya. Hatinya mendidih penuh kekesalan dan amarahnya memuncak dan dendam pun muncul setelah mendengar ucapan Omero.


“Iya, mereka sudah berusaha untuk menghentikan mobil yang membawanya dan mendapatkan Barack tapi mereka berhasil membawa Barack pergi, Dante!”


“Ayah, aku akan berangkat ke Indonesia sekarang juga!”


“Kau serius Dante?”


“Aku akan menyelamatkan Barack bagaimanapun caranya, aku akan membawanya kembali!”


“Dante! Siapa sebenarnya lawanmu?”


“Aku tahu orangnya. Barack sudah memberitahuku, ayah.”


“Kau tahu betapa bahagianya mereka jika mendapatkan Barack? Aku juga menanyakan ini pada Hans dan Eddie!”


“Aku tetap berangkat ke Indonesia, ayah! Aku sendiri yang akan menyelamatkan Barack!” kata Dante menegaskan keputusannya.


“Aku tahu, ayah. Tapi untuk saat ini aku tidak puna pilihan lain, aku harus menyelamatkan Barack1”


“Apa kau yakin dia masih hidup ditangan mereka?”


“Tentu saja ayah! Aku akan berangkat sekarang juga!”


“Kalau kau membutuhkan apapun katakan saja padaku.”


“Baiklah ayah. Aku berangkat sekarang.” lalu Dante memutuskan panggilan.


“Daddy! Kenapa telepon sambil teriak-teriak?”


“Aku lupa.” Dante menengok kearah suara yang memanggilnya, ‘Aku sampai tidak sadar kalau aku sedang menggendong Alex!’ ujar Dante sambil menatap anaknya.


“Alex, saat ini Barack sedang ada masalah dan aku harus pergi untuk membantunya.” jawab Dante sambil terus menatap anaknya.

__ADS_1


“Jangan tinggalkan aku, daddy!” Alex langsung cemberut dan menggelengkan kepala. “Aku tidak ada Bella-ku!” Alex tak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada ayahnya tapi dia berusaha mengungkapkan isi hatinya yang berhasil membuat Dante mengatupkan bibirnya.


“Kau mau ikut dengan ku?”


“Mau!” Alex mengangguk, “Aku ikut daddy!” ujar Alex lagi. “Aku mau ikut Indonesia!”


“Tapi kau harus jadi anak yang kuat kalau ikut denganku. Kau tidak boleh takut! Kau harus jadi anak pemberani karena peekrjaanku membuatku tidak bisa terus-terusan menjagamu Alex!”


“Iya daddy! Tapi jangan tinggalkan aku!” ujar Alex menatap Dante. Dia ingat semua perkataan Tatiana padanya waktu itu kalau ayahnya akan meninggalkannya, itulah sebabnya dia minta ikut.


“Bagus, Alex anak pintar! Kalau begitu kau boleh ikut denganku.” ujar Dante tersenyum.


“Daddy! Kau telepon!”


“Iya sayang.” Dante mengangguk dan tangannya langsung mengambil ponselnya lagi menelepon seseorang.


“Ada apa Tuan?”


“Henry! Siapkan pesawat sekarang. Aku harus pergi ke Indonesia sekarang juga.”


“Baik. Saya mengerti Tuan.”


Dante mematikan teleponnya lalu dia melangkah masuk kedalam kamar.


“Pakaianku daddy?”


“Tidak. Aku tidak ingin mengganti pakaianmu sekarang. Aku mau membawamu ke kamar mandi dulu, supaya kau tidak muntah nanti, kau harus pipis dan kita langsung berangkat sekarang.”


“Aku tidak bawa baju perginya daddy?” tanya Alex menatap ayahnya serius.


“Kau kan sudah punya banyak baju di Indonesia, Alex.”


“Oh!” hanya itu terucap dari bibir Alex. Dante mendudukkannya di toilet dan menyuruhnya untuk buang air kecil sebelum mereka berangkat.


 

__ADS_1


__ADS_2