PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 120. KENAPA KAU MENANGIS BELLA?


__ADS_3

‘Kapan kau akan berani Alex? Apa sebenarnya yang membuatmu mersa takut dan tertekan sehingga sulit bagimu untuk mengutarakan keinginan dan isi hatimu? Apa aku harus membawanya ke psikiater? Tapi anak ini masih berusia empat tahun, apa mungkin ini hanya kebiasaan anak-anak seusianya? Mungkin dia hanya malu-malu.’ Dante berusaha memahami putranya karena dia juga tidak memahami sikap anaknya selama ini.


“Kenapa kau masih diam saja? Bukalah pintunya dan panggil dia kesini. Ayo.” Dante berdiri dan Alex pun tersenyum ceria lagi. ‘Kau merindukan wanita itu ya? Baiklah aku tidak akan mengganggu kalian.’ bisik hati Dante lagi. Dia berdiri didepan pintu penghubung lalu berbisik pada Alex. “Pergilah. Panggil dan bawa dia kesini. Aku tidak akan masuk kesana, aku hanya membantumu membukakan pintu. Ok?”


“Terimakasih daddy.”


“Kau membuat hatiku senang dengan satu ucapanmu Alex. Aku juga berterimakasih padamu karena kau mau mendengar ucapanku.” Lalu Dante meletakkan tangan Alex di handle pintu seolah-olah Alex yang membukanya lalu dia membuka pintu tapi sosoknya tidak nampak karena berdiri dibelakang Alex dan bersembunyi dengan bersandar dibalik dinding.


“Bella.” panggil Alex langsung berlari masuk dan menuju tempat tidur Bella.


‘Kau sangat menyukai Belinda bukan?” ucap Dante yang duduk ditepi tempat tidur Alex, dia masih bisa mendengar suara putranya dan Bella karena pintu penghubung masih terbuka setengah.


“Alex, kenapa kau kesini?” tanya Bella yang masih didengar oleh Dante.


“Bella, kenapa kau menangis?” tanya Alex yang juga didengar oleh Dante sehingga membuat hatinya terasa sakit dan perih, dia merasa tidak nyaman mengetahui Bella menangis.


‘Apakah perbuatanku tadi yang membuatnya menangis?’ hati Dante semakin kalut. ‘Tapi aku tidak salah, dia sendiri yang mengatakan hal buruk tentang istriku. Aku tidak suka dengan caranya, biasanya dia selalu jujur padaku, sikapnya polos tapi sekarang dia benar-benar penuh intrik.’ ujar hati Dante yang menahan dirinya untuk tetap duduk disana mendengarkan percakapan dari kamar sebelah.


“Bella, kenapa kau diam? Kenapa kau tidak mau menjawabku?” tanya Alex memegang wajah Bella.


‘Alex, kau menanyakan keadaan Bella?’ sejujurnya Dante tercengang mendengar anaknya yang banyak bicara dengan Bella karena dia tidak pernah mendengar dan melihat putranya bertanya tentang keadaan orang lain dan ini pertama kalinya Dante mendengar betapa pedulinya anak itu pada Bella.


“Aku tidak menangis Alex, sayang. Aku hanya meluapkan emosiku.” jawab Bella.


“Emosi? Apa itu Bella?” tanya Alex penasaran karena dia belum paham.


‘Huh sejak kapan dia ingin tahu urusan orang lain? Aku tidak pernah melihat Alex bersikap seperti ini,’ lagi-lagi Dante semakin tertarik mendengarkan pembicaraan mereka.


“Meluapkan emosi itu adalah saat kau tidak bisa mengutarakan semua emosimu pada seseorang, yang bisa kau lakukan hanya menangis. Dengan begitu kau akan merasa lega.” ujar Bella menjelaskan.


“Kau tidak suka orang itu?” tanya Alex lagi.

__ADS_1


“Sangat tidak suka! Aku membencinya sampai keubun-ubun. Bahkan kalau bisa aku tidak ingin melihatnya lagi. Dia adalah orang yang paling menyebalkan didunia ini.”


“Apa kau mau aku melawannya?” tanya Alex lagi.


“Ha ha ha ha kau baik sekali padaku Alex. Aku benar-benar ingin kau melawannya tapi sekarang kau belum cukup kuat untuk melawannya. Nanti saja kalau kau sudah besar dan sudah kuat melawannya ya.” jawab Bella tertawa.


‘Kurang ajar sekali kau! Apa kau sedang menyuruh anakku untuk melawanku setelah besar nanti?’ tanya Dante dalam hati tapi dia masih saja duduk diam mendengarkan percakapan dari kamar sebelah.


“Kapan aku bisa melawannya untukmu Bella?”


“Tidak usah kau pikirkan Alex. Hei, ngomong-ngomong kenapa kau datang kesini? Kau merindukanku ya?” goda Bella.


“Aku lapar Bella.” ucap Alex yang membuat hati Dante sakit. ‘Apa-apaan anak ini. Tadi dia bilang padaku kalau dia tidak mau makan. Lalu kenapa sekarang malah dia bilang pada Bella kalau dia mau makan?’ Dante merasa tak suka mendengar ucapan anaknya.


“Alex, maaf ya aku tidak punya makanan disini. Aku juga tidak boleh keluar dari kamar ini. Kau mau makan? Kenapa kau tidak turun kebawah dan minta makanan ke dapur?”


“Aku tidak mau makan!” jawab Alex.


‘Ada apa dengan Alex? Kenapa dia bisa mengutarakan semua keinginannya pada Bella, tapi dia tidak berani mengutarakannya padaku? Bahkan dia mendiamkanku dan Tatiana? Apa yang dilakukan olehnya? Kenapa dia bisa membuat putraku bisa bicara lancar?’ Dante bertanya-tanya dalam hatinya sambil berjalan turun kebawah.


“Dante! Ini Lorenzo sudah datang!” Tatiana memanggil suaminya saat dia melihat pria itu menuruni tanggan.


“Kalian bicara saja dulu, aku mau ke dapur dulu.”


“Apa Alex menginginkan makanan?” Tatiana yang tahu tujuan Dante masuk ke dapurpun langsung bertanya, dia tidak ingin suaminya memasakkan makanan untuk Bella lagi.


“Hemmm…..” hanya gumaman saja sebagai jawaban dari Dante.


“Apa kau tidak mau makan bersama kami, Dante?” Tatiana kembali menguraikan pertanyaannya.


“Aku akan bergabung dengan kalian nanti. Aku masak sebentar, tidak akan lama. Aku akan mengantarnya ke kamar Alex. Setelah Alex makan aku akan bergabung dengan kalian disini. Tidak apa-apa kan sayang?” tanya Dante yang berjalan mendekati Tatiana.

__ADS_1


“Oh tidak apa-apa.” jawab Bella tersenyum


“Kalau begitu tunggulah. Aku akan menyuruh pelayan untuk membawa makanan itu keatas. Aku akan segera bergabung denganmu.”


“Baiklah, kalau begitu Dante!” Tatiana melambaikan tangannya membiarkan suaminya pergi ke dapur.


“Selamat malam Tuan! Apa anda ingin memasak?” tanya koki dengan senyum diwajahnya.


“Berikan aku steak kesukaan Alex.”


“Baik Tuan!”


“Berikan empat ratus gram!” saat dia melihat koki  itu membawa hanya dua ratus gram, dia pun segera meminta lebih.


“Anda ingin membuat dua steak Tuan?”


“Satu steak saja! Aku hanya akan menaruh jadi satu piring.” jelas Dante.


“Baik, Tuan.”


‘Tadi pagi aku melihat sisa makanan di piring yang diantarkan pelayan itu padamu, itu bukan makanan buatanku Bella! Itulah alasan mengapa aku menghukum para pelayan itu! Tapi aku memakai alasan surat untuk menutupinya, aku khawatir mereka mengganti makanan Bella. Seseorang bisa saja meracuninya seperti tadi, jadi lebih baik aku menggabungkan makanan Alex dan Bella di satu tempat!’ ucap Dante dalam hatinya yang sudah salah paham dengan pelayannya dan kini dia merasa tidak nyaman karena masalah Anthony.


“Sudah siap! Kau bisa mengantarkannya pada Bella.” ujar Dante.


“Baik Tuan!” kepala koki pun mengangguk dan Dante bergegas bergabung bersama Tatiana. Tapi tiba-tiba pintu belakang terbuka dan menimbulkan bunyi berderit sehingga semua orang menoleh kearah belakang. “Anthony! Darimana saja kau? Kenapa baru datang sekarang?”


“Hari ini adalah hari liburku makanya tadi aku keluar!” jawab Anthony.


Suara seseorang itu membuat Dante diam ditempat dan membalikkan badannya menatap pria itu. ‘Berani sekali kau kembali kerumahku! Tentu saja kau berani, kau belum tahu kalau aku sudah mengirimkan temanmu ke neraka! Hemmmm tinggal kau sekarang, apakah pasukanmu akan berani datang kesini dan menolongmu? Huh aku rasa tidak! Kau akan merasakan pembalasan yang setimpal karena sudah berani menyusup kedalam rumahku.’ bisik hati Dante menatap Anthony tanpa ekspresi.


“Selamat malam Tuan Dante!” sapa Anthony seolah tidak ada apapun yang terjadi. Dia tidak merasakan adanya ancaman apapun, justru dia bersikap sopan ketikat melihat tatapan mata Dante yang terus tetruju padanya. “Berikan piring itu padaku Henry!” pinta Dante pada kepala pelayannya.

__ADS_1


__ADS_2