PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 439. RAHASIA BESAR


__ADS_3

‘Apa pula yang kau bicarakan ini Alex? Biasanya kau bilang kau sudah besar tapi sekarang kau bilang masih kecil dan harus bicara bahasa anak-anak! Sikap pengecutmu ini sama seperti ibumu. Pasti dia yang menurunkan sifat ini padamu.’ oceh Dante didalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya pada putranya.


 


“Apa aku salah bicara ya?”


“Sedikitpun kau tidak mengerti penjelasanku Alex?” Dante mencoba bertanya lagi


“Kan ada kau daddy! Kenapa aku harus mengerti? Bukankah semuanya kau yang kerjakan daddy? Aku hanya main-main saja sampai nanti aku besar!’


 


Celoteh Alex itu membuat Dante tak bisa menahan tawanya. Pandai sekali anaknya ini bersilat lidah dan membuat alasan. Tapi memang ada benarnya juga perkataan Alex karena biasanya Dante yang mengerjakan sendiri semua pekerjaannya tanpa meminta bantuan pada putranya.


“Iya, memang biasanya aku yang mengerjakan tapi berbeda dalam kasus ini. Jika kau tidak bertemu denganku dan hanya ada disini maka kau harus tahu dan mengerti bagaimana caranya mengaktifkan semua benda-benda ini. Apa kau paham Alex?” tanya Dante mencoba untuk membuat anaknya belajar.


“Ooooo iya daddy aku paham sekarang!” jawab Alex meskipun sebenarnya dia tidak paham.


 


“Kemarilah, ikut denganku.” Dante menarik Alex dan membawanya kesebuah komputer besar.


“Apa ini daddy?”


“Ini adalah empat komputer terbagi dihadapanmu dan keempatnya adalah penghubung ke satelit. Kita punya lima satelit diluar angkasa dan satu satelit ada diruang kerjaku. Semuanya terhubung kesini!”


 


“Satelit? Apa itu satelit daddy? Untuk apa Satelit itu?” tanya Alex merasa makin penasaran.


“Supaya kau bisa mengaktifkan sebuah senjata Alex. Senjata itu adalah senjata yang sudah kubuat dengan Barack temanku! Tapi senjata itu bisa diaktifkan dengan menggunakan ke empat satelit.”


“Kenapa begitu daddy? Banyak sekali?”


 


“Karena kamu memang merancangnya seperti itu Alex.” jawab Dante dengan sabar. Dia tersenyum lalu menunjukkan sebuah buku yang sudah tua.


“Dan ini adalah master plannnya.”


“Master plan itu apa daddy?”


“Untuk membuat senjata yang aku susun ini Alex! Semaunya ditulis disini. Dulu ayahku membangun ini tapi dia belum menyelesaikan satelitnya. Dia hanya membuat kerangkanya saja.”


 


“Tapi aku sudah membuat ini semua dan menyelesaikannya. Sudah siap untuk diluncurkan tapi aku tidak melakukan itu karena jika senjata ini diluncurkan maka tingkat radiasinya akan lebih parah daripada bom atom.” kata Dante menjelaskan panjang lebar agar anaknya bisa mengerti. Didalam hatinya dia berdecak dan inilah alasan kenapa dia memang tak ingin menggunakan senjata itu.

__ADS_1


 


Untuk meminimalisir tingkat radiasi itu yang belum bisa dilakukan oleh Dante dan ini membuatnya tertekan selama ini. “Senjata ini belum layak untuk digunakan.” ucap Dante lagi sambil menatap Alex.


“Apa kita akan mencoba senjata ini?” tanya Alex mengerjapkan matanya.


“Tidak boleh Alex! Senjata ini bukan untuk dicoba. Kau tidak boleh melakukan itu.”


 


“Oh, tapi kenapa daddy?”


“Karena senjata ini belum sempurna. Jika diluncurkan sekarang maka akan banyak korban dan kerugian yang sangat besar. Aku harus membuat program baru untuk mengurangi radiasinya.” Dante kembali berjongkok dan menyamakan tinggi dengan putranya.


“Aku mengajakmu kesini supaya kau mengerti Alex. Kalau semua yang ada disini masih perlu perbaikan. Kedepannya, aku harap kau akan mencari tahu dan mempelajari ini untuk menyempurnakan semua penelitian ini Alex.”


 


“Tapi aku tidak akan memaksamu kalau kau memang tidak ingin dan mau mengerjakan yang lainnya.”


“Apa kalau aku mengerjakan ini, aku jadi bad guy juga daddy?”


“Tidak semua bad guy mengerjakan ini Alex. Ini sebenarnya untuk membuatmu menjadi pahlawan juga. Asal kamu menggunakannya untuk kebaikan tapi kalau kau menyalah gunakannya maka kau menjadi bad guy.”


 


“Iya sayang. Tapikita harus menyempurnakannya dulu supaya kalau senjata ini sudah siap digunakan maka bisa dipakai untuk keselamatan dunia. Kita tidak boleh egois, ada beberaa benda yang akan merusak kehidupan makhluk hidup lainnya. Dan kita harus menjaga itu, Alex.”


“Oh begitu ya daddy? Aku paham sekarang.” Alex menganggukan kepalanya.


 


“Iya begitu. TNT dulu ditemukan juga begitu hebat dan penemunya sangat bangga tapi di akhir hidupnya penemunya jadi kecewa karena benda itu disalah gunakan dan memicu terjadinya perang.”


‘Maaf Alex, apa yang aku katakan ini sebenarnya adalah hal yang mungkin akan bertentangan dengan yang aku inginkan. Kalau aku terdesak maka aku akan menggunakan senjata ini untuk menyelamatkanmu. Apakah aku egois?’


 


‘Ya benar, aku memang egois! Tapi aku melakukan semua ini hanya di saat-saat sulit saja dan disaat aku sudah terdesak dan harus menyelamatkan kalian semua.’ jujur didalam hatinya Dante memang berniat menyelamatkan putra dan istrinya dengan cara yang bisa dia tempuh.


“Jadi aku harus bagaimana sekarang daddy?”


 


“Aku akan menunjukkan semua yang ada disini. Apa saja yang tersembunyi disini dan nanti kita bisa menelitinya sama-sama kalau aku masih ada disini. Aku akan menemanimu tapi kalau aku tidak ada disini maka kau harus mencari cara untuk belajar sendiri Alex! Kau tidak boleh percaya pada sembarangan orang. Pastikan kalau orang itu benar-benar bisa kau percaya karena kakekmu menyembunyikan buku itu dengan taruhan nyawanya.”


“Dan aku mempelajari bagaimana menyusun dan membuat senjata itu dari buku ini dan aku juga menghabiskan sebagian besar watu hidupku untuk belajar dan membuatnya. Mungkin saat kau besar nanti kau bahkan lebih hebat dariku dan membuat senjata yang lebih canggih lagi daripada ini.” ujar Dante sambil menunjukkan buku yang sudah terlihat lusuh.

__ADS_1


 


Dante sudah memindahkan datanya ke penyimpanan elektronik tapi buku itu tetap dia simpan disana sebagai bukti kerja keras ayahnya dulu.


“Aku tahu daddy! Aku akan lakukan apa yang kau lakukan. Aku akan belajar dan membuatmu bangga.” kata Alex tersenyum mendongak menatap ayahnya.


 


“Terima kasih Alex. Ingat ya ini semua adalah rahasia kita, oke?”


“Oke daddy!”


Setelah mendapatkan kepastian anaknya, Dante lalu mengajak Alex berkeliling ke tempat itu, tempat itu sangat besar dengan ukuran dua kali ukuran lapangan sepak bola. Tapi disana memiliki beberapa partisi dan beberapa rahasia yang mungkin membuat Alex yang masih berusia empat tahun tidak akan mengingat semuanya tapi Dante hanya mencoba menjelaskan secara singkat saja.


 


“Dan diruangan ini juga ada kamera CCTV! Semua diruangan ini ada perekam suaranya. Aku tahu kau masih belum mengerti semua yang kukatakan ini. Tapi suatu saat nanti kalau kau sudah besar dan masuk lagi kedalam ini, kau tinggal memutar benda ini saja. Maka kau akan mendengar semua yang dibicarakan didalam ruangan ini. Apa kau paham Alex?”


 


Alex mendongak menatap Dante dan mengangguk. “Aku tahu CCTV! Jadi aku ini kan sudah besar, aku ini sudah jadi pria dewasa kan daddy?”


“Kau pintar sekali. Baiklah, sampai disini dulu penjelasanku. Ingat ya jangan sampai ada yang kau lupakan oke?” ujar Dante tersenyum puas karena dia sudah menunjukkan rahasia terbesar pada Alex.


 


“Iya daddy. Aku hafal juga kodenya 1590. benarkan daddy?”


“Kau pintar Alex.” senyum Dante menatap putranya sambil mengelus rambutnya.


“Itu angka apa daddy?”


“Itu adalah hari ulang tahun kakekmu.” jawab Dante yang hatinya bergetar ketika mereka keluar dari ruangan itu dan dia teringat kembali pada ayahnya.


 


‘Daddy, aku membawa putraku sama seperti kau dulu membawaku ke tempat ini.’ bisik hati Dante karena itu adalah tempat yang sama yang dulu dia datangi bersama ayahnya tapi sekarang dia sudah memodifikasi dan semunya lebih modern dibandingkan dulu terlihat seperti gudang persenjataan tahun enam puluhan.


“Sekarang kita mau kemana lagi daddy? Kenapa tidak ada lift-nya?”


 


“Kita akan pergi ke ruangan sebelah Alex!” jawab Dante. Setelah mereka keluar dari tempat itu pintu pun tertutup secara otomatis dan Dante berjalan menggandeng tangan anaknya menyusuri lorong menuju ke sebelah kanannya.


“Tempat apa ini daddy?”


“Ini ruang senjata kita Alex.” Dante bicara sambil mengajak anaknya masuk kedalam ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2