PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
Bab 11. Cinta Dua Bayi


__ADS_3

Cinta Dua Bayi


Lodi memandang Mentari yang tidur bersisian dengan Fajar. Fajar memakai baju biru, sedang baju Mentari pink. Dua bayi mungil itu begitu lelap. Lodi menyentuh lembut pipi Fajar, lalu gantian pipi Mentari.


"Lucu sekali kalian berdua ini. Satu ayah, dua ibu kandung, tapi satu ibu susu."


Lodi kembali tersenyum melihat mereka berdua. Kehadiran dua makhluk itu sungguh obat mujarab bagi Lodi. Jarang sekali mereka lelap bersama di waktu siang. Biasanya satu nangis, satu menyusul. Pipis juga begitu. Netek pun iya. Dan Alhamdulillah, sejauh ini ASI Lodi cukup untuk mereka berdua.


"Fajar, besok kalau kamu sudah besar, lindungi adikmu. Secara kau laki-laki. Kau juga seorang kakak. Kalau ada yang menganggu Mentari, hajar mereka!"


"Astaga, Lodi, jangan suruh semua kakak seperti dirimu," kata Bu Sum yang tahu-tahu sudah di belakang Lodi.


"Memang kenapa, Bu? Apa sikapku kurang baik ke Nada?"


"Heh, bukan begitu. Tapi, jangan para kakak sampai terbebani karenanya."


"Menyayangi Nada bukan beban bagiku, Bu."


"Iya, Ibu tahu. Tapi, menurut ibu tidak benar orang tua yang menuntut anaknya menjadi seperti mereka."


Lodi bangkit, lalu menuju luar kamar. Berbincang di dalam takut menganggu tidur dua bayi. Pintu pun dia tutup dengan pelan nyaris tanpa suara.


"Coba bayangkan kalau ibu menuntut kalian jadi PNS seperti Bapak atau Ibu, tentu tidak akan jadi pedagang sukses seperti sekarang. Iya kan?"


"Iya, Bu. Tapi seorang kakak laki-laki yang melindungi adik perempuan ... Itu sudah seharusnya, kan?"


Bu Sum mengelus rambut Lodi pelan. Anak sulungnya ini memang keras kepala. Mirip Inayah, ibu kandungnya.


"Iyo, Nduk. Tapi jangan sampai Fajar terbebani ya?"


Lodi mengangguk sambil tersenyum.


"Oh ya, tadi Sumbang ke sini. Titip uang buat kamu. Buat beli keperluan segala macam untuk kedua anaknya."


"Oh," sahut Lodi dingin.


"Katamu sudah memaafkan, kenapa masih ketus begitu ke Sumbang?"


Lodi hanya menjawab dengan helaan napas panjang. 'Kalau mau ngasih uang, ya kasih saja ke aku. Mengapa harus lewat ibu? Mau pamer ke ibu, gitu? Nih, aku seorang ayah yang bertanggung jawab.'


Lodi ngedumel sendiri dalam hati. Mau ngedumel di luar hati nggak enak sama ibu.


"Memaafkan, bukan berarti aku nggak boleh ketus sama dia kan, Bu?"


"Iya ... Ibu ngerti, Lod. Ibu juga nggak akan membujuk kamu balik sama dia, kok. Hanya ... Dia tetap bapaknya Fajar dan Mentari. Seorang anak itu, pasti butuh sosok ayah."


"Memang nggak bisa ya, aku jadi ibu sekaligus ayah bagi mereka?" protes Lodi.


"Mungkin bisa. Ibu hanya mengingatkan, kamu mungkin tidak butuh Sumbang. Tapi Fajar dan Mentari ...."


Oeekkk


Oeekkk


"Mentari nangis, aku ke kamar dulu, Bu."


'Akhirnya, aku ada alasan untuk tidak bicara soal Sumbang. Malesi ....'

__ADS_1


***


/Kita jalan-jalan ke pantai yuk/


Sebuah chat masuk ke WA Lodi. Dari gambar PP, Lodi tahu itu Hendar.


/Aku masih berduka karena kepergian adikku/


/Justru itu. Aku nggak pengin kamu terus-terusan sedih/


"Prett. Terus terang aku sebel banget sama Hendar. Kalau kublokir, besok dia ganti nomor. Sudah dua kali kublokir, tetep aja. Tuh orang memang nggak tau malu!"


Santi hanya tersenyum menggoda mendengar cerita Lodi.


"Aku sebel beneran nih, kok kamu malah senyum?"


"Sudah jelas dia PDKT," ujar Santi.


"Justru itu. Sudah jelas aku sebel banget sama dia. Nomor kublokir. Dia nggak sadar apa, arti itu semua?"


"Kamu nggak ingat bagaimana Hendar waktu SMA? Pas dia naksir Amel yang jadi mayoret dan cover girl itu?"


Lodi menggeleng kuat," emang gue pikirin?"


"Bukan begitu ... Dia gigih banget juga. Ingat nggak sih, dia baca puisi dan bawa bunga di tengah lapangan? Tuh Amel, sampai nangis saking malunya ...."


"Masak? Mestinya heboh dong. Kok aku sampai nggak ngerti gitu?"


"Kayaknya ... Kamu pas izin ngantar Nada ke mana, gitu."


"Satu sekolahan ... Heboh! Jadi kalau cuma diblokir tapi nekat, itu sih nggak ada apa-apanya!"


"Gitu, ya? Terus orang model gitu bagusnya sikap kita gimana?"


Santi menyeruput jus stroberi di depannya. Segarrr. Mereka berdua sedang hang out di sebuah kafe. Dua emak yang sedang me time dan jadi we time.


"Kalau nurutku nih, Lod ... Diemin aja. Nomernya kasih nama. Tapi jangan biarkan dia bisa baca story WA-mu. Lalu, kalau dia kirim chat, cuekin. Cuekin secuek cueknya."


"Hm ... Saranmu boleh juga. Oke deh, akan kucoba."


"Sebab ya, orang macam dia semakin ditolak justru semakin bertindak."


"Tapi aku kan memang menolak," kata Lodi protes.


"Maksudku, kamu nggak usah menolak dengan blokir, memaki dan sebagainya. Itu malah seperti bahan bakar buat dia. Tapi kalau kamu diam, nggak peduli, dia lama-lama capek."


"Iya ... Iya."


***


Saat Lodi ke kios, Sumbang sudah menunggu di sana.


"Aku tadi ke rumah, ibu bilang kau sudah berangkat ke kios. Jadi aku menyusul kemari. Ternyata, aku malah sampai duluan," kata Sumbang sambil tersenyum manis.


Senyum itu, dulu yang membuat Lodi klepek klepek dan menerima lamaran Sumbang. Dulu ....


"Aku isi bensin dan menambal ban dulu. Ada apa?"

__ADS_1


"Aku ingin kau ke rumah."


"Ngapain?"


"Beberapa barang Nada masih ada di rumahku. Dan beberapa ... Sepertinya ada kenangan bersamamu. Album yang penuh foto kalian berdua, juga barang lainnya. Apakah kau ingin melihat barang itu dulu, atau baiknya bagaimana?"


"Baiklah. Aku akan ke rumahmu."


"Kapan?" tanya Sumbang antusias. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa suka akan kedatangan Lodi.


"Besok siang saja ya. Tapi ingat, begitu ambil barang Nada, aku langsung pulang."


"Oke, aku tunggu besok ya."


Baru saja Sumbang beranjak dan berniat pergi, muncul Hendar.


"Lodi cantikkk ... Kenapa tidak kau jawab WA-ku?"


Dan Sumbang langsung urung pergi melihat Hendar.


"Siapa dia?" tanya Sumbang lirih ke arah Lodi dengan pandangan menyelidik.


Lodi memandang Sumbang tajam,"bukan urusanmu."


"Tentu saja urusanku," jawab Sumbang tak mau kalah.


"Mau beli batik lagi? Kalau iya, uang muka 75% ya?" Kali ini Lodi bertanya pada Hendar.


Sungguh pagi yang menyebalkan. Ada Sumbang sekaligus Hendar. Huh!


"Zula, Juki mana?"


"Dia bilang hari ini nggak ke sini. Mau antar Mbak Santi kemana, gitu."


"Oh."


Ada sedikit rasa kecewa di hati Lodi. 'Kalau ada Juki, aku bisa pura-pura ada perlu dengan dia.'


"Mungkin bulan depan aku pesan batik. Kali ini, aku ingin mengajakmu makan."


"Aku masih kenyang," sahut Lodi datar. sumbang lega mendengar jawaban Lodi.


"Bukankah ibu menyusui harus makan banyak?"


"Betul. Makanya aku bawa bekal dari rumah. Tak perlu makan di luar."


Sekali lagi Sumbang lega mendengar jawaban Lodi. 'Ibunya anak-anak sepertinya tidak ada rasa dengan orang ini."


"Dik Lodi, aku pamit dulu ya," kata Sumbang tanpa memedulikan kehadiran Hendar.


Lodi menjawab dengan lambaian tangan.


"Siapa dia?"


Kali ini Hendar yang kepo. Dijawab dengan kalimat yang sama," itu bukan urusanmu!"


Nah, lho!

__ADS_1


__ADS_2