PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 381. WANITA ITU HILANG


__ADS_3

“Irene! Aku keluar sebentar ya.” ucap Anthony yang dijawab Irene dengan senyuman. Wanita itu menatap penampilan pria itu dan dia merasa puas dengan pakaian yang dipilih oleh Anthony, semuanya tertutup dari leher hingga kakinya. Dia sangat senang karena Anthony memenuhi permintaannya tadi.


 


‘Dia benar-benar terobsesi padaku! Sampai tidak mau tubuhku dilihat wanita lain! Haduh….merepotkan sekali wanita ini.’ ujarnya dalam hati sambil melangkah mendekati wanita yang sedang berjalan bolak-balik didepan kamar Bella palsu.


 


“Ada apa denganmu? Kenapa kamu jalan bolak balik begitu?” tanya Anthony.


“Wanita itu tidak ada ditempatnya! Aku sudah mencarinya, dia hilang! Dia sudah kabur Anthony!” jawab Anna dengan ekspresi wajah bingung dan sedikit takut karena dia yang ditugaskan untuk menjaga wanita itu.


 


Ketika penjaga rumah Dante sudah melihat mobil yang dikendarai Dante sudah mendekat ke arah gerbang utama mansion


 


“Tuan, saya ingin melapor! Tuan Dante sudah ada di gerbang dan kami baru saja membuka pintu gerbang utama!” lapor salah satu pengawal di pintu gerbang utama mansion.


Pesan itu disampaikan melalui walki talkie yang tersambung ke Henry membuat kepala pelayan itu langsung sigap meninggalkan pekerjaannya dan langsung menuju ke pintu utama untuk menyambut Dante.


 


“Hei Henry! Kau mau kemana?” tanya Hans yang melihat Henry berjalan dengan cepat menuju kearah pintu masuk utama.


“Tuan Dante sudah kembali, saya ingin membukakan pintu untuk beliau!” jawab Henry. Hans mengeryitkan keningnya lalu bergegas mengikuti Henry sambil memanggil kedua temannya.


 


“Kenapa dia cepat sekali ya? Apa ada masalah?” celetuk Nick.


“Mungkin sudah selesai urusannya.” ucap Eddie berusaha berpikiran positif. ‘Ada apa ya? Dia cepat sekali kembalinya? Seingat Katarina bilang jaraknya ke tempat itu sekitar satu jam tapi sekarang belum sampai dua jam kenapa dia sudah kembali?’ gumam Eddie didalam hatinya. Dia merasa sedikit tak enak hati ada perasaan was-was dan tak nyaman dihatinya.


“Hei tunggu Henry! Jangan jalan cepat-cepat! Kakiku sakit!” teriak Nick yang mengikuti Henry berusaha mengimbangi langkah pria itu. Sedangkan Hans sudah menyusul dan berjalan disamping Henry.


“Tenang, aku akan menemanimu jalan disampingmu. Aku merasakan apa yang kau rasakan!”


“Aku tidak suka dengan laki-laki! Minggir sana, jangan merangkulku! Hyaaakkks!”


 


“Hei Nick! Kau pikir aku ini suka denganmu? Kau ini aneh!” Eddie tidak melanjutkan ucapannya karena Nick sudah menertatwainya.

__ADS_1


“Sedikit menghibur diri tidak apa-apalah! Jangan terlalu serius. Aku sudah tegang sejak Dante pergi dan kalian selalu menyindirku. Menyuruhku berpiki positif tapi sekarang saat Dante pulang malah kalian yang panik.” ucap Nick terkekeh.


 


“Apa yang kulakukan padanya?” tanya Hans tiba-tiba pada kedua tmannya yang sedang mengobrol dibelakangnya. Dia merasa penasaran dan mempercepat langkahnya menghampiri mereka.


“Apa yang terjadi?” tanya Eddie.


“Apa yang ada disebelah tempat duduk Dante itu?” Hans menunjuk kearah mobil dengan dagunya.


“Ahhhhkkk…...” Nick bergidik dan terkejut saat dia melihat bahwa itu adalah Katarina yang sudah jadi mayat dengan berlumuran darah.


 


“Bukan waktunya membahas wanita bodoh itu! Kita harus rapat sekarang.” ujar Dante mengingatkan ketiga sahabatnya itu.


“Dante! Kenapa kau membunuhny?” tanya Hans dengan tangan gemetar. Dia paling tidak suka setiap kali Dante sudah berubah menjadi sadis.


“Kau pikir aku gila membunuh orang tanpa sebab?” ucap Dante dengan sikap tenang seperti tidak merasa bersalah sedikitpun.


 


“Tidak juga.” Hans menggeleng sambil menatap Dante yang mengeluarkan ponselnya.


Dengan santai Henry mengangguk, “Ya saya tahu Tuan. Jangan khawatir, saya akan membereskannya.”


 


“Bagus! Jangan ada sisa darah di mobil ini! Bersihkan semuanya dan pastikan kau mengubur mayat wanita iu di tempat paling belakang di luar pagar rumahku. Kubur di area hutan pinus di belakang sana atau lemparkan saja mayatnya dihutan untuk makanan serigala liar! Tapi jangan pernah kubur diarea rumahku atau dekat dengan area rumah!” ujar Dante.


 


“Baik Tuan. Saya akan menguburnya di hutan pinus!” jawab Henry.


Dante tidak mengatakan apapun lagi, dia meninggalkan Henry dengan urusan itu.


“Dante! Sudah kuduga akhirnya pasti akan seperti ini! Tadi malam wanita itu sudah bertingkah tidak beres!” celetuk Nick berusaha mengimbangi langkah Dante meskipun kakinya terasa sakit.


 


“Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku?” ujar Dante memijat keningnya.


“Apa yang harus kukatakan? Wanita itu gila sekali! Aku tadi sudah memperingatkanmu bagaimana kalau dia menjebakmu tapi kau bilang tidak masalah.” Nick mengeluhkan sikap temannya itu pagi ini yang kurang berhati-hati menurutnya.

__ADS_1


 


“Wanita gila itu sudah merusak rencana Barack! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Barack sekarant!” ujar Dante yang memang mencemaskan temannya itu.


“Aku juga memikirkan itu sejak tadi.” celetuk Hans.


“Apa maksudmu?” tanya Dante menoleh kearah Hans.


 


‘Aku belum bicara dengan Hans masalah Barack! Apa Nick yang sudah menceritakan semuanya pada Hans? Atau Eddie yang menceritakannya?’ gumam Dante dalam hati.


“Dante, tadi malam aku bertemu dengan Barack! Aku belum sempat melaporkannya padamu masalah senjata kita itu. Tapi aku sudah bilang pada Eddie dan dia memintaku untuk mempersiapkan senjata milik Omero.”


 


“Aku tidak paham apa yang kalian bicarakan. Sebaiknya kita bicara diruang kerjaku saja.”


Mereka semua pun mengangguk dan berjalan bersama-sama menuju keruang kerja Dante.


“Daddy…...daddy…..dimana Bella?” gangguan kecil pun muncul tiba-tiba disaat kepala Dante sedang pusing memikirkan misinya yang gagal.


 


“Alex!” dengan terpaksa Dante tersenyum menatap anaknya lalu dia melihat kepada teman-temannya, “Tunggu aku diruang kerjaku!”


“Selalu saja ada pengganggu akhir-akhir ini.” celetuk Hans terkekeh, dia sangat senang menggoda Dante tetapi pria itu tidak menanggapi candaan temannya.


“Selamat pagi Alex!” Dante tetap terlihat biasa saja.


“Daddy! Dimana Bella? Dia bilang tadi akan menemaniku tidur tapi dia tidak ada lagi, dia sudah hilang. Apa kau yang mencuri Bella lagi? Kenapa daddy suka mencurinya dariku?” protes Alex.


“Iya Alex, aku mengambil Bella-mu.” jawab Dante lalu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan putranya.


 


“Kembalikan Bella-ku Daddy! Aku kan mau bermain dengannya. Ini sudah pagi hari kenapa kau suka sekali mencuri Bella-ku? Apa daddy mau bertarung denganku?”


“Ha ha ha….tunggu sebentar ya. Biar aku ambilkan Bella-mu! Dia mungkin masih tidur karena dia kelelahan.” ujar Dante dan sebenarnya dia pun masih merasa lelah.


“Cepat panggilkan! Aku mau bermain dengannya sekarang daddy! Lain kali daddy harus meminta izinku dulu kalau mau mengambil Bella-ku, oke?” pinta Alex dengan bibir mengerucut.


“Sarah, bawa anakku bermain dulu! Bawa dia sarapan, aku akan segera memanggilkan Bella untuknya.”

__ADS_1


__ADS_2