
“Turunkan kepalamu biar aku obati dulu lukamu!”
“Ssshhh salepnya dingin.” celetuk Bella yang merasakan sensasi dingin dipunggungnya.
“Ingat ya, jangan lagi berdekatan dengan siapapun. Tetaplah dikamarmu! Istriku juga sudah melarangmu keluar selama tiga hari, makanya kau tidak boleh keluar! Aku akan mengirimkan makanan untukmu.”
“Apa kau mengijinkanku makan masakanmu?” tanya Bella lagi.
Dante hanya diam tak menjawab. “Kau tidak menjawab pertanyaanku karena kau tidak tahu atau karena kau takut pada istrimu?”
“Hormati istriku! Bagaimanapun dirumah ini dia adalah wakilku dan dia ibu dari anakku. Jadi kau tidak boleh menentangnya kalau dia memintamu melakukan sesuatu.” kilah Dante.
“Akan kuingat itu.” Bella menghela napas panjang.
“Katakan padaku, apa kesukaan adikmu.”
“Maksudmu Sarah?” Bella masih dalam posisi tengkurap dengan kepalanya dipangkuan Dante. Kebayang ngak sih posisi itu sangat berbahaya?
“Iya, apa kesukaan Sarah?” jawab Dante yang sudah selesai mengoleskan salep dan meletakkan tangannya dibelakang tubuh Bella sambil *******-***** bokongnya.
Hem….Sarah suka makanan manis-manis, dia juga suka es krim. Dia suka nonton film kartun dan membaca. Adikku juga suka jalan-jalan ke gunung, dia paling suka itu tempat yang dingin dan hijau. Dia paling suka permainan yang ekstrim seperti roller coaster dan lainnya. Adikku itu pemberani, dia berani mengekspresikan isi hatinya tidak seperti aku! Adikku sangat pintar bahkan lebih pintar dariku.”
“Jadi dia suka tempat hijau?” tanya Dante lagi.
“Iya karena Sarah suka pengunungan, dia sangat suka tempat dingin. Kenapa kau menanyakan soal itu?” Bella bertanya tanpa menatap Dante tapi matanya memandang kesatu tempat.
“Hei apa yang kau pandang?”
“Ini nih…..” jawab Bella sambil telunjuknya mengarah kebagian bawah Dante yang berada tepat diwajah Bella yang masih berada dipangkuannya.
“Kau mau memegangnya?” tanya Dante iseng.
“Boleh ya?” tanya Bella mendongakkan kepala menatap Dante.
“Hmmmm…..tidak boleh!”
“Ya sudah! Kenapa nanya? Kau memang selalu begitu padaku, pelit!” celetuk Bella lagi.
__ADS_1
“Ceritakan lebih banyak tentang adikmu.”
“Sudah semuanya.” jawab Bella.
“Belum. Kau tidak fokus, matamu masih kearah sana.”
“Pegang tidak boleh, dipandang juga tidak boleh dasar pelit! Aku suka lihat yang disitu!”
“Kenapa ada perempuan sepertimu sih? Ayo bangun! Tidur menggunakan bantalmu.”
Tapi Bella mengacuhkan ucapan Dante lagi, dia hanya mendongakkan kepalanya menatap Dante.
“Kau mau apa lagi?” tanya Dante kembali.
“Aku lapar, sayang.” ucap Bella menggoda sambil mengerjapkan matanya dan tersenyum manis. Satu hal yang dia pelajari tentang Dante adalah pria itu selalu luluh jika dia melakukan itu.
“Tunggu disini, aku ambilkan makanan untukmu.”
“Jangan. Aku tidak mau kau pergi. Disini saja denganku ya sayang.” kedua tangan Bella mendorong Dante hingga terbaring di ranjang.
“Tapi kau bilang barusan kau lapar, lantas kenapa kau malah melarangku untuk mengambilkanmu makanan?”
“Jangan sinis gitu dong padaku, please bicara yang lembut dan manis padaku! Kau selalu bicara lembut pada istrimu tapi padaku kau kasar! Aku tidak suka.”
“Ya tentu saja karena istriku pantas dilembuti tidak sepertimu bandel, keras kepala. Taunya hanya membuat masalah saja padaku. Kau tidak pernah mau nurut padaku sedangkan istriku dia selalu menuruti semua keinginanku.”
“Tapi aku sudah menurut padamu. Meskipun kau sudah memukulku, mencambukku tapi aku tidak membalasmu dan istrimu juga! Apa kau pikir orang lain akan bersikap seperti aku saat menerima perlakuanmu yang buruk?”
“Sudahlah minggir sana, biar aku ambilkan makananmu.”
“Tidak, jangan pergi babe!” Bella malah menahan tangan Dante.
“Isss…..kau ini mau apalagi sih?”
“Aku bukan lapar makanan tapi aku lapar yang itu. Sudah beberapa hari tidak dapat merasakan. Aku cuma mau makan itu tuh.” ujar Bella polos.
“Apa kau tidak bisa bicara hal lain? Sesuatu yang penting atau lebih pantas dibicarakan gitu?” ujar Dante memicingkan matanya.
__ADS_1
“Aku hanya bicara jujur apa adanya padamu. Setidaknya aku tidak munafik, ucapan dan perbuatan berbeda seperti ada tuh orang….”
Belum sempat Bella menyelesaikan ucapannya tangan Dante sudah menyentil dahinya. “Iya iya ampun. Jangan disentil lagi, sakit tau?”
“Kenapa kau terus saja memikirkan yang satu itu, hem?” tanya Dante dengan intonasi tinggi.
“Maaf ya aku cuma pingin saja.” ucap Bella. ‘Duh sulit banget sih membujuk rayunya, ini laki-laki terbuat dari apa sih hatinya? Masa iya tidak tergoda dengan tubuhku? Emangnya secantik apa sih tubuh istrinya itu? Aku jadi penasaran, penjagaannya luar biasa.’ bisik hati Bella.
“Kau tidak boleh begini terus, Bella.”
“Lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Coba ya bayangkan kalau aku dikurung dikamar saja, pasti pikirannya bakal kesana. Tapi kalau aku sibuk pasti perhatianku teralihkan.” ujar Bella membela diri, upaya untuk diijinkan keluar dari kamar dan tak terkurung.
“Belinda Alexandra! Kau tahu aku sudah menikah?”
“Tahu!” jawab Bella menganggukkan kepala sambil menatap lurus ke wajah Dante.
“Kalau tahu jangan minta terus padaku!”
“Ya sudah kalau tidak minta padamu, aku mau cari pacar biar bisa minta pada pacarku. Iyakan?” ujar Bella enteng. “Kau juga sudah janji akan memberikannya padaku kalau adikku ketemu, iyakan?”
‘Huh! Kau pikir aku bodoh? Aku akan terus mengingatkanmu pada janjimu itu, walaupun kau sudah menikah aku tidak peduli hmm….rasain! Siapa suruh kalian memukulku, suami istri bakal aku kerjain. Terlalu sering menolakku membuatku semakin terobsesi menaklukkannya, mana mungkin dia tidak tergoda selalu menyuruhku polosan?’ cibir Bella dalam hatinya.
“Hmmm….begitu ya? Sudah kubilang kau tidak boleh dekat dengan laki-laki manapun selama kau berada dirumahku. Jika kau pingin kau tahan saja! Kau tidak boleh meminta pada laki-laki lain, kau mengerti? Karena kau milikku, itu aturannnya!”
“Aihhhh Tuan Dante kau membuatku pusing! Kau tahu aku sudah mendapatkan itu sebelum bersamamu. Aku milikmu? Ha ha ha ha kalau begitu buktikan kau memilikiku. Kau paham kan Tuan Dante ku sayang?”
“Arrggg…..kau tidak bisa hidup seperti itu selamanya. Mungkin sekarang kau marah padaku karena aku tidak mau memberikannya padamu tapi aku tahu apa yang terbaik untukmu. Penolakanku saat ini mungkin tidak kau sukai tapi suatu saat nanti saat kondisimu sudah membaik kau akan tahu kenapa aku harus melakukan ini.” ujar Dante dengan suara lembut sambil membelai rambut dan wajah Bella. Pria itu tetap pada pendiriannya meskipun suaranya berubah lembut, tatapan matanya pun menjadi lembut.
“Lalu aku harus hidup bagaimana? Apa maksudmu dengan aku akan membaik?” gumam Bella.
“Saat hidupmu layaknya orang normal, apa kau mau aku memanggilkan guru untukmu?” Dante menawarkan pada Bella. ‘Wanita ini butuh pengalihan perhatian, dia butuh kesibukan agar tidak lagi berpikir tentang hal itu terus-terusan hingga kehilangan akal sehatnya.’ bisik hati Dante.
‘Jika aku ingin jujur, sebenarnya saat ini aku pun menginginkannya malah setiap kali bersamamu aku menginginkannya tapi jika sekali kuberi maka dia akan terus-terusan menagih. Ini bisa merusak pikiranku karena aku masih ingat saat dia mengandung Alex bahkan Tatiana sampai hampir bunuh diri karena aku meninggalkannya selama dua minggu tak kembali kerumah. Tubuh wanita ini terlalu berbahaya bagiku jika aku mencicipinya huff! Lagipula aku sudah janji akan memberikannya jika adiknya sudah ditemukan jadi tidak ada alasan untuk memberinya sekarang.’ Dante berusaha menguatkan tekadnya.
“Guru?” Bella mengulangi pertanyaan Dante.
__ADS_1