
“Kau masak makanan kesukaanku Dante?” kata Bella yang berusaha mencairkan suasana namun dia masih terlihat tegang dan seperti gelisah.
‘Kenapa dia masih menegang begitu menatapku? Apa aku tidak enak dipandang ya?’ Bella berbisik pada dirinya sendiri saat melihat tatapan mata Dante yang tidak bersahabat.
“Makanlah Bella.” ucap Dante.
“Wah, makanannya enak sekali! Ternyata kau benar-benar bisa memasak!” ujar Sarah yang sudah duluan menyantap makanannya dengan mata berbinar.
“Tentu saja. Daddy ku kan panda memasaka jadi aku juga pandai memasak.” ujar Alex bangga.
“Aku percaya padamu Alex! Dan kau akan lebih hebat daripada daddy-my.’ sindir Sarah.
“Makan saja jangan banyak bicara! Nanti kau tersedak.” ujar Dante menatap tajam pada Sarah.
“Apa yang lucu Bella? Kenapa-kau tersenyum?”
“Cobalah Dante.” Bella menyodorkan satu suapan pada Dante.
“Aku punya makananku sendiri.” jawab Dante menggeleng.
“Cobalah ini. Pasti rasanya lebih enak dari punyamu.” Bella memaksa Dante membuka mulutnya.
“Kau puas?”
“Tidak! Aku belum puas Dante. Aku masih ingin menikmati makanannya bersamamu.” jawab Bella.
Dante hanya tersenyum tipis lalu membuka mulutnya lagi. “Kenapa kau membuka mulutmu lagi Dante?” tanya Bella heran.
“Kau mau menyuapiku kan? Aku ingin makanan yang ada di piringmu lagi.”
Akhirnya Bella pun kembali menyuap Dante dengan makanannya. Lalu Dante melakukan hal yang sama dengan menyuapi Bella dengan makanannya.
“Sudah cukup?” tanya Dante.
“Kenapa rasanya berbeda dengan milikmu ya?”
“Karena makananku ini setengah matang, Bella! Sedangkan makananmu itu benar-benar matang. Lihatlah serat dagingnya juga warnanya sudah berbeda kan?”
“Kenapa kamu mau makanan yang masih mentah Dante?”
“Ini tidak mentah Bella. Ini sudah matang hanya dalamnya pasih berwarna pink. Kau makanlah makananmu. Setelah kau selesai makan, Sarah yang akan mencuci piring.” ujar Dante.
“Apa? Aku harus mencuci piring? Biasanya kita tidak perlu mencuci piring? Kenapa sekarang harus aku yang mencuci piring?” protes Sarah.
__ADS_1
“Apa kau lupa kita sedang berada dimana sekarang? Ini bukan rumahku, kita berada di bunker sekarang. Disini tidak ada pelayan.” jawab Dante.
“Tapi aku pakai baju pengantin, masa kau menyuruhku mencuci piring? Ck!” Bella mengeluh.
“Aku tidak menyuruhmu tapi Sarah! Sarah yang akan mencuci piring dan membersihkan dapur.”
“Tenang saja Bella! Aku akan melakukannya. Kau duduk saja disini, tidak perlu membantuku.”
“Bella yang membawa piring kotor ke sink dan kau yang mencucinya Sarah!” perintah Dante yang sontak membuat Sarah mendelikkan matanya.
“Tidak apa-apa Sarah. Aku sudah biasa melakukan ini.”
“Tapi baju pengantinmu nanti kotor! Ck! Kau ini kenapa sih Dante? Baru menikah tapi sudah menyuruh-nyuruh kakakku.” protes Sarah lagi.
“Sudahlah Sarah. Tidak apa-apa, aku jadi ingat waktu kami di apartement. Aku juga melakukan ini, Sarah! Aku senang melakukannya, sudahlah jangan dipermasalahkan lagi. Dante memang kadang suka bersikap aneh.” ucap Bella sambil mengambil spon cuci piring. Tapi……
“Kenapa Bella?” tanya Sarah yang melihat Bella berhenti dengan tatapan mata tertuju pada satu arah.
“Dante, apakah cincin di tempat spon cuci piring ini untukku?” tanya Bella.
“Menurutmu?” bukannya menjawab Dante malah membalikkan pertanyaan pada Bella.
“Kalau menurutmu memang begitu, kau pakailah cincinnya.”
“Terima kasih Dante. Kau romantis sekali! Aku suka.” ucap Bella semakin tersenyum manis.
‘Uweeekkkkk romantis dari mana? Dia menaruh cincin berlian diatas spon cuci piring! Bella kau memang gila! Apanya yang romantis, memangnya kau minyak yang menempel di piring? Dia menyuruhmu mencuci piring itu artinya dia merendahkanmu, menjadikanmu pembantu! Kau bodoh sekali sih Bella!’ geram Sarah didalam hatinya.
Sarah saat ini tidak sedang mabuk cinta sehingga pikirannya kacau. Dia menilai apa yang dilakukan Dante itu tidak romantis sama sekali. Sama seperti Bella yang menilai kalung tengkorak itu tidak romantis sedangkan dimata Sarah sangat romantis.
‘Aku senang kau menyukainya Bella! Aku harus melakukan sesuatu sebagai pengalihan. Aku sengaja mengajak Alex masak berdua supaya kalian fokus berbicara hal lain. Syukurlah Bella menyukai cincin itu. Aku senang melihatnya tersenyum. Semoga saat semua masalah pekerjaanku selesai aku bisa pulang dan melihat senyum itu lagi.’
“Bella! Biarkan Sarah yang mencuci piringnya. Kau kemarilah, duduk bersama kami.” ujar Dante.
Dante melirik kearah Alex. “Ayo kita main bajak laut.”
“Oke daddy! Aku suka sekali bermain bersamamu.” Alex bersemangat. “Kita akan mencari harta karun kan daddy?”
“Betul Alex. Kita akan mencari harta karun yang tersembunyi.” Dante mengangguk.
__ADS_1
“Kami sudah selesai mencuci piring dan kalian berdua main-main? Apa-apaan ini?”
“Tadi kami berdua yang memasak. Dan kalian berdua tadi bermain piano disana. Aku memberikan kebebasan apapun yang kalian ingin lakukan. Jadi apa salahnya kalau sekarang aku mengajak anakku gantian bermain?”
“Huh! Tau begitu, aku tidak mau terima tawaranmu untuk duduk-duduk disana tadi.” Sarah mencibir.
“Benar yang dikatakan suamiku Sarah! Tadi kita sudah main-main duluan. Sekarang gantian mereka yang bermain dan kita yang cuci piring.” ucap Bella membela suaminya.
“Huh! Aku tidak mau!”
“Sudahlah Sarah. Duduk saja disini! Kan piringnya juga sudah selesai dicuci. Kamu mau buat apa?”
“Ya Tuhan! Kakakku ini sepertinya sudah jatuh cinta berat pada suaminya sampai tidak bisa berpikir.”
“Jangan berdebat lagi! Saat aku kembali bersama Alex, aku ingin kalian sudah merapikan semuanya.”
“Iya Tuan Besar! Kami akan melakukan sesuai perintah anda, Tuan Dante.” ujar Sarah membungkuk.
“Sarah, jangan ganggu suami dan anakku lagi. Ayo kita rapikan saja tempat ini.” kata Bella. Dia tak ingin mendengar keributan dan protes dari adiknya lagi. Dia langsung menarik Sarah menjauhi Dante dan Alex yang memperhatikannya.
‘Kau menyebalkan sekali Sarah! Tapi baguslah kau bisa mengalihkan perhatian Bella. Jadi kalian berdua tidak tahu apa yang sebenarnya ingin aku lakukan.’ bisik Dante dihatinya.
Lalu Dante menggandeng anaknya meninggalkan tempat itu menuju ke lift yang lain.
“Daddy! Kenapa liftnya berbeda? Kita tidak naik lift yang tadi lagi?”
“Lift ini akan mengantarkan kita ke tempat kita bermain bajak laut Alex!” jawab Dante.
“Oh benarkah daddy? Aku senang sekali!” Alex makin bersemangat.
“Aku sudah memprogram dan memasukkan sidik jarimu Alex. Jadi lift ini hanya bisa dibuka olehmu. Aku juga bisa membukanya dan kau juga bisa. Tidak semua orang bisa membuka lift ini, jadi kalau ada sesuatu yang terjadi kau bisa masuk ke lift ini.” ujar Dante mencoba menjelaskan pada anaknya.
“Oh begitu daddy? Berarti aku hebat daddy? Hanya aku yang bisa buka liftnya.”
“Iya. Aku harap kau mengerti Alex. Dan kau tidak boleh mengajak sembarang orang kesini. Ini adalah tempat rahasia dimana harta karun berada.”
“Mommy?” tanya Alex penasaran.
Dante menggelengkan kepalanya sambil menatap putranya. “Mommy juga tidak boleh Alex.”
“Jadi hanya kau saja yang boleh sama aku dan Henry?”
__ADS_1
“Iya betul sekali. Tapi aku cuma bisa mengantarmu sampai disini saja. Saat keluar dari lift maka pintu lift tidak bisa lagi terbuka.”