
“Aku lelah sekali, aku mau kembali dulu ke kamar.”
“Aku juga sama, aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Anthony dan Ricci pergi lebih dulu sedangkan Sharon dan Rita bertugas untuk membersihkan sisa makanan didapur setelah jam makan siang.
“Senang sekali rasanya bisa bermain bersama teman! Aku sudah lama tidak berteman dengan siapapun.” bisik Bella dalam hatinya dengan bahagia. Dia berjalan naik ke lantai atas dengan langkah kaki yang riang.
“Kemana saja kau, ha?” sapaan seorang wanita yang sedang berjalan menuruni tangga membuat Bella membeku ditempat.
“Anda sudah pulang nyonya?” Bella mengerjapkan matanya. Dia malas berurusan dengan wanita itu.
“Ya iyalah! Kau tahu kalau aku tadi pergi?” tanya Tatiana mencibir.
“Hmm tadi pelayan yang lain memberitahuku.” jawab Bella polos.
“Baguslah Bella, aku senang dengan hasil kerjamu hari ini.”
“Apa?” Bella yang heran mengerjapkan matanya. ‘Kenapa dia bilang begitu? Sepertinya hari ini aku tidak bekerja, aku hanya membuat masalah dengan suaminya sehingga anaknya dibawa terus aku makan dibelakang dan bermain-main.’ gumamnya dalam hati.
“Kalau kau bekerja seperti ini lagi, aku akan semakin senang! Lakukan lebih sering ok!” tutur Tatiana sambil menepuk-nepuk bahu Bella dan dia turun ke bawah. “Haa….satu lagi! Jangan masuk keruang kerja suamiku! Jangan mengganggunya dan jangan ganggu anakku selagi aku melakukan yoga! Kau paham itu?” pesan Tatiana denagn suara dingin penuh penekanan. Bella tahu jika wanita itu sedang mengancamnya dan tidak suka dia dekat dengan Alex.
“Apa maksudnya ya aku tidak mengerti! Lagipula aku tidak tahu dimana ruang kerja suaminya kalaupun aku tahu, aku juga tidak berminat! Dia pasti hanya akan menghinaku dan aku juga tidak berniat masuk ke kamar anaknya kalau tidak disuruh!” gumam Bella tak paham tapi dia tetap berjalan menuju kamarnya. “Biar sajalah yang penting dia tidak marah padaku! Dasar wanita aneh!” celoteh Bella lagi dengan bersemangat membuka pintu kamarnya.
“Ah! Gelap sekali! Siapa yang menutup jendela kamarku?” buru-buru Bella mencari saklar lampu sambil meraba-raba disamping pintu. Klik!!
“Huff syukurlah lampunya sudah menyala!” ucap Bella senang lalu dia menutup pintu kamarnya.
“Senang ya bermain-main diluar?”
__ADS_1
“Ha! Tu—tuan, sedang apa kau disini?” Bella bertanya dengan gelagapan. Baru saja wanita itu mengancamnya sekarang suaminya malah berada dikamarnya. Aduh! Mati aku kalau ketahuan.
“Sudah puas kau bermain dibelakangku, ha?”
Glek! Bella menelan salivanya sambil memandang Dante dan berusaha untuk mengeluarkan suara dari tenggorokannya.
“Emm….aku….aku...” lidahnya mendadak kelu tak mampu bicara. ‘Aduh kenapa aku sulit mau bicara? Semua kata-kata yang ingin kuucapkan sudah ada dikepalaku tapi bagaimana caranya untuk mengatakannya ya?’ Bella masih belum bisa mengontrol dirinya karena kaget. Rasa takutnya pada Dante yang tiba-tiba berada didalam kamarnya membuat Bella tidak bisa fokus.
“Kenapa diam! Sulit untukmu bicara dan menjelaskan padaku sekarang? Bukankah tadi kau sangat senang bermain-main, kau terlihat sangat bahagia bisa mengobrol dengan teman-temanmu dan kau bicara lancar.”
“Aku----iya tuan.” Bella menjawab asal. ‘Ada apa lagi sih dengan pria ini? Kenapa dia bertanya begitu, lalu kenapa dia malah berjalan mendekatiku dengan tatapan matanya yang sadis itu? Apa sih maunya dia ini?’ bisik hati Bella yang merasa cemas karena Dante berjalan mendekat tanpa bicara sehingga Bella terpaksa berjalan mundur untuk menjauhi Dante.
“Apa enak tadi ya saat kau bersenang-senang main bola voli ada seornag pria yang menangkapmu dibelakang saat kau jatuh?”
Bella membelalakkan matanya tak percaya, ‘Ha dia tahu semuanya? Berarti tadi dia melihat dong waktu aku main-main dibelakang?’ Bella ingin menjawab tapi kalimatnya belum juga keluar dan rasa takutnya semakin besar saat melihat pandangan mata Dante yang membuatnya lebih memilih diam dan terus berjalan mundur ke belakang. ‘Kenapa dia menatapku seperti itu sih?’
‘Ugghhh dinding? Aku udah mentok tidak bisa lari kemana-mana lagi, tapi kenapa dia tidak berhenti juga sih?’ bisik hatinya. Bella masih tetap diam ditempatnya sementara Dante tetap maju mendekat.
“Kenapa diam? Tidak bisa menjawab pertanyaanku?” kalimat itu mengalir keluar dengan penuh tekanan, dia semakin dekat pada Bella.
“Tuan….aku.” hanya kata itu saja yang bisa keluar dari bibirnya. ‘Bukankah tadi katanya dia ada diruang kerja? Tapi kenapa malah dia ada disini sih? Aduh, mampus aku kalau sampai istrinya tahu.’
“Aku beri satu kesempatan lagi! Lima detik kuberikan padamu untuk bicara.” Dante sudah berdiri tepat dihadapan Bella dan melirik jam tangannya.
‘Lima detik untuk bicara? Apa-apaan sih dia ini?’ ucap hati Bella mulai kesal.
“Waktumu sudah habis!” Dante memicingkan mata pada Bella. “Kau sudah melakukan beberapa kesalahan hari ini dan kau harus mendapat hukuman!”
__ADS_1
DEG!
Seketika jantung Bella rasanya mau copot mendengar ucapan Dante.
‘Hukuman? Hukuman apalagi yang akan diberikannya padaku? Memangnya aku salah apa? Apakah karena aku tidak memandikan Alex?’ Bella mencoba memikirkan kesalahan apa yang dia lakukan sehingga membuat Dante sangat marah.
“Buka!” ucap Dante sambil memegang kerah baju Bella.
“Iya Tuan.” jawab Bella. ‘Haaa….ternyata dia hanya ingin menghukumku membuka pakaian? Hanya segitu saja hukumannya? Sepertinya dia akan menghukumku dengan cara biasanya, sekedar menggoda dan menyentuh atau bermain-main saja? Duh gitu aja kok membuat aku jantungan!’ bisik hati Bella sambil membuka pakaiannya sendiri.
“Sudah tuan.”
“Buka!” bentak Dante kembali. Ternyata perintah ternyata belum berhenti sampai disitu saja, Dante tidak banyak bicara, hanya satu kata dan tangannya memegang pakaian bawah Bella dan wanita itupun langsung mengerti apa yang diinginkan Dante. ‘Hem sialan! Lagi-lagi dia menjadikan aku seperti bayi polos! Ha ha ha ha dasar gila!’ saat ini Bella sangat ingin tertawa melihat wajah Dante yang menegang dan dia rasanya ingin menggoda pria itu.
“Sudah tuan! Semua sudah dibuka dan tak ada yang tersisa!” jawab Bella setelah dirinya berdiri polos tanpa sehelai benangpun ditubuhnya. Kedua tangannya mengepal disamping.
Dante hanya diam tak mengatakan sepatah katapun, dia hanya menatap lurus dengan tajam pada Bella. Sinar matanya penuh kemarahan yang siap dimuntahkan. ‘Apa yang mau dilakukannya? Biasanya tangannya itu langsung pegang-pegang tapi kok ini tidak ya? Apa dia hanya ingin memandang tubuh polosku saja? Atau dia sengaja melakukan ini untuk mempermainkanku? Tapi kenapa sikapnya sekasar ini? Tatapannya juga mengerikan, tidak ada senyum ataupun keramahan yang biasa ditunjukkannya.’ Bella mencibir dalam hatinya.
“Aaakkkk…..” Bella berteriak kesakitan saat tiba-tiba kedua tangan Dante memegang dan meremas sangat kuat kedua dadanya. ‘Aduh kenapa dia memegangnya sekuat itu? Sakit sekali.’ Bella meringis menahan rasa sakit.
“Senang kau saat kedua benda ini menempel pada pria lain saat kau main voli?” celetuk Dante meremas sekuatnya bagian itu, Bella semakin kesakitan hingga sudut matanya mengeluarkan bening.
BRUUKKKK
“Haaaaa…….” Bella terjatuh keras dilantai saat Dante menarik kedua tangannya lalu membantingnya ke lantai. Lututnya terbentur lantai hingga Bella kesakitan.
PLAAKKK!
__ADS_1
“Aahahhhhh...ssssshhhh….sakit.” Bella menahan rasa sakit yang semakin mendera tubuhnya.