
“Bicara kau! Apakah kau masih merasa pantas menjadi wanita yang diagung-agungkan kecantikannya? Diagung-agungkan tubuhnya? Apa kau masih pantas untuk disanjung pria? Kau tidak puas hanya bermain dengan seribu pria dan masih mau melakukannya dirumahku?” Dante kembali memicingkan matanya menatap Bella.
Bella tak lagi merespon, dia hanya menatap kosong dengan rasa sakit disekujur tubuhnya. Dia memilih diam dan berharap Dante akan membunuhnya agar semua penderitaan dan rasa sakitnya hilang.
“Apa kau tidak mendengarku menyuruhmu apa?”
“Ssssshhhhh!” hanya rintihan yang terdengar dari bibir Bella ketika tangan Dante mencengkeram dagunya erat-erat. Membuat dagu Bella membiru karena lebam tapi dia enggan untuk bicara.
“Kau benar-benar menantangku? Kau merasa tidak bersalah? Kau melakukan itu didepan putraku! Dia bisa saja melihat kebelakang dan melihat apa yang kalian lakukan! Putraku tidak bodoh! Dia bisa mempelajari apa yang kalian lakukan dan dia akan mengingatnya sampai dewasa, Apa kau ingin merusak mental anakku?” teriak Dante penuh amarah.
“Alex….” lirih suara Bella dengan rasa bersalahnya.
Plaaakkkk
“Jangan sekali-kali kau menyebut nama putraku dengan bibir kotormu itu! Kau tidak pantas menyebutnya, satu kali kau menyebut namanya aku tidak akan pernah berhenti memukul wajahmu sampai rusak!” ucap Dante yang baru saja menampar wajah Bella ketika wanita itu mengingat anak kecil yang sedang bermain piano. Tiba-tiba saja airmata mengalir dipipinya.
Dia tidak menjawab Dante, hanya diam menangis. Hatinya sangat sakit tapi dia tidak bicara sepatah katapun.
“Kau berani menantangku dengan tatapan matamu seakan-akan kau bersalah! Dengan ucapanmu yang mengatakan kau tidak bersalah, lalu siapa yang salah? Kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau perbuat? Bagaimana kau menggoda laki-laki selama ini? Aku sendiripun kau goda. Aku bisa bayangkan apa yang kau lakukan pada Lorenzo! Kau pasti membuat pria itu tidak bisa menahan dirinya, iyakan? Apakah kau tidak bisa menahan hasrat dibagian ini?”
Bayangan diruang piano kembali muncul dibenak Dante membuatnya semakin buta dan semakin terbakar emosi. “Sssshhhh…...” lagi-lagi bella hanya bisa merintih ketika ujung cambuk yang keras tiba-tiba dimasukkan kedalam bagian intinya dengan ditekan oleh dante sehingga terasa seperti besi yang dibenturkan. Sakitnya terasa sampai ke ubun-ubun.
“Sekali jadi wanita murahan akan terus kau murahan dan menjijikkan! Aku sudah berusaha membuatmu menjadi wanita yang lebih baik. Punya kehidupan lebih baik tapi kau lebih menyukai kehidupan hinamu!”
Plaaaakkkk
“Ahhh….” tanpa aba-aba Dante kembali emncambuk tubuh bagian depan Bella, tidak puas sudah mencambuk bagian belakang saja, Dante membuat darah mengalir ditubuh Bella. “Kenapa kau diam? Terus saja kau diam maka jangan salahkan aku kalau aku membunuh adikmu.” ucap Dante yang tidak dihiraukan oleh Bella. Dia hanya membalas dengan senyuman.
__ADS_1
“Kau pikir aku tidak tahu dimana keberadaan adikmu?” Dante tersenyum kecil lalu mengambil sesuatu dari saku celananya.
“Bacalah pesan singkat ini!”
[Dante! Aku masih hidup tapi jangan cari aku dulu. Aku akan menghubungimu jika aku butuh bantuanmu. Saat ini aku masih bersama Sarag dan dia masih hidup]
Tiba-tiba saja mata Bella bergetar setelah membaca pesan itu. ‘Nomornya nomor telepon Indonesia! Adikku benar-benar masih hidup. Pesan itu baru dikirim hari ini jam empat sore. Berarti aku sudah dikurung ditempat ini lebih delapan jam?’ celetuk Bella dihatinya.
Dia melihat jam yang ada diatasnya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam sedangkan Dante membawakan makanan pukul sebelas siang. “Aku bisa menyuruh Barack untuk menyelesaikan adikmu sekarang juga!”
“Aku harus bicara apa?” akhirnya Bella bicara. Bibirnya masih bergetar dan suaranya serak karena tenggorokannya sakit sekali akibat kering kehausan.
“Memangnya kau tidak tahu apa yang harus kau katakan?”
Bella yang kesal akhirnya menghela napas sejenak. “Kau mau aku mengatakan kalau aku menggodanya? Baiklah aku yang menggodanya, aku ingin dipuaskan! Aku hanya wanita murahan! Aku tidak seperti istrimu yang sempurna! Aku hanya butuh kepuasan! Aku wanita hina!”
Plaaakkkk
Bella menganggukkan kepalanya membuat Dante semakin marah. Bella sudah tidak peduli lagi. Meskipun dia benar tapi dimata pria itu dia tetaplah bersalah, lantas kenapa tidak bilang saja kalau dia hanya mencari kepuasan sebagai wanita murahan.
“Kalau kau ingin aku menjawab iya! Memang dari dulu itu yang aku inginkan! Aku hanya ingin kepuasan!” Bella membuang wajahnya enggan menatap dante.
“Kau ingin kepuasan? Baiklah aku akan melakukannya denganmu sekarang!”
‘Apa yang dia katakan? Dia sudah menyiksaku begini? Apa dia pikir aku mau melayaninya? Cuih! Tak sudi aku disentuhnya lagi! Dia sudah menyakitiku!’ ucap Bella didalam hatinya.
Jleb!
__ADS_1
“Aarrgggg…..” Bella menjerit kesakitan saat dante membuka celananya dan menghunjamkan miliknya. Tangannya dipunggung mencengkeram, sangat menyakitkan dan tangannya masuk menyentuh luka yang membuat Bella meringis kesakitan. Sakit yang diarasakan dari tangan Dante dibagian belakang dan bagian bawahnya ditusuk benar-benar emmbuatnya semakin kesakitan. Bukan ini yang diinginkan Bella, dia tidak suka kekerasan.
“Kau ingin ini kan? Setiap kali kau ingin maka kau harus ingat bagaimana rasanya cambukan dipunggungmu dan bagaimana sakitnya ketika kau merasakan itu. Kau masih mau minta yang begini?”
Plaaakkkk
Diposisinya yang berdiri Dante masih mencambuk punggung belakang Bella disaat bersamaan dia memasukkan miliknya tanpa perasaan.
Dante melonggarkan rantai ditangan Bella. Tubuh yang lemas itupun terjatuh kelantai yang dingin. ‘Apa dia belum puas mecambukku? Sekarang dia melonggarkan rantainya. Aku pikir dia mau melepaskanku ternyata dia malah melempar tubuhku! Aduh lantai disini granit, tidak halus dan masih kasar.’ ujar Bella meringis kesakitan karena tubuhnya tergores.
“Ini yang kau inginkan bukan?”
“Kenapa kau naik lagi ketubuhku?” tanya Bella.
“Supaya kau selalu mengingat jika kau menginginkan ini, rasanya sangat menyakitkan.”
Jleb….
“Aahhhhh…..” lagi-lagi Bella meratap dan meringis menahan sakit. “Kau ingin menyiksaku lagi?”
“Itu memang mauku!” Dante melepaskan miliknya setelah membuang benihnya lagi didalam. Untuk kesekian kalinya Dante melakukan itu padanya, tanpa pelindung dan mengeluarkannya didalam, Dante terpancing dengan yang barus saja diucapkan Bella.
“Apa sekarang kau sudah puas ha? Masih kurang lagi?” Dante berdiri dan langsung mengenakan pakaiannya kembali.
Bella masih dilantai dalam kondisi telentang, dia masih syok dan tak ada satu kalimatpun yang bisa diucapkannya. Ditambah lagi rasa sakit yang membuatnya tidak bisa berpikir. Sekujur tubuhnya terasa menyakitkan.
“Aku bicara denganmu. Kenapa kau tidak menjawab?”
__ADS_1
“Arrgghhh!” hanya itu yang bisa keluar dari bibir Bella.