
“Sangat mematikan! Mereka tidak pakai rencana bodoh begitu yang bisa menghubungkan mereka dengan pihak berwajib. Pasukan White tidak menggunakan banyak orang.” ujar Omero.
“Begitukah ayah?” Dante mendengarkan dengan serius karena dia memang tidak mengetahui bagaimana White beroperasi.
“Ya!”Omero mengangguk, “Tapi mereka tidak akan pernah bertindak gegabah dalam menyerang!” senyum menghiasi wajah pria paruh baya itu yang masih terlihat lemas.
“Jadi seperti apa mereka menyerang?” Dante masih ingin tahu bagaimana cara White menyerang karena selama ini mereka tidak pernah saling berbenturan dan berselisih.
“Mereka mengetahui kalau kau adalah pembunuhnya!” ucap Omero lalu dia diam.
“Bukan kami pembunuhnya! Nick hanya mengantarnya sampai mobil tapi kami tidak tahu menahu soal mobil itu!” ujar Dante.
“Ya! Kau dan sahabatmu memang bukan pembunuhnya tapi mereka kan tidak tahu tentang hal ini. Mereka akan tetap mencari tahunya. Mereka akan memutuskan apakah benar yang kau katakan ini atau mereka percaya dengan bukti lainnya! Saat itulah mereka baru menyerang.” ucap Omero menatap instens pada Dante.
“Aku tidak menginginkan kalau sampai mereka menyerang karena aku tidak mau memperpanjang masalah, ayah!” ucap Dante yang sebenarnya ingin menanyakan bagaimana solusi untuk masalah itu.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Omero balik pada Dante.
“Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu, ayah!”
“Bantuanku? Apa yang kau inginkan Dante?”
“Aku ingin meminta bantuanmu untuk bicara dengan keluarga White! Tapi itu nanti setelah Barack kembali dan dia juga harus menjelaskan kepadaku dulu kenapa dia membunuh White!”
“Ini yang aku tidak yakin Dante! Barack membunuh White, bagaimana menurutmu?” tanya Omero mengeryitkan dahinya.
Dante ikut mengangguk, “Kau benar ayah! Aku juga tidak yakin tentang hal ini. Tapi mendengar cerita yang disampaikan oleh Nick, Barack yang membunuh semua anak buah White, aku agak curiga, kita lihat saja nanti.”
“Ya, kalau begitu kita tunggulah sampai ingatan Barack pulih.” ucap Omero.
Dante tersenyum kecut, “Aku yakin dia tidak hilang ingatan ayah.”
“Benarkah?”
Dante menganggukkan kepalanya. Tak menunggu lama, Omero pun menceritakan semua kejadian yang menimpanya sebelum dia masuk rumah sakit. Tidak ada satupun yang terlewatkan olehnya termasuk cerita tentang wanita yang sekarang ada didepan ruangan Omero itu.
“Dia istri Jeff? Apa kalian akan menggunakannya untuk mengancam Jeff?” wajar jika Omero berpikir seperti ini karena dia masih belum menemukan alasan lainnya.
__ADS_1
Dante menolak dengan menggelengkan kepalanya, “Aku rasa wanita itu sudah tidak berguna untuk Jeff lagi, ayah. Aku sangat yakin mengenai itu.”
“Bagaimana bisa kau seyakin itu Dante?”
“Hanya keyakinanku saja ayah.” Dante tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan karena dia hanya mengikutkan instingnya saja.
“Tidak Dante. Wanita itu pasti akan berguna untukmu! Ikuti saja semua arahan yang diberikan Barack padamu. Itu akan membantumu dan kau tidak perlu merasa cemas.”
“Benarkah begitu ayah?”
“Ya. Bersabarlah Dante, karena banyak sekali anak buahmu yang mengikutimu. Jangan sampai kau salah mengambil tindakan dan menimbulkan kepedihan di pihakmu! Hati-hati dengan perasaanmu Dante.” Omero mengingatkan Dante karena pria paruh baya itu sangat mengenal sifat Dante.
“Aku paham ayah. Terima kasih atas saranmu.”
“Ingatlah, perang kali ini akan menjadi perang yang besar Dante! Jeff sang penguasa benua Amerika tak sengaja punya masalah pribadi denganmu dan kau saingan terberatnya di benua Eropa. Terpaksa harus dihadapinya. Jadi siapapun yang menang, dia akan menjadi penguasa tunggal sebelum ada penggantinya. Persiapkan semuanya dengan baik, Dante.”
“Aku paham ayah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Terima kasih karena kau sudah mengingatkan aku kembali tentang itu.”
‘Aku hanya khawatir masalah rumah tanggamu akan menjadi penghalang yang akan mempengaruhi pola pikirmu Dante! Semoga saja semua pikiranku ini salah.’ bisik hati Omero.
“Apa masih ada hal lain yang mengganggumu ayah?” tanya Dante saat dia melihat ekspresi Omero.
“Apa yang ingin ayah tanyakan? Katakan saja ayah.” ujar Dante. Karena jarang sekali Omero menanyakan sesuatu padanya. Jadi Dante berpikir mungkin ini adalah sesuatu yang sangat penting.
“Apa kau yakin dengan istrimu yang sekarang?” tanya Omero yang merasa penasaran.
“Ehm...Bella belum resmi menjadi istriku, ayah! Tapi kalau kau bertanya tentang keyakinan aku juga belum bisa memberikan keyakinanku. Hanya saja yang aku tahu saat ini aku ingin gadis menyusahkan itu menjadi istriku.” ucap Dante.
“Sebegitu besarkah dia menyusahkanmu?” tanya Omero.
“Ya ayah. Dia sama seperti Cassandra. Bedanya kalau Cassandra menyiksaku dengan menyuruhku memasak berbagai macam makanan kesukaannya sedangkan Bella menyiksaku sepanjang malam. Dia memaksaku terus sepanjang malam.”
“Hahahaha.” Omero pun tertawa dan dia sudah tidak terlalu tegang sekarang. "Apakah begitu?"
‘Aku senang sekali melihatmu tertawa seperti itu ayah. Cerita bodoh itu semoga bisa membuatmu lebih tenang.’ gumam Dante didalam hatinya yang sengaja melakukan itu karena tak ingin membuat Omero terlalu banyak berpikir dan cemas.
“Syukurlah. Semoga dia yang menyusahkanmu itu tetap ada didalam hatimu dan tidak akan mengecewakanmu seperti anakku yang satu lagi itu Dante.”
__ADS_1
“Ehem….sudahlah ayah. Tidak perlu membahas hal itu lagi.”
“Apa kau sudah mengurus perceraianmu dengan Tatiana?”
“Iya. Sudah ayah.”
“Baguslah kalau begitu.” dia merasa lega sekarang.
“Apa masih ada lagi yang kau khawatirkan ayah?” tanya Dante lagi.
“Bella! Yang aku khawatirkan hanya Bella! Aku tadinya memang tidak ingin membuat Tatiana meninggalkanmu. Tapi memikirkan Bella aku tidak bisa membiarkan dia tetap tinggal bersamaku.”
“Ayah, untuk masalah itu biarkan aku saja yang mengurusnya. Jangan bebani dirimu sendiri.”
“Bagaimana kau mau mengurusnya Dante?”
“Aku akan memikirkan bagaimana caranya nanti untuk Tatiana. Kau tidak perlu khawatir ayah.”
“Tapi aku sudah terlanjur merasa khawatir. Apa kau mengikuti Tatiana?”
Dante diam sejenak lalu dia menoleh pada satu orang anak buahnya yang dari tadi berada didalam ruangan itu dan menunggu Omero.
“Panggilkan Eddie.”
“Baik Tuan.”
Pria itupun keluar dan Dante menatap Omero lagi. “Aku memang menyuruh mereka untuk mengikuti Tatiana, ayah. Kita tunggu sebentar apa yang akan dikatakan oleh Eddie tentang itu.”
Mendengar perkataan Dante akhirnya pria paruh baya itupun mencoba untuk bersabar dan mengangguk mengikuti arahan Dante. Meskipun sejujurnya dia masih sangat khawatir tentang Dante.
“Lalu sekarang apalagi permasalahanmu Dante?”
“Sudah tidak ada ayah. Semuanya sudah dibawah kendaliku.”
“Tapi kenapa wajahmu masih menegang begitu Dante?”
“Aku sedang memikirkan hal lain.” Dante menjawab sejujurnya.
__ADS_1
“Katakan padaku.” ucap Omero.
“Ini masalah orang yang menculik Barack. Orang itu menginginkan Bella! Dan aku sudah mempunyai rencana untuk menjebaknya besaok disaat kami melakukan transaksi penjualan senjata dan saat itu juga aku akan menghadapi pasukan federal yang sangat membenciku.”