PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
Bab 8. Ikatan Darah


__ADS_3

Ikatan Darah


"ASI lancar, Mbak?"


Lodi mengangguk sambil tersenyum. Nada ke rumah khusus menengoknya. Ibu belum pulang dari umroh. Kini mereka hanya berdua.


Hujan di luar mengguyur dengan deras. Mereka hanya berdua di rumah. Eh, bertiga. Ada si bayi. Dan tiba-tiba, listrik padam.


"Kau masih ingat saat hujan lalu mati lampu? Kita juga hanya berdua waktu itu," tiba-tiba Lodi bertanya.


"Lalu air tiba-tiba masuk rumah. Aku ketakutan setengah mati," sahut Nada.


Keduanya lantas terdiam. Pikiran mereka terbang ke masa sekian tahun silam. Saat mereka masih kanak-kanak. Ibu dan bapak pergi ke luar kota tanpa mengajak mereka. Takziyah.


"Mau keluar, hujan sangat lebat. Tetap di dalam, kebanjiran," gumam Lodi.


"Kakiku masih utuh saat itu, jadi bisa cekatan naik atap. Mbak mengingatkanku untuk bawa makanan dan minuman."


"Iya. Untunglah Pak Sobir segera datang menolong, ya."


Kedua saudari itu lantas tertawa. Sejenak lupa dengan perselisihan di antara mereka berdua.


"Aku bawakan sayur daun katuk. Kurang cocok dimakan saat hujan begini. Tapi, demi lancar ASI, gimana lagi?"


"Terima kasih."


Benarkah daun katuk memperlancar ASI? Penulis pun tidak tahu persis. Tapi cinta yang terkandung di dalamnya, sesuatu.


"Boleh kugendong bayimu, Mbak?"


Lodi menjawab dengan menyerahkan bayinya ke Nada.


"Ia tampan." Nada bicara sambil mengelus pipi bayi.


"Mirip ayahnya."


Pernyataan Lodi membuat Nada menunduk. Tangan kanannya bergerak menggenggam tangan Lodi.


"Maafkan Nada, Mbak."


Lodi menghela napas panjang. Ganti menggenggam tangan Nada.


"Dia baik padamu?"


'Dia jarang menyentuhku. Dia tak menyukai teh buatanku. Bahkan sangat mungkin menyesali pernikahan kami.'


"Ya. Alhamdulillah."


"Syukurlah. Kalau dia macam-macam, aku tak segan memperlakukan dia seperti Bondan."


"Mbak ...."


Spontan Nada menjatuhkan diri ke badan Lodi. Lalu memeluk erat. Ada air mata yang tumpah.


Lodi membalas pelukan itu hangat.


"Sudahlah, Nad. Mbak memaafkanmu."


***


Bu Suminah meremas-remas tangannya. Dan berkali membetulkan jilbab yang sudah betul.


"Tenan, kan. Lodi lahiran saat kita di sini."


"Sudahlah, Bu jangan cemas. Ayo kita ke masjid. Berdoa di roudhoh."


Bu Suminah segera mencari kaos kaki. Bergegas mengikuti langkah suami. Jarak hotel ke masjid Nabawi hanya 1 km. Tapi tak terasa. Nuansa ibadah begitu kental. Sesekali melewati rombongan merpati liar yang jinak.


Mencapai roudhoh bukan perkara gampang. Berebut orang berdoa di tempat mustajab itu. Beruntung Bu Suminah bisa masuk.


"Ya Alloh mudahkan proses kelahiran Lodi. Ya Alloh lindungi anak-anakku Melodi dan Nada. Rukunkan mereka berdua, apapun yang terjadi. Jagalah selalu kasih sayang di antara mereka."


Air mata Bu Sum mengalir deras melantunkan doa itu. Lodi dan Nada bukan anak kandungnya. Mereka anak Inayah. Istri kedua Pak Bardi.


"Mbak, aku titip anak-anakku."


Inayah adalah ibu kandung Nada dan Lodi. Kanker usus stadium 4 memaksa dia mengucapkan kalimat itu. Lodi masih tiga tahun, sedangkan Nada masih merah, baru 3 bulan.

__ADS_1


"Kamu akan sehat, In. Selama berobat, anak-anak bersamaku. Kalau kamu sudah sehat, kita akan bersama lagi."


Hanya empat bulan Inayah bertahan. Lodi dan Nada menjadi piatu. Tapi hanya secara formal. Jiwa mereka tetap terisi oleh kasih sayang Bu Suminah. Sampai sekarang.


"Kamu juga mendoakan Nada kan, Pak?"


Pak Bardi mengangguk. "Tentu."


"Aku sangat berharap mereka berdua rukun seperti dulu."


Pak Bardi mengenggam tangan istrinya.


***


Bu Suminah sungguh tidak sabar tiba di rumah.


"Kita punya cucu, Pak."


"Iya, Bu. Kamu sudah jadi nenek. Tapi tetap cantik."


"Ah, gombal."


Tawa keduanya berderai.


"Kamu tahu apa yang paling kuinginkan saat ini, Pak?"


"Mandi dan pijet?"


Bu Sum menggeleng. "Itu sih kamu, Pak. Senenge pijet."


"Lha apa, Bu?"


"Melihat Lodi dan Nada rukun."


"Doamu segera terkabul, Bu."


"Ah, Bapak sok tahu."


"Bener."


"Kau tahu kenapa?"


Bu Sum menggeleng.


"Karena aku selalu ridho dengan dirimu."


Sudut bibir Bu Sum terangkat ke atas.


"Bapak ngrayu terus. Kangen ya?"


"Kok tahu?"


Bu Sum mencubit tangan suaminya pelan. Perjalanan pulang cukup melelahkan. Sempat transit di Kuala Lumpur selama 2 jam.


"Aku nggak sabar pengin lihat cucu," kata Bu Sum.


"Sabar, Bu. Sejauh ini sudah sesuai jadwal, kan?"


"Iya, Pak."


Mereka berdua tiba di bandara Ahmad Yani bakda asar. Sebenarnya ingin bergegas pulang. Tapi karena bersama rombongan, jadi tetap mampir sana sini meski sebentar.


"Assalamualaikum."


Bu Sum dan Pak Bardi tiba di rumah bakda isya. Sekitar jam 8, belum terlalu malam.


"Waalaikum salam."


Nada membukakan pintu.


"Lho, kamu di sini, Nduk?"


"Iya, Bu. Kasian Mbak Lodi sendiri. Sekalian aku belajar ngurus bayi kecil. Sebentar lagi aku kan juga melahirkan."


"Masyaalloh."


Bu Sum memeluk bungsunya.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Terima kasih ya Alloh Engkau langsung menjawab doaku. Tanpa jeda."


Pak Bardi memeluk keduanya.


"Alhamdulillah."


***


Mau tahu sifat asli seseorang? Bepergianlah dengannya. Atau berdagang.


"Mbak Lodi, ada orang mengaku bernama Hendar. Dia marah karena jumlah kemeja tidak sesuai pesanan," kata Juki di telepon.


Semenjak melahirkan, Lodi jarang ke kios. Dia percaya dengan Juki dan Zula.


"Hendar? Marah? Nggak keliru?"


"Dia memaksa akan membawa kemeja. Tapi aku larang."


"Aku kesitu. Kamu tetap di situ ya, Juki."


Lodi bergegas ke kios. Butuh waktu sekitar 30 menit. Bayi ia titipkan ke ibu sebentar.


"Mana Hendar?"


"Aduh Mbak Lodi, dia marah-marah. Zula ngeri. Untung ada Mas Juki."


Lodi memandang Juki.


"Pak Hendar marah karena jumlah kemeja kurang. Lalu memaksa mau ambil yang sisa. Saya larang. Tambah marah, trus pergi."


"Kau tidak minta nomor HP?"


"Dia tidak bersedia ngasih. Katanya mau langsung menghubungi Mbak."


"Apa sih mau dia? Dia yang ingkar janji. Kok dia yang marah?"


Lodi masuk kios. Memeriksa tumpukan kemeja yang sudah tinggal separuh. Masih 100 kodi. Kecekatan Juki lah yang sangat membantu. Memasarkan. Menghubungi pengrajin minta tukar barang.


"Mbak Lodi mau lotek?"


Juki menyodorkan dua bungkus lotek. Satu untuk Lodi. Satu untuk Zula. Ada teh hangat juga.


"Lha buat kamu mana, Juk?"


"Juki rajin puasa sunah, Mbak," sahut Zula.


Zula dan Lodi makan bareng. Nikmat.


Tuttt


Tuttt


Tuttt


Ibu memanggil.


"Ah, apakah si kecil Fajar rewel?"


"Lodi, ini ada temanmu ke rumah. Hendar."


"Hendar?"


Zula dan Juki yang masih ada di kios sontak memandang Lodi.


"Kenapa Pak Hendar, Mbak?"


"Dia ke rumah. Entah apa maunya."


"Habiskan dulu loteknya, Mbak. Nanti Juki temani saat ketemu Pak Hendar."


"Setuju," sahut Zula mantap. "Tadi tuh ngamuknya ngeri. Biar Juki menemani Mbak Lodi. Kalau Pak Hendar macem-macem, Juki biar turun tangan."


"Begitu? Setahuku Hendar nggak gitu-gitu amat. Tapi baiklah. Ayo Juki, temani aku."


"Asiyappp."


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2