
‘Apa benar dia mau membunuhku skearang? Kenapa aku malah mengucapkan kalimat menantang seperti itu? Bodoh kau Belinda!’ bisik hatinya menyesali perbuatannya karena setelah itu Dante menarik sisa pakaiannya yang melekat ditubuhnya dan merobek-robeknya didepan Bella.
Kini tubuhnya benar-benar polos. “Apa kau sudah puas membuatku seperti ini?”
“Kau pikir saja sendiri.” Dante berdiri tegak dengan bersidekap tangan dan menatap lurus pada Bella yang polosan masih memakai medali dilehernya.
“Tunggu! Kau mau kemana?”
“Apa aku harus melaporkan semua yang ingin aku lakukan padamu?” Dante bertanya sambil mebalikkan badannya menatap Bella lagi, wajah yang sangat ingin selalu ditatapnya tapi Dante selalu berusaha menahan dirinya.
“Jangan tinggalkan aku sendirian disini!” ucap Bella pelan.
“Untuk apa aku disini? Aku bisa kembali kekamarku dan istirahat dengan tenang di kasurku yang empuk. Tidak ditempat ini yang gelap dan jika aku mematikan lampunya akan terasa dingin dan tidak ada kasur disini.” jawab Dante sekenanya.
“Aku takut gelap! Aku bukan Alex yang sekarang sudah berani dengan kegelapan selama aku memeluknya. Kecuali kau memang ingin membuatku gila, kau bisa tinggalkan aku disini.”
Bella bicara menundukkan kepalanya tak ingin menatap Dante. ‘Rendah! Itulah yang aku rasakan ketika berhadapan denganmu sekarang! Aku tidak punya kekuatan untuk melawanmu. Sedangkan kau memperlakukanku sangat buruk bahkan lebih buruk daripada seorang budak. Apa aku sebenarnya dihadapanmu?’ bisik hati Bella. Kecewa? Tentu saja itu yang dirasakannya tapi dia tidak berani mengungkapkan apapun dihadapan Dante.
Dia membayangkan ditinggalkan ditempat itu yang diselimuti kegelapan membuat Bella sangat takut dan khawatir. Perlahan suara langkah kaki perlahan mendekat. ‘Sekarang dia mendekat lagi padaku dengan suara sepatunya yang terdengar nyaring diruangan ini.’ ujar Bella dihatinya tapi dia masih menundukkan kepalanya ketika Dante sudah berdiri dihadapannya.
“Kau melepaskanku?”
Dante tidak menjawab ketika dia membuka tali pengikat Bella. “Sampai kapan kau tidak akan bicara padaku?” tanya Bella lagi. Dante tidak menjawab dia hanya menatap Bella setelah talinya terlepas dan dia melempar tali itu sembarangan.
“Apa yang kau inginkan dariku?” Bella mencoba bertanya baik-baik.
‘Orang ini aneh sekali, dia tidak mau menjawabku tapi dia sudah membuka tali ikatanku dan sekarang malah menempelkan tanganku diwajahnya. Apa yang diinginkannya?’ tanya hati Bella kemudian. ‘Aku suka memegang wajahnya, sangat halus tapi ada kasar dari janggutnya. Aku ingin membelainya.’ ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Tangannya masih memegang wajah pria itu tanpa ada gerakan apapun dan ini adalah pertama kalinya Bella menyentuh seorang pria, dia bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mengelus pria itu. Bella benar-benar hanya memegang wajahnya.
“Gerakkan tanganmu.” ucap Dante tiba-tiba bersuara.
“Aku harus menggerakkan tanganku? Maksudmu apa?” Bella kembali bertanya pada Dante.
“Berapa kali aku menamparmu tadi? Saat di kamar berapa kali aku juga menamparmu?” tanya Dante.
“Kau mengijinkanku membalasmu?” entah kenapa Bella malah tersenyum sumringah saat bertanya pada Dante, sikapnya seperti seorang anak kecil yang baru saja diberi perman dan dia senang sekali.
“Hemm….” ada senyum diwajah Dante ketika melihat reaksi Bella dan dia menganggukkan kepala.
“Aihhhh…..” Bella meringis lalu menyandarkan tubuhnya disandaran kursi.
“Kau tidak mau memukulku? Aku baru saja memukulmu dan aku tidak main-main menamparmu, lihatlah! Bibirmu sampai berdarah.” ucap Dannte menggerakkan satu tangannya menghapus sisa darah yang ada diwajah Bella.
“Tidak mau! Aku suka memegang wajahmu, bolehkah aku mengelusnya?”
“Kau tahu sudah berapa lama kita bersama? Kau selalu membuatku ingin, aku belum bisa mengendalikan diriku sepenuhnya bahkan saat tadi dikamar Alex, sejujurnya aku sudah hampir menangis karena menahan semua rasa kesalku.” ucap Bella dengan bodohnya malah berkata jujur.
“Kau mengatakan yang sebenarnya padaku?” Dante masih diposisi berlutut dihadapan Bella, dia bahkan mendongak untuk bicara dengan Bella.
“Lihatlah aku. Apa aku terlihat berbohong?” wajah ceria Bella kembali bertanya.
“Kau benar-benar seperti anak kecil.” Dante mengeryitkan keningnya dan menggelengkan kepala tapi satu tangannya masih menghapus darah diwajah Bella dan masih mencoba menghangatkan wajah wanita itu sehingga Bella bersandar manja ditangan Dante.
“Kau suka begini?”
__ADS_1
“Hem….aku suka jika bersamamu begini. Apa aku salah?” tanya Bella balik.
“Bodoh! Pertanyaan seperti ini kau masih ingin aku menjawabnya? Tak bisakah kau berpikir sendiri?”
“Menurutku tidak salah.” akhirnya Bella memberikan jawaban setelah berpikir dengan otak polosnya.
“Dengarkan aku Belinda Alexandra Amani! Aku adalah seorang suami dari seorang wanita dan aku sudah memiliki anak bersama wanita itu. Kalau kau menyukaiku tentu saja itu salah! Apa kau tidak bisa berpikir kesana?” Dante mengeryitkan dahinya masih dengan enggan mengalihakn tatapannya dari senyum manja Bella.
“Aku tidak bersalah sama sekali!” Bella bersikukuh sambil menggelengkan kepalanya.
“Ada apa dengan caramu berpikir ha? Kenapa kau bicara begitu?” Dante tidak mengerti dengan jawaban Bella.
“Tentu saja aku tidak merasa bersalah Tuan Dante!” Bella bicara sambil menarik tubuhnya yang tadi bersandar kini mencondongkan tubuhnya kedepan sehingga posisinya sudah sangat dekat dengan wajah Dante bahkan ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
“Kenapa kau mengatakan itu?” tanya Dante. Dia bisa merasakan hembusan napas Bella diwajahnya dan aroma khas tubuhnya yang sangat disukai Dante. Hatinya tergugah melihat senyum manis wanita itu dan tubuhnya kembali bereaksi malah lebih dari sebelumnya.
“Karena aku seorang pelakor! Aku adalah wanita malam dan tidak ada salahnya bagiku jika aku menginginkanmu walaupun aku tahu kau adalah pria beristri!”
“Haaa…….!” teriak Bella sambil bertepuk tangan pelan.
“Sepertinya teriakanmu itu menunjukkan kesenanganmu.” Dante menyindirnya membuat Bella tersenyum dan dia menganggukkan kepalanya.
“Dasar kau!” Dante menggelengkan kepalanya tapi matanya tetap menatap wanita didepannya. Dia sangat suka melihat senyumnya. “Kau puas?”
“Hem….jelaslah aku puas! Sangat puas malah. Ha ha ha ha…..” Bella menjawab singkat memainkan matanya menggoda Dante dengan manja. Dia tahu jika pria itu menyukai sikap manjanya seperti itu.
“Jelaskan maksud kepuasanmu.” tanya Dante. ‘Tawa itu, senyum itu, bukan sesuatu yang sempuran dan spesial. Aku bisa mendapatkan senyuman seperti itu dari wanita manapun yang aku inginkan. Bahkan wanita terbaikku Tatiana dia juga selalu memberikan senyuman seperti itu, sangat hangat tapi kenapa senyuman Bella seakan membuatku candu?’ bisik hati Dante.
__ADS_1
‘Kenapa aku selalu merasa rindu jika tidak menatapnya dengan tawa dan senyum itu. Belinda Alexandra kenapa dulu kau tidak pernah memberikan aku senyuman seperti itu ketika kita masih bersama dan ketika kau mengandung Alex didalam rahimmu? Hanya tangis dan airmata yang kau berikan padaku setiap malam ketika aku datang menemuimu. Ahhh...’ entah kenapa kata-kata itu terbersit didalam hati Dante ketika pandangannya jatuh pada wajah polos yang terlihat bahagia itu.
“Hmmm….aku puas! Hatiku merasa hangat karenamu, manusia dingin sudah mau membalas kecupanku bagaikan sebuah bintang jatuh ketika kau memberikan balasan itu untukku. Rasa yang kau berikan pada bibirku lebih dari cukup menghilangkan dahagku. Aku senang sekali, terimakasih Tuan Dante. He he he.” ucap Bella tulus. ‘Kau bukan pria pertama yang memberikan rasa untukku tapi kenapa rasanya seperti aku mengenal kecupan itu? Caramu memanjakan didalam sana, hangat geli dan membuatku rindu padanya.’ desah hati Bella.