
Saat mereka keluar dari lift, didepan mereka sudah ada sebuah pintu yang besar. Dan hanya Alex saja yang bisa membuka pintu itu.
“Wuaaahhh…..daddy! Ini benar-benar seperti tempat harta karun. Pintunya itu dari emas?” ucap Alex yang semakin bersemangat lalu berjalan mendekat ke pintu besar.
“Iya dan emas ini kalau kau jula maka kau bisa membangun dua mansion sebesar mansionku.”
“Benarkah daddy? Banyak sekali uangnya?”
Dante lagi-lagi tersenyum sambil mengangguk.
“Pintu ini semuanya terbuat dari emas murni, Alex. Ukuran pintu ini empat kali lima meter.”
Pintu dihadapan mereka itu memang berukuran besar dan berat. Dan berwarna kuning karena terbuat dari logam mulia.
“Apa didalam sini kita bisa melihat emas permata daddy?”
Dante melirik Alex dan mengangguk lagi, dia tidak terlalu banyak menjelaskan pada anaknya. Hanya senyuman dan anggukan kepala saja kepada putranya itu.
“Sini Alex, pintu ini tidak bisa dibuka sembarangan.” ucap Dante yang langsung mengangkat Alex dan membawanya ke pemindai retina mata.
“Kenapa aku harus mendekat kesini daddy?” tanya Alex menatap pemindai didepannya.
“Pintu ini hanya bisa dibuka oleh matamu dan mataku saja.”
“Wah! Benarkah daddy? Hebat sekali.” kata Alex.
“Tapi aku takut daddy.” Alex mundur dan tidak berani mendekatkan matanya ke alat pemindai.
“Ini tidak berbahaya Alex. Alat ini hanya memindai matamu saja, tidak akan sakit. Lihatlah aku yang lakukan dulu ya.” Dante mendekatkan matanya ke alat pemindai.
Tiiiitttt
Pintu pun terbuka.
“Kita bisa masuk sekarang daddy?”
“Iya sayang. Kau sudah lihatkan? Tidak berbahaya? Cukup dekatkan matamu ke alat itu saja.”
“Katamu kita akan masuk daddy tapi kenapa kau diam saja? Kau tidak mau masuk kedalam?”
“Karena tadi aku membuka pintunya dengan mataku, sekarang aku mau kau mencobanya Alex.”
“Oh, aku harus lakukan sendiri?”
__ADS_1
“Iya. Biar aku membantumu.” dia menggerakkan tangannya mengangkat Alex. Untuk kedua kali ini Alex mau melakukannya dan mendekatkan matanya hingga alat pemindai retina mata itu menerima keaslian mata Alex dan bunyi pintu terbuka pun terdengar.
“Daddy! Pintunya terbuka. Yeaaayyy….berarti mataku bisa buka pintu itu. Wah hebat sekali.”
“Tentu saja. Kau sudah berani sekarang, Alex?”
“Turunkan aku daddy. Aku kan pria dewasa yang pemberani!”
Dante menurunkan Alex dan menggandeng tangan anaknya memasuki pintu itu.
“Kenapa ada lubang kunci disini daddy? Ini untuk apa?”
“Ah itu!’ Dante melihat kearah yang ditunjuk anaknya.
“Iya daddy. Apa itu untuk mengintip orang yang ada didalam ya?”
“Bukan Alex. Itu untuk membuka pintu secara manual. Ada dua kunci yang harus dimasukkan pada dua lubang kunci itu. Satu kunci kuberikan pada Henry dan satu kunci lagi ada padaku. Tapi kunci itu hanya bisa dibuka dari luar saja. Jadi kalau sudah masuk kedalam sini, pintu akan menutup secara otomatis setelah mendapat sensor orang masuk. Pintunya juga tidak bisa diganjal, jika di ganjal maka alarm akan berbunyi dan lift tidak akan bisa membawa mereka ke atas. Lift akan otomatis mati.”
“Oooohhhhh begitu.” Alex mengangguk-angguk dengan tatapan takjub. Meskipun penjelasan ayahnya masih sulit dia mengerti tapi dia paham dan membulatkan mulutnya.
“Ayo kita masuk Alex.”
“Wah…..” mata Alex mengerjap ketika melihat semua yang ada didalam ruangan itu. “Daddy!”
“Jadi semua ini milikku daddy? Ada emas, itu apa daddy?” Alex menunjuk kesatu arah.
“Ehm….biar aku beritahukan padamu ya.”
“Ini adalah berlian. Ini adalah mutiara, dan yang disana itu adalah barang-barang yang aku beli dari lelang dan semuanya barang mahal dan berharga Alex! Ini adalah barang-barang penting dan nilainya jutaan dolar. Dan semua ini milikmu dan milik adikmu nanti.”
“Wah daddy! Ini keren! Tapi jutaan dolar itu berapa banyak daddy?”
“Tak perlu kau pikirkan jumlahnya itu Alex.” Dante mengacak-acak rambut anaknya. “Apa ada yang kau sukai dari barang-barang ini?” tanya Dante yang langsung dijawab Alex dengan anggukan.
“Aku suka itu daddy.” tangan Alex menunjuk kesatu benda.
“Kau suka lukisan itu?”
“Bukan lukisannya daddy. Tapi sepedanya.”
“Sepeda itu adalah sepeda tua dari abad ke delapan belas Alex. Itu adalah salah satu sepeda langka dan saat ini mungkin tinggal satu-satunya. Aku mendapatkannya dari lelang dan kita harus menjaga sepeda itu dengan baik.” ujar Dante menjelaskan.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak menyimpannya di museum saja daddy?” Alex mendongak menatap pria dihadapannya.
“Tidak Alex.” Dante menggelengkan kepala. “Aku tidak mau menunjukkan ini kepada siapapun. Benda-benda ini adalah koleksi kita tapi mungkin suatu saat nanti kau ingin membangun museum, kau bisa melakukannya. Kau bisa meletakkan barang-barang ini di museum milikmu.”
“Kenapa kau tidak mau menunjukkannya pada orang lain, daddy?”
“Karena aku tidak mau dunia mengenalku, Alex. Kita tidak boleh mengekspos diri kita terlalu sering.”
“Memangnya kenapa kau tidak ingin dunia mengenalmu daddy? Apa itu bahaya?”
“Karena aku bukan orang baik, Alex.”
Dante menatap anaknya dengan serius sambil mengusap kepalanya penuh kasih sayang. ‘Aku juga sebenarnya tidak mau hidup dan bekerja seperti ini Alex. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus mencari siapa pembunuh ayahku dan menuntut keadilan untuknya. Hanya dengan hidup dan bekerja seperti ini aku bisa menemukan pembunuhnya.’ bisik Dante didalam hatinya.
“Maafkan aku Alex! Aku mungkin ayah yang baik untukmu karena kau adalah putraku! Tapi aku melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang ayah. Hmmm….aku punya alasanku sendiri kenapa aku harus melakukan ini.”
“Jadi kau bad guy, daddy? Tapi kau juga good daddy!”
“Kau tidak boleh mencontohku, Alex! Kau harus menjadi pria yang baik kelak.”
“Lalu kenapa kau mengijinkan aku bikin museum daddy?”
“Karena kau adalah good boy, Alex!”
“Ohhhh begitu ya? Jadi aku hero-nya? Seperti di film-film itu ya daddy?”
“Iya Alex. Kau bisa menjaga semua milikku ini kan?” tanya Dante tersenyum.
“Iya. Aku bisa jaga daddy! Aku janji akan jaga semuanya.” jawab Alex serius tapi dia tersenyum lebar.
“Ingat ya Alex. Disini ada milik adikmu juga! Kau juga harus menjaga dan mengurus mommy-my! Jadi kau tidak boleh sembarangan menggunakan apa yang ada disini. Kau harus memikirkan kesejahteraan mereka juga. Jangan sampai semua yang ku simpan ini habis tidak berguna dan mereka menderita. Apa kau paham Alex?”
Alex mengangguk, “Yang mana punya mommy dan yang mana punya adikku?”
“Kau yang harus mencarinya, kau yang harus memisahkannya dan kau tidak boleh menggunakan milik mereka Alex! Kau harus membaginya secara rata dan sama banyak!”
“Oke daddy.” Alex tersenyum mendapat kesempatan untuk bertanggung jawab. Itu adalah sesuatu yang dia suka, diberikan tanggung jawab seperti laki-laki dewasa.
‘Aku menyuruh pengacaraku mengurus semua asetku yang lain. Tapi untuk semua yang ada disini tidak ada yang mengurusnya! Aku menyerahkan semuanya kepada Alex!’ gumam Dante dan memang semua asetnya berupa uang di bank, rumah dan semua harta bendanya sudah diurus oleh pengacaranya.
Tapi untuk harta karun ini dia khusus menyerahkan kepada anaknya karena dulu diwariskan juga oleh ayahnya padanya. Tidak ada yang tahu tentang harta karunnya ini kecuali teman-temannya dan Alex.
__ADS_1