PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 60. MASA LALU SELALU KEMBALI


__ADS_3

Ella terus bergumam dalam hatinya sambil berimajinasi membayangkan dia punya otot kekar seperti binaraga, tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri. Pikirannya sudah jalan-jalan keliling pulau sumatera, dia merindukan sesuatu yang sudah empat hari tidak dimakannya. Kecanduannya pada obat membuat otaknya benar-benar korslet.


“Cepat pijat! Pakai scrubnya jangan bengong saja! Kita ada diruang sauna dan tidak boleh lama-lama disini, ada batasan waktu.”


“Ya aku mengerti.” Bella mulai melakukan perintah Dante.


‘Aduh kenapa jantungku berdegup tak beraturan begini? Sebelumnya dia tidak pernah mengijinkanku tapi sekarang aku seperti kehausan dan menemukan air. Benar-benar kering setelah berhari-hari tak minum membuat rasanya jadi segar dan hilang dahagaku.” tangannya bukannya bergerak kebagian lain malah hanya berputar-putar dibagian itu saja. Dante menyadari apa yang dilakukan Bella.


‘Apa kau puas bisa menyentuhnya? Aku memang sengaja membiarkanmu melakukan ini semua hari ini. Hari ini kau boleh menyentuh tubuhku sepuasnya karena besok kau akan ikut kerumahku dan tidak akan ada lagi hal seperti ini. Aku akan berusaha kuat untuk melihatmu sebagai seseorang yang tidak kukenal. Hanya dengan cara itu aku bisa melupakan perasaanku padamu. Perasaan ini salah dan tidak pada tempatnya! Aku harus membatasi diriku, aku sudah menikah dan memiliki Tatiana dan hanya dia istriku! Gumamnya dalam hati semakin merasa khawatir karena sejujurnya didalam pikirannya masih dipenuhi kenangan masa lalu bersama Belinda alias Bella.


Dante selalu mengingat semua kenangan itu dan saat bersama Bella, perasaannya semakin besar dan ini yang membuatnya khawatir. ‘Kau hanya pengasuh anakku. Kau tidak punya tempat dihatiku! Aku melakukan ini semua untuk menyelamatkanmu, aku tidak mau kau ada dalam kehidupan itu. Dunia yang mengerikan, kau harus segera keluar dari sana!’ bisik hatinya merasa semakin tersiksa karena dia juga berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh Bella. Padahal itulah hasrat terbesarnya, dia sangat merindukan wanita itu, dia ingin menyentuhnya.


‘Kau tahu bagaimana rasanya saat kau memegang tubuhku? Rasanya aku ingin sekali memelukmu seperti dulu! Aku juga tersiksa sepertimu! Tapi aku harus menahannya, seperti sekarang aku berusaha menahan keinginanku walaupun aku sangat ingin menyentuhmu, aku merindukan kebersamaan kita dimasa lalu.’ bisik hatinya mati-matian mencoba mengalihkan pikirannya meskipun tetap saja pikirannya kembali kesana.


“Hei kenapa tidak kau pakaikan scrubnya? Kau hanya berputar-putar saja disitu dari tadi.”


“Maaf tuan, aku tidak bisa konsentrasi.”


“Hentikan gerakanmu disana. Aku sedang bicara denganmu!”


‘Duh galaknya, kan dia bisa bilang pelan-pelan. Menyebalkan…..tidak bisa pegang lagi.’ gumamnya sedih karena perintah Dante.


“Pakai otakmu padaku! Aku sudah bilang berulang kali kalau aku tidak menginginkanmu jadi lakukan yang benar. Meskipun kau menggodaku aku tetap tidak tertarik sampai kapanpun. Kau ingat itu!”


“Aku paham tuan.”


Bella mengerucutkan bibirnya. ‘Kenapa nasibku menyedihkan sekali? Aku tidak diinginkan, ini pertama kalinya seorang pria mengatakan itu. Dia tidak menyukaiku karena aku wanita bekas orang. Kata-katanya sangat menyakitkan! Tapi aku bisa apa toh ini juga bukan kemauanku. Aku juga ingin hidup sebagai wanita baik-baik tapi kenapa aku harus memikirkan kata-katanya? Aku harus bahagia, iyakan? Aku tak perlu capek-capek melayaninya.

__ADS_1


Tapi aku tetap tidak bisa menolaknya, kenapa dia memiliki tubuh yang mempesona. Sampai bagian belakangnya pun halus putih dan terawat. Tubuhnya kekar berotot padat…..aduh aku jadi gemas rasanya ingin bermanja-manja dengannya.’


“Sudah…..kelamaan! Bagian depannya sekarang, lakukan yang benar.” ucap Dante merubah posisinya.


Dante membalikkan tubuhnya membuat pikiran Bella kembali terusik, jangankan untuk konsentrasi memijat untuk merubah pandangan matanya saja dia kesulitan.


“Hei apa yang sedang kau pikirkan?”


“Aku…..itu…..” kalimatnya terputus karena fikirannya semakin kacau.


“Belinda Alexandra Amani! Kenapa kau menggigit bibirmu sambil senyum-senyum?”


Waduh wajahnya galak sekali membuat Bella mengatupkan bibirnya rapat.


“Maaf tuan, soalnya itu…..aku…..”


“I—itu…..”


“Kalau bicara tatap aku jangan bicara tapi matamu melihat kemana-mana.” kalimat yang diucapkannya itu seharusnya sangat memalukan bagi wanita normal tapi untuk Bella tanggapannya tidak begitu.


“Maaf Tuan tapi aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari sana. Apa tuan mau aku melakukan sesuatu?”


Pletak! Dante menyentil dahi Bella dengan kuat.


“Aduh sakit. Kenapa kau menyentil dahiku lagi?” tangannya segera memegangi keningnya.


“Pakai otakmu! Jangan pakai fantasimu, lakukan dengan benar. Aku sudah bilang tidak menginginkanmu. Kalau aku memang menginginkanmu seharusnya kau paham?”

__ADS_1


Dante bicara sambil tangan kirinya menjadi tumpuan sandaran kepalanya diatas tempat duduk kayu dan tangan kanannya disanggah kaki kanannya yang ditekuk membentuk segitiga sehingga dia bisa menyandarkan tangan itu dilututnya.


“Maafkan aku tuan. Aku harus bagaimana lagi kalau sudah benar-benar ingin. Aku juga maunya bisa menahan tapi aku tidak bisa, tuan.” Bella bicara sejujurnya sambil meringis menahan rasa sakit dikeningnya.


“Dasar tidak tahu malu! Kau sudah mengatakan kalimat itu berulang kali padaku!” Dante menatap nanar pada Bella.


“Aku sungguh tidak tahu, Tuan tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku ini. Huuu….” jawabnya dengan jantung yang berdetak semakin kencang. Mereka masih berada didalam ruang sauna dan berkeringat tapi tubuh Bella mengeluarkan keringat dingin karena dia tidak bisa menahan dirinya.


“Apa-apaan ini? Kenapa kau nangis?” ucap Dante.


“Ya, mau bagaimana lagi tuan…..aku benaran ingin bahkan sekarang kepalaku sakit. Aku benar-benar menginginkan obatku, bisakah?” Bella sudah tidak bisa lagi membedakan antara sebuah keinginan, kebutuhan karena pikirannya dipengaruhi oleh obat sejak lama. Dia sudah tidak bisa berpikir seperti orang normal dan membuatnya seperti orang bodoh.


Dia benar-benar membutuhkan terapi dan Dante juga menyadari itu.


“Apa kau selalu mengatakan hal yang sama pada klienmu?” cibir Dante dengan hati marah. ‘Aku akan terus menolakmu dengan kata-kata kasar agar kau tidak jadi semakin bodoh! Kau harus bisa melanjutkan hidupmu karena aku tidak bisa selamanya bersamamu, aku sudah menikah dan memiliki Tatiana dan Alex. Aku tidak bisa selalu menolong dan melindungimu meskipun aku ingin,’ ucap hatinya.


“Tidak, Tuan. Aku tidak pernah mengatakan itu pada mereka. Mereka selalu duluan menginginkan aku dan tidak pernah ada rasa didalam hatiku seperti yang aku rasakan padamu. Tapi tubuhmu memang yang terbaik Tuan…...apakah teman-temanmu itu juga punya tubuh bagus sepertimu?”


“Apa? Apa maksudmu bicara begitu?”


“Itu----keempat temanmu yang lain itu,mungkin kau bisa berikan satu padaku.”


“Jangan mimpi kau! Aku tidak akan pernah memberikannya padamu! Enak saja kau bicara! Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Cepat pijat aku lagi.”


“Iya tapi aku benar-benar pengen, Tuan! Tolong berikan aku sedikit saja ya, satu pil juga tidak apa-apa. Aku benar-benar tersiksa sudah tidak tahan lagi.”


“Kurang ajar! Berani-beraninya kau memohon padaku?” Dante menatap wanita itu dengan marah.

__ADS_1


“Aku benaran sudah tidak tahan lagi, aku bisa gila kalau begini terus. Ayolah Tuan berikan sedikit obatku saja.” Bella hampir menangis karena sangat menginginkannya.


__ADS_2