
“Kau mau apa lagi Bella?” tanyanya saat dia melihat wanita disampingnya terus saja memandangnya.
“Mau disayang.” jawab Bella dengan suara lembut dan manjanya.
“Fuhhh! Kemarilah.” Dante membuka tangannya membiarkan Bella seperti kelinci manja masuk kedalam pelukannya. “Tidurlah. Sudah malam.”
Tak sulit bagi Bella untuk memejamkan matanya karena dia sangat lelah begitu pun Dante yang ikut terpejam tak berapa lama setelah Bella benar-benar pulas.
Keduanya kelelahan membuat tidur mereka lelap dan tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat dan tidak disadari oleh keduanya. Apalagi didalam bunker mereka tidak melihat sinar matahari.
‘Jari-jari siapa yang bergerak-gerak diatas tubuhku? Tidak tahu apa kalau aku sedang tidur pulas? Apa maunya menggodaku?’ gumamnya dalam hati ketika merasakan jari-jari kecil nan lembut itu bermain-main diantara roti sobeknya. ‘Sudah kuduga, wanita ini pasti sudah bangun duluan. Ini pertama kalinya aku bangun tidur dan terasa badanku tidak sakit sama sekali!’
“Kau sengaja ingin membangunkanku?”
“Apa kau terusik dengan tanganku Dante?”
“Hmm….kau ingin membangunkanku Belinda?”
Bella mendongak menatap Dante lalu tersenyum dan bersandar ditubuh pria itu dan menurunkan selimut yang menutupi tubuh Dante. “Kau menyuruhku keluar dari selimut?”
“Bukan Dante.”
“Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan Bella.” Dante malas berdebat dengannya dan membiarkan wanita itu melakukan apapun yang dia mau ditubuhnya.
Dante malas berdebat sehingga dia membiarkan saja wanita itu melakukan apa saja. “Ahhkk...terima kasih Dante.” ujar Bella tersenyum. Kini dia lbih sopan, meminta ijin dulu pada pria itu sebelum melakukan apa yang dia inginkan.
‘Eeeh...apa ini? Sekarang sudah jam tiga sore? Berarti aku tidur selama dua belas jam? Sejak kapan aku tidur selama ini?’ Dante bingung sendiri karena dua hari ini dia tidur dengan Bella selalu saja lama.
Kemarin dia tidur sembilan jam lebih dan sekarang dia tidur dua belas jam. Ini sungguh bukan kebiasaannya hanya tidur dua atai tiga jam sehari.
Tidur dua atau tiga jam sehari bukan tidur yang pulas karena dia tidur penuh dengan pikiran. Membuat Dante selalu terbangun dengan perasaan waspadanya. Dante mengeryitkan dahinya dan melirik kearah Bella.
“Bangun Bella! Banyak yang harus kita lakukan. Ini sudah jam tiga sore.”
__ADS_1
“Heeeh! Dante kau pasti mengerjaiku lagi kan? Tadi kau mengijinkanku, sekarang kau melarangku dan menyuruhku bangun!” Bella protes dengan tangan masih memegang milik pria itu.
“Sssshhhh! Belinda, kau tahu ini sudah jam tiga sore!” ujar Dante memperlihatkan jam tangannya.
“Ini maksudnya jam tiga sore? Tapi kau kan tidak kerja kantoran, jadi tidak masalah dong.”
“Bangun Bella! Aku masih banyak pekerjaan!” Dante berusaha fokus karena saat ini memang dia sudah kepikiran tentang banyak hal yang terbengkalai dan harus segera dia tuntaskan.
“Dante...ice cream ku….” dia mencoba menahannya.
“Bella! Kita bisa melakukannya lagi nanti disini. Kapan pun kau mau! Asalkan saat aku tidak sibuk! Bangun dulu sekarang Belinda Alexandra!”
“Tidak mau Dante!” dia menggelengkan kepalanya dengan keras.
“Fuuuhhh!” Dante menatap Bella.
CUP!
“Apa kau lupa janjimu pada anakmu? Bukankah kau ingin main bersama Alex setiap pagi hari?” Dante mengecup kening Bella lalu mengelus rambutnya dengan lembut. Dia menempelkan keningnya pada kening Bella.
Ada ketakutan yang muncul menyeruak diseluruh tubuhnya dan refleks dia melepaskan pegangannya. “Ayo cepat Dante! Aku tidak mau telat! Aku harus bertemu anakku Alex, aku janji padanya tidak akan meninggalkannya tadi malam tapi aku sudah meninggalkannya.” ucap Bella panik.
‘Ingat tentang anaknya saja baru bisa dikasi tahu! Kalau tidak, dia terus-terusan memaksaku! Fuuh! Dia tidak mikir apa semalaman berdiri seperti itu terus tidak lelah? Dan sekarang dia sudah mau lagi? Apa karena pekerjaannya dullu jadi dia benar-benar tidak bisa mengendalikan keinginannya? Tapi kalau aku harus melakukannya terus seperti tadi malam dan tidur selama dua belas jam, ini bisa membuatku tak bisa mengerjakan apapun!’ ujarnya didalam hati.
Dante menggerutu sendiri. Dia tidak habis pikir kalau dirinya sendiri yang menawarkan pada Bella dan sebenarnya dia yang ingin melakukannya berkali-kali. Setiap kali Bella masih ingin lagi, dia bahkan menuruti saja dan menikmatinya tanpa beban.
“Jadi kita udahan Dante?”
“Hmmmm!” Dante menganggukkan kepalanya. “Ayo bangun Bella.”
Karena diperintah, dengan terpaksa Bella tak bisa lagi berbuat apa-apa, dia mengikuti Dante menuju ke kamar mandi. “Kemarilah.” Dante menarik Bella mendekat.
“Dibuka perbannya?”
__ADS_1
“Iya. Supaya dibersihkan lagi dan diganti perban baru.” jelasnya sambil mengecek luka tangan Bella.
“Tidak terlalu bermasalah. Kau sudah bisa buka perban aku rasa tapi tetap haru diberikan obat dulu.” Dante lalu membuang perban dan membawa Bella ke shower.
“Jadi aku tidak perlu berpegangan ke sana kan?”
“Sudah tidak berdarah lagi dan sudah tidak nyeri kan? Kau sudah bisa mandi sendiri.”
“Eehhh Dante! Sepertinya tanganku masih sakit. Aku tidak bisa mandi sendiri harus diperban lagi.” modus Bella yang enggan disuruh mandi sendiri.
“Bella! Jangan membuat ulah! Ini sudah sore dan masih banyak pekerjaanku yang tertunda.”
Sambil mencembungkan pipinya, Bella melakukan apa yang diperintahkan oleh Dante.
Wajah pria itu tampak senang dan tersenyum tipis, melihat Bella yang membalikkan badan dan berusaha merajuk padanya. ‘Ingin sekali kugigit bibirnya! Aku juga ingin memainkan wajahnya itu! Menciuminya dan melampiaskan semua inginku tapi mungkin nanti malam lagi! Aku sudah berjanji pada Alex. Aku ingin bertemu dengannya. Aku juga harus melihat kondisi Omero.’
‘Belum lagi kemarin aku meminta penjaga di gerbang depan untuk menangkap satu orang yang memata-mataiku! Aku ingin bertanya banyak pada mereka semua.’ bisik Dante kembali fokus memikirkan pekerjaannya. Dia memang tergoda pada Bella, sangat sangat tergoda! Tapi dante masih bisa mengendalikan diri.
Dia masih bisa mengendalikan nafsunya meskipun hari ini dia kacau dalam mengatur waktunya. Dia tidak mengatur alamr sehingga mereka tidur selama dua belas jam.
Hal ini membuat Dante merasa kesal. “Keringkan rambutmu yang benar.” ucap Dante saat melihat Bella sudah keluar dengan bathrobe dan ingin langsung mencari pakaiannya.
“Iya!” akhirnya Bella bali lagi ke wastafel dan mengambil hair dryer.
“Apa kau tidak bisa memakai hair dryer yang benar Belinda?”
“Aku tidak terlalu suka dengan angin panasnya Dante! Rasanya panas seperti terbakar api. Karena itu aku tidak pernah mengeringkan rambutku dengan yang panas kecuali terpaksa.”
Dante menarik hair dryer dan menaruhnya kembali.
“Ada apa Dante?” tanya Bella,
“Sini, biar aku saja yang keringkan.”
__ADS_1
“Kau?” Bella menatapnya dan mengerjapkan mata.