PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 164. HUKUMAN BELLA


__ADS_3

“Tuan Henry! Anda sudah pergi? Aku mendengar suara langkahmu. Tunggulah aku! Aku takut sekali didalam sini. Aku bisa gila didalam sini sendirian. Aku mohon!” bella terus saja memohon tapi hanya keheningan yang didengarnya.


‘Oh tidak! Dia tidak mau kembali? Bagaimana denganku? Apa yang harus kulakukan? Bella kembali mengedor pintu sambil memanggil kepala pelayan itu namun tidak ada suara apapun diluar.


Bella mulai menitikkan airmata dan menggedor pintu tak menurut dengan apa yang dikatakan oleh Henry. “Aku haa…...aku lebih baik mati daripada begini! Disini gelap sekali, aku mohon buka pintunya.” Bella terus meratap dan saat ini posisinya tidak lagi berdiri, dia masih saja menggedor pintu dan matanya terus melihat kearah pintu dan satu tangannya memegang pintu.


“Aku tidak menggodanya! Aku dijebak! Bukan keinginanku melakukan ini.”airmata Bella bercucuran. “Aku mohon buka pintunya. Aku takut gelap!” ucapnya dengan wajah pucat dan suara Bella juga sudah hampir hilang, dia terus menggedor pintu tapi tidak ada siapapun yang membukakan pintu hingga akhirnya tubuh Bella pun menjadi lemas.


Entah sudah berapa jam dia didalam sana, Bella tidak tahu tapi baginya waktu terasa berjalan sangat lambat. “Jika boleh aku meminta maaf aku lebih baik memilih mati daripada harus berada disini.” Bella berujar lagi dengan suara seraknya tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya terasa lemas sehingga saat ini Bella hanya menyandarkan kepalanya di dinding sambil tangannya memegang handle pintu. Hingga samar-samar dia mendengar suara.


“Apa ada orang datang? Apa aku tidak bermimpi?”


Suara pintu yang dibuka agak berat membuat Bella mendongakkan kepalanya. “Tuan Dante! Aku tidak bersalah! Aku dijebak!” kalimat itu langsung meluncur dari bibir Bella dengan wajah polosnya tapi lelaki itu hanya diam saja ditempatnya.


“Aku tidak bersalah!”


Bug


“Ahhhh…...” teriak Bella kesakitan.


“Ha? Bibirku berdarah!” ujar Bella meringis kesakitan. ‘Apa yang dia lakukan? Dia baru saja menendang wajahkud engan sepatunya? Ini menyakitkan sekali.” Airmatanya terus berderai membasahi wajahnya.


Tiba-tiba ruangan itu terang ketika Dante menyalakan pemantik api pada sebuah obor.


“Ah!” suara lengkingan pelan Bella terdengar.


Dia bergidik ngeri setelah melihat ruangan itu.’Ternyata begini isi ruangan ini? Ya Tuhan mengerikan sekali. Tadi aku tidak melihatnya karena gelap tapi sekarang terang, aku jadi takut melihat isinya. Gelap lebih baik daripada terang. Apakah ini ruang penyiksaan?’ tanya Bella dalam hati. Matanya memindai tempat mengerikan itu, ada pisau, gergaji, belati, samurai, rantai besi, pecut dan berbagai macam alat penjagalan lengkap diruangan itu.

__ADS_1


“Awww! Sakit sekali rambutku Tuan Dante, sakit!” Bella memegangi kepalanya karena dari belakang Dante menjambak rambutnya dengan kuat. BRUKKKK


“Awwww…..” jeritnya menahan sakit. ‘Ada apa dengan orang ini? Kenapa dia melakukan semua ini padaku? Oh Tuhan apa dia benar-benar marah padaku?’ Bella tak tahu harus melakukan apa karena Dante menjambaknya dan ketika Bella mengatakan sakit, dante melepaskannya dengan kuat sehingga wajah Bella membentur lantai.


“Tuan Dante! Dengarkan dulu kata-kataku. Aku tidak menggodanya, dia yang menyentuhku. Aku sudah menolaknya tapi dia mengunci tubuhku hingga tak bisa bergerak untuk melawan.” Bella kembali mencoba bicara sambil berusaha berdiri dan dia menangis ketakutan. “Darah? Keningku berdarah? Bibirku pun berdarah? Ahhh…...aku takut darah!” Bella berbisik dan pikirannya menerawang dimasa-masa yang menyebabkan dia takut dengan darah.


“Aku takut sekali. Darah sama seperti darah yang saat itu keluar ketika aku melahirkan bayiku. Aku tidak suka, aku tidak mau itu.” Bella terus-terusan mengumamkan kata-kata itu didalam pikirannya.


Kreeeekkkkkk!


“Ah….Tuan Dante kenapa kau merobek bajuku?” Bella bertanya pada orang dibelakangnya yang baru saja merobek baju Bella dari belakang dengan posisi Bella duduk dilantai.


Tapi Dante terus saja merobek pakaian Bella tanpa peduli pada teriakan wanita itu. “Tuan Dante tolong hentikan! Aku mohon jangan lakukan ini padaku!” teriak Bella tanpa direspon Dante. Pria itu tetap merobek pakaian Bella hingga wanita itu menjadi polos.


“Tuan Dante! Aku tidak melakukan itu. Aku tidak menggodanya, dia yang menggodaku!” Bella mencoba menjelaskan sambil menatap pria itu yang tak meresponnya.


Bella menggelengkan kepalanya dengan bulu kuduk yang berdiri karena ngeri dengan ucapan pria itu. “Aku tidak menggodanya! Aku benar-benar tidak menggodanya Tuan Dante! Maafkan aku.”


“Aaaaakkk…...sakit Tuan! Ampun!”


“Berdiri kau!”


“Ah! Apa yang kau lakukan padaku Tuan Dante? Kenapa kau mengikat tanganku?” ujar Bella ketika tangannya dirantai dibagian kanan dan kiri sehingga dia berada ditengah dengan kondisi kedua tangan terikat rantai besi.


“Kau tidak tahu kenapa? Seharusnya kau pikirkan sendiri.” Dante memicingkan matanya menatap Bella, tak ada senyum diwajahnya.


Di dalam hati Dante berdecak kesal, bayangan yang dilihatnya diruang piano membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Cara Bella menggodanya dan apa yang dilihatnya diruang piano tadi seakan seperti benang lurus yang membuat api didalam hati Dante semakin menggelora dan penuh amarah.

__ADS_1


“Kau ingin memukulku? Kau ingin menyisaku?” ujar Bella, ada rasa takut terpancar dari matanya.


‘Dia tidak menjawabku lagi. Dia mau pergi kemana? Apa yang diambilnya itu? Aduh aku takut.’ bisik hati Bella melihat benda yang diambil oleh Dante. Dia pun bergidik ngeri melihatnya.


“Tuan Dante! Aku sudah berulang kali mengatakan kalau aku tidak bersalah. Aku mohon Tuan Dante! Aku tidak menggodanya. Aku takut sekali, jangan siksa aku Tuan lebih baik kau bunuh saja aku kalau kau tidak menyukaiku. Kalau kau membenciku bunuh saja aku! Tapi jangan siksa aku!”


Plaaakkkk!


“Aaaahhhhh…..” Bella menjerit kesakitan. ‘Panas sekali rasanya, dia mencambukku dengan alat itu? Ini lebih sakit dibandingkan dengan dicambuk pakai ikat pinggang. Kenapa dia tidak mau mendengarkanku? Apa dia sangat membenciku?” Bella merinding dan kembali menangis.


“Percuma kau menangis! Karena kali ini aku tidak akan tertipu olehmu lagi!”


Plaaakkkkk


“Arggggg…...” satu pecutan lagi dipunggung Bella membuatnya semakin merintih dan airmata pun semakin mengalir membasahi wajahnya. ‘Aku ini perempuan, apa dia tidak merasa kasihan padaku? Ah dia itu kan mafia, mana mungkin dia punya belas kasihan. Harusnya aku sadar untuk tidak menyinggungnya dan lebih baik aku mengikuti semua aturan dirumahnya tapi tadi itu bukan aku yang menggoda Lorenzo. Semua ini jebakan!’ kini Bella menyesal dan hanya bisa pasrah.


“Kau pantas menerimanya!” Dante berteriak didepan wajah Bella.


Plaaakkk plaaaakkkk plaaaakkkk


Bukan hanya sekali dante mencambuk Bella, dia melakukan itu entah sudah berapa kali. Dia tidak berhenti terus saja memecut punggung Bella.


“Apa sekarang dengan tubuh bersimbah darah begini kau masih memikirkan bahwa tubuhmu indah? Kau masih berniat menggoda pria lain?’ Tidak ada sedikitpun rasa kasihan diwajah dante.


Ketika dia menyiksa wanita lemah itu, Bella sudah banyak terluka dipunggungnya bekas cambuk yang berdarah seperti melepuh. Kulitnya merah dan darah itu mengalir dari luka yang terbuka begitupun di kaki belakangnya, Dante benar-benar tidak berbelas kasihan pada Bella.


Tangannya digantung dengan ikatan rantai sehingga Bella tidak bisa duduk. Kakinya sudah sangat lemas tapi jangankan untuk merubah posisi sedikit, untuk melemaskan kaki pun urat ditangannya seakan ingin putus sehingga Bella harus terus berdiri walaupun dia sudah tak tahan.

__ADS_1


 


__ADS_2