
‘Sekarang sudah tidak ada suara tembakan dan telingaku lebih damai walaupun udara disini masih menusuk. Apa semua peperangan itu sudah selesai? Jadi aku bisa membuka mata.” Bella menyakinkan dirinya untuk segera membuka mata. “Ok aku buka hitungan ke tiga. Satu dua tiga.” Bella pun membuka matanya perlahan-lahan.
“Ha? Sejak kapan ada kaca pembatas ini didepanku? Anthony, apakah dia masih hidup?” itulah kalimat pertama yang dilontarkan Bella seraya menatap kearah menara lagi dengan mata memicing.
“Seharusnya kau berterimakasih dulu padaku sebelum memanggil namanya!” protes Dante tak menyukai ucapan Bella meskipun dia masih bersikap sabar menghadapi wanita itu.
“Kau ada dimana sih? Bagaimana kaca ini ada disini? Sepertinya tadi kaca ini tidak ada disini. Siapa yang memasangnya, apakah kau yang melakukannya?” tanya Bella bingung.
“Aku sudah menyuruhmu berterimakasih padaku.” ucap suara yang mash terdengar dari speaker dibelakangnya. Bella mengerucutkan bibirnya karena marah.
“Hem….terimakasih, tapi kau kelewatan juga kenapa kau tidak memasang kaca pembatas ini dari tadi? Aku hampir mati kena serangan jantung karena peluru-peluru itu.” protes Bella yang mengomentari kacai perisai. “Kau tahu betapa mengerikannya permainan ini? Ini tidak pantas disebut permainan karena kau mempertaruhkan nyawa orang lain! Kau mempermainkan nyawa orang.”
“Aku tidak punya waktu bicara denganmu sekarang!” ujar Dante dengan nada marah.
“He? Lalu aku harus bicara dengan siapa? Apa kau akan meninggalkan aku sendirian?”
“Kau diam saja dulu disana, nanti aku akan datang kesana menemuimu. Sekarang aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu.” ujar Dante lagi lalu bergegas melangkah pergi tanpa mempedulikan lagi wanita itu. Dia berjalan menuju kearah menara pengintai.
“Pekerjaan?” Bella bertanya tapi Dante sudah tidak ada disana.
“Apa dia gila? Jalan masuk itu kan, dia baru saja datang. Benar-benar seperti polisi india!” ujar Bella masih dengan suara tinggi dan masih didengar oleh Dante.
“Tuan Dante!” Bella berteriak memanggilnya. “Tuan Dante, kau mau kemana?”
“Diam! Aku masih banyak urusan, kau diam dulu.” Dante pun mematikan walki talkie-nya.
“Dante! Apa ini sudah selesai?” Nick bertanya sambil menatap temannya yang sudah tidak sibuk lagi bicara dengan walkie talki-nya berisik
“Menurutmu ini sudah selesai belum?” tanya Dante sambil menatap Nick. Wajahnya terlihat dingin.
__ADS_1
“Entahlah, mana kutahu. Apa kau ada masalah dengannya?” Nick mengangkat bahunya lalu melirik Anthony sambil mengeryitkan kening. Nick benar-benar tidak paham dengan sikap Dante.
“Bagaimana kau bisa berpikir menyerang menara pengintai?” Dante bertanya pada Anthony tanpa mengomentari pertanyaan temannya. Tatapan matanya masih tetap sama, dingin dan tegas.
“Aku sudah mencoba untuk bersembunyi hingga aku bisa sampai ke kaki bukit. Tapi sayangnya disana tidak ada tempat untukku bersembunyi atau setidaknya menghindari serangan bullet. Untuk naik keatas sana aku tidak mungkin bisa, aku sudah memikirkannya dan aku sudah apsti mati tertembak jika aku memaksakan diri. Satu-satunya cara adalah aku berlindung dan kembali ke menara pengintai. Aku naik keatas dan menghancurkannya.” kini tatapan Anthony menatap tajam pada Dante.
“Kau hampir membunuhku!” ucap Nick sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
“Kau juga hampir membunuhku, Tuan.” Anthony menatap Nick dengan tersenyum.
“Dante! Apa kau memang sudah merencanakan untuk membunuhnya?” Nick berbalik bertanya pada Dante sambil menunjukkan kekesalan pada sahabat baiknya itu.
“Bagaimana menurutmu Nick? Apa dia memiliki bakat menembak?”
“Lihat ini!” Nick menunjukkan lengan bajunya, “Kalau aku tidak menghindar peluru itu sudah menembus kulitku, untungnya aku terbiasa dan instingku tepat. Peluru itu hanya menggores lenganku saja!” ujar Nick menunjukkan bekas goresan peluru yang hanya melintas disamping lengannya, ada wajah bangga yang bisa terlihat oleh Dante karena Nick merasa berhasil menyelamatkan diri sendiri.
“Anda berlebihan Tuan.” Anthony masih berusaha merendah.
“Apa? Kau ingin dia bekerja untuk kita?” Nick bertanya ulang. “Apa kau serius tentang ini?”
“Dia memang sudah bekerja padaku, kalau tidak mana mungkin dia berada disini sekarang.”
“Heehhhh….bukan itu maksudku Dante. A….” ujar Nick.
“Menurutmu?” tanya Dante melirik Nick. Dante tak ingin menunggu Nick menyelesaikan kalimatnya, dia langsung memotongnya lebih dulu dan sejenak Nick tidak bisa bicara. Dia masih memikirkan pertanyaan Dante. Nick pun punya insting kalau pelayan itu mungkin seorang mata-mata.
“Kau bisa kembali ke tempat tinggalmu! Besok pagi jam delapan temui aku setelah sarapan pagi.” ucap Dante sambil melirik Anthony. Didalam benaknya dia sudah memikirkan hal lain apa yang akan dia lakukan pada pelayannya itu.
“Jadi semuanya sudah selesai? Kau sudah selesai mengetesku?” Anthony mengerjapkan matanya masih belum percaya. Tatapan wajahnya juga serius memandang wajah Dante.
__ADS_1
“Hem…..pergilah!” Dante merespon datar. Tak ada yang menyadari seringai aneh muncul diwajahnya.
“Baiklah Tuan. Kalau begitu aku permisi dulu, besok aku akan menemui Tuan jam delapan pagi.”
Anthony langsung membalikkan badan untuk turun tanpa menunggu respon dari Dante.
“Kau tidak perlu menjemput Bella, kau bisa langsung pergi ke tempat tinggalmu! Atau kau bisa pergi kerumah sakit, kalau kau terluka.” ujar Dante.
“Baik. Terimakasih Tuan.” Anthony melihat luka dilututnya dan dilengannya lalu dia tersenyum simpul dan pergi meninggalkan dua orang yang masih berada dimenara itu.
‘Dia tidak membunuhku. Apa benar dia hanya mengetesku saja? Tuan Dante sepertinya perhatian sekali padaku, aku harus mulai hati-hati dari sekarang.’ Anthony masih belum percaya kalau Dante melepaskannya. Tapi saat ini dia sudah keluar dari arena dan melepaskan rompi anti pelurunya dan bergegas menuju ke asrama pelayan.
“Anthony! Aku rasa sebaiknya kau mengobati luka-lukamu!” teriak Henry.
“Terimakasih Tuan Henry!” Anthony tersenyum menatap kepala pelayan itu dan berhenti didepan gerbang tempat tinggal untuk para pelayan. “Apa ada yang ingin kau katakan padaku Tuan Henry?”
“Aku menyuruhmu untuk pergi ke rumah sakit.” jawab Henry dengan memperhatikan luka Anthony.
“AH! Jangan khawatir dengan luka-lukaku. Aku akan segera mengobatinya, Tuan.”
“Apa kau mau aku mengantarmu kerumah sakit?” tanya Henry dengan tatapan masih fokus pada luka-luka ditubuh Anthony. Ada luka dilengan dan kakinya yang terkena tembakan.
“Tidak perlu! Aku bisa mengurusnya sendiri setelah ini, aku akan menggunakan sepeda motor pergi kesana. Tidak perlu mengahwatirkanku.” ujar Anthony lagi.
“Baiklah kalau itu maumu. Pastikan lukamu tidak terkena infeksi dan terluka lebih parah lagi.” ucap Henry menatap Anthony tajam.
“Aku mengerti” Anthony tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk kedalam asrama menuju ke kamarnya. “Fuuhhhh…..apa sebenarnya yang diharapkan Dante dariku? Kenapa dia ingin menjadikanku pasukannya?” Anthony mulai berpikir.
“Apakah aku harus mengkonsultasikan tentang ini pada atasanku? Aku tidak bisa gegabah dalam bertindak selama aku masih disini.” Anthony mengambil sesuatu di lemarinya, mengeluarkannya dan menyalakan lilin agar apinya bisa digunakan sebagai alat untuk sterilisasi.
__ADS_1