
“Wilayah itu sangat luas dan saya rasa kemungkinan orang untuk terjebak didalamnya sangat besar.” ujar penjaga itu lagi. Dante tentu percaya dengan semua yang dijelaskan penjaga itu karena memang sangat sulit melewati hutan pinus penuh dengan serigala, kecuali mereka sudah hapal medannya. Apalagi dengan kondisi Bella yang terluka parah sangat tidak mungkin mereka lolos dengan mudah.
Ucapan penjaga itu sungguh membuat Dante merinding. “Kau tidak sedang bercanda denganku kan?”
‘Yang dikatakannya benar! Aku sengaja membuat mansion ini sempurna sebagai tempat persembunyian dan markas besarku. Belinda terluka parah dan dia tidak akan mudah melewati tempat itu. Jalanan disana sangat curam dan banyak jurang, tanahnya juga licin dan berbatu. Tak mudah untuk melangkah cepat dan berlari, belum lagi banyaknya serigala liar yang kelaparan disana. Aroma darah ditubuh Belinda pasti menarik perhatian seluruh Apennine yang ada disana! Belinda bagaimana nasibmu? Kenapa kau begitu depresi dan harus mengikuti laki-laki itu?’ justru Dante berdecak dan wajahnya semakin khawatir.
“Aku sendiri yang akan memimpin pencarian kesana!” akhirnya Dante memutuskan seperti itu.
“Baik Tuan!” penjaga itu setuju dan mengangguk patuh.
Namun saat Dante hendak beranjak pergi. “Daddy!” panggilan Alex membuat Dante menoleh.
‘Alex! Kenapa kau keluar dari kamarmu? Apa yang harus kukatakan pada anakku?’ Dante merasa bersalah didalam hatinya, sambil menatap anaknya tak kuasa dia menajwab kalimat panggilan anaknya. Hatinya terasa sangat sakit ketika melihat Alex.
‘Bibirmu dan caramu menatapku sama seperti dia!’ Dante mulai memperhatikan wajah putranya.
“Daddy!’ Alex kembali memanggil dan dia turun mendekati Dante. “Mana Bella? Aku sudah menunggu lama tapi Bella tidak datang-datang! Aku rindu Bella!”
“Sabar ya Alex! Daddy sedang mencarinya, dia tidak ada disini! Seseorang mengambil Bella pergi!” akhirnya Dante mengatakan yang sejujurnya pada anaknya karena dia tak sanggup lagi berbohong.
“Apa daddy? Ada yang ambil Bella-ku? Bella diculik?” wajah cemas dan ketakutan menghiasi wajah bocah laki-laki itu.
“Hem. Maafkan aku Alex.” Dante menganggukkan kepalanya dengan wajah murung.
“Tidak boleh daddy! Bella tidak boleh diculik! Aku sangat menyayangi Bella…..Carilah bella untukku daddy! Huuaaa…..huaaaa…..huaaaa…..aku mau Bella-ku.” tangis Alex pun akhirnya pecah.
“Jangan menangis Alex! Daddy akan mencarinya untukmu tapi kau harus berjanji jangan menangis ya. Berikan daddy waktu ya sayang.” Dante berusaha membujuk anaknya yang menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
‘Dia benar-benar menyayangimu Bella! Anakmu sangat membutuhkanmu disini, kenapa kau justru pergi bersama Anthony? Kenapa kau tidak mau menungguku lebih lama? Apa kau sangat takut padaku? Apa kau sangat membenciku karena perlakuanku tadi malam? Apa aku benar-benar melukaimu hingga kau memilih untuk pergi meninggalkanku dan anakmu?’ Dante tak tega melihat airmata anaknya sehingga hatinya merasa sangat sakit. Semua tindakannya pada Bella dalam ruangan tadi malam kini terbayang kembali membuat Dante merasa nyeri dan rasa bersalahnya pun semakin besar.
Bahkan sekarang Dante memeluk Alex yang menangis histeris dengan setitik airmata yang mengalir disudut mata Dante, namun segera dihapusnya sebelum anaknya tahu.
“Daddy! Bawa Bella-ku kembali! Aku sayang dia! Aku hanya mau Bella-ku kembali sama aku!” Alex kembali memohon dengan wajah memelas yang dipenuhi airmata. Dante memeluknya erat.
“Aku akan membawanya untukmu Alex! Seberapa sulitnya pun caranya untuk membawa Bella kembali aku pastikan aku akan membawanya kembali padamu! Sabarlah Alex!” bujuk Dante.
“Aku sayang sama Bella, daddy!”
‘Anak ini sangat mencintaimu bella! Apa kau tidak bisa mempertimbangkannya sebelum kau mengikuti ajakan Anthony untuk pergi dari sini? Apa kau tidak berpikir bahwa aku bisa menyembuhkan semua luka-lukamu itu? Apa kau sangat tergoda dengan Anthony sehingga kau menurutinya?’ Dante tak tahu harus menjawab apa pada dirinya sendiri, saat ini Dante hanya memeluk Alex semakin erar.
‘Apa pantas aku menyalahkanmu bella? Mungkin kalau aku ada diposisimu pun aku akan pergi karena aku ingin hidup. Kau tidak tahu kalau anak ini adalah anakmu! Kau tidak tahu bahwa aku adalah orang yang selama ini kau cari. Pantas kau pergi meninggalkanku!’ Dante mencoba mencari jalan keluar dari pikirannya tapi yang ada justru pikirannya entah kemana-mana dan menyalahkan dirinya.
“Alex, bagaimana kalau kita bermain piano dulu sebentar?” Dante sudah buntu pikirannya tak tahu lagi harus melakukan apa sehingga mengucapkan kalimat itu.
‘Kau menolak bermain piano? Ini kedua kalinya kau menolak bermain piano dihadapanku karena kau hanya mau Belinda! Apa sebegitu besar cintamu pada Belinda sehingga kau melupakan pianomu?’
“Tapi mungkin Bella akan mendengar suara piano-mu Alex! Saat dia emndengar suara piano-mu, maka dia akan ingat kembali padamu.”
“Benarkah bisa begitu daddy?” tanya Alex.
Dante mengangguk dan tersenyum. “Saat ini aku akan mencari penculik Bella. Dan selama daddy pergi kau harus terus bermain piano lebih rajin lagi ya sayang. Karena kalau Bella mendengar permainan piano-mu dia bisa tahu dimana keberadaanmu dan dia akan datang ketempatmu berada. Jadi Bella akan datang kembali kesini, karena Bella tidak membawa handphone.” ujar Dante menjelaskan.
“Betulkah daddy?”
Dante kembali menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
‘Maafkan aku Alex! Aku harus berbohong padamu karena sejujurnya aku juga tak ingin berbohong tapi kau sangat sulit sekali diarahkan kalau sudah berhubungan tentang Bella.’ hati Dante berdecak.
“Mau menunjukkan permainan piano-mu kemarin padaku sayang?” tanya Dante.
“Mau daddy!” Alex jadi sangat antusias karena dia ingin Bella mendengar suara pianonya dan pulang.
“Baiklah. Ayo kita bermain piano.”
Dante menoleh pada penjaga. “Kau pimpin pencarian. Aku akan menemani Alex dulu sebentar!” Dante mengalah pada keinginannya sendiri karena rasa bersalahnya pada Alex sehingga saat ini dia ingin sekali menemani Alex dan membujuknya.
‘Duh, aku yang menyuruh Anthony untuk membawa Bella pergi. Haruskah aku merasa bersalah? Tapi tidaklah! Tuan Dante masih saja mendewikan wanita jahat itu! Kehadiran Bella disini hanya akan membuat wanita jahat itu semakin sakit jiwa!’ bisik hati Henry yang berdiri disebelah kepala penjaga.
Tapi Henry pun merasa khawatir kepada Bella, kelakuan Tatiana membuat Henry merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan Bella. Karena Henry takut jika Tatiana akan membunuh Bella sebagaimana dia membunuh Cassandra dulu.
“Iya daddy! Ayo cepat, biar Bella dengar dan datang padaku cepat-cepat. Aku rindu Bella!”
Harapan yang terlontar dari bibir Alex sebelum dia mengangguk dan mereka bersama-sama menuju ruang piano dengan bersemangat.
‘Ssshhhh! Aku harus masuk lagi keruangan ini! Dan kemarin masih terbayang jelas apa yang terjadi disini! Ternyata dia memang menjebak Bella, dia menggoda Bella! Lorenzo, aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup setelah ini. Aku akan mencarimu secepatnya setelah Bella ketemu dan tidak akan ada lagi tempat untukmu di dunia ini!’ Dante mengeram kesal didalam hatinya tapi masih menunjukkan senyum pada anaknya.
“Daddy, ayo kita main sama-sama ya.”
Dante menatap anaknya dan memberikan anggukan persetujuan. “Tentu saja Alex! Kita akan bermain bersama-sama.”
“Asikkkk!” ucap Alex masih menyunggingkan senyum.
__ADS_1