
Sementara itu setelah Dante menerima telepon dari Barack.
“Syukurlah akhirnya Barack menghubungiku juga!” ada senyum diwajah Dante setelah telepon dimatikan dan dia segera menghubungi kembali Omero Rivera.
“Kenapa kau menghubungiku Dante?”
“Maaf ayah, aku ingin merepotkanmu. Aku ingin menolong seorang temanku, lebih tepatnya sahabatku yang sedang berada di Indonesia sekarang! Tapi aku tidak bisa menggunakan teman-temanku, dia baru saja menghubungiku dan memberitahukan kalau mereka masih diikuti!”
“Ah, temanmu yang kau bilang orang Indonesia itu kan dan sekarang masih belum ada kabarnya?”
“Iya betul ayah. Bisakah kau menolongku?” tanya Dante. Ayah mertuanya itu mempunyai banyak anak buah di Indonesia dan mengetahui situasi disana dengan baik sehingga Dante memutuskan untuk meminta bantuannya.
Lalu Dante menceritakan dimana keberadaan Barack dan Sarah sertai detail lokasinya. Dia menjelaskan semuanya secara terperinci agar tidak ada yang terlewatkan.
“Indonesia! Lokasi tempatnya berada pun cukup sulit! Tapi aku akan mengirimkan orang kesana. Dua jam lagi! Dia minta begitu?” tanya Omero.
“Iya betul ayah. Apa kau bisa membantuku?”
“Tentu saja aku bisa membantumu Dante! Itu bukan hal yang sulit, orang-orang kepercayaanku disana semua orang lokal dan mereka menguasai situasi semua tempat disana.” ucap Omero tersenyum karena dia senang Dante menghubunginya.
“Baiklah. Terimakasih ayah. Aku tutup teleponnya sekarang.”
“Dia akan menolongmu. Tunggulah Barack! Bersabarlah sebentar lagi orang-orang itu akan datang menolongmu dan membawa kalian keluar dari sana.”
Dante kembali ke kamar Alex dan melihat anaknya yang masih tertidur lelap, ‘Syukurlah! Aku pikir kau akan terbangun karena suara telepon.’ celetuk Dante dan duduk ditepi ranjang anaknya, merapikan selimut karena tidur Alex agak berantakan.
‘Alex….kau mirip sekali dengan Bella! Terutama bibirmu. Apa yang dilakukan wanita itu sekarang ya? Apa dia sedang bersenang-senang dengan pria bernama Anthony? Menikmati…...ugh! Harusnya dia merasa sakit dari luka-luka dipunggungnya, aku yakin dia tidak bisa melakukan hal semacam itu.’ pikiran Dante sudah jauh kemana-mana, justru membuat dirinya susah sendiri sehingga dia tak tenang.
“Daddy!” tiba-tiba mata Alex terbuka dan menatap ayahnya.
“Alex!” seru Dante terkejut. ‘Apa karena aku memperhatikan matanya ketika dia tidur membuatnya jadi terbangun ya?’ gumam Dante karena sejak tadi dia memang memperhatikan Alex tidur.
“Daddy bawa pulang Bella-ku!” ucapan itu kembali keluar dari bibir Alex sambil menatap Dante dengan tatapan memohon dan penuh harap.
__ADS_1
“Kau bangun hanya untuk mengatakan itu padaku, Alex?” Dia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya saat melihat Alex membuka matanya.
“Tidak daddy! Aku mau pipis.”
“Kau kan pakai pampers?”
“Tidak pakai! Kata Bella-ku kalau pipis ditempat itu kotor. Aku mmau pipis di kamar mandi saja.”
Dante terdiam sejenak, “Jadi sekarang kau sudah tidak pakai pampers lagi? Kau sudah tahu kalau mau pipis harus ke kamar mandi?”
“Iya daddy! Bella-ku mengajariku cara pipis di toilet. Aku hebat kan?”
Dante terkekeh, “Kenapa tadi kau tidak bilang pada Henry untuk tidak memakaikanmu pampers?”
“Udah bilang tapi kata Henry hanya untuk jaga-jaga kalau aku lupa.”
“Ya itu benar. Ayo daddy antar kalau kau ingin pipis dan kita akan buka pampersmu juga.” ujar dante langsung menggendong anaknya dan membawanya ke kamar mandi.
“Duduklah!” ucap Dante mendudukkan Alex di toilet.
Dante hanya mengangguk dan berjongkok mensejajarkan diri dengan Alex sambil memperhatikan bagaimana anaknya itu melepaskan pampersnya sendiri. Lalu Alex pun pipis.
“Kau sudah bisa membersihkannya?”
Alex mengangguk sambil tersenyum menatap Dante.
“Bagus! Coba tunjukkan padaku.”
“Iya daddy!” lalu Alex mulau membasuh dengan air dan mencuci tangannya dengan sabun juga.
“Cara membersihkannya sama persis seperti orang timur membersihkan bagian tubuh mereka setelah buang air. Tidak seperti orang kita,” tanpa sengaja Dante mengucapkan kalimat itu saat dia melihat anaknya membasuh dengan air.
“Memang kita beda dengan orang timur? Siapa orang timur itu daddy?” Alex yang ceriwis dan ingin tahu semuanya selalu banyak bertanya pada Dante.
__ADS_1
“Tidak perlu kau pikirkan soal itu Alex! Suatu saat nanti kau akan tahu arti kalimatku itu.” Dante menggelengkan kepalanya, “Lalu apalagi yang diajarkan Bella padamu?”
“Daddy tahu darimana kalau ini Bella-ku yang ajarkan?”
“Membersihkan bekas buang air dengan menggunakan air seperti yang kau lakukan itu adalah cara mereka membersihkannya! Tentu saja aku tahu kalau Bella mengajarimu, benarkan?” Dante semakin tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.
“Iya daddy! Kapan Bella-ku akan kembali daddy? Aku tidak bisa hidup tanpa Bella-ku.” suaranya lirih dengan tatapan mata yang sendu memancarkan kerinduan.
Kalimat itu mampu membuat mata Dante terbelalak,’Sejak kapan anakku tahu kata-kata seperti itu?’
“Secepatnya aku akan membawanya kembali!”janji Dante lagi pada Alex.
“Apa sekarang dia jauh, daddy?”
Dante mengangguk, “Jauh sekali, daddy belum tahu dimana Bella tapi dia masih ada dikota atau mungkin disekitar sini. Daddy masih belum tahu tapi daddy akan segera menemukannya dan membawanya pulang untukmu karena daddy juga sayang sama Bella!”
“Kenapa daddy sayang Bella?” Alex mengeryitkan dahinya, dia merasa tidak senang dengan ucapan ayahnya seolah-olah ayahnya adalah saingannya. Alex hanya menginginkan Bella untuknya seorang saja.
“Karena dia yang menyelamatkan daddy, dia yang membuatmu bisa hidup sampai sekarang. Dia yang membantu daddy!” ucap Dante yang kembali mengingat masa lalunya dimana dia sangat sulit melupakan kematian orangtuanya.
“Daddy?”
“Hah?” Dante menatap Alex, “Maaf tadi daddy kepikiran sesuatu. Alex tadi bicara apa?” tanya Dante meminta maaf pada putranya karena mengabaikannya sejenak.
“Tidak.” Alex menggelengkan kepalanya. Dia sudah lupa apa yang diucapkannya tadi.
“Sudah pipisnya? Kau mau ke kamar?” Dante agak gelagapan mencoba membantu Alex memakaikan celananya.
‘Tatiana! Kenapa kau bisa berubah? Dulu kau sangat baik padaku, sangat perhatian sekali. Apa yang menyebabkan kau berubah menjadi seperti sekarang ini Tatiana?’ bisik hati Dante yang tiba-tiba teringat tentang perubahan istrinya. Dia sama sekali tidak mengerti dan merasa tidak percaya juga kalau Tatiana tega mengkhianatinya padahal selama ini dia sudah menjadi suami yang terbaik untuknya. Perasaan Dante dipenuhi gundah gulana yang dia sendiri tak memahaminya.
“Daddy!” panggil Alex yang melihat ayahnya masih saja memeluknya.
“Apa Alex? Maaf, daddy sedang banyak pikiran sampai daddy lupa masih memelukmu.”
__ADS_1
“Daddy lagi pikir mau tolong Bella-ku ya?” dengan polosnya dia bertanya.
“Oh bukan! Eh….iya memang daddy akan menolong Bella tapi yang daddy pikirkan sekarang bukan soal Bella.” Dante menggelengkan kepala. “Daddy lagi memikirkan sesuatu yang lain yang membuat seseorang bisa berubah sikap dan menyakiti orang yang telah bersama dengannya puluhan tahun.” jawab Dante jujur.