
“Apa kau takut pada mommy-mu seperti aku juga takut padanya, iyakan?” pertanyaan yang juga tidak dijawab oleh Alex.
“Bella! Aku mau pipis.” tiba-tiba Alex mengalihkan pembicaraan.
“Bukankah kau pakai pampers? Kau bisa langsung pipis di pamper saja.”
“Tapi aku mau pipis di toilet. Kau bilang aku sudah besar, tidak boleh pakai pamper, kotor.”
“Ya iya aku memang bilang begitu. Ha! Alex kau pintar sekali.” Bella jadi meringis sendiri. “Tapi gelap sekali Alex. Apa kau bisa melihat jalan ke kamar mandi?”
“Tapi aku pakai celana!”
“Baiklah ayo kita coba.” Bella turun dari tempat tidur sambil mendengus sambil menggendong Alex.
‘Duh aku takut!’ Bella berdecak tapi mencoba turun sambil menggendong Alex dan merayap menuju ke kamar mandi. Lalu tangannya meraba dinding kamar mandi. Saat mencapai pintu kamar mandi dan membukanya tiba-tiba lampu menyala karena sensor.
“Waaahhhh lampunya terang sekali.”
“Iya karena lampu kamar mandi dan wardrobe mu sama, akan menyala otomatis kalau ada sensor pergerakan.” Bella menjelaskan.
Alex mengangguk, “Ini bisa nyala sendiri?” tanya Alex karena dia tidak mengerti kata sensor.
“Syukurlah kita ada disini, setidaknya disini terang ya Alex.”
“Kita tidur disini saja?” tanya Alex lagi. Anak ini memang selalu banyak pertanyaan.
“Kau bilang kan mau pipis bukan mau tidur?”
Anak itupun menganggukkan kepala dan berjalan ke toilet. Lalu Alex melakukan seperti apa yang telah diajarkan oleh Bella padanya.
“Bisakah?” tanya Bella.
“Sudah.” ujar Alex.
“Nah kalau Alex merasa pengen pipis harus langsung ke kamar mandi ya?”
Alex mengangguk, dia sudah cukup besar untuk mengerti hal itu. Dante juga pernah mengajarkan padanya hanya saja tidak cukup waktu untuk toilet training karena tidak ada yang mendampinginya sehingga Alex terbiasa menggunakan pampers. Sedangkan Tatiana memang tidak pernah mengajari apapun pada anak itu, baginya Alex hanya barang yang hanya perlu dipertahankan agar Dante tetap berada disisinya. Dia tidak terlalu peduli dengan anak-anak, apalagi mendidik dan melatihnya.
“Aku sudah bisa pakai celana?” tanya Alex.
“Bisa. Tapi kau tidak boleh pipis sembarangan ya, kau tidak boleh ngompol dicelana juga.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Bella, dia kembali menganggukkan kepala. Bella selalu berusaha mengatakan sesuatu pada Alex dengan kalimat yang mudah untuk dipahami anak seusianya.
“Baguslah. Ayo kita kembali ke kamar.”
“Kalau ke kamar kita gelap-gelapan lagi Bella.”
“Iya memang. Tapi mau gimana lagi?” Bella melirik Alex yang cemberut.
“Tidak bisa kita tidur disini saja?”
“Ha? Kau mau tidur dilantai?”
“Aku mau, Bella.”
“Aku tidak mau kau sakit dan kalau mommy-mu kesini dan melihat kita tidur dilantai nanti kau kena marah lagi.” ujar Bella.
Alex pun paham dan dia juga takut kalau gara-gara dia maka Bella juga akan dihukum belum lagi ancaman Tatiana yang akan melaporkan pada Dante. Alex tidak mau ayahnya meninggalkannya. Dia pun mengangguk dan membiarkan Bella menggendongnya kembali ke tempat tidur. ‘ Huff untung saja lampu itu mati setelah beberapa detik jadi aku tidak perlu merayap ke tempat tidur.’ ujar Bella kembali masuk kedalam selimut bersama Alex.
“Tidur sekarang ya Alex. Kau harus tidur sing.”
Alex mengangguk dan keduanya pun mulai memejamkan mata lagi. Tapi Alex masih belum bisa tidur meskipun matanya terpejam. Sehingga mereka masih berbincang hingga anak itu mengantuk dan tidur.
‘Huh akhirnya dia tidur juga. Aku belum tidur, aku juga harus memejamkan mata dan istirahat. Aku takut gelap.’ bisik hati Bella yang mencoba memejamkan matanya.
Tiga puluh menit sebelum kejadian.
“Aku senang kau sudah kembali, Dante.” seru Tatiana yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku. Tatiana segera mendekat dan langsung memeluk Dante saat melihat pria itu memasuki pintu mansionnya.
“Kenapa kau malah duduk diruang tamu?” tanya Dante sedikit heran.
“Hmmm….aku bosan tidak ada kerjaan dikamar jadi aku sengaja menunggumu disini sekalian mencari suasana baru sambil membaca buku.”
“Apa kau sudah lama menungguku?” tanya Dante sambil membelai rambut istrinya.
“Lumayan. Aku sudah membaca kurang lebih tiga bab buku ini.” Tatiana menganggukkan kepala dan menatap dante dengan tatapan manja.
“Sayang, apa kau mau makan sekarang?” tanya Dante lagi.
“Iya. Tapi biarkan aku bicara dulu dengan pelayan untuk menyiapkan makanannya.”
“Baiklah. Kau urus dulu pelayan.” ujar Dante.
__ADS_1
“Baiklah Dante.”
“Aku akan mengecek pekerjaanku sebentar, kau tunggu saja sebentar di meja makan. Aku akan segera kembali kesana tidak lebih dari sepuluh menit, ok?”
“Ok. Aku mengerti dante.” ucapnya lalu berjalan menuju ke dapur sedangkan dante pergi menemui kepala pelayannya.
“Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa bantu?” tanya kepala pelayan.
“Kau tidak memberitahu istriku kan?”
“Tidak Tuan!” jawab kepala pelayan menggelengkan kepalanya.
“Bagus! Kau sudah pastikan kalau tidak ada pelayan yang melihat mereka saat kau membawanya keruang penyiksaan?”
“Sudah, Tuan.” kepala pelayan itu kembali menganggukkan kepala.
“Dua pelayan tadi yang aku memintamu untuk mengurusnya. Apa mereka sudah berada diruang hukuman?” tanya Dante lagi ada senyum tipis dibibirnya.
“Sudah Tuan. Saya lakukan sesuai perintah Tuan.”
“Bawa mereka!” ujar Dante tersenyum tipis.
“Baik, Tuan.” kepala pelayan itu langsung berbalik arah menuju ke ruang hukuman dimana Dante selalu mengirim pelayan atau rang-orang yang berbuat salah atau tidak sesuai dengan perintahnya.
“Apa kau yakin masalah surat itu tidak ada orang lain yang melihatnya dan tidak ada orang yang tahu?”
“Tidak, Tuan. Mereka bilang begitu. Anda bisa menanyakan langsung pada mereka.”
“Bagus!” ucap dante bersamaan dengan kepala pelayan yang membuka pintu dan masuk kedalam sana.
“Bagaimana hidup kalian didalam sini?” tanya Dante.
“Ma—maafkan kami Tuan. Kami mohon maafkan kami. Kami tidak akan mengulangi kesalahan kami dan tidak akan lancang untuk membuka sesuatu.” jawab salah satu pelayang yang sudah takut dan tak berani menatap wajah dante.
“Seharusnya kau berpikir sebelum kalian membuka surat itu.” ucap Dante yang memicingkan matanya.
“Kami mohon maaf Tuan. Tolong berikan ampunan pada kami!” pinta pelayan itu penuh harap pada Dante sambil menundukkan kepala.
“Apa kalian pikir kalian ini pantas untuk dimaafkan, ha?”
“Kami mohon maaf, Tuan.” hanya kalimat maaf saja yang bisa mereka ucapkan saat ini.
__ADS_1
“Kalian sudah tahu terlalu banyak! Sekarang kalian jujur padaku, kepada siapa saja kalian sudah menceritakan masalah surat itu?” hati Dante sangat keras dan tidak mudah digoyahkan hanya dengan kata maaf, justru kalimat itu dia gunakan sebagai pertimbangan.