PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 444. PESAN SEBELUM PERANG


__ADS_3

“Hari ini semuanya akan terbalaskan!” ujar Dante memasuki lift dan dia terlihat lebih tenang daripada sebelumnya. Dia tersenyum kecil sambil mengingat, “Daddy! Mereka merebutmu dan mommy dariku. Masa kecilku harus berpisah dengan kalian dan bahkan aku harus hidup berdampingan dengan keluarga temanmu. Aku tidak menyalahkanmu! Temanmu juga sangat baik padaku tapi aku menyalahkan mereka yang telah merenggut kalian berdua!”


 


“Daddy! Mommy! Jika kalian melihatku dari surga sekarang, kuatkanlah langkahku.” ucap hati Dante sambil memejamkan matanya mengingat bagaimana kebaikan orang tuanya dulu.


Mengingat masa-masa bersama orang tuanya. Ada senyum kecut disana dan setitik airmata tergulir ketika ingatannya membawa Dante pada masa dia harus mendatangi pemakaman orang tuanya.


 


Rasa sakit yang menyeruak yang sudah terpendam selama bertahun-tahun itu pun kembali lagi dan kini bayangan wajah Robert Kane pun muncul dibenaknya. ‘Kau sudah mengambil adikku! Aku yakin sekali kau memang sengaja melakukan itu untuk memanfaatkan adikku! Kau akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang sudah kau lakukan pada keluarga!’ ucap hati Dante saat lift didepannya sudah terbuka kembali dan dia sudah berada di rumahnya.


 


“Selamat malam Tuan.”


“Aku masih punya waktu sepuluh menit lagi.” ucap Dante sambil melirik Henry.


“Saya sudah menyiapkan mobil anda, Tuan.” ujar Henry.


Dante mengangguk dengan teman-temannya yang kini berjalan menghampirinya. Begitupun dengan Noel yang berada di belakang mengikuti.


 


“Hans! Kau tahu dimana seharusnya posisimu kan?” tanya Dante.


“Ya, aku berada dirumah ini untuk menjaga istri dan anakmu.” jawab Hans.


“Benar! Dan kau Nick. Kau sudah tahu dimana posisimu sekarang kan? Kuharap kau sudah mempersiapkan diri untuk pertarungan malam ini.” Dante menatap Nick.


 


Pria yang ditanya itupun langsung menggelengkan kepalanya, “Belum. Kau belum memberitahuku apa yang harus aku lakukan selanjutnya, Dante.” ucap Nick memberi tahu Dante dan pria itupun langsung menyadari kalau dia memang belum memberitahu Nick tentang perubahan yang tiba-tiba dibuatnya.


Lalu Dante mengalihkan pandangannya pada Noel, “kau sudah tahu kan apa yang harus kau lakukan sekarang? Apa kau sudah siap melaksanakan tugasmu malam ini?”


“Kita akan menuju penjara kan Tuan? Aku sudah bersiap-siap dan sudah cukup melatih diriku untuk malam ini. Aku tidak akan mengecewakan anda, Tuan.” ujar Noel dengan mantap.


 


“Panggil aku Dante saja. Apa kau sudah lupa apa yang kukatakan padamu sebelumnya?”


“Ah, maafkan aku Dante. Kita akan menuju ke penjara.”


“Bagus! Begitu lebih baik untuk didengar. Kau juga bisa memanggil teman-temanku dengan cara yang sama. Kita semua disini adalah teman dan tim.” Dante lalu mengalihkan perhatiannya pada Hans.

__ADS_1


 


“Hans! Aku titipkan putraku, Sarah dan Omero padamu.” ucap Dante yang langsung dijawab Hans dengan anggukan kepala tanpa mengatakan sepatah katapun.


“Selain Nick, yang lainnya bisa kembali melakukan apa yang sudah aku perintahkan.”


“Apa kau mengusirku untuk pergi keatas dan berjaga didepan kamar Alex?”


 


“Ya.” jawab Dante mengangguk.


“Baiklah kalau begitu. Aku pergi.” Hans tahu kalau Dante tidak ingin membuat pikirannya terbebani dengan hal lainnya sehingga dia melakukan apa yang diperintahkan Dante lalu Dante kembali melirik Noel dengan serius.


“Lalu saya harus pergi kemana Tuan? Eh, maksudku Dante?”


 


“Henry! Antarkan dia ke mobilnya. Kau yang akan menyetir hari ini Noel!”


Noel pun mengangguk paham dengan menoleh pada Henry yang menundukkan sedikit kepalanya dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Dante.


“Nick!” Dante menatap pria itu lekat-lekat.


 


“Istriku ada dibawah. Dia tidak memakai pakaian. Kau tidak boleh masuk kedalam kamar itu. Ingat itu ya.” ujar Dante penuh penekanan.


“Maksudmu apa? Jadi kau menyuruhku berjaga di bunker?” Nick mencoba memikirkan sebelumnya dan akhirnya dia paham apa yang Dante ingin dia lakukan.


 


“Bukan. Masuk ke ruangan!” perintah Dante lagi.


“Ruangan mana lagi?”


“Ruang pengendali.” jawab Dante seraya mrogoh sakunya.


“Tunggu! Bukankah ruangan itu hanya bisa dibuka olehmu dan Alex saja?” tanya Nick.


“Ya. Tapi kau bisa pegang ini. Jangan sampai kau menghilangkannya!” Dante memberikan kunci.


 


“Aku bisa masuk ke ruang pengendali dengan ini?”

__ADS_1


“Bisa! Tapi kau harus meminta Henry untuk mengantarmu kesana karena kunci satunya lagi ada pada Henry. Harus menggunakan dua kunci sekaligus untuk membuka pintunya.” kata Dante menjelaskan.


“Pintu emas?” Nick bertanya lagi setelah menerima kunci ditangannya.


 


“Ya! Kalau pintu emas dibuka dan kau menggunakan kunci ini maka secara otomatis tembok akan terbuka! Kau bisa masuk kedalamnya. Tapi kau tidak bisa keluar lagi karena dari dalam kau harus memasukkan sidik jariku atau sidik jari Alex!”


“Kau ini menyusahkan aku saja. Apa kau ingin membunuhku didalam sana?” gerutu Nick.


 


“Henry akan keluar! Jika sesuatu yang buruk terjadi maka Alex harus dibawa masuk ke ruangan itu. Dia bisa membukanya untukmu! Lagipula, didalam ruangan itu ada alat komunikasi lengkap. Alat itu terhubung langsung dengan satelit, kau bisa minta tolong pada siapapun yang nanti sudah kembali untuk membukanya!”


 


“Baiklah kalau begitu! Tapi tetap saja mereka butuh kunci emas untuk membukanya kan?” Nick mengangguk sambil mencibir. Dia merasa tugas yang kelihatan sepele itu akan berat sekali.


“Jangan lupa berikan kuncinya pada Henry. Supaya kalau ada kemungkinan terburuk maka Henry punya kedua kunci itu diluar dan dia bisa membuka dan menolongmu untuk keluar dari sana!”


 


“Ya, aku sudah paham. Apa yang harus aku lakukan didalam sana Dante?” tanya Nick yang masih bingung jika dia sudah berada dibunker. Tidak mungkin dia hanya duduk diam didalam sana kan?


“Kau hanya harus menunggu aba-aba dariku! Lakukan saja setiap kata yang aku perintahkan.”


“Lalu? Apalagi? Tidak mungkin hanya sesimpel itu bukan?” tanya Nick kembali.


 


“Tugas intimu sebenarnya ketika aku memberikan aba-aba itu yang artinya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Alex, Hans dan yang lainnya harus segera kau ungsikan. Dan tekan tombol merah! Setelah mereka semua ada didalam bunker!”


 “Dante! Ini bukan aksi bunuh diri kan? Kenapa kedengarannya agak sedikit seram ya?” celetuk nick dan dia memang tidak suka memendam perasaan terlalu lama makanya dia langsung bertanya.


“Apa kau mengharapkanku mati, Nick?”


“Hehehe, aku serius Dante! Aku tidak mau kau melakukan aksi bunuh diri. Aku ingin melihatmu kembali dan berkumpul bersama kami lagi.” jawab Nick dengan serius.


 


“Apa kau pikir aku juga mau mati? Aku baru saja menikah! Aku mempunyai anak yang masih berusia empat tahun dan aku juga masih punya calon bayi yang masih berumur dua bulan dalam kandungan istriku! Bagaimana mungkin aku mau mati?” ujar Dante. Sorot mata Dante yang tajam sudah cukup membuat Nick mengerti dan yakin kalau Dante tidak akan melakukan aksi bunuh diri.


 


“Aku hanya mengkhawatirkanmu saja karena kau memberikan banyak pesan seperti ini.” Nick sedikit meringis sedangkan Dante tersenyum kepadanya.

__ADS_1


“Aku rasa penjelasanku sudah cukup. Aku harus segera pergi Nick!”


 


__ADS_2