
“Radiasinya terlalu tinggi Bella. Kau tidak boleh memakainya. Kau sedang hamil.”
“Tapi kau sendiri terluka. Kau tidak boleh memaksakan dirimu.” kata Bella.
“Yang dikatakan Bella itu benar, Dante! Kalau kau memasang jam tanganmu radiasinya akan semakin buruk. Kau tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama.”
“Apa kau bilang barusan?”
Bella mengerling pada Barack dan langsung mengambil jam tangan dari Dante. Bella tak peduli dan langsung memakainya.
“Bella! Kau tidak boleh memakainya kalau sedang hamil. Tidakkah kau mendengar ucapanku?”
“Bella berikan saja padaku.” Sarah membuka jam tangan dari tangan Bella dan memakainya. Membuat Barack menatapnya tak rela.
“Kau masih kecil. Kau tidak boleh memakainya.” ucap Barack dengan tegas melarang.
“Lalu, kakakku yang harus memakainya? Dia sedang hamil. Aku tidak bisa membiarkannya memakai benda yang beradiasi tinggi seperti ini.”
“Sarah, tapi….”
“Tenanglah barack! Aku tidak akan apa-apa!” Sarah mencoba menyakinkan Barack. “Aku tidak punya penyakit aneh-aneh. Lagipula usiaku masih muda dan aku lebih kuat memakai ini.” Sarah membujuk lagi dan membuat semua orang terdiam.
“Kau yakin kau bisa memakainya dan tidak akan melepaskannya?” tanya Dante sangsi.
“Aku tidak akan melepaskannya kecuali kakakku merebutnya dariku.” ucap Sarah jujur.
“Sudahlah Dante percayakan saja padanya. Kau tidak punya pilihan lain lagi, bukan?” ucap Barack menyakinkan Dante karena dia sudah tidak mau membuang waktu lagi.
“Jangan sampai jam itu pecah, jangan kau lepaskan.” akhirnya Dante pun setuju.
“Kalau sampai jam ini pecah dan lepas kau mati?”
“Kami berlima akan mati.” ucap Dante membuat Sarah terdiam dan mengangguk pelan.
“Aku tidak mau Barack mati. Tentu saja aku akan menjaganya.”
“Tenanglah Dante. Sarah bisa dipercaya. Ayo kita bicarakan apa yang ingin kau bahas.”
“Mereka sudah menunggu kita.” Dante melirik Bella. “Bawa Alex kemari.”
“Iya Dante.” Bella mengikuti Dante menuju wardrobe dan mengambil Alex yang ketakutan. Sedangkan Dante masih berbicara dengan teman-temannya. Dante sengaja menutup pintu wardrobe supaya mereka tidak mendengar apa yang Dante bicarakan.
“Barack, kenapa kau membawa kami pergi dari sana? Padahal disana ada Jeff dan kami bisa membunuhnya bukan?” Manuel yang pertama mengajukan pertanyaan pada Barack.
“Sssshhh! Orang itu bukan Jeff! Aku sudah melihat dan mengamatinya. Mungkin dia bisa menipu kalian semua tapi dia tidak bisa menipuku. Aku sudah pernah mempelajari program seperti itu.”
__ADS_1
“Program? Program apa?” Anthony mengulang pertanyaan.
Barack mengangguk sambil duduk menggelar sebuah kursi rias dan menatap tiga orang didepannya.
“Iya, itu adalah sebuah prohram. Dia tidak ada ditempat itu. Yang kita lihat tadi hanyalah hologram.”
“Kau pikir aku bodoh? Hologram bisa nampak nyata begitu? Tidak terlihat cacat sama sekali.”
“Kau tidak memperhatikannya Anhtony! Makanya kau bisa bilang dia bukan hologram.” Barack mempertegas pada Anthony.
“Tapi….." Anthony ingin protes tapi langsung dipotong oleh Dante.
”Sudahlah Anthony! Kalau Barack sudah bilang begitu itu berarti kau harus percaya padanya.” kata Dante menyanggah adiknya yang sepertinya tak percaya pada ucapan Barack.
“Dante, tapi…..”
“Barack sudah paham tentang hal seperti itu. Dia membawa kita pergi dari sana dia pasti punya alasannya, Anthony.”
“Aku sudah mengebom tempat itu.” kata Barack dengan tenang.
“Bagaimana kau melakukannya?” Anthony kembali bertanya.
“Aku menjatuhkan kancing disana. Itu sebenarnya untuk memberikan sinyal. Karena kita tidak tahu dimana lokasi sebenarnya Jeff. Kancing itu terhubung dan bisa memancarkan sinyal ke satelit. Jadi Nick tahu dimana lokasinya dan dia bisa mengirimkan rudal ketempat itu.” kata Barack.
“Setelah kita pergi, rudal itu tidak akan lama dikirimkan kesana dan menghancurkan tempat itu.” Barack menambahkan.
“Ya, mungkin kurang dari dua menit. Atau bisa juga satu menit. Pokoknya tidak lama setelah kita pergi dari sana, Anthony.” Barack menjawab.
“Jadi tempat itu sudah meledak dan tidak ada lagi sekarang?”
“Yup.” Barack mengangguk. “Iya Anthony! Aku harus meledakannya. Disana penuh dengan android. Aku ingin menghancurkannya supaya mereka tidak menambah masalah pada kita. Posisi meeka pasti masih dekat dengan tempat itu.”
“Tunggu dulu! Berarti kau membunuh Dante Emilio?” Anthony memucat menatap Barack.
“Ya, karena dia bukan manusia lagi.” jawab Barack dengan jujur.
“Kalian gila! Benar-benar gila.” teriak Anthony. Dia berdiri dan berjalan mondar mandir. "Benar-benar gila! Akkhhhh!"
“Temanku tidak punya pilihan lain Anthony.” ucap Dante.
“Tapi Dante!”
“Tenangkanlah dirimu Anthony! Kita sudah tidak punya pilihan lagi. Sudah kukatakan padamu bukan? Dia bukan manusia lagi dan kita tetap harus melakukan ini untuk kebaikan semua orang.” kata Dante.
“Dante! Kau dengan mudahnya bisa membunuh orang?” Anthony tidak bisa menerima itu.
__ADS_1
“Sekarang aku memberi pilihan padamu. Wanita yang kau sukai Anna, ada bersama android dan Jeff! Apa yang akan kau lakukan Anthony? Pilihannya hanya da dua, membunuh android itu atau kau membiarkannya menjadi android?”
“Itu bukan pilihan yang mudah Dante.” ucap Anthony tak ingin memberikan jawaban atas pilihan itu.
“Jawab! Kau harus memilih!” ucap Dante tegas memarahi adikknya itu.
Sebenarnya Anthony enggan untuk menjawab. “Pilihan pertama!” jawabnya setelah berpikir.
“Itulah yang dipilih oleh Barack! Untuk kebaikan kita semua. Dan sekarang kita harus fokus mencari keberadaan Jeff! Dia tidak mau bertemu dengan kita. Dan dia memegang kendali android-android itu.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Anthony bertanya lagi.
“Menyerangnya.” ucap Barack yang sudah berdiri.
“Bagaimana dengan yang tadi dikatakan Bella? Tentang remote itu?” tanya Manuel.
“Remote?” Barack menatap Manuel. “Maksudmu apa?”
“Aku pikir Jeff hanya mengatur androidnya menggunakan pikirannya. Tapi ternyata tidak! Dia membuatnya lebih aman dengan menggunakan remote untuk mengendalikan semua.”
“Kau yakin?” tanya Barack.
“Iya.” Manuel mengangguk.
“Buang-buang waktu saja kalau kalian mencari remote itu. Katakan dimana komputernya?” tukas Barack lagi. Dia masih memikirkan solusi lainnya.
“Maksudmu komputer utamanya, Barack?” Manuel yang kini bertanya.
“Iya, kompter utamanya ada dimana?” tanya Barack menatap Manuel.
“Aku yakin ada di Amerika Selatan.” jawab Manuel penuh keyakinan.
“Maksudmu di Meksiko?” Dante bertanya dan berpikir tentang sesuatu.
“Iya, pasti dia menaruh komputer utamanya disana.” Manuel mengangguk.
“Apa kau tahu lokasinya?” Barack semakin tertarik untuk bertanya.
“Tentu saja aku tahu tempatnya. Kau mau pergi kesana?” ujar Manuel.
“Aku butuh komputer utamanya bukan remotenya.” ucap Barack serius menatap Manuel.
“Jadi kau butuh komputer induknya Barack?” tanya Manuel lagi untuk memastikan. "Hanya butuh itu saja untuk menghancurkan semuanya?"
“Ya, tidak peduli dengan remotenya selama komputer hidup maka mereka bisa mengaturnya. Kalau kita bisa menemukan komputernya, kita bisa membajaknya. Kita bisa mematikan android itu sendiri dengan memasukkan virus dikomputer utamanya.” ujar barack membeberkan rencananya.
__ADS_1
“Apa kau yakin bisa mematikan komputernya, Barack?” Anthony kini yang bertanya.