PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 581. BERDUA TANPA PENGGANGGU


__ADS_3

"Ada apa Henry?" tanya Dante menatap kepala pelayan yang berjalan kearahnya. 'Aduh....apalagi yang ingin dibicarakannya?' Dante berdecak didalam hatinya tapi tidak mengatakan apapun. Dia menunggu hingga Henry menghampirinya.


"Tidak apa-apa Tuan. Aku hanya ingin menyapamu saja." ujar Henry dengan senyum, "Aku sudah mengantarkan Tuan Omero untuk beristirahat."


Sebenarnya Henry tadi hanya sekedar lewat disana tanpa sengaja dia melihat Dante lalu menyapanya. Namun dia pun bisa melihat jika Dante sedang sibuk sehingga merasa tahu diri tidak mau mengganggu.


"Baguslah kalau begitu." ucap Dante singkat. Lalu dia ingin masuk ke kamar tapi teringat sesuatu dan membalikkan badan menatap orang kepercayaannya itu. "Henry." panggilnya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


Dante mengangguk, "Bisakah kau mencarikan dokter bedah terpercaya untukku?" tanya Dante.


"Baiklah Tuan. Akan segera saya kabari jika sudah menemukan dokter bedah yang tepat." jawab Henry.


*******


Suara seorang wabita yang sedang berada di puncak kenikmatan terdengar di telinga Dante. Dia begitu menikmati semua perlakuan Dante yang membuat wanita itu merasa melayang! Tangannya memegang pinggang Dante mencoba menikmati setiap gerakan pria itu.


"Apa kau suka dengan yang lemah lembut seperti ini atau seperti yang kita lakukan kemarin?" tanya Dante pada Bella. Mendengar pertanyaan Dante membuat Bella menahan tawanya.


"Ehmmm.....ini rasanya lebih nikmat Dante." jawab Bella.


"Kau benar-benar menikmatinya Bella?"


"Iya Dante, aku sangat menyukai ini."


Lengkingan panjang itu kembali terdengar dari bibir mungil wanita yang sudah mendapatkan kepuasannya berkali-kali. Jari tangannya yang panjang menusuk punggung Dante tapi pria itu tak peduli. Disaat bersamaan tubuh Bella pun terkulai lemas kehabisan tenaga.


Napasnya menderu dengan tatapan mata yang sayu menatap pria yang masih berada diatasnya, pria yang terlihat sangat gagah, kuat dan mampu memberikannya kenikmatan yang luar biasa.

__ADS_1


"Kau baru selesai lagi Bella?"


"Hmm." Bella mengangguk dengan senyum kecil. "Setiap kali selesai aku malah menginginkannya lagi Dante. Aku semakin menginginkan semuanya tentangnya."


'Aku pun suka yang lembut karena aku tidak ingin mengajari wanitaku. Tapi saat hamil anak pertamamu dulu, aku tidak bisa melakukan yang lembut seperti ini karena aku takut jatuh cinta padamu, tapi sekarang aturannya sudah berbeda. Kalau kau menyukainya maka kita akan sering melakukannya, bella.' harap Dante didalam hatinya.


"Kau memang tidak pernah puas, Bella." sindir Dante. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya tapi Bella sepertinya tidak pernah merasa bosan walaupun tenaganya sudah semakin habis.


"Kita bisa melakukannya lagi nanti. Aku tidak mau kau kelelahan, tidak baik untuk kandunganmu." ucap Dante lagi sambil mencubit hidung Bella.


"Baiklah, kita istirahat saja dulu." ucap Bella. 'Hmm....semakin hari aku semakin tergila-gila pada Dante. Aku selalu ingin melihatnya dan aku tidak bisa berhenti menginginkan tubuhnya. Dia sudah seperti candu bagiku. Bagaimana ini? Apakah Dante akan menyukaiku jika aku mengatakan padanya? Tapi aku memang sangat menyukainya, dia benar-benar kuat.' gumam hati Bella.


Dante memberikan kecupan ringan di kening Bella. "Sekarang kita sudahi dulu. Kita harus bersiap-siap." perlahan Dante merubah posisinya disamping Bella.


"Apa kita jadi pindah rumah, Dante?" tanya Bella.


"Kita akan pindah kerumah Omero?" Bella memeluk Dante.


"Ya benar. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan disana dan aku juga harus memberitahukan sesuatu kepadamu. Hal yang sangat penting, Bella."


"Hal penting apa itu, Dante?"


"Nanti saja aku mengatakannya padamu. Sekarang istirahat saja dulu." ucap Dante mencubit hidung Bella.


"Oh ya sudah kalau begitu." Bella merubah posisinya disamping Dante. Pria itu memeluk erat tubuh Bella, keheninganpun terjadi diruangan itu.


Wajah Bella terlihat bahagia dan dia tersenyum senang. "Bukankah kita harus bersiap? Kenapa kau malah memelukku begini Dante?"


"Sebentar saja. Aku ingin memelukmu sebentar lagi setelah tiga hari penantian aku bisa melakukannya bersamamu dengan pelan-pelan. Tidak terburu-buru seperti beberapa hari belakangan ini." ujar Dante. Karena dalam beberapa hari belakangan ini Dante memang melakukannya dengan Bella selalu terburu-buru.

__ADS_1


"Tapi kan yang mengganggu anakmu sendiri, Dante! Masa iya harus dimarahi?" celetuk Bella.


"Anak itu! Hari pertama dia sudah mengganggu kita dengan menangis-nangis dan ingin diantar kesini. Besoknya dia melakukan hal yang sama lagi. Dia curigaan sekali padamu kalau aku akan mengambilmu darinya, Bella!" Dante tersenyum mengingat tingkah laku anaknya.


Sebenarnya baik Dante maupun Alex saling cemburuan. Mereka tidak mau berbagi Bella dan Dante pun tidak mau memberikan Bella pada Alex. Inilah yang menyebabkan persaingan ayah dan anak itu tidak ada habisnya. Sedangkan Alex selalu memperhatikan gerak gerik ayahnya dan sudah mengingat setiap detailnya.


"Sudahlah, jangan membicarakan anakku seperti itu Dante! Kau tidak boleh menyalahkannya, dia anakku dan aku sangat menyayanginya." Bella mendongak menatap Dante.


"Tapi aku juga butuh waktu berdua denganmu, dia tidak membiarkanku berduaan denganmu." Dante kembali memprotes.


"Hehehehe lihatlah sekarang dia sedang bermain diluar bersama Hans. Alex tidak mengganggumu bukan?"


"Untung saja Omero melakukan sesuatu yang membuatnya mau tenang. Aku tidak tahu bagaimana membuatnya melepaskanmu dan membiarkan kita berduaan seperti ini." ucap Dante menganggukkan kepalanya.


"Alex suka main piano, Dante! Jadi dia akan tenang jika ada orang yang mau mendengarkannya bermain piano."


"Ya kau benar. Itu yang aku lupa beberapa hari lalu. Harusnya aku menyuruh teman-temanku menemaninya dan mendengarkannya bermain piano. Kita akan bebas berduaan tanpa ada gangguan dari pengganggu kecil itu." sahut Dante.


"Hehehee.....kalau di Indonesia, orang-orang tua bilang kalau biasanya anak kecil itu saat akan mau punya adik maka mereka akan semakin rewel. Seperti yang dilakukan Alex, itu hal yang wajar."


Memang sejak beberapa hari belakangan Alex selalu mengganggu Bella dan Dante Entah kenapa setiap kali mereka ingin melakukannya maka tiba-tiba saja Alex selalu mengamuk. Alhasil Bella dan Dante tidak bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan.


Tapi saat ini ketika kondisi Omero sudah membaik dan dia meminta Alex untuk bermain piano, anak itupun langsung menuruti keinginan Omero. Dengan senang hati Alex melakukannya dan mengulang-ulang lagu yang dimainkannya.


Bahkan saat Dante dan Bella sudah melakukan aktifitas mereka selama tiga jam, Alex tidak mengganggu sama sekali. "Ya sudahlah. Kita bersihkan diri dulu Dante. Sebelum anakmu tiba-tiba datang dan mengamuk." ujar Bella.


"Hmmm ayolah."  Dante mengangguk lalu dia menggendong Bella dan membawanya ke kamar mandi.


"Dante, aku bukan anak bayi." protes Bella saat Dante mulai menyabuni tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2