
“Apa masih kurang jelas apa yang tadi kukatakan?”
“Hem….jelas, cukup jelas! Selamatkan katamu.”
“Ya sudah kalau begitu lakukan!”
“Baiklah. Aku akan mencari caranya.”
“Koordinasikan dengan yang lainnya juga, aku tidak menyuruhmu untuk menangani masalah ini sendirian. Semua akan lebih mudah jika dilakukan bersama-sama.”
“Baiklah, Dante.”
“Apa masih ada hal lain yang mau kau tanyakan?”
“Ada. Apakah menurutmu masalah ini ada hubungannya dengan Jeff Amadeo?”
“Itu saja pun kau tanyakan padaku! Apa kau tidak bisa berpikir sendiri, ha?” intonasi suara Dante tinggi, tak suka setiap kali dia mendengar nama pria itu.
“Ehmm….sepertinya memang begitu. Seperti katamu waktu itu, dia ingin kau memberikan Bella padanya. Dia benar-benar melakukan banyak hal untuk mendapatkan wanita itu!”
‘Ada apa dengan Dante ya? Sejak tadi dia bicara emosian ya? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini? Apa ada sesuatu yang terjadi dirumahnya? Ah, salahnya sendiri membawa wanitanya pulang pastilah bakal jadi masalah besar. Apa istrinya sudah tahu tentang wanita itu?’ gumam Hans didalam hatinya.
“Kapan kau akan bertindak setelah kau tahu ini ada hubungannya dengan Jeff?” tanya Hans lagi. Meskipun dia merasa agak cemas diujung telepon karena berulang kali mendengar Dante mendengus sehingga membuat keringat dinging mengucur ditubuhnya.
“Kau meragukanku sekarang?” kata Dante marah. Hans semakin ketakutan.
“Tidak Dante! Kalau dia bertindak seperti ini ya lebih baik didiamkan saja dulu, bukankah begitu maksudmu? Saat dia mengeluarkan kekuatan terbesarnya baru kita menunggu dan melihat.”
“Kenapa masih bertanya kalau kau sudah paham?”
“Jadi menurutmu itu yang terbaik untuk dilakukan, Dante?”
“Aku ingin Barack segera ditemukan! Teruskan pencarian dan temukan dia !”
__ADS_1
Dante bukannya menjawab Hans tapi dia malah mengalihkan pada hal lain yang menurutnya lebih penting daripada membahas tentang Jeff Amadeo.
“Aku yakin Barack masih hidup dan dia baik-baik saja tapi kami masih belum bisa menemukannya. Apa mungkin dia sengaja bersembunyi menunggu keadaan aman?” tanya Hans lagi.
“Cari dia! Dia pasti punya alasan untuk semua yang dilakukannya.”
“Ya aku juga berpikir begitu. Aku juga penasaran kenapa dia bersembunyi dari kita. Semua tanda yang kami berikan sudah jelas dan Barack seharusnya sudah menemukan jalan pulang.”
“Apa yang menurutmu terbaik sekarang?” tanya Dante.
“Biarkan saja kalau memang itu maunya dia. Bisa saja dia punya rencana.”
“No! Aku mau Barack secepatnya, tak ada alasan apapun. Bawa dia padaku!”
“Baiklah, Dante. Atau mungkin dia tidak sanggup melawan mereka saat itu sehingga dia terluka atau..”
“No no…..Barack baik-baik saja. Cari saja dia!”
“Kau masih tidak tahu jawabannya, he?”
“He he he tentu saja aku tahu karena aku adalah pimpinan kami yang selalu membuat kami yakin dengan semua tindakan yang kami pilih. Sudahlah, aku kerja dulu. Bye.”
Dante meletakkan ponselnya dan kembali meneruskan pekerjaannya seperti biasa, sikapnya tenang seperti tidak ada bebang yang mengganggunya. Tapi sikap tenang itu hanya bertahan sebentar, dia kembali teringat Bella.
‘Aku sudah memperingatkanmu tapi berani-beraninya kau menyentuh laki-laki lain bahkan menggandengnya dengan mesra didepan mataku? Belinda Alexandra Amani, apa kau pikir aku cemburu? Kau baru saja bermain api dan aku menghukummu karena kau telah melanggar perintahku! Tadi kau kembali melakukannya jadi aku akan mengumpulkan dulu semua kesalahanmu agar aku bisa memberimu hukuman yang lebih besar!’ bisik hati Dante.
Seketika dia teringat pada CCTV yang sudah dipasangnya dikamar Bella dan kamar Alex. Bahkan kamar mandi Bella pun tak luput dipasang CCTV. Dante mengeluarkan ponselnya lalu membuka rekaman cctv dan mendengarkan kembali semua ucapan Bella dan dia tertawa karena rekaman itu. ‘Dasar gadis bodoh! Kau sendiri yang cari masalah dengan Tatiana! Sudahlah semua kemarahanku sudah hilang sekarang!’
Kini hatinya mulai tenang setelah mendengarkan rekaman suara Bella yang membuatnya tertawa, apalagi saat dia melihat tingkahnya yang lagi marah-marah tak jelas dikamarnya sambil mengutuki Dante membuat suasana hatinya jauh lebih baik. Dante pun mengurungkan niatnya untuk mendatangi kamar Bella dan memberikan hukuman lagi.
Dia memilih untuk menahan diri dan membiarkannya lalu kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.Tanpa terasa waktu berjalan cepat dan saat Dante menyadari dia melirik jam didinding yang sudah menunjukkan jam tiga pagi.
“Ah! Sudah jam tiga, waktunya aku tidur.” Dante yang baru saja selesai mengecek wilayah kekuasaannya beranjak dari tempat duduknya menuji kekamar tidurnya.
__ADS_1
“Tatiana kau belum tidur?” tanya Dante saat masuk ke kamarnya mengecek kondisi Tatiana dan mendapati istrinya masih terjaga.
“Aku baru saja mau tidur Dante! Aku tadi terbangun karena haus.” jawab Tatiana yang sedang memegang gelas ditangannya.
“Apa kau sudah mengecek keadaan Alex tadi?”
“Belum.” jawab Tatiana.
“Ya sudah kalau begitu biar aku saja yang akan menemani Alex. Kau tidurlah!”
“Oh iya Dante. Aku tadi sudah memberikan hukuman pada wanita itu. Maksudku pengasuh Alex.” kata Tatiana yang tidak ingin Bella mengadu duluan pada Dante dan dia pun memutuskan memutar balikkan fakta dan membuat alasan pada suaminya.
“Hukuman? Maksudmu?” tanya Dante mengeryitkan kening.
“Kau tadi lihat kan dia keluar memakai piyama seakan-akan ini rumahnya, dia tak menegur dan memberi hormat pada kita saat aku meliriknya, eh seenaknya dia jalan bersama pelayan itu. Aku hanya memberitahunya supaya dia lebih bertanggung jawab dan punya sopan santun.”
“Apa yang kau lakukan padanya?” Dante bertanya tanpa mempedulikan alasan apapun yang diucapkan Tatiana, dia lebih fokus mencari tahu apa yang telah dilakukan istrinya pada Bella. Dia tidak suka jika orang lain melakukan sesuatu pada wanitanya, hanya dia saja yang boleh menghukumnya. ‘Hmmm tadi aku sudah mendengar celotehannya tentang ini di rekaman cctv.’bisik hati Dante yang tadi mendengar kemarahan Bella dikamarnya.
“Tadi aku menegurnya diruang pelayan dan untuk pertama kalinya aku marah dirumah ini! Maksudku pada salah satu dari mereka he he he.”
“Maksudnya? Aku tidak mengerti.” Dante kembali mengeryitkan dahi.
“Aku menamparnya, aku memarahinya dan semua pelayan ketakutan ketika aku melakukan itu. Aku hanya mengingatkan mereka agar menghormatimu dan aku. Selain itu aku juga bilang bahwa dia mendapat hukuman tidak boleh keluar kamar selama tiga hari kecuali kalau itu permintaan Alex untuk ditemani olehnya. Tapi aku akan berusaha agar Alex tidak meminta bantuannya dan tidak bermain dengannya selama masa hukumannya. Aku tidak ingin Alex terlalu dekat dengannya!” ujar Tatiana sambil menyentuh Dante.
“Kenapa kau melakukan itu, Tatiana? Kenapa kau tidak bicarakan dulu denganku?”
“Aku cuma mau dia tahu tata krama disini dan tidak salah mengajari Alex.” jawab Tatiana takut saat melihat ekspresi tidak senang diwajah suaminya.
“Kenapa kau bicara seperti itu? Kau takut padaku makanya suaramu sampai terbata-bata seperti itu?”
Tatiana menganggukkan kepalanya. “Iya Dante. Maafkan aku ya, aku sudah mengambil keputusan sendiri karena aku bisa melihat kalau kau tidak suka melihatnya berpakaian seperti itu.” kata Tatiana memberikan alibi.
“Aku tidak marah padamu, apa yang kau ajarkan padanya itu sudah benar! Mengajarkan disiplin dirumah ini, barangkali dia tidak tahu aturan dirumah ini dan dia juga salah karena tidak bertanya dulu jadi aku rasa apa yang kau lakukan itu wajar.”
__ADS_1