
“Aduh, aku harus pakai baju yang mana ya?” dia kebingungan memilih baju. “Apa ini? Kenapa ada bau busuk ya?” dia mengeryitkan dahinya dan melihat sesuatu dikota dibawah lemari Bella. Bagian laci bawah yang memanjang tepat dibawah baju-baju yang digantung. ‘Apa baiknya kubuka saja?’
“Ah…..ya Tuhan….pantas saja wanita itu bisa pergi dari tempat ini! Tapi bagaimana dia bisa melakukan ini?” Anna berdecak ngeri dan ketakutan ketika dia membuka kotak itu dan langsung menutup hidungnya karena bau itu sangat busuk dan menyengat. “Anthony! Aku harus memberitahukannya!”
Anna mulai merasa geram dan kakinya terasa lemas meskipun dia bisa berjalan tapi kakinya terasa lemas, sehingga dia memaksakan dirinya untuk segera menemui Anthony.
“Aduh! Aku harus ke kamar Anthony lagi? Aku harus menahan semua perasaanku lagi karena wanita itu pasti masih ada disana. Menyebalkan sekali.” gerutu Anna yang tidak punya pilihan lain.
Setelah dia sampai didepan kamar Anthony, pintu terbuka dan dia melihat Irene dan Anthony sedang berciuman mesar. “Aku mencintaimu Anthony! Sampai jumpa lagi besok ya. Hati-hati disana.” ucap Irene tersenyum manis pada pria itu. Anthony hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
‘Fuuuhhh! Ini yang aku tidak suka. Aku harus terus menahan rasa perih dihatiku ketika melihat mereka berdua tak henti-hentinya berciuman! Hyaakk! Anthony, sampai kapan aku harus memiliki perasaan kepadamu? Aku sangat ingin menghilangkan perasaan ini tapi sangat sulit sekali.’ gumam Anna didalam hatinya. Dia berusaha menenangkan diri dan menunggu sepasang kekasih itu selesai ciuman.
“Kenapa kau memperhatikan kami?” tanya Irene yang melihat kehadiran Anna yang berdiri tak bergeming didepan pintu kamar itu.
“Tenang Irene! Aku hanya ingin bicara dengan Anthony! Sebaiknya kau jangan berpikir yang aneh-aneh dulu tentangku.” ucap Anna dengan santainya dia menatap Anthony.
“Ada yang harus kubicarakan denganmu. Kau harus melihatnya sendiri, Anthony!”
“Ada apa lagi Anna?” tanya Anthony lalu menoleh menatap Irene dan berkata, “Ada hal yang harus kuselesaikan dengan Anna. Bisa kau pergi sendiri ke depan kan?”
“Iya tidak apa-apa.” jawab Irene dengan kesal. Dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menyetujui dan mencoba tersenyum manis pada Anthony.
“Hati-hati dijalan Irene! Aku akan meneleponmu saat aku kembali nanti.” ucap Anthony.
“Baiklah! Semoga kau beruntung dan bisa menyelesaikan pekerjaanmu secepatnya karena aku sudah sangat merindukanmu, Anthony.”
Lalu Irene kembali mencium Anthony dan melambaikan tangannya. “Tolong ya Anna, kau bersikap profesional karena dia adalah tunanganku.” ucapnya menatap tajam pada Anna. Lalu dia meninggalkan Anna dan Anthony berdua. Anthony hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya Tuhan! Dia cemburu sekali padaku padahal aku tidak menciummu Anthony! Kau bayangkan kalau aku memeluk dan menciummu.” ucap Anna sekenanya. ’Tapi aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku bukan pelakor.’ gumamnya dalam hati. Dia sangat menghargai hubungan orang lain dan tidak suka menjadi pihak ketiga.
__ADS_1
“Aku akan memintamu melakukan itu saat waktunya tiba, Anna.” ucap Anthony tiba-tiba.
“Apa kau bilang?”
“Hmmm….sudah kukatakan padamu kalau hubungan kami tidak akan pernah berhasil. Suatu saat nanti aku akan mengakhiri hubunganku dengannya.” ucap Anthony sambil tertawa menatap Anna.
“Kau tidak menyukainya, Anthony? Dasar palyboy! Kau memang penjahat wanita!” celetuk Anna kesal sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak jahat dan aku juga tidak kejam. Aku akui kalau Irene itu cantik! Tapi kami tidak punya chemistry. Sayang sekali, aku tidak punya perasaan apa-apa padanya. Aku tidak tahu bagaimana membangun rumah tangga langgeng dengannya kelak! Lebih baik kuakhiri!”
“Kau tidak punya chemistry tapi apa yang kau lakukan bersamanya? Kau sering tidur dengannya. Apa itu namanya Anthony? Dasar laki-laki tidak jelas!” Anna mencibir pada Anthony.
“Hei kenapa kau mengataiku begitu?”
“Terus aku harus bilang apa? Aku tidak mau membahas hubunganmu dengan wanita itu. Sebaiknya sekarang kau ikuti aku. Ada yang harus kutunjukkan padamu!”
“Apa itu?”
Anna tidak menjawab. Dia melangkah diikuti Anthony menuju ke kamar Bella dan langsung menuju ke wardrobe. Lalu Anna menunjuk kearah kotak yang sudah dibuka atasnya.
“Dia memang sudah berencana kabur dari sini. Aku tidak tahu alasannya apa tapi dia menggunakan cara itu Anthiny! Wanita itu sangat kejam dan mengerikan sekali.” ucap Anna bergidik ngeri.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kau harus menguburkan pelayanmu itu dulu! Jangan sampai ayahmu mengetahui hal ini.”
“Baiklah.” Anthony mengeryitkan keningnya.
“Kita harus segera menangkap wanita itu! Dia sudah kabur dan dia mungkin tahu tentang semua rencanamu jangan sampai semuanya terbongkar dan sia-sia semua kerja kerasmu Anthony.”
Sesaat setelah Anthony menutup teleponnya dan Dante memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
‘Fuhhh...ada-ada saja. Satu masalah belum selesai sudah ada masalah baru yang membuat kepalaku pusing.’ keluhnya melangkahkan kakinya menuju keruang kerjanya. Tapi gangguan datang kembali.
“Daddy!”
__ADS_1
“Iya Alex?”
“Daddy, ayo kita main.” suara kecil itu melengking! Suara kecil yang terdengar bahagia ketikan melihat senyum Dante. Dia berlari menaiki tangga berusaha mengejar ayahnya yang adalah idola anak laki-laki itu.
“Bukankah kau mau main bersama dengan Bella dan Sarah?” tanya Dante. ‘Fuhhh...sebenarnya aku juga ingin bermain denganmu Alex.’ gumamnya lirih dalam hati. Tapi dia tidak bisa melakukan itu karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikannnya.
Dia terpaksa mengorbankan waktunya yang berharga dengan putranya. Dante pun terpaksa menolak permintaan putranya yang menatapnya dengan mata berbinar-binar.
“Aku tadi melihat daddy. Makanya aku langsung kesini.” Alex menganggukkan kepalanya. Dia memang tadi melihat Dante dan dia ingin mengajak ayahnya untuk bermain bersama karena sudah cukup lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama. Alex merindukan waktu bermain bersama ayah kesayangannya.
“Alex sayang!” Dante diam sejenak lalu mensejajarkan tingginya dengan Alex dan mengelus lembut rambut anak itu.
“Iya daddy?” Alex tampak mulai tidak sabar.
“Hmm….Alex sayang. Aku minta maaf padamu. Sebenarnya aku ingin bicara banyak denganmu dan bermain denganmu tapi ada beberapa pekerjaanku yang belum selesai. Apakah kita bisa bermain dilain waktu saja? Hari ini kamu bermain bersama Bella dan Sarah. Bagaimana?” bujuk Dante.
“Tapi kapan kita mainnya daddy?” tanya Alex setelah dia memikirkannya sejenak.
“Setelah pekerjaan daddy selesai. Daddy punya banyak pekerjaan sekarang dan menyita waktuku. Kalau aku tidak segera menyelesaikannya akan berdampak sangat buruk.”
“Oh.” hanya itu yang terucap dari bibir Alex.
“Kau pasti belum paham ya? Maksudku begini, aku harus menyapu di belakang rumah, kita tidak punya uang untuk membayar pelayan jadi kalau aku tidak menyapu maka kotorannya pasti makin banyak. Semakin banyak binantang yang akan tinggal disana. Halaman belakang kita akan terlihat jorok dan membuat banyak virus serta penyakit. Seperti itu gambarannya, Alex.”
Dante mencoba menjelaskan dengan harapan anaknya bisa paham. Dia menjelaskan dengan membuat perumpamaan yang akan mudah dimengerti oleh Alex.
“Jadi daddy mau buang kuman penyakit?”
“Iya. Setelah semua kuman-kuman itu selesai aku buang maka aku akan bermain denganmu.”
“Benarkah? Daddy janji?” Alex berusaha membuat ayahnya berjanji sehingga tidak akan bisa menolak.
“Iya. Aku tidak akan berbohong padamu saat ini Alex. Aku janji aku akan bermain denganmu setelah semuanya selesai. Kita bisa bermain sepuasnya. Aku tidak akan melarangmu.” ucap Dante tersenyum.
“Baiklah daddy!” akhirnya Alex paham dan menoleh kearah Bella.
__ADS_1