
“Alex!!” suara bariton terdengar memanggil nama Alex membuat Bella maupun Alex menoleh kearah datangnya suara dan senyum pun terpampang diwajah Alex begitupun Bella.
“Daddyyyyyy!” teriak Alex berlari mendekati pria yang memanggilnya, tangannya terbuka sudah siap menerima pelukan hangat dari sang ayah.
“Ah kebetulan sekali kau datang...ssss….aku titip Alex dulu ya. Aku mulas perutku sakit sekali,” Bella bicara meringis.
“Kau salah makan?” tanya Dante dengan senyum kecil melihat Bella yang wajahnya sudha pucat karena ingin cepat-cepat menghilangkan rasa mulas perutnya yang sudah tidak tertahankan.
“Ini gara-gara kau!” ujar Bella marah dan kesal. Sia pun berlari menuju ke mansion. “Aissss…..aku tidak pakai sandal pula. Sepatuku tadi juga tertinggal dihalaman belakang. Kaki ku kedinginan dan sakit.” gerutunya tapi dia sudah tidak punya waktu lagi untuk kembali mengambil sepatu, dia pun bergegas berlari menuju kamarnya.
Tidak lama, Bella membuka pintu lalu membantingnya dan berlari ke kamar mandi. “Uhhhhh sakitnya perutku. Kenapa bisa sesakit ini sih?” jeritnya sambil meremas perutnya dengan wajah yang sudah basah oleh keringat dingin. “Aku belum pernah sakit perut seperti ini sebelumnya. Ini sakit banget, mulas tapi susah sekali keluarnya...aaahhhhh” Bella berusaha keras menghentikan diarenya. Perutnya seperti dililit tali tambang.
“Sepertinya aku salah makan ya sampai sakit begini. Ya Tuhan! Sakit sekali, perutku tidak nyaman.” Bella meringis, lima belas menit berlalu barulah dia bisa menghentikan rasa mulas diperutnya. “Kenapa rasanya seperti ini ya? Membuatku panas dingin haduhhh lemas banget aku. Tidak pernah aku diare sampai seperti ini mulasnya.” ujar Bella.
“Huhhhh aku masih harus turun kebawah dan bermain lagi.” dalam hatinya dia merasa malas lalu dia mengambil air minum di pitcher yang tadi diantar pelayan bersama makanannya.
Tiba-tiba pintu terbuka saat Bella baru saja hendak menyentuh gagang pintu. “Ah kalian sedang apa disini?” tanya Bella membelalakkan matanya saat melihat ayah dan anak itu datang dan sudah berdiri didepan kamarnya.
“Sudah selesai?” tanya Dante.
“Entahlah. Tapi aku merasa lemas sekali Tuan Dante.” ucap Bella jujur.
“Alex ingin bermain lagi denganmu makanya aku membawanya kesini.” Dante bicara sambil menurunkan anaknya dari gendongan tangannya.
“Oh iya main. Ayo kita main lagi.” seru Bella mencoba tetap fokus dan ingin menggandeng tangan Alex keluar kamarnya tapi perutnya kembali mulas.
“Ada apa dengan perutmu?”
__ADS_1
“Sepertinya aku sakit perut. Ssss…..tidak nyaman sekali rasanya atau mungkin aku masuk angin ya? Tidak pernah sesakit ini.” Bella menghela napas untuk menenangkan diri.
“Bisa jadi.Atau kau mau pergi kerumah sakit? Kurasa kau harus mendapatkan pertolongan pertama disana. Kau harus diinfus.” Dante memberikan saran padanya sambil tersenyum.
“Ha? Rumah sakit? Tidak tidak….aku tidak suka rumah sakit. Aku benci jarum suntik, aku benci semua tentang rumah sakit.” Bella menggelengkan kepalanya dan bergidik ngeri merasa ketakutan, ia memilih mundur kedalam kamarnya lagi.
“Jadi kau tidak mau kerumah sakit?” tanya Dante sambil tersenyum penuh kemenangan, ada sesuatu yang tidak mungkin dia katakan pada Bella.
“Tidak! Aku tidak mau kerumah sakit.” dia bicara sambil mencibir. “Uhhhh…..sakitnya.” dia terus meringis lagi karena rasa sakit yang sudah tak tertahankan lagi.
“Aku ke kamar mandi dulu ya perutku sakit tak tertahankan.” Bella berlari kekamar mandi.
“Daddy! Bella sakit ya?” tanya Alex dengan rasa khawatir.
“Hemm...” Dante menganggukkan kepalanya. “Dia sakit perut.” Dante tertawa kecil merasa lucu dengan kejadian itu. Dia sudah membayangkan betapa beruntungnya dia hari ini bisa mencegah sesuatu terjadi pada Bella. “Ada bagusnya juga sakit perut” gumam Dante lalu melirik Alex. “Tunggulah disini ya, nanti kau boleh bermain dengan Bella lagi kalau dia sudah tidak sakit perut. Aku keluar dulu sebentar.” senyum diwajahnya tak lepas, dia merasa sangat senang.
“Temani Bella ok? Jangan kemana-mana, kau harus tetap disini bersama Bella.”
“Iya daddy.” jawab Alex yang menoleh kearah pintu kamar mandi yang tertutup dengan tatapan cemas.
Dante pun bergegas turun kelantai bawah. “Tolong panggilkan dokter keluarga dan minta dia segera datang secepatnya dan minta dia masuk ke kamar Nona Bella. Dia sedang sakit perut sepertinya dia terlalu banyak makan obat pencahar.”
“Baik Tuan Dante.”
Dante berbicara dengan kepala asisten rumah tangganya dan pria itu langsung menganggukkan kepalanya. “Oh ya satu hal lagi! Bisa kau beritahu aku dimana Anthony?”
“Anthony hari libur Tuan! Saya rasa dia sudah pergi sejak tadi.”
__ADS_1
Dante tersenyum puas dan menganggukkan kepala. “Terimakasih atas informasinya.” Dante tersenyum penuh dengan kemenangan. “Tolong segera siapkan mobil untukku!”
“Dante! Kau akan pergi?” Tatiana mendekat ketika melihat Dante bicara pada pelayannya.
“Iya. Aku ingin pergi keluar sebentar, ada beberapa urusan pekerjaan yang harus kulakukan!” Dante bicara sambil mendekati istrinya dan mengecup dahinya.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengurus Alex.” ujar Tatiana.
“Oh tidak perlu! Dia sedang bersama Bella, kau pergila beristirahat dikamar. Satu hal lagi aku tidak mau kau terlalu kelelahan dan akhirnya sakit. Aku tidak mau itu terjadi padamu. Kau harus istirahat dan rileks, ok?” lalu Dante menatap lembut istrinya.
“Tapi----apa kau akan kembali untuk makan siang?” Tatiana kembali bertanya tentang jadwal Dante hari ini sehingga dia tahu apa yang harus dilakukannya.
“Aku akan kembali makan siang.” Dante berjanji lalu mengecup dahi Tatiana lagi sebelum dia pergi.
“Mobilnya sudah siap Tuan!” ujar pelayan.
“Kalian boleh pergi!” ujar Dante.
“Tuan tidak butuh supir?” tanya pelayan itu lagi.
Seperti biasanya Dante hanya menggelengkan kepalanya. Dirinya merasa lebih nyaman melakukan segala sesuatu sendiri saja. Dia tidak ingin ada pelayan yang tahu apa yang dia lakukan diluar.
Dante melangkah keluar mansion lalu menaiki mobil pilihannya yang sudah disiapkan pelayan. Lalu melajukan mobilnya meninggalkan mansion menuju suatu tempat. “Aku tahu dimana keberadaanmu sekarang.” ujarnya tersenyum tipis. “Aku akan memberimu sedikit pelajaran kalau kau masih mau bekerja ditempatku, kau harus mematuhi aturanku atau keluar! Jangan pernah berharap semua akan baik-baik saja!” bisik hati Dante.
“Untung saja aku mendapatkan surat yang kau kirimkan untuk wanitaku! Ternyata kau sangat berani ingin mengajaknya jalan-jalan? Kau punya perasaan padanya, hu? Cuihh! Kau terlalu berani sebagai seorang pelayan, kau sungguh berani! Hanya orang-orang yang tidak tahu diri saja yang bernai menyinggungku dan mengambil wanitaku! Tidak akan kubiarkan siapapun menyentuh wanitaku! Dia spesial---sangat spesial untukku!” gerutu Dante geram melajukan mobilnya cepat menuju rumah sakit tempat para pelayannya biasa berkunjung.
“Unit gawat darurat, aku akan kesana. Dia bilang disuratnya kalau dia menunggu Bella disana.” Dante bicara sambil turun dari mobilnya setelah sampai dirumah sakit. Tapi dia masuk kembali kedalam mobil, “Aku rasa aku harus memakai topi dan jaket ini agar tidak ada yang mengenaliku. Semua orang mengenaliku dan jika ada yang melihatku disini maka mereka akan memanggil istriku.” bisik hati Dante lalu memakai jaket dan topinya baseball-nya.
__ADS_1