PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 411. TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

“Oke!” Nick mengangguk lalu dia melangkah keluar di iringi oleh waitress yang ada disampingnya.


“Jadi yang ingin makan disini wanita itu?”


“Iya Tuan! Dengan pria kaya tentunya.” bisik waitress yang sudah tidak tahan untuk gosip.


‘Bagus!’ gumam Nick didalam hatinya.


“Kau tahu siapa mereka itu? Artis? Pejabat? Pengusaha?”


“Aku rasa bukan Tuan!” jawab waitress lagi sambil menarik kursi untuk Nick.


“Lalu? Siapa yang punya uang sebanyak itu?” tanya Nick yang mulai kepo.


“Setahu saya, dia adalah salah satu tamu di hotel ini dan dia adalah gubernur di Meksiko!” jawab waitress itu.


 


“Oh, baiklah! Terima kasih informasinya. Aku tidak tertarik dengan gubernurnya. Aku tertarik dengan wanitanya! Hahahah!” celetukan Nick membuat waitress itupun ikut tertawa kecil.


“Sepertinya anda harus sekaya pria itu dulu Tuan supaya wanita itu melirik anda!”


 


“Ya aku rasa aku tidak perlu sekaya itu. Untuk dilirik oleh wanita sepertimu pun juga sudah bagus.”


Nick sedikit merayu membuat wanita itu tersipu malu sambil memberikan menu makanannya pada Nick. “Silahkan dipilih Tuan.”


“Bisa aku lihat-lihat dulu sebelum aku memesan makanannya?”


 


Waitress itupun paham apa yang dimaksud Nick sehingga dia menjauh dan membiarkan Nick mendapatkan privasi untuk melihat menu makanan. “Dante! Apa kau tahu kalau istrimu main gila dengan Jeff?’ bisik Nick didalam hati dan tak sengaja pandangan matanya melihat seseorang yang berjalan ditaman belakang restoran.


‘Beruntung sekali aku! Barack ada ditempat ini? Tunggu! Siapa wanita yang mengejar Barack itu?’


 


(Sesaat setelah Dante menutup teleponnya)


Ada senyum cerah diwajah Dante. ‘Mom! Dad! Mark masih hidup! Mark selamat dari kecelakaan itu.’ ucap hati Dante lalu memasukkan ponselnya ke saku celananya.


‘Mark memiliki mata seperti mommy! Sikap jahilnya juga mirip sekali seperti mommy! Tapi dia tampan sepertimu Da!’ Dante bicara lirih tapi dia tidak sedih lagi, mimik wajahnya tersenyum lega.


 

__ADS_1


‘Adikku masih hidup! Mark Sebastian, kau yang selama ini sudah kupikir meninggal dalam kecelakaan itu dan jasadmu tidak bisa ditemukan lagi, ternyata kau masih hidup. Kau masih ada didunia ini bersamaku. Bahkan kau tinggal dirumahku beberapa bulan!’ tak terasa setitik bening pun mengalir disudut mata Dante.


 


‘Mark! Kau masih menyebalkan sama seperti saat kau dilahirkan. Kau ingat bagaimana kau membuat kotoranmu menempel dipakaianku saat aku menggendongmu?’ Dante tersenyum dengan rasa haru yang membuatnya menitikkan airmata namun segera dihapusnya.


‘Itu adalah momen membahagiakan. Saat itu aku membantu mommy untuk mengurusmu. Aku baru saja ingin mengganti popokmu tapi….shhhhh kau sudah mengotori pakaianku Mark!’


 


‘Sayangnya saat itu usiamu baru dua minggu. Padahal aku kesal sekali padamu saat itu. Apalagi aku tidak bisa membalasmu karena aku juga dulu seperti itu. Fuuuh! Seharian kau membuat mood ku buruk. Tapi percayalah mark, sampai sekarang momen itu adalah momen yang ingin selalu kuingat.’


 


Dia semakin tidak sabar ingin segera bertemu dengan Anthony. Dan kini dia sudah mengeluarkan ponselnya lagi untuk menghubungi seseorang. Tapi, Dante tergelitik dengan suara pintu yang dibuka kasar sehingga dia langsung menatap bayangan orang itu.


 


“Kau mau kemana Henry?” tanyanya pada Henry yang keluar dari ruangan Omero.


“Diluar ada orang yang ingin saya usir Tuan! Karena dia tidak dibutuhkan ditempat ini.” ucap Henry tanpa menatap Dante yang membuat Dante mengeryitkan dahinya.


 


“Siapa orang itu Henry? Kenapa kau tidak menyuruh penjaga saja yang mengusirnya? Mereka kurang kuat mengusir orang itu?” tanya Dante lagi. Yang tidak biasanya dia mengajukan pertanyaan panjang seperti itu.


 


“Tepat sekali waktunya. Aku ingin bertemu dengannya Henry.” ucap Dante sambil mencengkeram tangannya erat dan membuat Henry merinding.


“Anda ingin menemuinya Tuan?”


“Apa penjaga sudah mencoba mengusirnya Henry?”


 


“Sudah! Tapi seperti biasa Nyonya Tatiana sangat keras kepala Tuan. Dia tidak mau pergi dari sana dan masih menunggu agar dijinkan masuk. Bahkan beberapa kali dia sudah melukai penjaga disana dengan kasar.mereka tidak berani melakukan apapun karena Nyonya Tatiana, Tuan!”


 


“Apa yang dia inginkan hingga datang kesini?” tanya Dante berkacak pinggang.


“Dia ingin bertemu dengan Tuan Omero.” jawab Henry dengan cepat.


“Ehm….apa Omero mau bertemu dengannya?”

__ADS_1


“Tidak Tuan! Tuan Omero menolak untuk bertemu dengannya dan memerintahkan agar Nyonya Tatiana tidak diijinkan untuk masuk mengunjunginya.” kata Henry menjelaskan.


 


“Oh begitu? Apalagi kata ayah?”


“Dia mau saya mengusir Nyonya Tatiana karena Tuan Omero khawatir jika Nyonya Tatiana akan melihat Nyonya….Ehm Belinda Alexandra Sebastian.” Henry berpikir sejenak sebelum menyebut nama Bella. Dia ingat nama yang tercatat di buku pernikahan Dante yang baru dan disana tertulis jelas nama lengkap yang bukan Bella.


 


“Fuuuh! Kalau begitu aku ingin denganmu kedepan Henry!” Dante tersenyum. Tanpa banyak bertanya keduanya keluar dengan map yang masih ada ditangan Henry.


“Apa itu Henry?” tanya Dante saat melihat map yang dipegang Henry dengan erat.


“Oh, ini surat cerai milik Nyonya Tatiana. Anda dan Nyonya Tatiana memiliki masing-masing satu.”


 


Dia membuka pintu depan dan mempersilahkan Dante keluar dulu.


“Kau tidak seharusnya seperti ini Henry! Aku sudah tahu siapa dirimu dan mungkin kau bisa bersikap sama padaku seperti temanku-temanku.” ucap Dante ketika dia melewati pintu rumahnya menuju ke teras rumah dengan pandangan matanya sudah tertuju ke gerbang yang terlihat jelas dari teras.


 


“Saya akan tetap bersikap seperti pelayan Tuan! Karena inilah yang diperintahkan oleh mendiang Tuan Mateo Sebastian. Dia membutuhkan seorang intelijen yang bisa menyamar sebagai pelayan dirumahnya. Bahkan istrinya pun tidak tahu jati diri saya yang sebenarnya Tuan!” kata Henry.


 


Dante masih bisa mendengar perkataan Henry namun dia tidak menatapnya. Pandangannya tertuju pada gerbang depan dan seseorang yang sedang mengamuk disana sudah terlihat membuat Dante tersenyum kecil.


“Tidak seharusnya dia memanggilku Henry! Dia tidak tahu bahaya apa yang bisa aku lakukan padany!”


 


“Tidak! Jangan Tuan!” Henry menggelengkan kepalanya dan menatap serius pada Dante yang masih belum beranjak dan mereka masih berada didepan pintu rumah yang sudah tertutup.


“Apa maksudmu mencegahku Henry?” Dante menoleh pada pria yang berdiri disampingnya.


“Nyonya Tatiana adalah seorang pesakit Tuan! Segala sesuatu yang menyakitkan adalah yang dia inginkan. Saat seseorang yang dicintainya menyiksa fisiknya itu berarti anda memberikan kenikmatan untuknya Tuan! Jangan lakukan itu karena dia akan merasa senang!”


 


Dante tidak menjawab karena dia cukup mengerti tentang hal itu. Tadi dia sempat lupa dan sudah berencana untuk menyiksa wanita itu. Apalagi saat dia mengingat perkataan Hans tentang hubungan Tatiana dan Jeff Amadeo, dia sudah tidak sabar untuk menyiksa Tatiana.


 

__ADS_1


“Kau benar Henry! Aku ingin membalas perbuatannya tapi mungkin tidak dengan melakukan sesuatu yang menyakiti tubuhnya. Itu yang di inginkannya!” Dante tersenyum kecut.


“Semakin anda memiliki keinginan menyiksanya dia akan semakin senang Tuan. Karena pilihannya hanya ada dua, hidup bersama anda atau mati dibunuh oleh anda.” Henry mengingatkan kembali.


__ADS_2