PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 24. AKU MOHON!!


__ADS_3

“Apa?”


Hanya dengan satu kata itu saja sudah membuat wajah Bella tersenyum bahagia. ‘Ah….syukurlah dia bertanya. Itu artinya dia bersedia kalau aku menitip sesuatu, iyakan.’ ujar hatinya bahagia.


“Tunggu sebentar Tuan aku harus mengambil sesuatu dulu dikamar atas. Tunggu ya.” ujar bella bersemangat lalu pergi ke kamarnya. ‘Baiklah aku sudah mengerti sekarang, kalau kau diam begini artinya kau memberikanku kesempatan untuk melakukan apa yang kuinginkan, bukankah begitu? Atau kau tidak suka dengan apa yang kulakukan? Cuma dalam kasus ini, aku yakin pilihannya yang ertama,’ bisik hatinya yang sudah mulai mengerti bagaimana caranya berkomunikasi dengan Dante Sebastian.


Saking gembiranya, saat dia kembali kelantai dasar sambil berjalan menundukkan kepala hanya agar pria itu tidak melihatnya tersenyum, tapi---


Bukkkk….


“Aduh.” suara ringisan Bella yang terdengar oleh Dante. Karena dia tidak ingin pria itu menunggu terlalu lama sehingga dia berlari menuruni tangga. Niat hati agar cepat malah berakhir apes, saat berada dianak tangga terakhir dia tersandung dan kakinya sakit.


‘Dasar bodoh. Apa karena pengaruh obat-obatan yang biasa dikonsumsinya?’ pikir Dante terlalu ekstrim. Kedua tangannya bersidekap didada dengan matanya masih memindai Bella sampai wanita itu sampai keruang makan.


‘Apakah ini keputusan yang tepat dengan membiarkannya tinggal di aaprtemen ini? Apakah aman baginya tinggal disini sendiri? Dia terlalu ceroboh dan memiliki trauma masa lalu, dia juga belum bisa mengatasi ketergantungannya pada obat-obatan.’ resah hati dante, dia merasa khawatir memikirkan keadaan Bella.


‘Aku tidak bisa menemaninya disini, Alex menungguku, Tatiana juga menungguku dirumah mereka berdua pasti merasa khawatir jika aku tidak kembali.’ gumamnya dalam hati memikirkan keluarganya.


“Maaf Tuan sudah membuat anda menunggu lama.” ujar Bella memecahkan lamunan Dabte.


“Kakimu sakit?”

__ADS_1


“Ah...hanya sedikit saja kok.” Bella menggangguk. “Kukuku diujung ada yang copot.”


“Copot?” tanya Dante mengeryitkan dahinya.


“Iya kuku sambungan, kuku palsu.” Bella tersenyum seakan tak ada masalah serius jika kuku itu terlepas. “Aku kan pakai kuku sambung tapi ya biarin sajalah….biarkan. Lagipula aku tidak bisa memperbaikinya disini’ tambahnya lagi sambil menunjukkan kuku yang dimaksudnya.


“Kau pergi ke salon untuk memasang kuku itu?” Dante kembali bertanya dan langsung dijawab oleh Bella dengan anggukan.


“Aku biasanya pergi ke salon untuk pedicure manucire. Sekalian juga untuk perawatan rambut dan kulitku.” jawab Bella tanpa beban sedikitpun bercerita pada Dante.


‘Ohh seperti itu rupanya kuku sambung yang biasa dipakai banyak wanita. Nail art!’ ujar Dante dalam hati tapi dia tidak berkomentar lebih jauh lagi.


“Oh iya. Kau mau minta tolong apa?” tanya Dante teringat ucapan Bella sebelumnya seakan enggan untuk membuang banyak waktu lagi.


“Terserahmu. Itu keputusanmu tapi aku bisa menjaminnya kalau aku bisa dipercaya.” jawab Dante sambil melirik jam tangannya lalu kembali menatap Bella. “Kalau kau masih ingin membuang waktuku disini, jangan menggangguku. Aku harus pergi sekarang.” Dante segera berdiri.


‘Ah….Tatiana pasti sangat khawatir sekali karena aku tidak pulang semalam. Aku harus segera kembali agar dia tak lebih khawatir lagi tapi gadis bodoh ini selalu saja membuang waktuku.


Jangan sampai Tatiana menghubungi teman-temanku meskipun selama ini dia tidak pernah menghubungi siapapu tapi jika sampai dia tahu kalau aku sedang tidak bersama temanku maka dia akan curiga. Aku tidak ingin menyakiti hatinya dan kesetiaannya padaku,’ ucap Dante dalam hati seakan mengingatkan dirinya untuk menjaga pernikahannya dan tidak terlalu lama berada disana bersama Bella.


“Tunggu!” Bella langsung bicara sesaat setelah pria itu baru saja selesai bicara. “Aku minta tolong padamu karena aku tidak mungkin minta tolong pada orang lain. Hanya ada anda disini. Lagipula anda pasti tidak akan mengijinkanku untuk keluar dari sini, iyakan?” ujar Bella smabil menatap

__ADS_1


Dante, kemudian dia mengalihkan pandangannya pada tas yang ada ditangannya lalu membukanya.


“Aku minta tolong padamu untuk ini.” kata Bella sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat pada Dante.


“Kenapa kau mau menyerahkan ini padaku? Apa isinya?” pria itu tidak mau mengambil benda yang ada ditangan Bella, dia malah bertanya balik. Bella tidak langsung menjawab pertanyaan pria itu, dia hanya menatapnya dan menyakinkan dirinya sebelum memohon.


“Aku mohon Tuan, tolong berikan uang ini pada adikku. Dia akan kesulitan diluar sana bila tidak membayar biaya sekolahnya. Aku rasa uang ini cukup untuk membayar biaya sekolahnya sampai lulus selama tidak ada orang yang menipunya. Adikku masih kecil dan butuh perlindungan.” ucap Bella menjelaskan.


Dante menatap amplop coklat itu tanpa berkata apapun. ‘Kenapa sih pria ini tidak langsung menjawab. Apa yang sedang dipikirkannya? Kenapa dia hanya diam saja menatap uang itu? Uang sejumlah itu tak seberapa baginya, lihat saja penthousenya mewah, atau jangan-jangan dia sedang mempertimbangkan mau membantuku atau tidak ya? Mudah-mudahan saja dia mau membantuku, hanya dia yang bisa menolongku saat ini,’ gumam Bella dalam hati dengan penuh pengharapan menunggu respon dari Dante.


“Apa ini uang bayaranmu?” tanya Dante setelah diam beberapa saat dan Bella pun langsung mengiyakan dengan mengganggukkan kepala.


“Sebenarnya bayaranku hanya sepuluh ribu dolar dan dari sepuluh ribu dolar itu aku hanya mendapat empat puluh persen saja karena harus membayar hutang ayahku. Dan juga untuk obat-obatan yang aku minum mereka memotong sepuluh persen lagi. Jadi aku biasa menerima tiga puluh persen saja, itupun kalau mereka tidak memotong untuk biaya lain-lain.”


“Jadi itu uang ekstra? Aku lihat jumlahnya lebih sepuluh ribu dolar.”


“Iya Tuan. Hari itu aku mendapat tamu yang murah hati memberikan uang ekstra namanya Tuan Jeff. Dia memberiku tiga puluh ribu dolar untuk tiga jamku. Dia adalah salah satu yang terbaik dan dia tidak pernah membayar langsung ke Madam Wendy tapi memberikan langsung padaku. Karena Tuan Jeff tahu kalau dia membayar langsung ke Madam Wendy maka aku hanya akan menerima sedikit uang saja.”


Bella menghela napas lalu lanjut bicara. “Tuan Jeff selalu memberiku uang ekstra karena dia tahu kesulitanku dan aku bisa menyimpan sedikit-sedikit tapi kadang sulit karena kadang anak buah Madam Wendy selalu mengikutiku dan tak jarang mereka memeriksaku setelah keluar dari kamar hotel. Aku harus pandai-pandai menyembunyikan uang ini dari mereka." ucapnya lalu menghela napas.


"Dan kalau aku beruntung kadang anak buah Madam Wendy tidak mengikutiku, aku pulangnya bisa naik taksi dan tidak langsung menyetor semua. Kalau mereka menangkapku maka mereka pasti menggeledah seluruh tubuhku dan aku mungkin tidak bisa mendapatkan satu sen pun.” ujar Bella menceritakan bagaimana pengalamannya selama menjadi wanita malam dengan senyum diwajahnya.

__ADS_1


Dante yang tak menyukai senyum itu pun langsung berbalik hendak pergi.


“Hei Tuan, tunggu! Tolong berikan uang ini pada adikku.” ujar Bella melihat Dante yang tak meresponnya bahkan pria itu terkesan tidak peduli, malah terus berjalan menuju lift dan memencet tombol lift. Bella panik dan kembali bicara sambil mengejar Dante.


__ADS_2